
Sena baru saja masuk ke rumahnya, tapi seperti biasanya, ia tak pernah betah tinggal di rumah itu. Ia memilih untuk pergi dan menemui teman-temannya.
"Halo Bian, lu dimana?" tanya Sena pada orang disebrang telpon yang belum mudeng dengan si penelpon.
"Woy!!! Biaaann lu masih hidup kan?!" Sena berteriak karena tak mendapat jawaban.
"Ini beneran Sena??!" tanyanya tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Iya non, ini gue! Nggak asik lu ah, masa lupa sama gue?!" jawabnya dengan nada dibuat kecewa.
"Sorry sorry, gue shock tau nggak, ini udah 4 tahun keleesss, lu nggak pernah sekalipun hubungi gue, udah gitu ini nomernya baru kan, sumpah Senaaa gue kangen banget sama lu!!!" ucap Bianca, sahabat terdekat Sena.
"Yaudah yaudah, Clubbing yuk, sambil kangen-kangenan!! Bosen nih di rumah juga nggak ada temen!!!" ajaknya pada sahabatnya itu.
"Oke!! Tapi jemput yah!!" pintanya.
"Siaappp, setengah jam lagi gue tunggu depan rumah lu, awas aja kalo telat!"
"nggak akan pernah!! hahaha"
Sena menutup telponnya, kemudian ia bergegas ke kamar mandi, berdandan dan bersiap untuk bertemu dengan sahabat kesayangannya, Bianca.
__ADS_1
Sena ingat, ia mengenal Bianca ketika dia pertama masuk sekolah menengah atas. Kala itu Bianca di hukum kakak kelas saat mereka dalam kegiatan MOS di sekolah. Bianca dihukum karena tidak membawa perlengkapan yang seharusnya ia bawa. Bianca dihukum untuk memunguti sampah di sekitar lorong kelas XI. Waktu itu banyak kakak kelas yang membully nya. Bianca terlihat sedang menangis. Entah kenapa, Sena merasa ingin membantunya, lalu ia mengangkat tangan pada kakak kelas panitia dan mengatakan bahwa perlengkapan yang ia bawa tidak ada. Akhirnya Sena ikut di hukum menemani Bianca. Dan semenjak itu lah, Bianca menjadi pengikut setia Sena.
Sekitar 15 menit kemudian, Sena sudah selesai bersiap, ia mematut kembali di depan cermin di kamarnya. Dalam cermin terlihat sesosok gadis muda yang mengenakan dress berwarna merah yang sangat ketat di tubuhnya. Rambutnya berwarna coklat, dengan lipstik merah menghiasi bibirnya.
Setelah ia merasa cukup cantik dan rapi, Sena segera bergegas untuk menjemput Bianca.
Sena turun ke garasi untuk mengambil mobilnya. Ia tersenyum melihat Maybach S 650 berwarna merah kesayangannya terparkir disana. Tanpa pikir panjang, Sena mengemudikan mobilnya menuju rumah Bianca.
Titiiit.. Sena memijit klakson mobilnya, memberitahu si empunya rumah untuk segera keluar menemuinya. Tak lama Bianca datang, dan langsung masuk ke mobil dihadapannya.
Sekitar setengah jam kemudian, Sena dan Bianca sampai di lokasi yang mereka tuju.
Setelah memarkirkan mobilnya, Sena dan Bianca masuk ke dalam ruangan tersebut.
Yah mungkin alasan itu yang membuat mereka merasa nyambung dan membuat persahabatan mereka menjadi awet.
"Ayo Sen, ceritain dong gimana kabar lu disana, lu ngapain aja selama ini, dan kenapa nggak pernah ngabarin gue??!!" tanya Bianca bertubi-tubi.
"Nanya tuh satu-satu neng, lu udah kaya wartawan aja deh!" jawab Sena terkekeh dengan pertanyaan sahabatnya yang membabi buta.
"yaudah jawab aja tau!!" ucapnya sambil manyun.
__ADS_1
"Yah lu tau kan kehidupan gue di Indonesia kaya apa ? Gue udah males tinggal disini, ketemu bokap gue yang terkadang lihat gue kaya nggak ada, gue cape lihat bokap judi sama mabuk." Sena menghela nafas agak berat. Kemudian ia melanjutkan.
"yah karena gue juga udah dianggap dewasa sama negara, jadi gue putusin buat kuliah di luar, akhirnya gue ke LA dan kuliah disana. Bokap mah seperti biasa oke aja sama apapun yang mau gue lakuin. Akhirnya gue pergi kuliah ambil jurusan musik"
"Lalu kenapa lu nggak pernah hubungi gue sih, lu udah nggak percaya nih ma gue?! " tanyanya sarkastis.
Sena tersenyum kemudian berkata, "Karena gue kepingin nyoba kehidupan baru sebagai Sena yang enggak dikenal siapapun."
"Hai gadis cantik, boleh kita duduk disini?" ucap 2 cowok berpakaian necis meminta ijin untuk bisa duduk dengan mereka.
Sena mengamati cowok itu, keduanya menggunakan jeans dan kemeja, tapi yang satu kemejanya di kancing, yang satunya tidak, tapi dia mengenakan kaos berwarna abu di bagian dalamnya. Mereka terlihat cukup muda dan tampan.
"Selama kalian nggak bikin kita BT, Silahkan!" jawab Sena.
***
Tara baru saja turun dari lantai dua, namun tanpa sengaja ia melihat seseorang yang ia kenal, dia mengenakan dress pendek ketat berwarna merah, rambutnya sedikit di buat ikal dibagian bawahnya dengan riasan lengkap dan lipstik berwarna merah darah. Persis pelacur, pikirnya. Kita lihat berapa lama lagi kamu masih bisa bersenang-senang seperti ini, Sena Zafiera, ucapnya dalam hati.
Tara melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan tempat yang paling ia benci ini.
"Krisan, segera percepat pengambil alihan dokumen Hutama Grup!" ucapnya pada lelaki di sebrang telpon. Audi 86 itu meluncur meninggalkan tempat itu.
__ADS_1