Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Penggrebekan Andrew (2)


__ADS_3

Arga maju selangkah demi selangkah membuat Andrew dan ibunya waspada dilevel kematian. Mereka tau Arga itu nekat, dia bisa melakukan apapun dalam keadaan marah.


"Kalian gak bisa menangkap kami sembarangan tanpa bukti!" kata Lusi gemetar, dia berlindung dibalik punggung Andrew.


"Haha bukti?" Arga tertawa sinis.


Arga sampai di depan meja makan sementara Andre dan ibunya sudah berdiri di pintu antara ruang makan dan dapur.


Arga mengambil gelas berisi air dari atas meja lalu melemparnya ke lantai dengan satu hentakan keras, membuat semua orang terhenyak seketika.


PRANG, pecahan gelas kaca berceceran dimana mana.


"BANGSAT! lo udah bikin banyak kesalahan masih berani meminta bukti? lo bukan orang Ndrew! lo lebih pantes disebut iblis!"


Kemarahan memuncak dimatanya. Andrew melihat kobaran api dendam yang sangat besar disana, dia sadar sepertinya hari ini memang akan jadi hari terakhirnya menikmati udara bebas.


Andrew melirik ke sekitar, meskipun posisinya sudah tidak mungkin untuk kabur, tapi Andrew tetap mau berusaha di detik terakhir.


Saat dia sudah sampai di dapur, matanya tak sengaja melihat pisau yang tergeletak di dekat rak piring, tangan Andrew segera bergerak kesana, dengan gerakan sangat cepat dia mengambil pisau itu dan menukar posisinya dan ibunya.


Semua terbelalak ketika di detik berikutnya, Andrew menodongkan pisau itu dileher ibunya Lusi. Arga menatapnya lekat lekat lalu tak lama senyum mencuat di bibirnya.


"Gila! drama apa lagi ini?" tanya Arga.


"Jangan maju! kalau kalian maju, gue.."


"Gue apa?" sela Arga menatap Andre tanpa minat, kedua alisnya terangkat dengan senyum menantang yang menunggu jawaban.


Tangan Andrew gemetar hebat namun dia tetap mencoba bertahan demi menyelamatkan diri, harapan terakhir hanyalah mengorbankan ibunya, tidak ada cara lain! tega tidak tega tetap harus dia lakukan jika dia ingin lepas dari cengkraman Arg kali ini.


Dia akan mengambil resiko terburuk, meskipun ada sebelah sisi dirinya yang ragu melakukan ini.


"Andrew! kamu lagi apa sih? lepasin mamah! ini gak lucu sama sekali ndrew!" Lusi berontak, dia mengira Andrew hanya sedang membuat strategi untuk melarikan diri.


Tapi pisau itu semakin dekat dan kini tanpa jarak menempel di lehernya, bersentuhan dengan kulitnya yang mulai keriput, ngilu.


"Maafin ndrew mah.." Andrew berbisik dengan suara tertahan, mendekatkan mulutnya ke telinga orang yang telah melahirkannya, ada kesedihan ketika dia mengucapkannya.


"Andrew! nak kau sedang apa? jangan gila kamu! ini mamah ndrew! ini mamah!!" Lusi tercengang hingga mulut dan matanya terbuka lebar.


Dia berusaha menatap Andrew. Sekarang bukan rasa takut yang mendominasi nya tapi ketidak percayaan, ketidak percayaan jika orang yang selama ini dia besarkan akan mampu mengorbankan dirinya hanya untuk kepentingannya sendiri.

__ADS_1


"Kau sedang apa ndrew..?" Lusi mengulangi pertanyaannya, sekali lagi ingin memastikan, ingin meyakinkan dirinya bahwa Andrew tidak akan setega itu pada dirinya, berharap Andrew akan menjawab, 'mah, ini cuman strategi..'


Tapi hening, bungkamnya Andrew memperjelas segalanya.


Lusi terisak, perih, sakit dan hancur.


"Lo emang menjijikan ndrew!" ucap Arga.


Arga mengangkat tangannya, mengintruksikan semua orang untuk menahan diri, tetap di tempat.


Andrew menatap liar sambil terus mundur dan menyeret tubuh ibunya yang tidak berdaya.


Lusi sudah terlihat pasrah, tidak ada perlawanan sama sekali, hatinya terlalu sakit untuk menerima kenyataan dikhianati oleh buah hatinya sendiri.


"Lepasin dia! lo gak berniat menghabisi ibu lo sendiri kan?" pertanyaan Arga sangat dilematis.


Mulut Andrew terlipat, kenyataannya dia memang terpaksa akan melukai jika tidak ada cara lain.


"Lepasin dia!" Arga mengulangi kalimatnya, kali ini suaranya melunak, dia tidak ingin memancing kegilaan Andrew lebih parah.


"Gak akan! lo pikir gue bodoh hah? lempar semua senjata kalian ke lantai, SEKARANG! kalau engga pisau ini bakal menyayat leher dia." Andrew menekan pisaunya lebih dalam, membuat Lusi meringis seketika.


Tapi akhirnya dia tetap menuruti permintaan Andrew, Arga mengibaskan jari telunjuknya ke bawah memberikan isyarat pada para pengawal dan polisi untuk meletakan senjata mereka ke lantai.


Melihat Andrew yang racau, matanya yang merah menunjukkan ambisi yang kuat untuk lari dari sana, Arga tau pemuda itu sudah kehilangan akal sehatnya, dia bisa melukai Lusi ibunya sendiri.


"CEPET BUANG SENJATA KALIAN!" Andrew berteriak gila gilaan, matanya menatap liar ke segala arah, waspada tingkat tinggi.


Dia mencoba berjalan ke sudut ruangan, tangan kirinya berusaha terulur meraih pintu dapur sementara tangannya yang lain terus menyeret tubuh ibunya ke belakang.


Arga berdiri siaga ditempatnya, salah satu tangannya menyelinap ke belakang punggungnya, tepat ketika Andrew mencoba menoleh untuk membuka handle pintu dapur belakang, Arga mengeluarkan pistol yang diselipkan di pinggangnya, dan secepat kilat menarik pelatuk dan mengarahkannya pada lengan Andre.


DOR DOR DOR


Pisau ditangan kanan Andrew terlepas seketika, peluru itu berhasil mengenai ketiaknya.


Andrew mengerang keras sambil memegangi luka tembak yang baru saja Arga hadiahkan di ketiaknya.


Arga bergerak cepat menarik tubuh Lusi dari sisi Andrew, dia gemas melihat Lusi yang malah diam mematung melihat rembesan darah yang seketika mengalir membasahi kaos Andrew.


"ANDREW!!" kontan Lusi berteriak histeris melihat anaknya kesakitan, sejahat apapun Andrew, naluri lusi sebagai seorang ibu tidak terbantahkan, dia tetap merasa sedih melihat kejatuhan Andrew.

__ADS_1


Lusi mencoba menghampiri Andrew lagi tapi tangan Arga menahannya.


"Jangan deketin dia lagi, anda bisa terluka!" ancam Arga marah.


Lusi ternganga menatap Arga, ternganga karna melihat raut kecemasan dimata anak tirinya saat melarangnya mendekati Andrew tadi.


Andrew terhuyung, ambruk ke lantai dengan posisi terduduk.


Polisi dan para pengawalnya bergerak mendekat, tapi Andrew ternyata belum menyerah, dia menyambar pisau yang tadi terlempar dari tangannya secepat kilat sebelum para pengawal dan polisi itu sampai ditempatnya, dia mencoba berdiri dan mengarahkan pisau itu ke tubuh Arga.


Tapi tepat sebelum pisau itu berhasil melukai Arga, Lusi bergerak menghadangnya, menjadikan dirinya perisai dan berdiri di depan Arga.


JLEB


Mereka semua mematung sesaat, semua terhenyak menyaksikan kejadian nahas itu, sedetik kemudian pupil mata Lusi melebar saat merasakan benda tajam itu mengoyak perutnya,


Andrew terbelalak, mereka saling tatap. Andrew melihat sorot mata kesedihan yang begitu dalam dari ibunya. Lusi tidak berkata apa apa, tapi sorot mata itu seakan berhasil menusuknya jauh ke dalam lubang tak berdasar, melemparnya ke dalam lembah jurang penyesalan, gelap dan sepi.


Tubuh Lusi perlahan jatuh meluruh, Arga langsung menangkap tubuh yang hendak terjungkal kebelakang itu, menyangganya agar tak sampai jatuh membentur lantai.


Tak lama tubuh Lusi mengejang hebat, Andrew menatap tangannya sendiri den sorot mata tak percaya, dia bisa gila, gila dengan semua ini! kenapa ibunya malah menghalanginya melenyapkan Arga.


Polisi langsung bergerak, memelintir tangan Andrew dan menguncinya dibelakang punggungnya. Tidak ada lagi perlawanan yang ada hanya isak tangis yang kian lama kian menggelegar memenuhi seisi rumah.


Andrew bersimpuh tepat di samping tubuh ibunya yang sudah mulai kelihatan sulit untuk bernafas.


"Mah.. kenapa.. kenapa mamah malah ngelindungin dia?!" Andrew histeris menunjuk Arga dengan wajahnya, tidak menyangka ibunya malah akan melindungi musuhnya sendiri, dia merasa terkhianati.


Tapi terlepas dari semua itu, sekarang ada sesuatu dalam dirinya yang membuat hatinya nelangsa, Andrew menatap pisau yang masih tertancap gagah diperut ibunya dengan pandangan nanar dan isak yang terdengar pilu.


"Andrew.." Lusi tergagap, dia mulai terlihat kesulitan untuk bicara. Tangannya berpegangan pada Arga, menahan sakit yang luar biasa di perutnya, sakit itu dirasakan mulai menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.


Arga bisa merasakan tangan itu mulai kehilangan suhu, dingin dan berkeringat.


Isak Andrew semakin menjadi kala melihat tubuh ibunya semakin mengejang hebat.


"Mamah.. menyesal sudah melakukan ini, maafkan mamah Arga.. sampaikan maaf mamah untuk ayahmu.. mamah baru sadar mamah mencintainya.." Lusi bersusah payah menyelesaikan kalimatnya.


Bola matanya seketika menyipit, redup dan menutup sempurna, tangannya yang menggenggam Arga seketika melemas dan jatuh bebas ke lantai.


"TIDAAAK!!! MAH.. MAMAH!!!" Andrew berteriak gila gilaan memanggil ibunya, tapi wanita itu sudah kaku, tidak bergerak lagi.

__ADS_1


__ADS_2