Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Pernyataan Cinta Arga


__ADS_3

Arga menggebrak meja, nafasnya naik turun tak beraturan, wajahnya terlihat sangat kesal. Meira yang berdiri dibelakangnya kaget saat Arga berbalik dan menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Dasar bodoh, kenapa lo diem aja tadi? lo tau kan ibu ibu tadi mau mempermalukan lo dengan mengorek tentang latar belakang keluarga lo!? Cih sialan mereka!" Bentak Arga.


Arga menarik paksa lengan Meira dan membawanya menuju lantai atas. Tapi Meira berusaha menepisnya walaupun akhirnya gagal.


Pontang panting dia berusaha menyamai langkah kaki Arga. Tak lama mereka sudah berada di dalam kamar.


Arga menghempaskan tubuh Meira ke atas sofa, masih tergambar jelas aura kemarahan diwajah tampannya.


"Lo tuh ya, gak pernah denger yang gue bilang! mereka tadi nanyain latar belakang keluarga buat mempermalukan diri lo, paham gak sih? kenapa lo diem aja hah?" Bentaknya lagi.


Dicengkeramnya dagu Meira, gadis itu mendongak dan Arga bisa melihat jelas butiran air mata yang mulai menggenang dipelupuk matanya.


"Lepaaas!!" Meira berusaha menyingkirkan tangan Arga dari wajahnya. Dia berdiri dan mencoba menatap balik mata Arga meski tubuhnya bergetar hebat.


Arga memang sudah menyelamatkannya tadi dari bahan gunjingan ibu ibu sosialita. Tapi kenapa dia juga harus dimarahi atas sesuatu yang bukan salahnya. Memangnya dia yang memancing ibu ibu tadi mendekatinya? bukan! mereka sendiri yang datang dan mencoba mengusik latar belakang keluarga Meira. Meira melotot kesal.


"Emang kenapa kalau sampai mereka tau tentang latar belakang keluarga gue? kenapa hah? lo malu dengan latar belakang keluarga gue?" Meira membentak balik sambil menunjuk Arga dengan telunjuknya.


Arga tersentak, tak menyangka jika gadis dihadapannya akan bereaksi seperti itu.


"Bodoh, lo gak paham maksud gue!"


"Iya, gue emang gak pernah paham maksud lo! gue gak pernah paham isi hati lo! gue gak pernah paham sama kebaikan kebaikan yang lo kasih ke gue! gue gak pahaaaam, dasar brengsek!" Teriak Meira sambil memukul mukul dada Arga dengan membabi buta. Air mata yang sedari tadi coba ditahannya akhirnya bobol juga. Dia menangis sejadi jadinya.


Arga terpaku, syoknya bertambah mendengar kalimat Meira barusan. Dia biarkan gadis itu memukuli dirinya sampai kelelahan sendiri.


"Gue gak paham Ga, gue gak paham kenapa lo kadang baik sama gue! jangan selametin gue lagi, jangan tolongin gue lagi, jangan bikin gue salah paham lagi tentang perasaan lo, jang.."


Arga langsung membekap mulut Meira dengan salah satu lengannya, sementara tangannya yang lain sudah bergelayut di pinggang gadis itu.


Arga menatapnya lurus. Jantung Meira berdebar hebat.


"Hmmpt" Meira mencoba menyingkirkan tangan itu dari mulutnya namun Arga malah semakin mengetatkan pelukannya.

__ADS_1


Sampai di rasa tenang, barulah dia melepaskan lengannya. Diusapnya air mata dipipi Meira.


Meira memalingkan wajahnya. Bodoh! dia baru sadar sudah bertingkah bodoh tadi, Arga pasti akan berpikir jika dia sangat penasaran akan perasaannya.


"Apa pernyataan cinta begitu penting buat lo?" Arga mendekatkan wajahnya. Wangi parfumnya tercium dengan jelas di sekitar Meira.


Dia memegangi wajah Meira dengan kedua tangannya, gadis itu tak bisa mengelak lagi, kini mereka saling bertatapan satu sama lain.


Arga menatapnya intens. Tangannya menyibak anak rambut yang menghalangi wajah cantik Meira


"Iya, penting. Karna gue gak pernah tau lo.."


Meira ragu melanjutkan kalimatnya. Namun mata Arga seolah menunggunya melanjutkan kalimatnya itu.


"Lo suka apa cuman kasihan aja sama gue!" Meira menggigit bibir bawahnya.


Di dalam hatinya sesungguhnya dia sangat takut untuk menanyakan hal ini. Tapi dia sudah benar benar tak tahan dengan semua ini. Dengan debaran sialan yang selalu datang ketika Arga di dekatnya. Dia ingin tahu apakah Arga merasakannya juga, cinta yang sama sepertinya.


Karna jika tidak, setidaknya dia akan menyiapkan diri untuk hengkang dari rumah ini suatu hari nanti.


"Kasihan?" Arga menautkan kedua alisnya lalu tertawa tak percaya.


"Apa lo pikir ciuman ini artinya kasihan?"


Arga melepaskan bibirnya lalu menggendong tubuh Meira dan menghempaskannya ke sofa.


Dia kini sudah berada di atas Meira. Mengunci gadis itu dengan tubuhnya.


Arga melepaskan kemejanya juga dasi yang sedari tadi bertengger manis di dadanya. Membuka satu kancing kemeja teratas, kini leher jenjangnya dapat terlihat dengan lebih jelas.


Meira tercengang, masih berusaha mencerna keadaan yang tiba tiba sudah berubah arah.


Arga kembali menyatukan bibirnya dan mencium Meira dengan ganas. Meira hampir kehabisan nafas karna ciuman Arga kali ini begitu panas dan lama.


"Gimana? apa seperti ini juga lo anggep rasa kasihan?" Arga melepaskan bibirnya lalu kembali menatap Meira.

__ADS_1


Meira tak mampu menjawab. Dia bingung, apa yang sebenarnya coba Arga jelaskan dengan tindakannya ini?


"Kalau ini?"


Sekali lagi Arga bertanya, tangannya kini sibuk membuka satu persatu kancing kebaya Meira. Meira menahannya dan berusaha agar Arga mau melepaskannya. Namun sudah terlambat. Laki laki itu terlihat sangat kesal dan sudah pasti Meira tidak akan selamat kali ini.


Arga melemparkan kebaya itu dengan kasar ke lantai. Arga menyusuri setiap lekuk tubuh Meira dengan penuh gairah. Meira meronta namun tenaganya bukanlah tandingan Arga.


"Apa ini juga karna kasihan?" Dia meninggalkan banyak jejak merah di dada Meira. Meira tak sadar mencengkram kemeja Arga setiap kali laki laki itu menyedot kulitnya yang mulus.


Tak lama baju dan celana Arga menyusul tergeletak di atas lantai. Dia memaksa membuka tali ikat rok kebaya dan langsung membuangnya ke lantai.


Jantung Meira berdebar hebat. Arga mengisi kekosongan di jari jari Meira dengan jari tangannya. Dia mencengkram erat tangan Meira sambil menyatukan tubuhnya dengan tubuh gadis dibawahnya.


Meira merintih, dia merasakan Arga menghujamnya dalam dan penuh penekanan kali ini.


"Apa lo pikir gue ngelakuin ini juga karna kasihan?" Tanyanya di sela sela aktifitas surgawinya. Dengan nafas yang memburu Arga menatap intens mata Meira. Dia sudah memberikan seluruh hatinya kepada gadis itu lewat semua tindakannya selama ini.


Meira hanya diam, hanya sesekali menahan perih saat Arga semakin brutal dengan permainannya, seolah dia ingin membuat Meira sadar dengan perasaan yang selama ini coba dia berikan.


Gadis itu semakin meringis, Arga memagut habis seluruh isi bibirnya, dia menatap Meira dan tak berpaling sedikitpun selama permainan.


Hingga akhirnya dia meregang dan sampai di puncak permainannya.


Arga membelai kepala Meira, gadis itu terlihat kelelahan melayaninya.


"Apa pernyataan cinta lebih penting dibanding cinta itu sendiri?"


Meira menggeleng pelan. Dia menangis, kali ini bukan karna kesal, tapi karna dia mulai sadar jika Arga juga ternyata punya perasaan yang sama dengannya. Hanya dia tidak pernah menunjukkannya lewat kata kata.


Laki laki ini lebih suka mengaspresiasikannya lewat tindakan. Lewat perlindungan nyata yang selama ini dia berikan untuk Meira.


Arga mendekap tubuh Meira dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Tubuh dan perasaan ini hanya milikmu Meira, hanya milikmu." Bisiknya pelan, membuat Meira semakin tak bisa membendung tangis bahagianya.

__ADS_1


bersambung.


Jangan lupa vote dan like karya ini ya biar semangat update tiap hari, terima kasih :)


__ADS_2