
Reihand menceburkan dirinya ke dalam kolam renang. Di carinya tubuh Flo yang mulai tenggelam ke dasar kolam. Di raihnya tubuh itu lalu dia kembali naik ke atas air.
Reihand dan Flo mundul berbarengan. Dengan mengapit tubuh Flo. Reihand berenang mencapai pinggiran kolam.
"Sayang, buruan tolongin Flo!" Pinta Meira panik sambil menggoyangkan tangan Arga.
Karna panik semuanya malah bengong.
"Kamu tunggu disini ya, jangan mendekat ke kolam bahaya, oke?" Jawab Arga. Meira mengangguk patuh.
Arga langsung membungkuk menunggu di pinggir kolam sambil menjulurkan tangannya.
Reihand sudah sampai di tempat Arga berjongkok.
Dia menggendong Flo di depannya. Mengangkat tubuh itu sekuat tenaga dengan di bantu oleh Arga yang berada di atas kolam.
Manji ikut mendekat dan membantu menggotong tubuh Flo ke pinggiran kolam renang.
Reihand buru buru naik ke atas.
Semuanya kini berkumpul mengelilingi mereka. Sadar jika perbuatannya sudah kelewat batas dan sepertinya akan menimbulkan masalah yang cukup besar, akhirnya Stella kabur dan hendak melarikan diri. Tapi nahas, Farel yang memang melihat kejadian yang sebenarnya terjadi itu langsung mencegat tangannya dari belakang.
"Mau kemana lo?" Tanya Farel dengan mimik wajah yang terlihat marah.
"Lepasin gue! apaan sih lo nahan nahan gue! lepasin Rel!" Pinta Stella dengan wajah galak.
Farel tidak melepaskan cengkeramannya. Dia tahu gadis ini selalu jadi biang kerok. Tapi tidak pernah menyangka jika Stella bisa berbuat sampai sejauh ini.
Tadi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Stella mendorong tubuh Flo ke dalam kolam renang. Farel saat itu memang sedang berdiri di meja prasmanan menikmati hidangan disana. Jarak pandangannya ke kolam sangat dekat. Hanya ada dia disana yang berdiri sebagai saksi utama.
Farel tidak menyianyiakan kesempatan itu. Hari ini Stella akan habis ditangannya.
"Gue liat semuanya. Lo yang mendorong Flo ke kolam kan? Ayo tanggung jawab!" Farel memaksa menyeret Stella kembali ke pinggir kolam.
Stella meronta tapi tenaga Farel jelas bukan tandingannya.
.
Sementara itu di pinggir kolam renang.
Reihand dengan wajah panik masih berusaha menyadarkan Flo. Gadis itu tidak sadarkan diri, sepertinya dia sudah menelan banyak air.
"Kasih dia CPR dan nafas buatan Rei!" Perintah Arga.
Reihand mengangguk.
Tangannya mulai mengambil posisi di atas dada Flo. Dia berikan hentakan kuat disana untuk memancing respon Flo.
Sesekali diberikannya nafas buatan di sela sela tindakan CPR yang dilakukannya. Untung saja Reihand sudah punya bekal dasar melakukan ini. Dia banyak belajar ketika ikut kelas renang dulu tentang pertolongan pertama pada orang yang tenggelam.
"Flo sadar lah!" Pekik Reihand panik.
Suasana menjadi sangat tegang kala Flo tidak juga meresponnya. Widya yang ikut mendekat ke arah pinggiran kolam hanya diam mematung.
Kedua tangannya terkepal. Kenapa disaat dia sedang menyatakan cintanya, Flo malah jatuh ke dalam kolam renang, jangan jangan dia sengaja mencuri perhatian semua orang. Dia pasti ingin mengacaukan acaranya dengan Reihand.
Melihat Reihand yang begitu peduli pada Flo membuat amarah di dadanya bergejolak hebat. Dia saking kesalnya sampai berdoa semoga Flo lewat!
Dasar gadis kurang ajar, gue yakin lo sengaja ngelakuin ini, Flo. Gue harap lo gak pernah sadar! Batin Widya.
Reihand terus berusaha memberikan pertolongan pertama pada Flo. Hingga akhirnya saat dia menghentakkan dada Flo untuk yang kesekian kalinya, gadis itu terbatuk keras. Seketika dia menyemburkan air dari mulutnya. Reihan terlihat sangat lega. Dia mengangkat kepala Flo dan membiarkan gadis itu memuntahkan semua air yang dia telannya di dalam kolma renang.
Uhuk uhuk uhuk.
__ADS_1
Flo terbatuk hebat. Setelah semua air berhasil di muntah kan keluar. Reihand langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Gadis itu lunglai di dalam dekapannya.
"Flo! lo gak apa apakan?" Reihand melepaskan pelukannya dan menatap Flo cemas.
Flo menggeleng. Dia melihat ke sekitar tempatnya terduduk sekarang. Teman teman sekelasnya berdiri mengelilingi dirinya. Dia bingung, tapi sejurus kemudian dia ingat, Stella yang sudah mendorongnya ke dalam kolam renang. Air mata di pipinya seketika tumpah.
Reihand yang menyadari ketakutan Flo langsung memeluk kembali gadis itu dan membelai rambutnya.
"Tenang Flo. Semuanya udah baik baik aja." Kata Reihand lembut mencoba menenangkan gadis itu.
Widya semakin di buat kesal dengan pemandangan di depannya.
Meira berinisiatif mengambil jaketnya yang dia letakkan diatas meja dekat kursi malas, Dia akan menyerahkannya kepada Flo. Arga memang selalu menyuruhnya membawa jaket kemanapun sejak dia hamil. Udara luar tidak bagus. Begitu Arga memberikan alasan.
"Flo pake jaket gue ya, lo pasti kedinginan.." Kata Meira sambil memakaikan jaket itu ke tubuh Flo.
Flo mendongak menatap Meira.
"Gak usah Mei, ini kan jaket lo.." Flo hendak menolaknya tapi Meira tetap memaksa memakaikan jaketnya.
"Pakai aja Flo! Meira biar pake jaket gue di mobil." Kata Arga. Pria itu berdiri lalu merengkuh bahu Meira.
"Thanks ya Mei, Ga.." Kata Reihand.
Widya menghentakkan kakinya pertanda kekesalannya sudah sampai di ubun ubun.
Semuanya menoleh ke arah sang empunya acara, diam diam mereka memandang prihatin padanya.
Bagaimana pun pemandangan di atas panggung tadi sangat menggemparkan. Seorang gadis yang sedang menyatakan cintanya ditinggal begitu saja. Dan lebih ngenesnya cowok yang di tembaknya itu kini kelihatannya tak perduli sama sekali. Dia malah sibuk dengan cewek lain.
"Reihand!!!" Widya berteriak memanggil namanya.
Semua menoleh, memperhatikan dan penasaran apa yang akan di lakukan Widya selanjutnya.
Farel yang akan menyeret Stella ke hadapan merekea terhenti langkahnya. Dia ikut menatap ke arah Widya. Melihat Widya sekilas saja Farel tahu gadis itu sedang marah besar.
Widya mendekat ke arah Reihand dan juga Flo!
Flo tertunduk. Dia merasa bersalah sudah mengacaukan acara pestanya Widya.
"Puas lo sekarang, Flo! puas udah bikin acara ulang tahun gue kacau hah?!" Widya mendorong bahu Flo hingga gadis itu hampir jatuh ke belakang kalau saja Reihand tidak menahan punggungnya.
Semua tersentak kaget. Tapi tidak ada yang berani membuka mulut sama sekali. Kali ini mereka lebih memilih jadi penonton. Karna dari tampangnya Widya memang benar benar lagi emosional banget.
Stella yang ikut menyaksikan Flo di marahi habis habisan oleh Widya hanya tersenyum puas.
Mampus lo cewek sok kecentilan, rasain lo di maki maki di depan orang banyak. Miris juga sih karna yang maki maki lo itu sahabat baik lo sendiri. Hahaha. Batin Stella.
Farel mempererat cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Stella.
"Diem lo nenek lampir, gue tau lo lagi ketawain temen temen gue kan!" Desis Farel sambil menatap Stella tajam.
Stella langsung bungkam dibawah tatapan sinis Farel. Ternyata cowok ini kalau lagi mode marah, seremnya bisa ngalahin Manji.
Dia pernah melihat Manji marah, tapi tidak sampai seseram ini.
"Diem, atau gak gue makan lo hidup hidup! mau lo!?" Kata Farel menakut nakuti.
Stella menggeleng cepat. Buru buru menekan mulutnya dengan tangannya sendiri. Jangan sampai dia habis di tangan Farel kali ini.
Sementara Reihand menyipitkan matanya. Dia tak percaya Widya bisa bertindak kasar begini.
"Wid! Flo itu tadi dalam bahaya, masa iya gue diem aja!"
__ADS_1
"Tapi gue lagi ngungkapin perasaan gue di atas panggung! lo bisa kan ngehargain usaha gue! masih banyak orang disini, biarin aja mereka yang nolongin Flo! kenapa lo yang repot repot sih Rei!" Widya tidak mau kalah.
Reihand tertawa sarkas.
"Jadi ini tabiat lo yang asli?" Benar benar tak menyangka Widya bisa mengatakan kata kata menyakitkan itu kepada Flo sahabat baiknya. Padahal selama ini Widya bersikap sangat lembut kepada siapapun saat di depan Reihand.
Flo meremas jarinya, wajahnya semakin tertunduk dalam. Dia memang salah. Harusnya tadi dia tidak datang saja ke pesta ini. Ternyata firasat keraguannya untuk menghadiri acara ini terjawab sudah. Flo mengacaukan segalanya. Dia benar benar merasa bersalah sekali pada Widya.
Widya menggeleng.
"Rei, gue cuman marah karna lo gak bisa ngehargain perasaan gue! gue bikin ini semua buat lo tau! gue persiapin acara ulang tahun ini bukan tanpa maksud. Semua ini buat elo Rei." Widya masih ngotot.
"Maafin gue Wid. Bukan salah Reihand. Maafin gue.." Kata Flo memotong ucapan Widya. Dia mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap Widya yang terlihat sangat kesal. Jangan karna dirinya Reihand jadi di salahkan nantinya.
Sepasang mata itu sudah tergenang air mata yang mengalir lewat kedua pipinya yang mulus. Tapi bukannya merasa kasihan. Widya malah mencibirnya.
"Apa lo gak punya cara lain buat bikin Reihand simpati sama lo?"
"Maksud lo apa sih Wid, lo sahabat gue dan.."
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Flo. Semua tersentak. Meira hendak menghampiri Flo dan Widya tapi Arga mencegahnya.
"Ini bukan saatnya lo ikut campur Mei.." Bisik Arga.
Dengan terpaksa Meira akhirnya menahan dirinya. Meski dia benar benar tidak tahan melihat pertengkaran kedua sahabatnya itu.
"Jangan berani lo sebut gue sahabat lagi dengan mulut lo yang kotor itu! lo cuman cewek murahan!"
"CUKUP WIDYA!" Bentakan Reihand menggelegar. Dia sudah mencoba menahan emosinya tapi kata kata Widya sudah benar benar keterlaluan.
Flo memegangi pipinya yang terasa berdenyut akibat tamparan Widya tadi. Terasa lumayan sakit. Tapi ini sama sekali tidak sebanding dengan hatinya yang jauh lebih sakit. Apa serendah itu Widya menilainya selama ini?
"Kenapa lo malah ngebelain dia sih Rei!" Widya menunjuk Flo dengan tatapan kekesalannya. Air mata Widya tumpah juga.
Dia marah, kesal dan juga malu. Dia malu karna pengakuan cintanya yang dia impikan akan berakhir mulus nyatanya malah berakhir tragis seperti ini.
"Wid, elo bener bener ya.." Reihand menunjuk Widya dengan jarinya. Kemarahan terbaca jelas di wajah tampannya. Flo berusaha menghentikkan kemarahannya.
"Rei, udah cukup. Ini ulang tahunnya Widya. Jangan kacauin lebih dari ini." Pinta Flo pelan di telinga Reihand.
Flo jadi merasa semakin kecil. Widya memang sudah mempermalukannya dengan mengatakan kalau dia adalah cewek murahan. Tapi Flo mengerti posisinya. Widya kesal dan juga marah wajar karna dia sudah mengacaukan segalanya.
Flo akhirnya memilih pergi dari sana. Dia tidak mau semuanya bertambah lebih kacau dari ini.
Diluar dugaan, Reihand malah mengejarnya dan meninggalkan Widya yang terbengong bengong di tempatnya.
Widya tak tinggal diam. Segera dia menyusul cowok itu hingga ke halaman depan.
"Rei, tunggu!"
Widya susah payah meraih tangan Reihand. Cowok itu menoleh sebentar. Menatapnya dengan tatapan tajam.
Widya memegangi kepalanya. Tepat sebelum Reihand hendak kembali berbalik. Cewek itu rebah dan hampir mencium tanah kalau saja Reihand tidak buru buru menangkap tubuhnya.
"Widya!" Reihand berteriak sambil menepuk nepuk pipi Widya.
Flo yang mendengar teriakan Reihand langsung kembali dan kaget saat melihat sahabatnya itu sudah pingsan di dalam pelukan Reihand.
.
Bersambung
__ADS_1