
Arga memekik menahan perih akibat serangan yang dia dapat. Namun itu tak membuatnya gentar, dia pun balik menyerang pria yang memakai topi dan juga masker yang sekarang tengah berdiri didepannya.
Beberapa kali Arga berhasil membuat pria misterius itu ambruk, namun karna laki laki itu dibantu oleh teman temannya, Arga pun sempat beberapa kali kena hantaman batu dan juga serangan dari berbagai arah.
Namun keadaan berbalik ketika dari arah dalam gerbang kampus muncul gerombolan anak anak Mandala yang dipimpin oleh Reihand, mereka maju dan berlarian ke aspal dengan memegang tongkat ditangan masing masing.
Reihand dan yang lainnya pun langsung bergabung ke kancah tawuran demi menolong sang pentolan dari keroyokan anak anak Jayakarta.
Bima memicingkan mata dibalik kacamata hitamnya, Cih! jelas ini tidak menguntungkan untuk kelompoknya.
Akhirnya tawuran yang seimbang pun dimulai.
Arga membabat habis hampir semua anak anak Jayakarta dengan bantuan teman temannya.
Yang tersisa tinggal beberapa orang saja termasuk pria misterius yang dari awal kelihatan sangat berambisi menyerangnya.
Arga pun menyeringai sambil mengambil sebuah tongkat yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hei bangsat, ayo duel jantan, satu lawan satu!" Tantang Arga sambil mengusap sisa darah dari ujung mulutnya akibat kena pukulan salah satu anak Jayakarta tadi.
Bima membalas seringai itu dibalik maskernya.
Meira yang masih bersembunyi dibalik papan reklame langsung berdiri, dia khawatir terjadi sesuatu pada Arga.
Dia bersiaga ditempatnya, entah kenapa firasat tidak mengenakan itu datang lagi.
Dengan kaki gemetar Meira mencoba mendekat ke arah Arga.
Bima yang menangkap kehadiran gadis itu langsung tersenyum licik, tiba tiba muncul suatu ide di kepalanya, dia akan memanfaatkan Meira untuk melumpuhkan sang pentolan Mandala.
Bima sengaja mengulur ngulur waktu dengan menjeda serangannya. Dia mengkode salah satu temannya untuk ikut menyerang Arga.
Mereka pun akhirnya melanjutkan pergulatan yang sengit. Saat Arga sibuk membalas serangan dari teman Bima, Bima langsung memanfaatkan kesempatan untuk lari ke arah Meira dengan gerakan sangat kilat.
Arga yang menyadari pergerakan Bima yang tiba tiba saja kabur ke arah lain langsung mengikuti langkah cowok itu dengan ujung matanya yang menyipit, dia penasaran sebenarnya Bima mau menyerang siapa? bukankah dari awal pria itu mengincar dirinya?
dan betapa terkejutnya Arga ketika dia menyadari sosok yang sedang coba digapai oleh Bima ternyata adalah Meira.
Gadis itu terlihat sedang berjalan ke arah Arga dengan wajah yang sarat akan ketakutan.
Kontan wajah Arga yang semula santai kini menjadi sangat tegang, dia pun tak menyianyiakan waktu, Arga mencoba berlari ke arah yang sama.
Namun langkahnya dihalau oleh teman Bima yang sedari tadi bergulat dengannya.
__ADS_1
Arga melirik ke arah Meira, mata mereka saling bertubrukan beberapa saat. Meski hanya dengan melihat bola matanya saja Arga bisa merasakan saat ini Meira dalam ketakutan yang amat sangat, dengan amarah yang memuncak hebat Arga tiba tiba melayangkan satu tinjuan keras ke ulu hati anak Jayakarta yang menghalaunya itu hingga pria itu langsung terkapar diaspal.
Untunglah disaat yang tepat Manji dan teman temannya yang lain muncul dari dalam gerbang kampus.
"WOY BACKUP-IN MEIRA!!!!!" Teriak Arga sambil berlari cepat ke arah gadisnya itu.
Namun sesaat langkahnya terhenti, kepalanya terasa berputar hebat, sekelebat bayangan dimasalalu muncul secara mendadak dan juga acak. Kejadian ini seperti tidak asing baginya, ingatan dimasalalu saat dirinya tengah menolong Meira di dalam tawuran muncul begitu saja, dan bukan hanya sekali, rentetan kejadian acak yang dia lewati bersama gadis itu muncul samar samar.
Arga tersungkur sambil memegangi kepalanya yang mendadak sakit luar biasa.
"Argh, Sialan!" Erang Arga sambil memegangi kepalanya.
Meira yang menyaksikan itu langsung mengambil langkah dan mencoba berlari ke arah Arga.
Untung saja Bima tak jadi menyerang ke arahnya karna dia cukup waras untuk tidak menyerahkan diri dihajar masal oleh Manji dan yang lainnya yang baru saja muncul dari arah gerbang tak jauh dari tempat Meira tadi berdiri.
Dia akan menjadi santapan empuk kalau dia masih tetap nekat ingin menyerang gadis itu.
Kali ini gantian Bima melirik ke arah sang pentolan kampus. Dia melihat Arga seperti sedang menahan kesakitan dikepalanya.
Dengan senyum jahatnya dia pun berbalik lagi dan berlari kencang ke arah Arga dengan sebuah celurit ditangan kanannya.
Meira menyadari bahaya itu, dia ikut lari pontang panting, tak peduli betapa kakinya bergetar hebat melihat banyaknya darah berhamburan disekitarnya.
"Mei.." Desis Arga dengan suara tercekat.
Meira melepaskan pelukannya dan melihat Arga dengan wajah sangat cemas.
"Kenapa? kepala lo kenapa? apa terluka?" Tanya Meira panik.
Arga tak menjawab, dia terus mengerang dan seperti berusaha menahan sakit yang luar biasa.
"Arga, lo tetep disini!"
Meirapun berbalik dan melihat Bima yang semakin mendekat ke arah mereka. Matanya seketika berkeliling, dia melihat Reihand dan yang lainnya tak jauh dari posisinya sedang bergulat melawan anak anak Jayakarta yang tersisa.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Meira mengambil salah satu balok yang ada di dekatnya.
Dia berdiri dan memegangnya kuat kuat, apapun yang terjadi dia bertekad untuk menghadapi Bima meski dia tau tindakannya ini konyol, mana mungkin dia bisa menang melawan laki laki itu. Tapi kita tidak pernah tau hasilnya jika tidak mencobanya!
Meira membuka sedikit kakinya, dia mengambil ancang ancang. Meski giginya ikut gemetar karna ini kali pertama dia ikut langsung untuk menyerang, namun Meira tidak akan mundur, dia tidak akan membiarkan Bima sampai menyentuh Arga.
Dengan nafas yang masih terasa tercekak, Arga mendongakkan kepalanya. Dia mengatupkan rahang saat melihat Bima sudah tinggal beberapa langkah lagi maju dan sampai ditempat Meira berdiri.
__ADS_1
Laki laki itu pun bangkit dari tempatnya dan langsung menghalau celurit yang sudah akan menghantam tubuh Meira dengan tangan kosong.
Meira mematung, namun langsung sadar dan dia langsung melayangkan balok ditangannya ke arah Bima dengan asal, namun Bima masih saja berusaha kuat untuk menancapkan celuritnya ke tangan Arga sampai Arga meringis menahan sakit ditelapak tangannya yang sedang berusaha menahan benda tajam itu, Meira pun semakin kalap, pukulan balok yang terus menerus dan sekuat tenaga itu ternyata cukup ampuh membuat Bima kewalahan.
Akhirnya celurit ditangannya terlepas dan kini sudah berpindah tangan ke Arga.
"Bangsat!! siapa sebenarnya lo?!" Tanya Arga sambil mencoba menyerang balik Bima dengan celurit di tangannya.
Reihand yang berada dibelakang Arga langsung ikut berlari dan membantu menyerang pria yang memakai topi, masker dan juga kacamata serba hitam itu.
Kini posisi Bima yang tidak menguntungkan, dia sudah dikepung oleh dua orang yang dulu menjadi teman terdekatnya.
Dengan sekali hentakan Riehand memukul punggung Bima dan seketika membuatnya tersungkur mencium aspal.
Arga tak menyianyiakan ambruknya Bima, dia langsung menduduki punggung Bima, Arga memutar lengan Bima dan menguncinya ke belakang punggung sehingga pria itu sudah tidak bisa berkutik lagi.
"Copot topinya cepet!!" Arga mengangkat dagunya ke arah Reihand dan menyuruh pria itu yang melakukannya.
Reihand mengangguk, diapun jongkok dihadapan laki laki yang tubuhnya sedang diduduki oleh Arga itu.
Perlahan dia mencopot topi, masker dan juga kacamata pria itu.
Dengan rahang terkatup, Reihand memandang wajah pria itu dengan tatapan sinis, tak ada keterkejutan sedikitpun karna sebenarnya Reihand sudah bisa menebak siapa dalang yang selama ini selalu membuat kekacauan untuk menyerang anak anak Mandala.
Arga menjambak rambut Bima hingga wajah pria itu terangkat dan terlihat dengan jelas.
"Siapa dia?"
Bima malah tertawa mendengar pertanyaan Arga barusan.
"Arga kehilangan sebagian ingatannya, lo termasuk dalam bagian yang hilang itu!" Reihand menerangkan, barulah Bima terlihat kaget.
Jadi kecelakaan yang dia sebabkan untuk Arga kemarin sudah membuat laki laki itu hilang ingatan?
"Enaknya di apain nih orang, beraninya memgacak ngacak Mandala!"
"Ga, dia biar gue yang urus, gue udah sempet telpon polisi tadi, mereka pasti udah deket. Lo mending obatin tangan lo dulu." Reihand berdiri dan berpindah posisi di dekat Arga, dia gantian memegangi tangan Bima yang masih dikunci oleh kedua tangan Arga.
Arga hanya diam.
"Liat Meira, dia ketakutan, lebih baik kalian pulang sekarang. Lo tenang aja anak anak disini sama gue!"
Reihand menatap Meira dengan cemas.
__ADS_1
Arga ikut melirik gadis itu, barulah dia setuju dengan ucapan Reihand ketika melihat Meira masih mematung ditempatnya, wajah gadis itu sudah sangat pucat.