
Kelas kedua telah berakhir semenit yang lalu.
Flo buru buru merapihkan alat tulisnya dan segera memasukkannya ke dalam ransel.
Dia ingin buru buru pulang ke rumah untuk segera membantu Ibunya di Salon.
"Flo, lo mau langsung balik?"
Tanya Widya, dia sudah berdiri di sebelah bangkunya.
Flo mendongak kemudian mengangguk pelan.
Reihand berdiri dan ikut berhenti di dekat Widya.
"Lo gak mau ke lapangan dulu, Flo? hari ini anak anak basket mulai latihan lagi, ada Manji loh!" Kata Widya sengaja.
Flo menggertakan giginya, lama lama kok Widya kaya sengaja comblangin dia sama Manji sih! apa dia emang beneran mau bikin dia dan Manji jadian? Padahal Widya sudah tau dia tidak memiliki perasaan apapun pada Manji.
"Biarin aja kalau Manji mau main Wid, gue mau langsung balik aja Wid, nyokap kasian gak ada yang bantuin di Salon." jawab Flo seraya berdiri dan menggendong ranselnya di punggung
"Yah, gak asik banget sih, Flo."
"Biarin aja kalau dia mau balik, jangan di cegah." Akhirnya Reihand membuka mulutnya.
Flo langsung melewati kedua orang itu dan lari keluar kelas.
Reihand menghembuskan nafas panjang. Susah sekali menggapai gadis itu!
...***...
Malamnya, Flo masih sibuk membantu Ibunya bebersih di dalam Salon, hari ini pengunjung yang datang ke Salon itu lumayan banyak.
Flo agak sedikit kewalahan membagi pekerjaan bersama Ibunya.
"Akhirnya bisa rebahan juga ya, bu." Flo menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, setelah itu dia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sambil meluruskan kakinya yang terasa pegal.
"Kamu istirahat dulu aja, Flo. Ibu bersyukur banget hari ini banyak yang dateng, lumayan Flo buat bayar semester kuliah kamu sayang." Kata Ibu Flo sambil tersenyum bahagia.
Flo bangun dan duduk dengan tegap. Sebenarnya dia tidak tega melihat wajah tua itu masih harus menanggung beban seberat ini.
Flo ingin sekali membantu ibunya, tapi dia tidak tahu harus melakukan apa, jadwal kuliahnya begitu padat, apalagi sebentar lagi dia akan menyiapkan skripsi. Dia tidak mungkin mengambil kerja paruh waktu sementara setelah pulang kuliah pun Flo harus membantu ibunya juga di Salon.
"Kamu udah makan, Flo?"
"Udah, bu. Ibu udah makan?"
"Belum sih, ntar aja pulang Ibu makan, hari ini rame banget, ibu gak sempet makan tadi."
"Tuh kan, yaudah aku balik bentar buat ambil makanan."
Flo berjalan dan sudah sampai di depan pintu.
Tapi sepasang matanya membulat seketika, dia mematung di tempat saat melihat sosok yang begitu familiar keluar dari sebuah mobil berwarna putih yang terparkir di depan Salonnya.
Dengan gaya sombongnya dia berjalan angkuh ke arah salon, Flo terus memperhatikan gerak gerik wanita itu di dalam kaca Salon yang tembus pandang.
"Ngapain tuh nenek lampir kesini!" Desis Flo sambil memicingkan matanya ke arah Stella dan kedua temannya.
Stella semakin mendekat dan akhirnya dia sampai di depan pintu Salonnya Flo.
Stella menyuruh temannya membukakan pintu untuknya, gaya nya sudah ngalahin Ratu Elizabeth aja!
Stella membuka kacamatanya saat dia sudah berada di dalam salon itu.
"Ngapain lo kesini?" Flo langsung menyambut kedatangan Stella dengan wajah tidak bersahabat.
Ibu Flo yang kaget melihat Flo berteriak langsung menghampiri anaknya.
"Ada apa, Flo."
Flo hanya diam, dia tahu Stella kesini bukan untuk memotong rambut atau cream bath seperti pengunjung yang lainnya, alasan pertama karna Stella gak mungkin perawatan di salon yang bukan levelnya, alasan kedua, gadis yang dijuluki nenek lampir ini tidak pernah menyukainya, jadi Flo yakin dia punya maksud lain.
"Ngapain lo kesini!" Flo mengulangi pertanyaannya.
Stella tidak menjawab, dia malah berkeliling salon dan memperhatikan setiap detail ruangan yang berukuran 3 meter itu.
"Sempit ya, jadi ini Salon orang tua lo!" Cibir Stella.
"Kalau lo kesini cuman buat menghina doang mending lo pergi sekarang!" Kata Flo sambil berteriak.
Ibu Flo langsung menarik lengan Flo dan mencoba menenangkan anak semata wayangnya, untung saja keadaan di Salon saat itu sedang tidak ada pengunjung lain.
"Flo, jangan teriak teriak, sebenernya dia ini siapa?" Ibu Flo tampak bingung.
Stella mendekat dan mengulurkan tangannya.
"Kenalin, saya Stella. Saya pemilik baru Salon ini."
Apa? Flo dan Ibunya saling pandang.
Tak lama kemudian Flo tertawa terbahak mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Lo gak usah ngarang deh, gue tau lo kaya, tapi salon ini bukan milik lo, ini milik tetangga rumah kami, mending lo pergi deh dari sini Stell, sebelum gue siram lo pake air!" Kata Flo sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya lebar lebar.
Stella dan kedua temannya malah balik tertawa sambil memicingkan mata pada Flo.
"Lusi, mana surat kepemilikan Salon yang sudah dibalik nama sama atas nama gue tadi, keluarin dan kasih liat sama cewek miskin ini!" Stella menengadahkan tangannya pada salah satu teman yang berdiri dibelakangnya.
Teman Stella langsung sigap merogoh sesuatu dari dalam tasnya, sesuai permintaan Stella, tak lama dia menyerahkan sebuah kertas ke tangannya.
"Nih, liat baik baik!" Stella menyerahkan kertas itu ke hadapan Flo.
Dengan ragu Flo menerima kertas itu dari tangan Stella.
Ibu Flo menghampiri Flo. Mereka sama sama melihat tulisan diatas kertas yang ternyata sebuah sertifikat itu.
Disitu tertulis jelas jika pemilik Salon ini memang sudah berpindah tangan ke Stella.
"Ini asli? lo pasti malsuin inikan?" Kata Flo tak percaya.
Ibu Flo menatap Flo dengan kening berkerut.
"Sebenarnya dia siapa sih Flo. Kok dia dateng dateng bawa bawa sertifikat Salonnya Ibu wati."
(Ibu Wati pemilik salon sebelumnya)
Stella langsung tertawa melihat kepanikan di wajah Flo.
"Buat apa gue palsuin sertifikat kaya gitu? gak ada kerjaan banget, Salon kaya gini tuh bisa gue beli pake duit jajan gue, kalau lo masih gak percaya, coba aja lo telpon pemilik sebelumnya!"
Ibu Flo buru buru mengambil ponselnya dan menelpon Bu Wati.
Flo melirik ibunya cemas, kalau berurusan dengan duit memang tidak ada yang mustahil bagi Stella, membeli Salon ini pasti sesuatu yang mudah baginya.
Setelah beberapa saat mengobrol di telpon, Ibu Flo kembali menghampiri Flo dengan raut wajah murung.
Melihat kesedihan diwajah Ibu Flo, Stella langsung tertawa keras.
"Sekarang lo percayakan kalau nih salon udah gue beli dan sekarang ini salon milik gue!"
"Tapi kami sudah menyewa salon ini dari lama, kami juga sudah membayar penuh uang sewanya untuk satu tahun ke depan nak." Ibu Flo akhirnya angkat suara.
Nak? jangan panggil dia nak bu, terlalu kebagusan, panggil dia nenek lampir! geram Flo dalam hati
"Tenang, Bu. Kami sudah menyiapkan uang ganti dua kali lipat untuk itu, mana Lusi keluarin amplopnya!"
Lagi lagi Stella menyuruh teman dibelakangnya untuk mengeluarkan yang dia minta dari dalam tasnya.
Tanpa pikir panjang teman Stella itu langsung menyerahkan amplop berwarna coklat itu ke tangan Stella.
Ibu Flo menggeleng.
"Nak, kami tidak ingin uang sewa itu kembali. Kami mohon jangan usir kami dari sini, hanya ini mata pencaharian saya nak, tolong biarkan kami menyewa tempat ini."
Flo tercengang, buru buru dia menghampiri Ibunya yang sudah akan mengangkat kedua tangannya untuk memohon pada Stella.
"Bu jangan lakuin ini!" Flo menggeleng sambil menatap sedih Ibunya. Dia tidak sudi ibunya harus mengiba pada gadis jahat ini.
Dia tahu Salon ini begitu berharga untuk Ibunya, dari sinilah dia mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka selama ini.
Flo juga sedih, dia tak menyangka jika Stella akan datang tiba tiba dan merusak segalanya. Gadis jahat ini pasti sengaja, dia melakukan ini karna Stella membencinya, Flo yakin itu.
Tidak mungkin Stella membeli Salon ini tanpa tujuan bukan?
"Nak, saya mohon ijinkan saya untuk tetap menyewa salon ini." Ibu Flo mengibas tangan Flo yang menghalanginya untuk memohon pada Stella.
Flo merasa sangat hancur tidak bisa berbuat apapun untuk Ibunya, dia menatap Stella berang, Stella malah tersenyum menantang sambil mengangkat dagunya tinggi tinggi.
Sekarang tamat riwayat lo Flo. Dasar gadis miskin, gue sengaja beli ini salon karna emang pengen liat lo hancur, gue tau salon ini sangat amat berarti buat lo. Rasakan! ini balasan karna lo udah berani merebut perhatian Manji dari gue. Gue akan bikin lo tau dimana posisi lo yang sebenernya!
Stella menatap Flo tajam, kilatan kebencian terpancar jelas dimatanya.
"Bu, biarin aja dia, kita bisa cari tempat lain buat di sewakan?"
"Tapi cuman disini Flo yang letaknya strategis, deket sama rumah kita, ibu gak perlu ngongkos dan lagi langganan kita udah banyak disini, Flo."
Flo terdiam, benar juga kata kata ibunya
Stella semakin merasa bahagia mendengarnya, itu artinya Flo tidak punya pilihan lain selain memohon padanya. Ini lah momen yang paling dia tunggu tunggu.
Dengan menahan sesak, Flo akhirnya maju ke hadapan Stella.
Stella mengangkat satu alisnya, menunggu Flo membuka mulutnya.
"Apa yang lo mau dari gue?" Tanpa basa basi Flo bertanya langsung ke intinya. Dia tahu Stella datang ke salon bukan tanpa maksud tertentu, pasti ada yang dia inginkan dari Flo.
Stella terbahak lalu kedua temannya ikut ikutan tertawa.
"Pinter juga lo bisa baca situasi, gue pikir lo.."Stella menggantung kalimatnya sambil mendekatkan wajahnya ke hadapan Flo.
"Goblok." Kata Stella pelan tapi tajam.
Flo mengepalkan kesepuluh jarinya, dia menarik nafas dalam dalam mencoba membesarkan kesabarannya yang sudah setipis kertas.
__ADS_1
Kalau saja dia sedang tidak berada dalam posisi tidak menguntungkan ini, Flo pasti sudah menjambak dan mencakar wajah Stella sampai puas.
"Udah gak usah bertele-tele, cepet bilang lo mau apa dari gue!"
Stella tertawa dan menatap remeh, Flo.
"Emang apa yang bisa lo tawarkan agar gue tetap mau mengijinkan Ibu lo buat nyewa tempat ini?"
Flo menahan kemarahannya yang sudah di ubun ubun, ditatapnya Ibunya yang masih berdiri dibelakangnya, raut wajah wanita itu penuh kesedihan.
Flo paling tidak tega melihat ibunya sedih.
"Gue akan lakuin apapun yang lo mau." Ucap Flo akhirnya dengan berat hati.
Hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan Salon ini.
Entah mimpi apa dia semalam, rasanya hari ini begitu sial bertemu dengan gadis ular seperti Stella. Stella menghancurkan semuanya dalam sekejap.
Ternyata kata kata Farel waktu itu benar, Stella itu nekat, dia bisa melakukan apapun yang dia mau.
Stella tersenyum lebar melihat kekalahan Flo. Gadis itu akhirnya ada dalam kendalinya.
"Oke, gue punya dua syarat yang harus lo penuhi."
"Apa?"
"Sabar dong!"
Flo menahan diri untuk tidak memaki.
"Pertama, jauhin Manji!"
Flo tersenyum sinis. "Manji lagi Manji lagi! gue gak suka sama dia, kalau lo emang sayang sama dia yaudah perjuangin! kenapa lo malah nyuruh gue ngejauhin dia? Aneh lo!"
"Karna gue liat dia ngejar ngejar lo sekarang! lo gak usah pura pura bego deh!" Stella melotot kesal, akhirnya dia terpancing juga untuk mengeluarkan sifat aslinya.
Stella menarik kerah baju Flo dengan kasar.
Ibu Flo sudah mau menghampiri mereka, tapi kedua teman Stella tadi buru buru menghadangnya dan menyuruh Ibu Flo untuk tidak ikut campur.
"Jangan ganggu Ibu gue!" Geram Flo sambil menatap Kedua teman Stella tadi.
"Gue gak akan nyentuh orang tua itu, asal lo penuhin semua persyaratan dari gue."
"Oke, gue bakal jauhi Manji, puas lo! "
"Bagus!" Stella melepas cengkeramannya.
"Dan yang kedua, mulai besok lo bakal jadi kacung gue selama waktu yang tak di tentukan!"
Apa? Flo melotot kaget.
"Maksud lo gimana?"
"Lo gak ngerti arti kacung? kacung itu pesuruh alias babu!" Dengan tanpa rasa bersalah Stella tertawa keras melihat kekagetan di wajah Flo.
Flo menggeleng, untuk alasan yang pertama okelah dia masih bisa terima, dia tidak keberatan menjauhi Manji, tapi untuk yang kedua rasanya ogah banget, harus menjadi kacung Stella? ngimpi aja lo Stell!
"Gue gak mau!" tolak Flo mentah mentah.
"Yaudah kalau gitu, besok lo tinggal beresin sampah sampah nyokap lo ini dan keluar dari Salon ini! lo jangan lupa sekarang salon ini milik gue."
"Stell, lo kelewatan banget sih!" Desis Flo berang.
"Haha, gue kelewatan? kelewatan cantik maksud lo?" Stella terkikik.
Flo meremas kedua tangannya geram.
Dasar nenek lampir, gak punya perasaan, gak punya hati!
Ah rasanya dia ingin sekali melayangkan satu bogem mentah ke wajah Stella.
"Udah buruan tentuin pilihan lo, keluar dari Salon ini atau lo sanggupi dua syarat dari gue tadi, sekarang keputusannya terserah di elo!"
Flo terdiam, bagaimana ini, dia tidak mungkin membiarkan Ibunya kehilangan Salon ini. Ini bukan hanya Salon tapi juga rumah kedua untuk Flo dan Ibunya.
Entah ancaman seperti apa yang dilakukan oleh Stella kepada Bu Wati sampai sampai tetangganya itu dengan gampangnya menjual tempat ini.
Karna Flo kenal betul Bu Wati juga sangat menjaga tempat ini, pasti Stella sudah mengancam Bu Wati dengan mulutnya yang jahat ini.
"Buruan, lama banget sih mikirnya!" Sergah Stella sambil mengibaskan rambutnya dengan gaya songong.
"Yaudah kalau lo emang ragu, lebih baik lo mulai berkemas malam ini, kosongin tempat ini secepatnya!" Kata Stella lagi, dia tak sabar melihat Flo hanya diam mematung.
"Oke oke! gue setuju sama syarat lo tadi!" Ucap Flo akhirnya.
Flo tertunduk lesu, dia kalah telak dihadapan Stella, tidak punya pilihan lain.
Stella tersenyum puas mendengar jawaban Flo, berarti mulai besok gadis miskin ini akan menjadi kacung peliharaannya!
bersambung
__ADS_1