
Flo sengaja berangkat ke kampus pagi pagi buta karna telpon dari Stella.
Dia menyuruh Flo untuk membeli beberapa kue tradisional di dekat pasar yang letaknya memang tak jauh dari kampus tempat mereka menimba ilmu. Alasannya Stella lagi pengen makan kue kue itu, padahal Flo tahu Stella hanya ingin mengerjainya saja.
"Gue udah dapet nih, semua pesenan yang lo mau!" Kata Flo sambil menelpon Stella. Dia membawa satu kresek kue dengan berbagai macam jenis.
"Yaudah bawa ke kantin sekarang! lo harus sampe kantin dalam waktu 5 menit!"
Flo langsung membelalakkan matanya.
"Lo sinting! lo pikir gue jin yang bisa ngilang terus nyampe di depan lo tiba tiba!
"Buruan, waktunya udah dimulai!" Stella tampak tak perduli dengan protes dari Flo.
"Dasar nenek lampir!" Flo memaki saat telponnya diputus sepihak oleh Stella.
Pagi itu dia memang sengaja menelpon Flo pagi pagi buta dan memintanya untuk mencari kue tradisional di pasar, alasannya apa lagi kalau bukan untuk membuat Flo sengsara.
Pasar tradisional itu terkenal sangat ramai di pagi hari. Flo harus bergulat dengan banyak orang di dalam sana. Tetesan keringat tanpa sadar membanjiri tubuhnya yang mulai terlihat kelelahan.
Untungnya dia sudah mendapatkan semua pesanan Stella. Gadis itu segera berlari ke trotoar dan menyetop angkot yang lewat.
Meskipun jaraknya lumayan dekat dengan kampus, tapi untuk sampai ke kampus jelas waktu 5 menit tidak lah cukup.
Flo melompat turun setelah menyerahkan uang kepada sopir angkot.
Dia lari dengan tergesa gesa, kalau bukan demi Salon ibunya, Flo mungkin tidak akan pernah mau menerima hinaan ini, menjadi kacung dari gadis sombong seperti Stella.
Flo lari dari gerbang sampai ke lorong ujung, rasanya nafasnya sudah tercekat di tenggorokan.
Flo sudah sampai di dalam kantin, keadaan saat itu belum terlalu ramai. Flo mencari ke segala arah, dia menemukan Stella duduk di baris kedua.
Gadis itu sedang duduk dengan melipat kedua lengannya di depan dada sambil tersenyum jahat kepadanya.
Dengan amarah yang coba di tekan kuat kuat agar tidak meledak, Flo mendekati meja Stella.
"Nih pesenan lo." Flo menaruh kantong kresek yang berisi kue tradisional yang dipesan Stella ke atas meja dihadapannya.
Stella bergeming, dia menatap kantong kresek itu dengan tatapan mendelik.
__ADS_1
Stella mengangkat kantong kresek itu dengan cara menjepit tali kantong plastik itu diantara jari telunjuk dan ibu jarinya. Mengangkatnya seakan benda hitam itu adalah sebuah benda yang menjijikan.
"Iyuh, dari baunya aja bikin gue gak selera buat sarapan." Kata Stella sambil melemparkan kresek itu ke hadapan teman yang duduk disebelahnya.
"Lo mau gak? ambil gih!"
Teman Stella itu langsung membuka bungkusan kresek, seketika berbagai kue tradisional terpampang di depan mereka.
"Gak, ah. Ogah banget! apa apaan nih, gak level gue makan jajanan pasar kaya gini, mules yang ada, hahaha."
Mereka tertawa keras, melengking hingga terdengar ke segala penjuru kantin.
Flo sudah mengepalkan tangannya kuat kuat, rasanya ingin sekali melayangkan bogeman ke wajah Stella dan teman temannya itu.
"Mending lo makan deh itu kue, gue udah cape cape tau genyek genyekan sama orang orang buat beli itu!" Protes Flo sambil menahan dongkol dikepala.
Stella malah tersenyum mengejek.
"Lo gak usah nyuruh nyuruh gue, lo gak sadar apa lo itu cuman kacung!"
Stella mendorong salah satu bahu Flo hingga gadis itu hampir menabrak orang yang sedang berjalan dibelakangnya.
"Woy, gak usah main fisik kali!" Flo balik mendorong tubuh Stella yang memang tidak setinggi dirinya.
Stella membelalakan matanya, dia tidak menyangka jika Flo akan berani membalas perlakuannya.
Dengan geram dia kembali berdiri tegak dibantu kedua temannya yang duduk di belakang, sepasang matanya berkilat menatap Flo berang.
"Lo, beraninya lo ngedorong gue!"
"Lo kan duluan yang ngedorong, inget ya Stell, gue emang udah setuju jadi kacung lo, tapi bukan berarti lo bisa maen fisik!" Ancam Flo dengan wajah galak.
Stella agak sedikit ciut juga melihat keberanian Flo, dia pikir gadis ini gampang untuk di tindas, ternyata dia punya jiwa baja juga.
"Kalian lagi ngapain sih?" Manji terlihat berjalan dari kejauhan bersama Farel.
Flo menatap sekeliling, dia baru sadar jika perdebatannya dengan Stella sudah mengundang perhatian orang orang disana.
"Ada apa sih Stell?" Tanya Manji, kini dia berdiri di tengah tengah dua gadis ini.
__ADS_1
"Gak ada apa apa kok, iya kan Flo." Stella berunah drastis. Dia bahkan tersenyum pada Flo seakan akan Flo adalah teman baiknya.
Flo hanya diam, dia merasa jijik melihat kepribadian Stella yang dengan mudahnya bisa berubah dari jahat menjadi sok baik.
"Bener gak ada apa apa?" Farel menatap Stella curiga. Melihat Flo begitu marah, pasti Stella sudah melakukan sesuatu pada gadis itu.
"Iya Rel, gak ada apa apa. Iya kan, Flo?" Stella menyikut lengan Flo agar gadis itu mau ikut bersandiwara.
Dengan memutar bola mata malas, Flo mengangguk.
"Iya Rel, gak ada apa apa kok, kita cuman lagi ngobrol aja."
"Loh emang sejak kapan kalian deket?" Farel masih berusaha menyelidik lewat raut wajah Stella yang kelihatan gugup. Dia tidak percaya begitu saja. Apalagi orang orang di kantin memperhatikan ke arah mereka berdua, sepertinya habis terjadi pertengkaran sengit, tebak Farel.
Dasar si Farel, ngapain sih banyak nanya, awas lo ya Rel! geram Stella dalam hati.
"Kita emang gak deket, tapi kan gue kenal dia itu temennya Manji, tadi tuh gue mau ngajak Flo sarapan bareng, iya kan Flo?"
"Bener gitu, Flo?" Manji menatap Flo. Dia juga curiga Stella sudah melakukan sesuatu pada Flo. Dia kenal Stella itu nekat.
"Iya, bener." Jawab Flo singkat. Dia tidak ingin memperpanjang masalah, sudah malas juga meladeni drama Stella yang gak kelar kelar.
"Yaudah yuk, Flo kita duduk." Stella memegang lengan Flo sambil berbicara sangat lembut.
Flo rasanya ingin muntah ke depan mukanya. Benar benar muka dua!
"Gak usah deh Stell, gue udah sarapan kok. Gue mau balik ke kelas aja."
Flo langsung menarik tangannya dari genggaman Stella.
Dia langsung pergi dari kantin dengan langkah cepat. Manji hendak pergi menegjarnya, tapi Stella sudah keburu menyergap tangannya.
"Mau kemana sih Ji, lo pasti belum sarapankan? ayo kita sarapan bareng." Bujuk Stella dengan tampang yang dibuat semanis mungkin.
Farel jengah, akhirnya dia mengambil tempat duduk di barisan lain.
Manji yang memang tak bisa menolak bujukan Stella, lagi lagi karna dia menghargai perasaan gadis itu akhirnya menyerah, dia duduk disamping Stella.
Stella tersenyum puas, sementara Farel geleng geleng kepala melihat Manji yang masih saja mau menuruti ucapan gadis yang seperti nenek lampir itu.
__ADS_1
"Amit amit." gumam Farel pelan.
bersambung