Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Rencana Andrew


__ADS_3

Dirumah Bima


Sebuah cerutu menyala diapit kedua jari Bima. Asap membumbung tinggi disekitarnya sementara matanya menerawang jauh ke depan. Dia duduk di balkon kamarnya sambil sesekali melihat selembar foto. Foto pigura dirinya dengan seorang wanita yang terlihat begitu mesra. Sedang berpelukan dengan posisi Bima dibelakang sementara tangannya memeluk erat wanita yang terlihat tersenyum ke arah kamera. Dan sang wanita itu tak lain adalah Viona.


"Gue kangen Vi, gak tau sampai kapan gue bisa lari dari rasa bersalah ini.." Katanya lirih kepada dirinya sendiri.


Tak lama handphonenya berdenyit, sebuah panggilan masuk dari Andrew.


"Ya, ada apa?" Sapanya datar.


"Gue diluar nih, bukain dong pintunya!"


Bima langsung menutup telponnya, menaruhnya kembali ke dalam saku celananya. Lalu kemudian dia berbalik dan melangkah menuju pintu depan.


Klek


Andrew memang telah berdiri di depan pintu. Tanpa dipersilahkan masuk, pria itu sudah nyelonong sendiri ke dalam. Bima lalu mengunci pintu rumahnya lagi.


"Lama banget sih! lagi ngapain emang?"Tanya Andrew dengan mimik muka agak kesal. Kesal karna memang sudah hampir setengah jam dia berdiri di depan pintu rumah Bima, namun tak ada juga yang menyahut kecuali kicauan burung di dekat pepohonan rumahnya.


Bima memang tinggal sendirian dirumahnya. Ayah dan ibunya sudah bercerai sejak dia kecil. Dia memilih hidup sendiri dirumah warisan milik ibunya, sementara ibunya sendiri sudah menikah lagi dan tinggal bersama suami barunya diluar negri.


"Sorry, gue gak denger ada yang ngetuk pintu!" Jawabnya sambil mengambil sebotol vodka dari dalam lemari kaca lalu menaruhnya diatas meja. Diapun menuju ke dapur, tak lama sudah kembali lagi dengan dua gelas kaca ditangannya.


Andrew mengeluarkan sebuah amplop coklat. Ditaruhnya amplop itu ke hadapan Bima. Bima menatap amplop itu dengan kening berkerut.


"Bantuin gue buat nyingkirin seseorang.." Ucap Andrew.


Bima tak bicara. Mempersilahkan Andrew meneruskan kalimatnya


"Arga. Bantuin gue buat nyingkirin dia.."


Bima sudah menduga. Ditariknya napas dalam dalam, kakinya menyilang lalu dia bersandar pada kepala sofa dibelakangnya.


"Gue gak bisa Ndrew."


"Kenapa?" Andrew kaget mendengar penolakan Bima.


Bima tak langsung menjawab. Dibukanya Vodka lalu dituangkannya ke dalam gelas kosong. Salah satu gelas yang sudah di isi minuman itu diletakkannya tepat dihadapan Andrew.


"Dia, bagaimanapun adalah mantan teman tongkrongan gue. Gue tau dia siapa. Dia bukan orang sembarangan Ndrew!"


Andrew tertawa picik "Bilang aja lo takut!"

__ADS_1


"Gue gak takut sama siapapun!" Bima merasa tersindir. Ditatapnya Andrew tajam.


"Kalau bukan takut namanya apa? Justru karna dia mantan temen lo, lo pasti taulah kelemahannya! gue gak minta lo langsung abisin dia hari ini juga. Lo boleh pake cara apapun yang penting jangan sampai ada yang tau kalau dia mati karna dibunuh."


"Lo mau buat kematian dia seolah olah kecelakaan?" Tebak Bima kemudian.


"Pinter lo!"


Andrew mengambil Vodka dihadapannya, lalu diteguknya isi Vodka itu sampai habis.


Diapun kembali menatap Bima yang terlihat sedang berpikir.


"Kalau lo berhasil lenyapin Arga. Gue bakal kasih cek satu milyar."


Bima menoleh kaget.


"Dan gue juga bakal kasih posisi yang menjanjikan disalah satu cabang perusahaan ayah gue buat lo, lo udah cape kan kerja kaya gini terus?" Timpal Andrew lagi.


Bima lagi lagi hanya diam. Bimbang. Dia memang berencana ingin pensiun dari pekerjaan hitamnya ini. Karna dia merasa sudah capek dan lelah dihantui rasa bersalah dan was was setiap habis menjalankan tugasnya sebagai pembunuh bayaran.


Kemarin kemarin mungkin dia hoki, satu pun kejahatannya tidak tercium oleh polisi. Namun di masa depan bukan tidak mungkin satu kesalahan fatal bisa membuat dirinya tertangkap dan mendekam di dalam penjara.


Belum lagi rasa bersalah yang menghantuinya. Pernah suatu ketika dia menerima pekerjaan dari seorang bos besar untuk melenyapkan istrinya sendiri yang tengah hamil tua.


Apalagi alasannya kalau bukan skandal perselingkuhan yang diketahui oleh istrinya itu hingga membuat sang suami tega menyuruh pembunuh bayaran sepertinya. Malangnya wanita itu tengah hamil tua. Entah apa yang dipikirkan oleh suaminya saat menyatakan niatnya membunuh istrinya sendiri yang tengah hamil itu.


Sebuah kecelakaan yang menyebabkan sang penumpang tewas seketika.


Darah segar mengalir diantara hidung dan ************ wanita itu. Bima menatapnya nanar ketika akhirnya dia mengetahui jika dia bukan hanya membunuh satu orang, namun dua nyawa sekaligus.


Polisi tak bisa menahannya, malah menahan sang sopir karna dianggap lalai dalam mengemudi hingga menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya.


Namun semenjak itu, Bima tak bisa tidur nyenyak. Setiap malamnya dihantui oleh rasa bersalah.


Dia pun kemudian berencana untuk pensiun saja dari dunia hitamnya ini, tapi entah kapan keinginannya itu terlaksana, karna selain mengandalkan pekerjaan ini, Bima tak punya pemasukan lain.


"Lo gak usah jawab tawaran gue hari ini Bim, lo kabarin aja kalau lo berubah pikiran!" Andrew menepuk bahu Bima. Lalu pria itu kemudian bergegas meninggalkan rumahnya.


Tinggal lah Bima yang kini tengah kebingungan dengan tawaran yang diberikan oleh Andrew.


***


Esok pun tiba. Matahari masih malu malu menampakkan sinarnya. Sementara Meira dan Arga sudah bangun dan sedang bersiap siap untuk pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


"Gue gak ngerti, kenapa sampai lo mau balik pun, mamah sama Andrew gak jenguk kesini! ini sih kelewatan!" Ucap Meira sambil merapikan baju kotornya dan Arga.


"Tidak usah pedulikan tentang mereka."


Tunggu, Meira jadi teringat sesuatu. Rekaman itu! ya, soal rekaman itu.


Apa aku harus memberitahu Arga sekarang? haruskah? tapi dia baru saja sembuh, aku tidak ingin membebaninya dengan masalah baru. Mungkin aku akan menunggu sampai dia benar benar sehat, setelah itu aku akan memutar rekaman percakapan antara Andrew dan si nenek lampir itu.


Seorang pengawal pun sudah siap di depan pintu. Menunggu tuan mudanya keluar. Setelah dokter memeriksa kondisinya sekali lagi, Arga akhirnya diperbolehkan pulang.


Arga dan Meira pun akhirnya bisa pulang setelah dua hari menginap dirumah sakit itu. Sebelum makan siang mereka sampai juga dirumah.


Arga langsung naik ke lantai atas tanpa memperdulikan ibunya yang pura pura iba menyambut kepulangannya.


"Lo lagi ngapain?" Arga duduk diranjang sambil menselonjorkan kedua kakinya. Menatap Meira yang tengah sibuk merapikan buku buku dimeja belajarnya.


"Gue mau ke kampus Ga, kebetulan kelasnya mulai satu jam lagi. Gue udah nyuruh Bi siti buat nyiapin makan siang. Nanti obatnya gue taruh di deket meja ya!" Meira menjawab tanpa menoleh. Masih sibuk memeriksa jadwal kuliahnya.


Arga tampak berpikir.


"Tunggu dulu!"


"Apa?"


Arga mengambil ponselnya dan terlihat sedang memilih foto dirinya sendiri. Dia pun segera mengirimkan salah satu yang menurutnya keren ke WhatsApp milik Meira.


"Sini hp lo!"


Meskipun bingung, Meira pun memberikan ponselnya ke tangan Arga.


Arga tampak asyik sambil tersenyum misterius dia pun mengembalikan ponsel Meira ke pemiliknya.


kenapa dia tersenyum mengerikan seperti itu? apa dia habis mengirim foto mesum ke dalam ponselku?


Meira mengecek ponselnya namun ketika baru mau menyalakan hpnya matanya langsung melotot sempurna.


"Jangan pernah lo ganti wallpaper itu. Kalau lo ganti, lo bakal gue abisin!" Ucap Arga serius. Menatap Meira sambil menaikkan satu alisnya.


Meira semakin melongo.


Hah~ lihatlah dia sok berkuasa! Bisa bisanya dia dengan pedenya memasang fotonya sendiri di hp gue! lihat tingkahnya, semakin hari semakin tidak bisa di tebak!


"Udah sana pergi!" Arga mengibaskan tangannya. Mengusir Meira terang terangan.

__ADS_1


Meira memicingkan matanya. Kesal karna meskipun tidak mengerti namun dia tetap menuruti permintaan Arga itu. Tak menghapus wallpaper foto Arga dihpnya.


bersambung


__ADS_2