
Di dalam mobil yang keluarga Alexander tumpangi, Meira duduk di kursi belakang dengan pandangan kosong, masih terdengar suara segukan dari mulutnya akibat tangis yang juga tidak berhenti sejak dirumah tadi.
Jalanan sudah mulai sepi karna waktu menunjukkan hampir tengah malam. Tidak terlalu banyak kendaraan yang beraktivitas di jam tersebut. Dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di portal masuk sebuah bangunan rumah sakit yang lumayan besar.
Jantung Meira berdegup lebih cepat ketika dia melihat ke arah luar, suara sirine ambulance terdengar dari arah parkiran tempatnya sekarang berada.
Dia melihat beberapa petugas rumah sakit yang sedang sibuk memindahkan seseorang dari dalam mobil ambulance itu ke atas kasur yang berada di belakangnya.
"Meira, ayo kita langsung naik ke lantai atas.." Tuan Heru menarik bahu Meira karna menantunya itu terus saja mematung ditempatnya.
Dia terus memperhatikan orang yang baru dikeluarkan dari tandu ambulance tadi, darah segar mengalir di kedua sudut pelipisnya. Meira langsung memalingkan wajahnya, tanpa sadar dia mencengkram ujung bajunya sendiri, takut sekaligus kasihan, bagaimana kalau keadaan Arga juga seperti itu? apa dia kuat melihatnya?
Lusi dan Andrew mengikuti langkah Meira dan Tuan Heru dibelakang, mereka naik mobil yang berbeda.
"Kau yakin rencanamu berhasil kali ini?"Bisik Lusi disebelah Andrew, mereka sengaja berjalan agak jauh dari Tuan Heru dan juga Meira.
Andrew tersenyum penuh arti.
"Tenang mah, semuanya beres!" Andrew mengacungkan jempolnya.
Setelah menaiki lift menuju lantai atas, mereka berempat pun sampai dilantai ke empat, lorong panjang membentang sejauh mata memandang, dan yang terlihat hanyalah pintu pintu kamar pasien yang tertutup rapat di setiap sisinya.
Meira terus berjalan dengan sekujur tubuh yang bergetar hebat.
Setelah melewati beberapa kamar, mereka pun berbelok di satu sisi yang berujung pada sebuah pintu yang bertuliskan Ruang Operasi.
Meira hampir saja terjatuh kalau saja Tuan Heru tidak menangkap tubuhnya.
"Nak, tenangkan dirimu!" Ucap Tuan Heru dengan suara yang terdengar lirih, Meira tahu orang tua ini pun sebenarnya saat ini sama hancurnya dengan dia.
"Meira, kau tidak boleh lemah, kalau kau seperti ini, siapa yang akan menguatkan Arga?" Lusi mendekati Meira dan mencoba membantunya berdiri.
Andrew hanya mengelus dagunya sambil menatap ruang operasi, dia berharap besar operasi yang tengah Arga jalani ini gagal.
"Apakah Arga akan baik baik aja pah?" Tanya Meira getir, matanya sudah tak sanggup membendung air mata yang entah sudah berapa kali mengalir bebas dikedua pipinya hari ini.
"Kita berdoa semoga semuanya berjalan lancar, Arga itu anak yang kuat, kau harus percaya padanya Mei.."
Tuan Heru mengusap pelan keningnya. Luka di dadanya akibat kematian anak pertamanya stefan saja belum kering, kenapa sekarang Arga juga harus mengalami nasib yang sangat tragis. Dia tidak tahu apakah dia masih bisa hidup jika sampai terjadi sesuatu pada Arga.
Dua jam mereka menunggu dengan cemas akhirnya pintu didepan mereka terbuka lebar. Seorang Dokter dan dua orang suster berjalan keluar dan membuka masker mereka.
__ADS_1
Meira dan Tuan Heru buru buru menghampiri.
"Bagaimana dok keadaan anak saya?"
"Iya, bagaimana keadaan Arga dok?"
Dokter itu diam sesaat, sepertinya dia berat untuk membuka mulutnya.
"Maaf tuan Heru, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kondisi Arga saat ini masih kritis, kita hanya bisa menunggu keajaiban Tuhan, benturan hebat di kepalanya membuat kondisi Arga cukup sulit. Banyak sel saraf yang kena dan membuat Arga hilang kesadaran.."
Meira langsung ambruk, begitupun juga tuan Heru, dia langsung menyenderkan tubuhnya ditembok, rasanya seluruh persendiannya tiba tiba lemas.
Meira menangis dalam diam, sementara Andrew dan Lusi saling bersitatap sambil mengulum senyum.
****
Setelah operasi Arga pun dipindahkan ke ruang ICU. Meira menarik kursi dan duduk disebelah Arga. Dia melihat banyak sekali kabel yang terpasang di badan suaminya itu, ada beberapa luka goresan yang belum sepenuhnya mengering tercetak jelas di wajah tampannya.
Sementara itu bunyi degup jantungnya bisa terdengar jelas melalui monitor tanda vital yang terletak disebelah ranjangnya.
Dengan mulut bergetar dia menggenggam lengan Arga. Tangan itu tidak hangat seperti biasanya. Terasa dingin dan juga kaku.
"Sayang..." Panggilnya lirih malah hampir tidak kedengaran.
Andai saja waktu itu dia tak mengangkat telpon Arga mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"Maafkan aku sayang, semua ini salahku.." Meira mencium punggung tangan Arga sambil menangis sesegukan.
Kini rasa bersalah menyelimuti hatinya.
"Bangunlah! kumohon bangun!" Ucapnya lirih.
"Aku tidak mau kehilanganmu Ga.."
Malam itu jadi malam yang begitu panjang untuk dilalui oleh Meira.
***
Esoknya Meira keluar ruangan untuk menemui dokter dan menanyakan kondisi Arga. Namun langkahnya terhenti ketika dia melihat Reihand ternyata sudah berdiri persis di depan ruangan, memandang ke arahnya dengan wajah muram.
Tanpa membuang waktu Reihand mendekat dan menghampiri Meira.
__ADS_1
"Mei! kenapa bisa sampai begini? bagaimana keadaan Arga?" Tanya Reihand tak sabar dia melihat mata Meira yang sembab juga wajahnya yang terlihat sangat pucat. Gadis ini pasti sudah melalui hari yang begitu berat.
"Arga.." Suara Meira tertahan, dia memalingkan wajahnya dan melihat ke arah ruang ICU.
"Arga masih kritis Rei.."
Reihand menjambak rambutnya sendiri sambil menggertakan giginya.
"Sial! kenapa bisa sampai kecolongan, ini pasti rencana si setan itu!"
Meira menoleh dan mendekat ke arah Reihand.
Dia merasa pembicaraan ini tidak aman dibicarakan disana, akhirnya Meira menarik lengan Reihand dan membawanya ke pojokan.
"Lo tau ini bakal terjadi Rei?"
Reihand mengangguk pelan.
"Bahkan Arga pun tau kalau nyawanya dalam bahaya.."
Meira mengerutkan alisnya.
"Maksud lo?"
"Mei, sebelum Arga pergi, kita berdua ngobrol soal ini. Arga curiga kalau Andrew akan menyewa seseorang untuk mencelakainya karna sebentar lagi kan perusahaan ayahnya akan mengumumkan soal penerus pemimpin perusahaan.." Reihand berucap sangat pelan sambil memperhatikan sekeliling, dia tidak ingin jika sampai obrolannya dengan Meira ini akan di dengar oleh seseorang.
"Dari hari pertama dia sampai si puncak, Arga telpon gue, dia bilang dia udah ngerasain kalau dia lagi di awasin, gue curiga kalau Bima yang ngelakuin semua ini, karna kemarin gue sempet nyelidikin keberadaan dia di kampus brawijaya, ternyata benar Bima cuti kuliah sudah sejak seminggu terakhir.."
Meira menutup mulutnya, ternyata kekhawatirannya selama ini jadi kenyataan, dia pun sudah lama curiga dengan Andrew apalagi dia sempat mendengar sendiri rencana jahat kakak iparnya itu.
"Lalu kita harus bagaimana Rei?"
"Kita harus ngawasin Arga Mei, jangan pernah tinggalin Arga sebelum dia berhasil sadar dari komanya.."
Meira mengangguk cepat.
"Lo harus tetep disampingnya, karna gue yakin Andrew gak akan berhenti sebelum berhasil dengan rencananya menyingkirkan Arga. Untuk urusan Bima, biar gue yang tanganin!"
"Apa yang bakal lo lakuin Rei?"
Reihand menghembuskan nafas kasar.
__ADS_1
"Bima, udah bikin sepupu tercinta gue bunuh diri bersama bayinya, dan sekarang dia berani nyentuh sahabat gue, jelas yang bakal gue lakuin ke dia adalah balasan yang gak akan pernah dia bayangkan Mei, gue gak akan tinggal diem lagi!" Reihand terlihat emosional, dia menggenggam kesepuluh jarinya kuat kuat sambil menatap ke arah ICU dengan wajah sedih.