Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Restu Ayah (Revisi)


__ADS_3

Malam ini terlihat lebih gelap dari biasanya. Rintik hujan menemani sang malam dalam kedinginannya. Bulir air dijendela menemani kegalauan seseorang yang tengah duduk di balkon rumahnya.



Sena terduduk di kursi balkon depan kamarnya. Kakinya ia angkat keatas kursi yang ia duduki. Sena menekuk Kurir Dan memeluknya. Membenamkan kepalanya dalam lamunannya sendiri.



Tak pernah terbayangkan hal seperti ini akan terjadi, batinnya. Sejak lama ia sudah berniat untuk tidak pernah menikah. Masih ada sedikit Rasa trauma dalam benaknya, walaupun sebelum kenangan buruk itu Sena juga pernah memimpikan bertemu dengan seorang berkuda putih yang akan bertekuk lutut dan melamarnya, persis dalam kartun Disney.



Tapi takdir berkata lain. Sepertinya belum ada satu keindahan pun yang bisa ia dapatkan selama hidupnya, selain uang.



"Mommy, I miss.. " bisiknya lirih.


"Apa ini benar-benar harus aku lakukan?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri. Tanpa sadar air matanya mengalir perlahan membentuk anak sungai di pipinya.



Sena teringat sosok ibunya yang cantik. Dalam ingatannya Sena, Maminya selalu menggunakan dress selutut berlengan pendek terkadang tanpa lengan. Rambutnya terkadang dibiarkan begitu saja tanpa diikat, terkadang juga juga digelung. Bagaimana pun Sena selalu melihat ibunya tampak luar biasa dalam balutan baju apapun.



"Mami, apa ketika dewasa aku akan menjadi cantik seperti Mami?" tanya Sena kecil kala itu.


Mami Sena tersenyum dengan lembut, "Tentu saja, Sena akan menjadi Tuan Putri yang dicintai banyak orang."


"Benarkah? Apa seperti cinta Ayah sama Mami?" tanyanya polos.

__ADS_1


Seketika saja air mukanya berubah sendu. Menatap kosong. Tapi sedetik kemudian Maminya kembali menjawab pertanyaan putri kesayangannya itu, "Lebih dari cinta ayah ke Mami. Kamu akan lebih bahagia dari mami. Sena harus jadi anak yang kuat, jangan cengeng, dunia akan menunggu Sena menjadi seekor kupu - kupu yang terbang indah diangkasa." ucapnya sambil tak berhenti menyunggingkan senyum.


Kala itu Sena merasa tak mengerti dengan apa yang disampaikan Maminya, ia mengira akan berubah jadi kupu-kupu yang sebenarnya, "Aku nggak mau tinggal dikepompong Mi, aku takut di dalam sana sendirian."


Maminya tertawa, "Tidak apa-apa sayang, sendirian dan ketakutan akan menjadikanmu menjadi lebih kuat dalam menghadapi persoalan."


Sena mengerutkan keningnya lagi tak mengerti dengan ucapan Maminya, terlebih dia merasa kesal dengan perkataan Maminya, ia merasa Maminya akan tega meninggalkannya sendiri.



Tanpa Sena sadari, pembicaraannya dengan Mami hari itu merupakan yang terakhir sebelum kejadian kecelakaan yang merenggut maminya.



Tok Tok tok. terdengar suara pintu diketuk membuyarkan lamunan Sena.


"Permisi Non, Tuan menyuruh anda turun untuk makan malam." ucap mbok Nah, asisten rumah tangga, yang sudah ikut orang tuanya sejak Sena masih sangat kecil. Dan beliau juga lah yang mengurus segala keperluan Sena sampai Sena memutuskan kuliah di luar negeri.




"Baik Mbok. Aku segera turun." jawabnya sambil menghampiri si empunya suara.



Tak lama berselang, Sena sudah bergabung Di meja makan dengan ayahnya. Mereka duduk berjauhan di meja makan itu. Tak ada niat mereka untuk duduk berdekatan apalagi untuk bercengkrama layaknya ayah dan anak.



Sena menyendoki makanannya. Tapi ia jelasnya tak berniat untuk makan, dan ayahnya tentu dapat melihat itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi Sena?" tanya ayah Sena.


Sena menggelengkan kepalanya, "tidak." jawabnya singkat.


Ayah Sena mengerutkan dahinya, "apa ada yang terjadi ketika kamu berada di Zeldan Corps?"


Pertanyaan itu sontak membuat air Mika Sena berubah. Ia masih kesal dengan apa yang terjadi. "tentu, bisa apa Lagi?"


Hutama menurunkan alat makannya ke piring. Kemudian ia memfokuskan pikirannya pada Sena yang berada tepat di seberang meja.


"Dia mau mengembalikan aset ayah asalkan aku mau menikahinya." ucapnya datar.


Sena melanjutkan perkataannya, "Aku mengatakan oke padanya." tandasnya.



Sena masih mengaduk -aduk makanannya. Namun saat ia sadar, ayahnya sudah duduk disebelahnya dan berkata, "jika kamu tidak mau menikahinya maka jangan kamu lakukan Sena, kamu jauh lebih berharga dari semua aset milik ayah. Ayah masih bisa kerja yang lain, walaupun mungkin setelah ini kehidupan kita tidak akan sama lagi." ucapnya sedih



Sena menggelengkan kepalanya, "Nggak bisa yah, aku yakin menikahi seorang yang tidak kucintai akan lebih baik daripada hidup menjadi gelandangan. Aku bener-bener nggak sanggup walaupun cuma ngebayanginnya." Tanpa sadar Sena bergidik.



Ayah Sena terduduk lesu, ia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada keluarganya skarang, berkat keangkuhan, keegoisan dan keserakahannya kini menjadi berakibat fatal pada putri semata wayangnya itu. Hutama juga menyesali kenapa ia tak pernah Mau mendengarkan putrinya untuk tidak berjudi dan mabuk-mabukan.



Sena meletakkan peralatan makannya, kemudian ia berkata, "Aku sudah kenyang, aku permisi kembali ke kamar, Yah."


Sena bangkit dari duduknya dan meninggalkan ayahnya yang masih tenggelam dalam kesedihannya.

__ADS_1




__ADS_2