Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Lihat aku seorang


__ADS_3

Semua masih mematung, menunggu sang pentolan kampus menyelesaikan kalimatnya.


"Sayang, emang pantainya dimana sih?" akhirnya Meira ikut membuka suara. Tak tahan karna suaminya itu hanya diam seakan tak berniat melanjutkan ucapannya.


Sejujurnya dia juga tak tahu kemana Arga akan menentukan lokasi liburannya nanti, karna waktu itu Meira hanya meminta liburan 'ke pantai' saja, kemana dan dimana itu terserah Arga.


Arga menarik salah satu sudut bibirnya, dia puas melihat wajah wajah penasaran disekitarnya.


"Jawab dong men!" tukas Reihand yang sedari tadi juga ikut penasaran.


"Kita semua bakal ke Ora Beach di Maluku!" tandas Arga akhirnya sambil menggebrak meja dengan tersenyum lebar.


Semua ternganga tapi kemudian sorak sorak kebahagiaan terdengar membahana disekitar meja itu terutama dari mulut ketiga sahabat laki lakinya.


"Woho! Serius Ga?" tanya Farel tak percaya. Dia yang terlihat paling antusias.


"Yoi dong!" Arga mengangkat kedua alisnya tinggi tinggi sambil tersenyum puas dia mengacungkan jempolnya.


Semua tampak bersorak antusias, tidak ada lagi wajah wajah kaku seperti tadi.


jawaban dari Arga tentang pantai apa yang akan mereka datangi itu sukses membalik keadaan dengan cepat. Mereka terlihat sangat bersemangat dan bahagia.


Tapi Flo dan Meira masih terlihat bingung di tempatnya.


"Ora Beach, sorry gue baru denger.." kata Flo garuk garuk kepala, dia merasa katrok banget melihat euforia kebahagiaan teman temannya sementara dia malah tidak tahu sama sekali tentang pantai yang baru saja Arga sebutkan itu.


"Gue juga gak tahu Flo!" imbuh Meira ikut ikutan.


Arga merengkuh bahu Meira mesra.


"Tenang aja Mei, sebentar lagi juga kamu bakal tahu seindah apa pantai itu, aku cari yang paling bagus suasananya, tempatnya dan pemandangannya, pantai yang bisa bikin kamu nyaman selama liburan. Ora Beach itu salah satu pantai terindah yang di miliki indonesia, kita akan kesana tiga hari lagi."


"Ah, gitu ya. Ya ampun seneng banget kalau gitu, aku jadi gak sabar deh!" Sorak Meira jadi ikut antusias, tanpa sadar kedua tangannya bertepuk tangan kecil.


Kalau Arga mengatakan pantai itu bagus, berarti pantai itu sangat sangat bagus, lebih bagus dari bayangannya. Karna pantai paling bagus yang pernah dia datangi selam hidupnya hanyalah pantai anyer, tidak ada gambaran yang lebih indah di otaknya selain pantai itu.


"Aku juga Mei udah gak sabar deh, udah lama juga sih ya kita gak liburan kemana mana, bosen liat tugas lagi tugas lagi!" sahut Widya tak kalah antusias.


Dia melirik Reihand, liburan bersama? ya ampun ini kesempatan bagus dong untuk bisa mengenal satu sama lain lebih dekat.


Selama ini mereka kan hanya menjalani rutinitas di kampus, tidak pernah sengaja bertemu di luaran, jadi otomatis yang dibahas gak jauh jauh dari obrolan obrolan membosankan tentang tugas tugas kuliah.


Tapi tiba tiba saja tanpa ada angin tanpa ada hujan, Meira sahabatnya secara tidak langsung membentangkan jalan yang begitu lebar agar dia bisa punya kesempatan untuk lebih dekat dengan Reihand.


Liburan bareng sama cowok yang udah lama banget dia taksir ini? huhu ini sebuah kesempatan emas! dia tak akan melewatkannya begitu saja karna kalau Meira gak ngajak liburan bareng rasanya mustahil bisa pergi liburan bareng cowok tampan di depannya ini.


senyum sumringah tersirat di sepasang mata indah milik Widya.


Lain halnya dengan Flo yang duduk diujung kursi, dia terlihat hanya diam, sepertinya hanya dia yang masih bingung mau ikut apa tidak. Flo menghembuskan napas pelan, jujur saja meskipun semuanya sudah digratiskan oleh Arga, tapi tetap saja kan Flo harus membawa uang saku untuk jaga jaga.


Dia jadi dilema, kalau menolak dia tidak enak juga, Arga dan Meira sudah begitu baik mau mentraktir liburan ini.


Flo jadi bimbang. Dia tidak mungkin meminta tambahan uang saku kepada ibunya, selama ini ibunya sudah banyak bekerja keras di salon, dia tidak tega kalau harus meminta tambahan uang di luar kebutuhan kuliah.


"Kenapa Flo?" tanya Reihand lembut seolah menyadari wajah Flo yang tidak sesemangat yang lain.


Flo hanya menggeleng pelan.


***


jam 15.30 wib


Bel pelajaran kedua telah berbunyi menandakan kelas telah berakhir, setelah memberikan sebuah tugas dosen pun keluar dari ruangan.


Meira dan yang lainnya terlihat sibuk membereskan diktat dan alat tulis diatas meja lalu memasukkannya ke dalam tas mereka masing masing.


"Rei...lo emang ikut jadi tim basket ya?" Meira tiba tiba teringat percakapan di kantin tadi, dia menoleh ke tempat duduk Reihand yang berada di belakangnya.


"Iya, Mei, baru mau dua minggu sih gue gabung disini, tapi sebelumnya gue emang sering main basket pas masih di Jayakarta, Manji yang nawarin gue gabung sama tim inti." jawab Reihand sambil tangannya terus sibuk membereskan diktat diatas meja, dia pun menutup laptop miliknya setelah selesai digunakan.


"Ouh gitu." Meira manggut manggut, tiba tiba kepikiran Arga suaminya, kira kira dia suka basket juga gak ya? Meira tidak pernah melihat Arga olahraga selama ini.


"Arga juga jago banget basketnya Mei.." kata Reihand tiba tiba, dia seolah tau apa sedang Meira pikirkan.


"Hah serius?"


"Iya, waktu SMA kita sering banget ikut lomba basket antar kota, Arga selalu berhasil bawa tim keluar sebagai pemenang, lo pasti gak akan percayakan?" tambahnya lagi sambil tertawa pelan.


Meira kontan terperangah.

__ADS_1


"Masa sih?" tanyanya kemudian.


Reihand mengangguk sambil tertawa melihat ketidakpercayaan dimata Meira.


Waktu SMA dulu Arga dan dirinya memang senang sekali melakoni olahraga satu ini, seringkali mereka latihan bersama sampai malam di lapangan sekolah, kecintaannya pada basket juga mereka buktikan dengan mengikuti lomba lomba bergengsi antar sekolah pada waktu itu.


Tak hanya menyabet banyak piagam, Arga bahkan mendapat kehormatan waktu itu dengan diberikan julukan sebagai the king of basketball players.


Tapi semenjak mereka kuliah di tempat yang berbeda Reihand tak pernah tahu lagi apakah Arga masih melakoni hobinya ini atau tidak.


Meira terdiam, sehebat itu ya suamiku? tiba tiba mukanya merah memancarkan kebanggaan, dia senyum senyum sendiri.


"Hari ini mau latihan lagi gak Rei?" tiba tiba Widya ikut bertanya, dia bangkit dan berdiri di sebelah Rei.


"Iya Wid, hari ini mau latihan.. kan nanti hari sabtu minggunya dipake buat liburan, jadi kita pindahin latihannya hari ini aja. Lumayan buat ngelatih gerakan sama ngeregangin otot otot sih.."


"Yaudah gue ikut nonton deh kalau gitu." tukas Widya antusias. Dia berdiri dan langsung menyambar tasnya yang tergeletak diatas meja.


"Ok, gue duluan kalau gitu, sampai ketemu di lapangan ya." Reihand berdiri, menggendong ransel besarnya di salah satu bahunya lalu kemudian dia menepuk bahu Widya dan pergi keluar kelas.


Widya langsung jingkrak jingkrak kegirangan.


"Yuk Mei, Flo, kita ke lapangan yuk!"


"Yah..gue sih pengen tapi Arga kayaknya gak bakal ngasih ijin deh, gue harus langsung balik selesai kuliah.."


"Kok gitu sih?" Widya tampak kecewa.


Meira terdiam, sejujurnya dia juga pengen sih nonton anak anak latihan,tapi Arga pasti akan langsung menyuruhnya istirahat dirumah.


"Sayang.."


Tiba tiba suara pria yang begitu dikenalnya mengangetkannya.


Panjang umur! baru dipikirin orangnya udah nongol.


Arga sedang bersandar di daun pintu, dengan kedua tangan terlipat di dada, cowok berperawakan jangkung itu sedang menatap Meira sambil tersenyum manis.


"Ayo sayang kita pulang.." Ajaknya, masih terus menatap lurus gadisnya.


Meira jadi malu dengan kelakuan Arga itu, mana masih banyak mahasiswa lain yang belum keluar dari kelas itu.


Meira buru buru bangkit dan mengalungkan tasnya disalah satu bahunya. Widya dan Flo saling tatap sambil menahan tawa, caileh romantis banget..bikin iri aja.


Meira tertunduk, malu banget karna dia dan Arga sekarang sudah jadi tontonan gratis di sana.


"Kamu cape gak sayang? mau aku gendong?" belum hilang rasa malunya, Arga malah melemparkan bom lagi ke wajahnya.


Buru buru digempitnya lengan Arga untuk segera menjauh dari sana.


"Kenapa sih?"


Kedua alis Arga bertaut bingung, tapi Meira terus menariknya hingga akhirnya mereka berhenti ditempat yang agak jauh dari kelas tadi.


Widya dan Flo sengaja memberi jarak dibelakang mereka, meskipun mereka sebenarnya tidak tahan untuk tertawa melihat tingkah lucu dua sejoli ini.


"Ish, kamu jangan gitu dong, sengaja bikin aku malu ya?"


"Maksudnya apa sih sayang?" Arga kelihatannya memang benar benar bingung, seluruh perhatian juga sikap sayangnya yang ditunjukkan terang terangan kepada Meira memang bukan pura pura, itu semua asli dan spontan.


Tapi tetap saja Meira merasa sangat malu setiap kali Arga menunjukkan rasa sayangnya di depan umum seperti tadi.


"Ga, bisa ga cuman panggil 'sayang' nya di depan temen temen kita aja? maksud aku kalau lagi rame banget manggilnya nama aja gak perlu pake sayang sayang segala ya?" kata Meira pelan.


Wajah bingung Arga seketika hilang, dengan sepasang mata elangnya dia menatap Meira tajam.


"Kamu ngelarang aku buat manggil sayang.."


Arga memenggal kalimatnya, dia menarik napas kesal.


"di depan umum?" lanjutnya. Sepasang matanya menyipit.


"Bukan gitu sayang, maksud aku kamu kan bisa manggil sayangnya pas lagi sama temen temen deket kita aja, kalau di depan umum aku malu banget Ga, semuanya malah ngeliatin kita." Meira buru buru menjelaskan.


Tapi nyalinya seketika ciut ketika dia melihat Arga hanya mendengus kesal dengan wajah yang terlihat sangat marah.


Pria itu bahkan menepis tangannya, dia balik badan dan berjalan meninggalkan Meira.


Buru buru Meira mengejarnya dan kembali meraih tangannya.

__ADS_1


"Sayang, tunggu!"


"Jangan panggil sayang! kamu sendiri kan yang barusan bilang" desis Arga tanpa menoleh dan menatapnya.


Meira terhenyak, bukan ini maksudnya! kenapa susah sekali menerangkan suatu hal pada Arga.


Widya dan Flo yang berdiri tak jauh dari mereka bingung kenapa mereka berdua tiba tiba seperti orang yang sedang bertengkar padahal tadi baru sayang sayangan.


Tapi saat mereka mau mendekat, Meira memberikan isyarat agar kedua sahabatnya itu tidak ikut campur. Dia tidak mau Widya dan Flo ikut kena bentak Arga.


Meira terdiam sejenak, menarik napas panjang panjang.


"Sayangku.." kata Meira lembut sambil berusaha tersenyum begitu manis. Dia mengapit salah satu lengan Arga dan menggelayut manja disana.


"Maaf sayang, tadi aku cuman merasa malu jadi pusat perhatian anak anak di kelas, cuman itu kok sayang gak ada maksud lain, kamu jangan marah sayang.."


"Jadi maksud kamu, kamu malu mereka tahu aku begitu menyayangimu?" tanya Arga dengan nada berapi api.


"Bukan begitu!" Meira menggeleng panik.


"Lalu?" tanyanya tajam, dia membidik tepat dikedua bola mata Meira.


Meira menahan napas, kalau Arga sudah marah begini, rasanya dia begitu takut untuk sekedar menatap balik matanya.


Meira menarik napas panjang panjang, dia tertunduk lunglai.


"Maaf sayang, aku salah, aku sangat senang kamu menunjukkan rasa sayangmu, aku selalu merasa jadi wanita paling beruntung..tapi menjadi pusat perhatian mungkin aku belum terbiasa aja.." kata Meira pelan, suaranya sudah seperti hendak menangis.


Arga menarik napas panjang. Gusar di tatapnya kini Meira yang sedang menunduk dalam.


"Kalau gitu biasakan dirimu, aku akan terus menunjukkan rasa sayang ini dimana pun, aku tidak peduli pada pendapat orang lain.." Arga mulai melunakkan kata katanya.


Melihat Meira hanya diam, dia takut istrinya akan menangis, akhirnya dia melepas tangan Meira yang sedang bergelayut, gantian Arga mengulurkan kedua tangannya menyentuh lembut kedua bahu Meira.


"Kau istriku, sudah sepatutnya aku memperlakukanmu dengan baik, tidak peduli dimana pun itu. Kau tidak perlu merasa malu Meira, jangan menunduk malu seperti tadi, tundukkan wajahmu hanya di depanku saja, kau mengerti?" kata katanya semakin lembut.


Arga kemudian membawa Meira kedalam pelukannya.


Meira membalas pelukan Arga sambil mengangguk pelan.


Kalau di pikir pikir perkataan Arga ada benarnya juga sih. kenapa dia harus merasa malu ketika suaminya sendiri menunjukkan kemesraan di depan umum, Arga hanya mengekspresikan apa yang dia rasakan, harusnya dia senang bukan malu.


Tidak banyak laki laki jaman sekarang yang secara terang terangan mengakui seseorang yang spesial di dalam hatinya didepan banyak orang. Harusnya Meira merasa jadi wanita yang beruntung bukan?


"Maaf.." akhirnya hanya satu kalimat itu yang dia ucapkan.


Arga melepaskan pelukannya, ditatapnya Meira sambil tersenyum hangat, kemudian wajah tampan itu mendekat dan memberikan satu ciuman mesra di keningnya.


Widya dan Flo yang masih berdiri dibelakang Meira kontan bersorak.


"Ya.. ampun Wid, tiket ke Mars mahal gak sih? gak sanggup gue nih lama lama disini!" sahut Flo sambil ketawa .


"Haha iya nih, pindah aja lah ke Mars. Jiwa kejombloan gue semakin nelangsa disini." Widya mengiyakan kata kata Flo.


Meira langsung menyembunyikan kepalanya di dada Arga lagi. Ah malu sekali rasanya apalagi yang meledek sahabat sendiri.


Widya dan Flo pun mendekat ke arah mereka setelah yakin keduanya sudah tidak bertengkar lagi.


"Mei, kita duluan ya ke lapangan.." Widya melambai ditempatnya.


Widya menarik tangan Flo untuk menemaninya menonton basket. Flo hanya diam, percuma juga dia menolak, Widya pasti akan tetap memaksanya dengan segala cara.


"Iya Wid, Flo, dah.." Meira balas melambai saat Flo dan Widya pergi meninggalkan mereka.


"Kenapa sedih?" Seperti biasa, Arga selalu bisa menebak suasana hatinya, dia melihat wajah Meira tiba tiba agak suram menatap kepergian kedua temannya.


"Aku pengen nonton anak anak latihan basket kaya Widya dan Flo.." jawab Meira ragu ragu.


Arga tampak berpikir lalu kemudian tangannya terulur dan menggandeng Meira untuk meneruskan langkahnya.


Meira menyeret kedua kakinya dengan paksa mengikuti Arga, dia pikir dia akan di ajak pulang tapi langkah mereka malah berlawanan dengan koridor yang mengubungkan ke parkiran.


"Kok.." Meira menatap Arga bingung.


"Kamu mau lihat basket kan tuan putri? yuk kita kesana." tanya Arga sambil terus menggandeng Meira menuju lapangan.


"Eh, emang boleh?" tanya Meira tak percaya.


"Iya sayang.." Arga menjawab lembut dan merekapun meneruskan langkah menuju lapangan di ujung lorong.

__ADS_1


__ADS_2