
"Mei, kenapa lo diem aja tadi diperlakukan begitu sama Arga?" Tanya Reihand berang ketika mereka berempat telah berada diluar ruangan.
"Gue cuman gak mau ribut ribut Rei, lagi pula kalaupun lo kasih tau Arga yang sebenernya sekarang, dia bakal nolak kenyataan kalau gue istrinya, karna dia emang gak inget gue sama sekali Rei!!!"
"Tapi seenggaknya kita coba kasih tau dia Mei!" Kata Reihand kekeh. Dia kesal melihat sikap Arga tadi yang seolah seolah tidak menganggap keberadaan Meira sama sekali.
Meira menghela nafas. "Percuma, lo hanya bakal bikin dia sakit nantinya karna berusaha mengingat sesuatu, gue gak mau Rei! ngeliat dia udah sadar dari komanya aja gue udah seneng banget.."
Widya dan Flo mengelus punggung Meira, menyaksikan sendiri bagaimana tadi Arga tidak mengingat Meira sama sekali membuat mereka kasihan pada sahabatnya itu.
"Tapi Mei.."
"Rei, please. Lo liat tadi kan dia juga gak inget sama lo! apa lo bakal maksa dia juga buat inget sama lo?"
Reihand terdiam. Dia mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Akhirnya dia pasrah juga dan mengikut kata Meira, membiarkan Arga begini dulu untuk saat ini.
***
Dikediaman Alexander.
Andrew membanting beberapa barang yang tergeletak dimeja rias.
"SIALAN!!!" Teriaknya kesal sambil melempar parfum yang disambarnya barusan.
PRANG PRANG
Meta yang baru saja masuk ke dalam kamar itu langsung tergelak kaget.
Pecahan barang barang yang sudah rusak berceceran dimana mana, kondisi kamar itu telah mirip kapal pecah.
"Ndrew, kamu kenapa?" Tanya Meta ketakutan, di melipir dan berdiri dipojokan.
Andrew tampak mencoba mengatur nafasnya, kemarahan di dadanya bergemuruh hebat. Rasanya dia ingin sekali menghabisi Arga tadi dengan tangannya sendiri.
Bocah itu memang sialan! dia selalu menjadi penghalang di kehidupannya, Andrew kini menyesal kenapa kemarin dia tidak menghabisi Arga saja dirumah sakit saat dia sedang koma.
Kalau sudah begini, posisi pemimpin perusahaan yang besok akan diberikan kepadanya bisa terancam dibatalkan. Andrew mengepalkan sepuluh jarinya kuat kuat.
"Ndrew.." Panggil Meta lagi. Wanita itu masih berdiri dipojok kamar, menatap Andrew dengan ketakutan.
Andrew menoleh dan baru sadar jika ternyata dia sudah membuat istrinya menatapnya seperti dia akan melakukan suatu kejahatan.
"Met.." Andrew mengusap wajahnya lalu mendekat ke arah Meta.
Meta meremas bajunya sendiri, dia takut Andrew yang sedang kalap akan melukai dirinya.
"Kemarilah sayang.." Andrew menarik tubuh Meta dan memeluknya erat.
__ADS_1
"Maaf kau harus melihat ini semua, aku sedang sangat emosi, maaf aku sudah membuat kamu takut Met." Andrew mencium pucuk kepala Meta.
Meta berusaha tenang saat Andrew mencumbunya. Gila! asli benar benar gila laki laki ini. Padahal baru saja dia marah marah seperti orang kesetanan tapi dalam sekejap dia langsung berubah jadi orang yang begitu penyayang, apakah Andrew punya dua kepribadian?
"Kamu kenapa Ndrew?"
"Aku hanya sedang kesal Met, lupakan saja, ayo kita keluar dan jalan jalan, suasana hatiku sedang tidak bagus, kau mau ikut denganku kan?" Andrew mengelus pipi Meta.
Meta mengangguk pelan, dia sepertinya tahu apa penyebab dari kemarahan Andrew ini, pasti karna Arga. Pasti karna rencananya melenyapkan Arga gagal. Ya Tuhan Meta bersyukur dalam hatinya karna mengetahui Arga berhasil selamat dari masa kritisnya.
Seandainya dia punya keberanian, rasanya dia ingin sekali mengungkapkan fakta jika sebenarnya Andrewlah dalang dari kecelakaan Arga kemarin.
****
Malamnya dikediaman Heru Alexander.
Diruang keluarga
"Ada apa? apa yang mau papah bicarakan?" Tanya Andrew pada tuan Heru saat mereka sedang berkumpul bersama diruang keluarga.
Meta dan Lusi ikut menatap penasaran. Setelah makan malam tadi entah kenapa tuan Heru tiba tiba menyuruh semua anggota keluarga berkumpul diruang keluarga.
Tuan Heru tampak menarik nafas dalam dalam sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot kebawah.
"Andrew, papah tau kau pasti akan kecewa dengan keputusan papah kali ini, tapi papah harus mengatakan ini pada kamu."
Dia memainkan jari jemarinya, gestur tubuhnya tampak gelisah. Lusi yang menangkap ekspresi kegelisahan anaknya itu langsung memegang tangan Andrew dan mencoba menenangkannya.
"Ndrew, kau taukan Arga sudah siuman dari komanya.."
"Aku tau!" Andrew menyela tidak sabar.
"Ndrew, pengumuman tentang posisi pemimpin perusahaan yang akan diselenggarakan besok dengan berat hati akan papah batalkan."
"TIDAK BISA!" Andrew langsung berdiri, hatinya terkoyak, susah payah dia tahan amarahnya dari tadi.
Lusi yang melihat Andrew emosi berusaha berdiri dan menenangkan putranya itu.
"Papah tidak bisa seenaknya membatalkan rencana pemindahan posisi itu hanya gara gara Arga telah siuman, memangnya aku bukan anakmu juga?"
Tuan Heru tampak tidak suka melihat sikap Andrew yang tidak sopan.
"Andrew! apa kau tidak bisa duduk dan bicara dengan baik?" Bentak tuan Heru.
Andrew menggertakan rahangnya kuat kuat.
"Duduk ndrew, hormati papahmu!" Pinta Lusi halus sambil menarik lengan Andrew untuk duduk.
__ADS_1
"Papah tau kamu akan kecewa, tapi ini sudah jadi keputusan terakhir papah, dari awal posisi ini memang papah persiapkan untuk Arga, kamu harus mengerti. Kamu tenang saja, papah juga sudah menyiapkan posisi yang bagus untuk kamu di perusahaan, kamu akan menjadi wakil Arga Ndrew!"
"Tapi.." Andrew hendak protes lagi namun urung ketika ibunya Lusi berusaha memberikannya kode untuk diam.
Meta ikut melirik ke arah Andrew. Andrew terlihat sangat marah.
***
Esok pun tiba, sesuai dengan apa yang telah dibicarakan semalam, tuan Heru ternyata tidak main main dengan ucapannya, hari itu yang harusnya jadi hari paling membahagiakan bagi Andrew malah berubah menjadi hari paling buruk.
Tuan Heru didalam rapat hari ini telah mengumumkan membatalkan memberikan posisi pemimpin perusahaan kepadanya.
Semua orang terkejut dan bertanya tanya mengapa Andrew tidak jadi menempati posisi itu padahal dia juga sama sama anak dari tuan Heru.
Andrew menjadi semakin kesal ketika tatapan orang orang di kantor itu seperti menatapnya dengan tatapan kasihan.
"Mereka pasti sedang menggosipkan kalau aku ini hanya anak tiri yang tidak dianggap! sial! ini semua gara gara bocah itu!" Andrew menggebrak meja kerjanya.
Dia tidak terima dengan kekalahan ini, terbersit lagi dalam otaknya satu rencana busuk untuk menyingkirkan Arga.
***
Sementara itu dirumah sakit Meira mengurus administrasi Arga. Hari ini Arga akan pulang kerumah.
Dia sangat bersyukur karna kesehatan Arga pulih dengan begitu cepat. Setelah menyelasaikan beberapa berkas dia menemui dokter Abian sebentar lalu kemudian bergegas balik lagi ke ruang perawatan Arga.
Namun langkahnya terhenti saat sampai di depan pintu kamar. Dia ragu untuk masuk ke dalam.
Ceklek
Meira mematung saat Melihat Arga tiba tiba membuka pintu.
"Ck! Lo lagi!" Arga berdecak.
"Lo ngapain sih masih disini? lo tuh sebenernya siapa sih? kenapa ya gue kesel banget kalau ngeliat lo!?" Arga menatap Meira sambil mengangkat alisnya tinggi tinggi.
Dia penasaran kenapa gadis di depannya ini selalu membuat darahnya mendidih, padahal gadis ini tidak melakukan apa apa. Tapi kenapa dengan melihatnya saja membuat Arga rasanya ingin marah marah terus.
Meira berusaha tenang dan tak terpancing.
"Sa-saya disuruh tuan Heru buat jemput kamu." Akhirnya hanya alasan itu yang terbersit di dalam benak Meira.
"Emangnya lo siapanya bokap gue? lo tangan kanannya?"
"Bu..bukan!" Meira menjawab agak kesal.
"Terus?"
__ADS_1
"Sa-saya ini asisten dirumah kamu!" Lagi lagi Meira menjawab ngasal. Dia sudah malas mencari alasan. Kalau dijawab yang sebenarnya juga percuma, mana percaya dia kalau Meira adalah istrinya.