
Velina memungut pakaiannya yang terserak di lantai. Sedangkan Diego sudah tampak rapih lebih dulu.
"Cepatlah, di luar sudah gelap," ujar Diego sembari mengintip ke luar jendela kaca.
Velina hanya terdiam, ia menggunakan pakaiannya untuk menutupi area sensitif atasnya dan bawahnya. "Kenapa malah diam?" Tanya Diego lagi.
"Bagaimana bisa aku berganti pakaian jika kau masih di sini?"
Diego membelalakkan matanya tak percaya, setelah itu terdengar tawanya yang pecah dan membahana ke seluruh ruangan. "Astaga... bahkan kita sudah melakukan hal yang lebih dari itu, tapi kau masih berlagak malu-malu kucing begini, apa begini caramu menggodaku?" Lanjutnya mengejek.
Velina menyembunyikan wajahnya yang memerah karena perkataan Diego. Ia merasa sangat malu, tapi jika ia membuka suara, pria itu pasti selalu punya jawab untuk lebih mempermalukannya.
Melihat Velina yang terus terdiam, perlahan tawa Diego mereda. "Baiklah, aku akan menghadap ke arah lain," Diego berinisiatif membalik tubuhnya membelakangi Velina, "sekarang cepat pakai bajumu, aku sudah lapar, ingin pulang dan makan," lanjutnya seolah tak peduli.
__ADS_1
Tanpa terasa cairan bening jatuh dari sudut mata Velina. Ia merasa tidak tahan karena harus menanggung beban kepura-puraan ini. Ia kesal pada dirinya sendiri karena mau saja melayani napsu pria ini. Tapi bagaimanapun pria ini sekarang adalah suaminya. Ia tak punya alasan untuk menolak. Tapi di sisi lain, ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena karena terus-terusan bersandiwara. Ia takut dirinya yang lebih dulu jatuh cinta pada pria itu. Ia takut hidupnya akan semakin menderita. Antara perasan cinta dan dendam ini. Bagaimana harusnya ia bersikap?
Tidak boleh! Velina berusaha meyakinkan dirinya kembali, buru-buru mengusap pipinya yang basah dan menarik napas dalam-dalam agar tidak ada air mata yang makin jatuh lebih banyak lagi. Ia tidak ingin pria itu melihat kelemahannya dan merasa menang darinya.
"Aku sudah selsai," Ujar Velina tiba-tiba seraya tersenyum.
Diego menoleh dan merasa keheranan dengan perubahan sikap Velina. Apa wanita ini menderita bipolar? Cepat sekali perubahan suasana hatinya. Batin Diego.
"Hei... kau sedang tidak salah minum obat kan?" Wajah Diego terlihat menyelidik.
"Suamiku, kenapa kau bicara seperti itu? Seharusnya kau berlaku lemah lembut pada istrimu, benar tidak?"
Astaga... apa yang kau lakukan Velina? Sepertinya kau sungguhan salah minum obat! Umpat Velina dalam hati pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa aku harus berlaku baik padamu? Kita kan hanya menikah coba-coba."
Velina kesal karena Diego masih saja mengatakan hal yang menyakitkan, sepertinya susah sekali menahlukkan hati pria ini.
"Oh... aku tahu, kau sebenarnya takut kan kalau sungguhan jatuh cinta padaku?" Goda Velina dengan manja.
Wajah Diego tiba-tiba memerah, "aku? Jatuh cinta padamu? Silahkan saja bermimpi dulu sana," ketusnya lagi.
"Aku yakin tidak lama lagi kau pasti akan jatuh cinta padaku, benar kan?"
Diego berpikir, kenapa wanita ini aneh sekali, kadang angkuh, kadang tidak tahu malu seperti ini. Sebenarnya apa maunya? Apa dia sungguh-sungguh sedang merencanakan sesuatu?
Bersambung
__ADS_1