
Sementara itu dibangunan rumah lain, Andrew nampak termenung sambil terus memperhatikan wallpaper foto pernikahan dirinya dan Meta dilayar ponselnya.
"Kenapa Andrew? kenapa terus melihat ponselmu dari tadi?" ibu Lusi yang sedang menyiapkan makan siang mengerutkan alisnya, sudah hampir setengah jam anaknya duduk di meja makan hanya termenung melihat ponselnya dengan wajah suram.
"Aku kangen istriku mah," Ucap Andrew seraya menghela nafas berat.
"Ya sudah temui saja dia kalau kamu kangen!" Lusi tampak malas.
"Gak mungkin mah, kalau aku temuin dia, yang ada nanti urusannya semakin runyam,"
"Runyam kenapa? kamu takutkan dia sampai melaporkan keberadaan kamu ke Arga? sudah mamah bilang istrimu itu memang tidak berguna! harusnya dia itu menolong kita disaat susah seperti ini, kamu kan suaminya, seenggaknya dia berbakti saka kamu, lihat bahkan dia nyariin kamu aja engga! dia pasti sekarang lagi bahagia hidup dirumah Alexander tanpa kita!" Cerocos Lusi sambil tangannya sibuk memindahkan nasi dan telor ceplok ke atas piring Andrew.
"Udah mah, cukup! Meta gak ada hubungannya sama masalah kita, aku yang gak mau bawa dia kabur bareng kita, aku gak mau dia sengsara."
Lusi memutar bola mata, malas.
"Astaga anak ini bener bener deh, jadi kalau bawa mamah sengsara mah gak apa apa?"
"Bukan gitu maksud aku mah!" Andrew menyanggah, benar benar selalu berujung ribut tiap kali membahas Meta dengan ibunya.
Lusi menyuap nasi ke mulutnya, melirik Andrew dengan tatapan kesal.
"Mah.." Andrew memegang tangan Lusi.
"Hem" Lusi menjawab tanpa membuka mulut.
"Mamah dan Meta itu dua wanita yang paling berharga dalam hidup Andrew, mamah jangan kaya gini terus dong."
"Habisnya kamu peduli banget sama dia."
Andrew menggeleng heran "Ya, karna dia itu istriku mah, wajar kalau aku peduli sama dia!"
akhirnya Lusi tak bisa menyahut lagi. Percuma menurutnya karna Andrew memang bucin akut pada istrinya.
"Lantas gimana rencana kita selanjutnya? mamah gak mau disini terus ndrew, sumpek dan pengap!" Tanya Lusi sambil menatap sekeliling ruangan.
Tempatnya tinggal sekarang memang tidak bisa dibandingkan dengan istana besar milik keluarga Alexander. Kadang kadang dia menyesal karna terlalu serakah pada harga suaminya, andai dia jadi istri yang baik mungkin hidupnya masih akan tetap bergelimang kemewahan seperti kemarin.
Andrew menghentikan kunyahan nya.
"Aku akan ke jakarta besok mah, aku mau memastikan keadaan disana dan melihat situasi, baru setelah itu aku bakal nyusun rencana selanjutnya."
"Benarkah? mamah ikut ya kalau gitu." Kata Lusi antusias.
__ADS_1
Andrew langsung menggeleng.
"Engga perlu, mamah dirumah aja, lagian aku cuman mau liat situasi aja."
"Loh kenapa sih? mamah pengen ngeliat ayahmu ndrew!"
"Hem, mamah kangen sama ayah?" Andrew menatap Lusi penasaran.
Lusi hanya melongoskan wajah, tak berniat menjawab.
"Kamu jangan mengalihkan topik ndrew, mamah cuman pengen ikut aja emang gak boleh?" tanya Lusi mengalihkan pembicaraan
"Terlalu berbahaya mah, mamah tahukan Arga pasti sekarang sudah mengerahkan orang orang untuk mencari keberadaan kita."
"Iya sih, si anak tengil itu gak mungkin tinggal diem. Kira kira ayahmu udah tau semuanya belum ya?" Tanya Lusi tiba tiba kepikiran tentang suaminya.
Bagaiman reaksi Heru saat tahu jika ternyata selama ini dia dan Andrew lah yang sudah berusaha melenyapkan Arga dan juga menjadi dalang dibalik kematian bunuh dirinya Stefan anak pertama Heru. Membayangkannya saja Lusi sudah ngeri, dia tahu suaminya memang orang yang santai, tapi sekalinya di usik, dia lebih menyeramkan dari pada singa di gurun afrika.
"Tentu saja ayah sudah tau semuanya, Arga tidak mungkin tidak memberi tahu ayah mah, justru karna itu, kita harus semakin waspada, ayah tidak mungkin melepaskan kita begitu dia tahu kalau kita selama ini berusaha melenyapkan anak anaknya."
Lusi menghentikan makannya, wajahnya mendadak resah.
"Terus kita harus gimana ini Ndrew? mamah gak mau sampai ditangkap sama polisi! mamah juga gak mau jatuh miskin!!!!"
"Mah, mamah percaya sama Andrew ya, aku gak akan ngebiarin kita sengsara kaya gini terus, makanya mamah doain aku, semoga pas aku ke jakarta nanti aku punya kesempatan buat menculik Meira, cuman gadis itu harapan kita satu satunya.."
Lusi masih mengetuk ngetuk jarinya diatas meja, resah dan cemas, ucapan Andrew barusan sama sekali tidak membuatnya tenang, karna dia tahu sudah beberapa kali anaknya itu mencoba melukai Meira tapi Arga selalu datang tepat waktu, laki laki itu seolah tahu setiap bahaya yang hendak menghampiri istrinya.
Akhirnya setelah menyelesaikan makannya, Andrew pamit pergi ke jakarta seorang diri, Lusi mau tidak mau mengalah untuk tidak ikut.
...****...
Dua jam lebih perjalanan, akhirnya Andrew sampai di jakarta. Andrew membelokkan mobilnya ke perusahaan, entah kenapa ditengah perjalanan tadi tiba tiba dia kepikiran Meta istrinya.
Andrew ingin melihat Meta sebelum dia kembali meneruskan niatnya mengintai rumah besar.
Andrew menepikan mobilnya di dekat pepohonan jalan. Perusahaan besar milik keluarga Alexander ada di depan mata.
"Bagaimana caranya aku masuk ke dalam ya?! ayah pasti sudah menandai wajahku sebagai penjahat, semua orang di perusahaan tidak akan tinggal diam dan mengadukan keberadaan ku kalau mereka sampai melihat aku! ah, sial!" Andrew menggebrak dasbor dengan kencang. Pikirannya kalut, dia benar benar merindukan Meta.
Saat Andrew sedang mengusap kepalanya karna frustasi tiba tiba dia melihat salah seorang OB keluar dari perusahaan dan hendak membuang sampah ke sebrang jalan.
Andrew tak menyianyiakan kesempatan, dia segera melompat turun dari mobil dan berlari ke arah sang OB dengan memakai kembali masker dan topinya.
__ADS_1
"Mang, Udin!" Panggil Andrew sambil terus berlari menghampiri OB yang bernama udin itu.
Mang Udin menoleh kaget, memperhatikan orang yang memanggilnya dari ujung kaki sampai ujung kepala seraya mengernyitkan alis.
Dia tidak mengenali Andrew karna hanya mata dan alisnya saja yang terlihat.
"Punten, bapak manggil saya?" Tanya mang Udin sambil menunjuk dirinya sendiri, bak sampah yang ada di tangannya dia letakan dibawah kakinya.
"Mang, saya mau minta tolong, saya mau nanya sesuatu!" Andrew berbicara sambil celingukan melihat keadaan sekitar saat dia telah sampai di depan orang yang dulu menjadi bawahannya.
Mang Udin diam sejenak, dia sangat familiar dengan suara orang dihadapannya.
"Mang, ini simpen buat tambahan beli susu!" Andrew mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari saku celananya dan menyerahkannya ke tangan mang Udin.
Pria itu melongo sambil melihat lembaran uang ditangannya. Andrew tahu mang Udin ini istrinya baru saja melahirkan, OB ini juga salah satu yang sering kali meminta kasbon ke perusahaan dengan alasan untuk kebutuhan keluarga.
"Ini saya mang," Andrew membuka sedikit maskernya hingga sebagian wajahnya terlihat.
Mang Udin jadi semakin syok. Benar, itu memang suara Andrew mantan bosnya.
"Pak An.."
"St.. diem mang!" Andrew meletakan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat agar laki laki paruh baya itu tidak melanjutkan ucapannya. Bisa gawat kalau ada yang dengar.
"Kemari!" Andrew menarik lengan mang Udin ke dekat mobil.
"Mang, simpen uang itu, anggep aja mamang gak pernah liat atau ketemu sama saya. Saya cuman mau nanyain sesuatu sama mamang.."
"Nanya apa pak?" Mang Udin jadi ikut celingukan saat mengetahui orang dibalik masker itu adalah mantan bosnya yang kini tengah buron. Dia takut dan ingin mengembalikan uang ditangannya, tapi di sisi lain dia juga lagi butuh tambahan uang untuk membeli kebutuhan bayinya yang masih berusia satu bulan.
"Meta masih kerja disini gak mang? keadaan dia gimana?" Tanya Andrew tanpa basa basi.
"Hm anu pak Andrew, saya.." Mang Udin hendak menyerahkan uang ditangannya namun Andrew malah menambahkan lembaran uang merah yang dia keluarkan dari dompetnya.
"Ini! segini cukupkan?" Tanya Andrew tak sabar.
Mang Udin menelan ludah berat, uang ditangannya mungkin nominlnya sebesar gaji dia selama setengah bulan diperusahaan, akhirnya dia melipat lembaran uang merah itu dan buru buru memasukannya ke kantong celana.
"Ibu Meta sudah beberapa hari ini tidak masuk kerja pak, saya juga kurang tahu apakah dia resign atau hanya cuti saja." Ucap Mang Udin.
Andrew terdiam. Jadi Meta juga tidak masuk kerja, apakah gadis itu dilarang Arga untuk pergi ke perusahaan gara gara dia?
"Yaudah makasih ya mang! inget ya mang jangan buka mulut tentang ini, kalau mamang berani ngaduin saya, saya pastiin keluarga mamah bakal dalam bahaya!" Andrew menutup kembali maskernya, dia berbalik dan masuk kembali ke dalam mobil setelah mendapatkan informasi tentang Meta.
__ADS_1
Sementar mang Udin tetap mematung, hatinya sedang bergulat diantara dua pilihan, tetap merahasiakan ini atau berkata jujur pada Arga kalau dia baru saja bertemu dengan Andrew?