Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Widya melabrak Stella


__ADS_3

Flo memalingkan wajahnya, kembali menatap ke depan, tangannya yang sudah masuk ke dalam tas otomatis dia tari keluar lagi. Dia tidak jadi memberikan bekal nasi gorengnya kepada Reihand.


Sama samar dia mendengar kata kata Reihand dari belakang.


"Makasih sa..yang."


Flo menarik nafas dalam. Sesak kembali memenuhi rongga dadanya.


Bel pelajaran kedua berbunyi.


Para siswa terlihat keluar dari masing masing fakultasnya. Reihand menaruh buku bukunya ke dalam ranselnya. Besok dia tidak akan masuk selama dua hari ke depan untuk menjalankan skors yang diberikan padanya.


"Sayang, dua hari ke depan kayaknya bakal sepi banget kalau gak ada kamu di kampus.." Ucap Widya sambil memasang tampang sedih


Meira dan Flo saling bertatapan, kemudian keduanya kembali sibuk membereskan peralatan tulis mereka masing masing. Flo masih merasa tidak enak karna dirinya, Reihand jadi harus menerim hukuman itu.


"Apa perlu gue minta tolong sama bokap gue biar ngomong sama pak Rektor?" Tawar Widya.


Ayahnya memang memiliki beberapa persen saham di kampus itu walau tidak banyak. Di tambah ayahnya bisa di bilang lumayan kenal dengan Tuan Heru Alexander karna seringnya mereka di pertemukan di acara acara meeting besar. Widya merasa mungkin dia bisa menolong Reihand kali ini.


Namun Reihand langsung menggeleng keras.


"Jangan Wid, jangan bikin semuanya jadi makin runyam, gue gak mau urusan ini malah melebar kemana mana, gue emang pantes kok dapet hukuman karna udah berkelahi di kampus ini." Tolak Reihand buru buru.


"Widya lagi aja manggilnya kan!" Desis Widya, tidak suka karna Reihand lupa lagi menyebutnya dengan panggilan sayang.


Reihand menarik nafas panjang.


"Iya sorry, gue masih belum terbiasa."


"Yaudah biasainlah sayang. Kan sekarang kita udah pacaran."


Meira yang bisa mendengar percakapan itu dari bangku depan menggeleng pelan.


Kenapa Widya jadi selebay itu sekarang, sepertinya dia sengaja ingin terlihat mesra dengan Reihand di depan Flo, apa cuman perasaannya saja ya..

__ADS_1


Flo buru buru menggeleng, tidak! dia tidak boleh suudzon pada Widya. Bagaimana pun hubungan kedua sahabatnya ini lagi akur akurnya. Dia gak mau merusak suasana dengan menebak nebak hal hal yang belum tentu kebenarannya.


"Oh, iya gue cabut dulu ya!" Kata Reihand pamit. Cowok itu berdiri dan hendak pergi dari kelas tapi Widya menahannya.


"Tunggu dong! gak romantis banget sih, peluuukkk dulu!" Kata Widya dengan suara manja. Cewek itu merentangkan kedua tangannya lebar lebar.


Flo tersentak, begitupun dengan Meira. Kini semua mata teman temannya yang belum keluar dari kelas kontan menatap ke arah mereka.


Reihand terbelalak. Dia benar benar tidak tahu harus menyambut pelukan Widya atau tidak.


Jika tidak, berarti sama saja dia akan mempermalukan cewek itu mengingat status mereka yang saat ini sudah pacaran.


"Peluuuk!!" Katanya lagi dengan suara yang terdengar lebih manja dari tadi. Widya tampak tidak sabar.


Semua yang ada di dalam kelas semakin melirik ke arah mereka, penasaran. Penasaran pada reaksi Reihand.


Dengan wajah kikuk, akhirnya Reihand mendekat, tapi dia tidak berusaha mengulurkan tangannya dan mendekap cewek itu layaknya seorang kekasih yang sedang memberikan pelukan yang romantis. Dia hanya mendekatkan tubuhnya ke arah Widya.


Karna merasa pelukannya tidak juga disambut dengan baik. Widya akhirnya memberanikan diri mengulurkan tangannya duluan dan memeluk tubuh Reihand yang jangkung. Di benamkan kepalanya yang hanya sebatas dada itu ke dalam dekapan Reihand.


Sementara Meira tahu apa yang Flo rasakan, dia juga wanita, kalau seseorang yang dia sayangi bersama wanita lain, pasti rasanya sakit sekali.


"Yaudah gue duluan ya?" Reihand melepaskan pelukan Widya. Cewek itu mengangguk sambil melambai saat cowok itu mulai melangkah dari sisinya.


Sekali lagi Reihand melirik ke arah Flo. Gadis itu bungkam, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Hanya tertunduk dalam sambil menatap ke arah lantai padahal tidak ada apa apa disana.


Karna tidak juga bisa menebak reaksi gadis itu, akhirnya Reihand memilih benar benar pergi dari kelas.


"Lo kok gak bareng Reihand Wid??" tanya Meira.


Ketika gadis itu ikut keluar dari kelas dan berjalan sama sama di lorong menuju gerbang.


"Iya, soalnya gue ada urusan Mei, jadi gue suruh Reihand duluan pulangnya, lagian katanya dia hari ini mau langsung ke kedai nyokapnya.."


"Oh gitu."

__ADS_1


Saat sampai di depan sebuah fakultas, Widya menghentikan langkahnya.


"Kalian duluan aja ya, gue masih ada urusan.."


Meira dan Flo mengangguk, tanpa curiga mereka langsung melanjutkan langkahnya lagi ke arah gerbang kampus.


Meira pulang dengan Arga sementara Flo lebih memilih naik ojeg online. Padahal Arga dan Meira menawarinya tumpangan, tapi gadis itu malah menolaknya dengan alasan tidak mau merepotkan.


Sementara itu setelah berpisah dengan kedua temannya tadi, Widya berbalik dan dia berjalan ke arah lorong Fakultas kesenian, dia berjalan lurus lalu berbelok ke arah gudang belakang, disana sudah menunggu Stella dan kedua teman temannya.


"Tutup pintunya!" Perintah Stella pada Jessy.


Antek anteknya menurut dan langsung bergerak ke arah pintu begitu Widya masuk.


"Lama banget sih lo Wid! lo yang ngajakin ketemuan malah lo yang ngaret!!" Cerca Stella ketika Widya sudah berada di depannya.


Cewek itu memasang tampang kesal. Widya meringsek maju dan mendorong bahunya dengan menyentaknya memakai satu tangan. Stella hampir saja terjengkang kalau saja Jessy dan Melisa tidak buru buru menopang tubuh Stella yang sedang berada di atas sebuah meja kayu panjang.


Stella terperangah juga kedua anteknya. Mereka menatap Widya dengan kening berkerut.


"Lo tuh ya Stell, bener bener bikin gue naik pitam! oon banget sih lo sampai bikin kesalahan berkali kali gitu!" Kata Widya dengan emosi yang sudah mulai membuncah.


Dia memang sengaja memanggil Stella untuk menunggunya sepulang kuliah ini, dia ingin meluapkan segala keluh kesahnya kepada gadis berperawakan bak model itu.


Stella berdiri, dia tak terima di dorong oleh Widya tadi.


"Apaan sih lo, ngomong!g apa sih lo? kalau ngomong tuh yang jelas dong! kesalahan apa maksud lo?"


Widya menarik nafas panjang, sepertinya dia sudah salah memilih partner untuk menjatuhkan Flo. Karna semua rencana busuk yang Stella susun malah membuat Reihand beberapa kali menempatkan dirinya sebagai penolong Flo, cowok itu malah jadi garda pelindung terdepannya Flo. Sialan kan?


Dan itu semua terjadi karna rencana dari Stella, jadi otomatis secara tidak langsung, sebenarnya rencana Stella untuk menyingkirkan Flo malah membuat gadis itu jadi lebih dekat dengan Reihand.


.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2