
Meira menatap dirinya di cermin, dia baru saja selesai mandi setelah pagi pagi sekali pengawal membawakannya baju ganti dari rumah sesuai yang diperintahkan nya semalam.
Meira menarik nafas panjang, kenapa tiba tiba dia jadi canggung gini berhadapan dengan Arga! semalam pun rasanya dia hampir tidak bisa tidur pulas disamping pria itu karna keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya.
"Apa jangan jangan gue suka sama Arga?" Tanya Meira pada dirinya sendiri. Sambil terus berkaca, Meira mencoba mengatur nafasnya sendiri.
"Enggak! gak mungkin! gue pasti cuman lagi simpati aja sama dia." Sangkal Meira kemudian.
Perlahan di bukannya pintu kamar mandi, dia melihat Arga tengah duduk di ranjang sambil menyenderkan punggungnya ditumpukkan bantal yang sudah dia susun sedemikian rupa dibelakang tubuhnya.
Arga menoleh lalu sedetik kemudian Meira buru buru memalingkan wajahnya.
"Lo udah sudah selesai mandi?"Tanya Arga.
"Iya.." jawab Meira singkat. Meira berjalan ke arah sofa lalu segera menaruh baju kotornya tadi ke dalam tas ranselnya.
"Apa lo mau pergi ke kampus?"
"Enggak, gue mau cuti hari ini, kalau gue pergi nanti gak ada yang nemenin lo disini!"
Arga tersenyum kecil, namun dia masih enggan untuk menunjukkan ekspresinya.
tok tok tok
Tiba tiba terdengar ketukan pintu dan tak lama seorang suster dan seorang dokter masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi Pak Arga, bagaimana kondisi Pak Arga? apa sudah merasa lebih baik?" Dokter tersenyum seraya menghampiri Arga.
Arga mengangguk pelan. Dengan cekatan suster pun segera mengganti botol infusan Arga yang kosong dengan yang baru.
"Saya periksa kondisi Pak Arga dulu ya.." Ucap dokter itu sambil menempelkan sebuat stetoskop ke dada Arga.
"Bagaiman dok kondisinya?" Tanya Meira sambil mendekat ke sisi ranjang.
Dokter tersenyum lalu segera menjauhkan alat yang digunakan untuk mendengar dentum suara itu dari tubuh Arga.
"Pak Arga sudah baik baik saja, ibu Meira tidak perlu khawatir. Besok sudah boleh pulang ya."
Meira menghembuskan nafas lega, dia senang mendengar kabar baik itu.
Dokter pun lalu pergi bersama suster dari ruangan itu setelah suster selesai mengganti botol infusnya.
Mereka kembali diam, hening. Tak ada yang mau membuka suara lebih dulu. Padahal keduanya saat ini tengah diselimuti kegugupan yang luar biasa.
"Lo.." Seru keduanya bersamaan.
"Lo dulu deh!" Ucap Meira.
"Engga, lo aja duluan, ladies first!"
"Udah lo aja!"
__ADS_1
"Lo aja sih!" Arga tak mau kalah.
Belum selesai mereka berdebat tiba tiba datang seorang petugas rumah sakit yang seeprtinya berasal dari bagian kantin yang tengah membawa sebuah nampan berisi makanan.
"Permisi, maaf saya mengganggu ke uwuan ini, saya cuman mau mengantarkan sarapan untuk Pak Arga." Ucap petugas itu sambil senyam senyum melihat kesaltingan dua orang dihadapannya.
Muka Meira langsung memerah. Sementara Arga malah pura pura membetulkan letak selimutnya. Tak kalah canggung.
"Taruh dimeja saja pak, terima kasih." Ucap Meira akhirnya.
Petugas itu pun mengangguk lalu pergi lagi meninggalkan keduanya.
Meira segera meraih nampan itu dan berjalan menghampiri Arga.
"Ini, sarapan dulu, abis itu minum obatnya."
Arga menatap meira.
"Duduk disini, temenin gue makan, lo belum makan kan?" Ucap Arga, sambil menepuk nepuk kasur dihadapannya.
Meira menoleh kaget.
"Malah bengong lagi. Cepet duduk!"
Refleks Meira pun duduk juga akhirnya.
Beberapa saat mereka diam lagi. Arga tak mengerti mengapa dia jadi serba kikuk begini. Begitupun Meira, tiba tiba jantungnya mulai tak karuan lagi.
"Sebenarnya gue mau minta maaf tentang perkataan gue soal Viona waktu itu. Gue.." Meira menggantung kalimatnya.
"Gue ternyata salah, gue gak tau kebenarannya tapi malah seenaknya percaya sama gosip itu, gue malah ikut ikutan nuduh lo yang engga engga.."
"Iya, lo emang salah sih, lo kan bodoh dan gampang dibegoin, jadi soal itu udah gue maafin." Timpal Arga dengan senyum manis terulas di bibirnya.
"Hah?" Meira membelalakkan matanya. Mulut apa petasan renceng tuh!
Meira langsung merengut, menyesal sal sal udah minta maaf! Arga meringis geli, menahan tawa melihat reaksi Meira.
"Lo sendiri mau ngomong apa tadi?"
"Gak jadi!" Jawab Arga getas.
"Curaang lo!"
Arga malah kembali acuh, diambilnya semangkuk bubur dari atas nampan dihadapannya. Lalu segera disuapnya makanan itu kedalam mulutnya.
Meira melirik sebal, apa mungkin cuman perasaannya saja, apa jangan jangan dia geer sendiri?! apa yang mau dikatakan Arga tadi? jangan berharap lebih Mei, jangan!
***
Meira berjalan dilorong menuju kantin, dia hendak membeli secangkir kopi hangat karna merasa butuh sesuatu untuk membuat matanya tetap terbuka lebar. Ini akibat tidak tidur nyenyak semalam, dia jadi benar benar ngantuk sekarang.
__ADS_1
"Apa sih yang lo harepin Mei? lo berharap Arga menyatakan cintanya tadi? ah mimpi lo ketinggian! ketinggian Mei!" Meira mengetuk ngetuk dahinya lagi. Kesal pada dirinya sendiri yang terlalu percaya diri.
"Tapi kenapa juga gue berharap dia punya perasaan sama gue? ah, taulah pusing!" Ucapnya lagi sambil mengacak ngacak rambutnya sendiri.
Meira tak sadar jika seluruh orang disekitarnya tengah memperhatikannya dengan wajah heran. Heran karna melihat Meira terus ngoceh sendiri.
***
Jam 12.30
Andrew dan Meta tengah duduk disebuah restaurant. Terlihat Andrew menjabat tangan seorang pria paruh baya dihadapannya.
Setelah membungkuk dan mengucapkan terima kasih, pria itu pun pergi dari hadapannya dengan diikuti seorang pengawal dibelakangnya.
Dia baru saja menyelesaikan sebuah meeting dengan klien perusahaannya. Andrew menatap meta dengan seulas senyum tersungging di bibirnya.
"Kita makan yuk, rapatkan udah selesai."
Meta mengangguk.
Andrew pun segera memanggil seorang pelayan dan memesan makanan untuk mereka.
Andrew langsung berdiri dan berpindah posisi ke samping Meta. Meta hanya diam meski dalam hatinya dia merasa risih. Risih karna harus dekat dekat dengan pria yang sama sekali tidak disukainya.
"Met, aku seneng banget akhirnya kamu mau makan bareng aku." Kata Andrew sambil menatap Meta dengan wajah berbinar.
"Iya Ndrew, kalau dipikir pikir, aku gak ada alesan juga sih buat nolak ajakan kamu. Kamu baik banget Ndrew selalu ngajak aku makan, maafin aku ya soal sikap aku kemaren kemaren, aku terlalu cuek sama kamu." Jawab Meta dengan membalas senyum Andrew. Padahal sejujurnya Andrew bukanlah tipenya sama sekali.
"Its okey Met. Itukan udah berlalu.." Andrew mencoba meraih tangan Meta dan menggenggamnya.
Meta kaget, namun kemudian dia mencoba tetap kalem. Meskipun dalam hati ogah!
Andrew terlihat semakin senang melihat Meta ternyata juga tidak menolak sentuhannya sama sekali.
"Met, sebenernya aku.. Aku udah lama suka sama kamu." Ucap Andrew serius.
Meta kembali melotot, namun lagi lagi dia tetap mencoba untuk tenang. Meta langsung menyetel wajah semanis mungkin di depan Andrew. Okey met! ini waktu yang tepat buat manfaatin Andrew.
"Ndrew, terima kasih udah suka sama gue.." Balas Meta sambil tersenyum.
"Jadi?" Sepasang mata Andrew menatapnya lurus.
"Jadi apa?" Tanya Meta bingung.
"Jadi kita pacarankan?"
"Hah?" Kali ini meta benar benar kaget.
"Iya, kamu mau kan jadi pacar aku Met? aku tau kita udah dewasa, kayaknya udah bukan waktunya pacaran kaya ABG, ya kalau perlu jangan pacaranlah Met, kalau kamu mau aku bisa langsung ngelamar kamu!"
"Hah?" Meta hampir saja pingsan. Dasar kebelet!
__ADS_1
bersambung..