
Flo masuk ke kelas sambil mengumpat di sepanjang lorong tadi.
Cih, kalau bukan karna Salon Ibunya, mungkin tadi Stella sudah habis dia cakar sampai jadi debu.
Perlahan dia mengendarkan pandangannya, matanya tertuju pada bangkunya, dia malas mau duduk disitu lagi. Widya pasti akan bermesraan dengan Reihand seperti kemarin.
Flo menyapu seisi ruangan lalu matanya tertuju pada bangku kosong yang berbeda dua barisan dari bangku yang biasa dia tempati.
"Gue pindah kesini aja deh." Flo menaruh tasnya, kemudian dia bangkit dan berlari ke arah taman belakang sambil memegang sebuah kotak makan.
Saat berangkat pagi pagi tadi dia tidak sempat sarapan dari rumah. Stella sudah membuang habis energinya di pagi buta.
Dengan langkah santai, Flo duduk di sebuah bangku kayu di taman kampus.
Udara pagi itu sangat sejuk menerpa kulitnya yang putih. Flo membuka kotak bekalnya, ah, enaknya nasi goreng buatan Ibunya lengkap dengan sebuah telor ceplok kesukaannya.
Biasanya Flo akan makan di kantin sekolah sambil memesan teh hangat, tapi Stella sudah membuat selera makannya hilang. Dia lebih memilih menyingkir dan mencari tempat nyaman lain yakni disini, ditempat sekarang dia duduk sambil mengunyah nasgor buatan ibunya.
Reihand yang memang juga sedang malas pergi ke ke kantin tiba tiba menghentikan langkahnya di lorong. Sepasang matanya menyipit kala melihat gadis yang beberapa hari terakhir ini sudah membuat kepalanya pusing tujuh keliling kini tengah duduk di depannya.
Flo duduk memunggunginya, dia sepertinya sedang makan sesuatu.
Reihand menarik nafas panjang, dia ingin melanjutkan langkahnya dan mengabaikan Flo, tapi hatinya seakan terus mendorongnya untuk mendekati gadis itu
"Ngapain dia disini?"
Dari pada penasaran, Reihand akhirnya membelokkan kakinya juga ke tempat duduk yang sedang Flo duduki.
Langkahnya terhenti sesaat. Ternyata Flo sedang sarapan sendiri. Sepasang matanya kemudian melembut menatap Flo.
'Kenapa dia makan disini sendirian? dimana Widya atau Meira?' Gumam Reihand dalam hati.
Akhirnya dia melangkah pelan hingga langkah kakinya tak ketara. Flo melamun sambil tangannya terus menyuap nasi goreng di dalam kotak bekal yang sedang di pegang nya.
Terlalu banyak yang sedang dia pikirkan, tentang Salon Ibunya, tentang hubungannya dengan Widya, juga tentang Reihand.
Ah, kenapa sulit sekali mengenyahkan bayang bayang Reihand dari pikirannya.
Hatinya terlalu sakit juga rapuh, dia dilema berat.
Apa jangan jangan langkahnya ini salah? apakah melepaskan Reihand untuk Widya adalah sebuah kesalahan?
Ah, Flo mengacak rambutnya sendiri, frustasi jika dia terus berada dalam pusara masalah yang tidak ada hentinya menerpa hidupnya.
"Flo."
Flo tercengang saat mendapati sosok yang tadi sedang dia lamun kan kini sudah duduk di sebelahnya.
Flo terkesiap lalu menggeser tubuhnya, mencari jarak aman. Dia tidak ingin Widya salah paham kalau melihat dia duduk sedekat itu dengan Reihand, mereka kan sedang dalam tahap PDKT alias pendekatan.
"Reihand, lo ngapain disini?"
Reihand tak menjawab, dia menatap lurus ke arah langit langit sambil menghirup udara pagi yang menyejukkan.
"Gue lagi menikmati KEINDAHAN alam disini." Katanya sambil beralih menatap Flo, seperti sengaja memberikan tekanan pada objek yang sebenarnya dimaksud.
Kedua alis Flo bertaut bingung, tapi kemudian dia acuh dan kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1
Cuekin aja Flo, anggep aja dia gak ada.
Semakin Flo mengenyahkan dan berusaha untuk tidak peduli, semakin Reihand berusaha untuk mempertegas jika dirinya ada disitu.
Reihand menggeser pantatnya ke dekat Flo.
Flo menoleh kaget sambil menatap Reihand waspada.
"Reihand, stop, jangan geser lagi!"
"Loh emang kenapa? ini bangku punya lo?"
"Bukan, tapi kan disitu kosong!" Tunjuk Flo pada bangku kosong disebelah Reihand.
Reihand menahan tawa melihat kepanikan di wajah Flo. Ah, andai saat ini tidak sedang terjadi perang gencatan senjata diantara mereka berdua, Reihand pasti sudah menciumnya. Lihat betapa menggemaskan reaksi kepanikannya.
"Iya emang kosong, makanya orang lain kan bisa duduk disitu, makanya gue geser kesini." Kata Reihand sambil menggeser pantatnya lagi ke samping Flo, kini jarak mereka semakin dekat.
Flo celingukan kesana kemari, dia takut Widya salah paham jika sampai melihatnya duduk di taman berdua dengan Reihand seperti ini, Flo kan sudah janji pada Widya akan menjauhi Reihand.
Tapi jika dia pergi sekarang, sarapannya bahkan belum habis setengahnya.
Dengan menarik nafas panjang, Flo berusaha mengendalikan perasaannya.
Oke jantung, jangan deg degan ya, lo bisa kan gue ajak kerjasama sebentar doang, tunggu seenggaknya sampai nasi goreng ini turun ke dalam pencernaan gue, oke!? Cerocos Flo pada dirinya sendiri.
Akhirnya Flo kembali sibuk memindahkan sesuap demi sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
Tiba tiba gerakan tangannya terhenti sesaat.
Flo mengerutkan keningnya kemudian menoleh ke samping.
Dia melihat Reihand meringis sambil memegangi perutnya.
"Lo lapar?" Tanya Flo refleks.
Reihand hanya mengangguk pelan.
Flo berusaha tak memperdulikannya, tapi semakin dia tak peduli semakin dia tidak tega.
Pada akhirnya hal tergila yang dia lakukan hari ini adalah menawari Reihand memakan bekalnya
"Lo mau nasgor gue?" Tawarnya tanpa menatap Reihand.
Reihand tersentak, dia tidak menyangka Flo akan menawarinya makanan yang sedang dia makan.
Reihand memang belum sempat sarapan tadi dirumah, niatnya tadi ingin makan di kantin saja, tapi melihat Flo sedang duduk sendirian disini, tiba tiba saja langkahnya seakan di seret kesini. Tanpa sadar Flo memang sudah seperti magnet kuat bagi dirinya.
"Emang boleh?" Tanya Reihand sambil melirik Flo, tak yakin jika Flo benar benar menawarinya makan bekal itu.
"Iya, boleh, perut lo keroncongan gitu, ntar kalau gak gue tawarin, gue di bilang pelit lagi!" Kata Flo dengan tampang sok judes.
Reihand tersenyum cerah meski nyaris Flo tidak menyadarinya
"Tapi lo cuci tangan dulu gih, gue gak bawa sendok lagi, ini bekas gue."
"Gak apa apa kok bekas lo juga!" Reihand langsung menyambar sendok di tangan Flo.
__ADS_1
Flo tercengang beberapa saat, secepat kilat pria itu sudah memindahkan nasgor itu ke atas sendok dan lalu di over ke dalam mulutnya.
Nyam nyam.
Reihand mengunyah nasi goreng itu dengan wajah bahagia, Flo mendesis jengkel.
"Kan gue udah bilang itu sendok bekas gue." Kata Flo mengingatkan, dia tidak menyangka Reihand akan sudi makan dari sendok bekas mulutnya.
"Gak apa apa, emang kenapa kalau gue makan dari sendok bekas lo?" Tanya Reihand dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Lagi lagi sendok itu disuapi ke dalam mulutnya yang terbuka lebar.
Uhuk uhuk uhuk
Reihand tersedak, dia menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak.
Buru buru Flo mengambil sebotol air yang dia letakan di sisi tempat duduknya. Dibukanya tutup botol itu dan diserahkannya ke hadapan Reihand dengan wajah panik.
"Pelan pelan Rei makannya, itu nasgor gak bakal gue ambil lagi kok." Flo membantu menepuk nepuk punggung Reihand.
Reihand meneguk hampir setengah isi air di dalam botol.
Lalu dia mengusap sisa air di mulutnya dengan punggung tangannya.
Reihand menatap Flo lurus, begitupun Flo, dia baru sadar tindakannya barusan malah membuat dirinya kelihatan peduli pada Reihand.
Buru buru dia menarik lengannya dari punggung Reihand, kembali dia menghadap ke arah depan tanpa memperdulikan Reihand yang terus menatapnya dari samping sambil menyunggingkan senyum kepuasan.
Ternyata lo juga ada rasa sama gue, Flo. Ayo ngaku! gumam Reihand dalam hati. Dia berharap sekali saja Flo jujur pada dirinya sendiri. Entah apa yang membuat gadis ini sulit untuk mengakui perasaannya sendiri.
"Kalian lagi ngapain disini?" Tiba tiba Widya sudah berdiri di sebelah bangku mereka.
Flo kaget lalu buru buru berdiri karna tak enak.
Reihand mengamati sikap Flo.
"Eh elo Wid, gak lagi ngapa ngapain kok, cuman lagi sarapan aja disini." Jawab Reihand. Reihand kembali memakan nasgor dari Flo. Dia seolah tidak perduli sedang terjadi ketegangan diantara Flo dan Widya.
"Lo tumben bawa bekel?" Mata Widya langsung tertuju pada kotak bekal yang sedang Reihan pegang.
Flo meremas tangannya.
Bagaimana ini, bagaimana kalau sampai Widya tau kalau bekal itu punya gue, mati gue! Ucap Flo dalam hati.
Reihand tersenyum kemudian menghentikan kunyahannya dan menatap Widya.
"Emang gue gak boleh bawa bekel Wid? emang cewek aja yang boleh bawa bekel?" Kata Reihand santai.
"Engga apa apa sih, Rei. Kenapa lo gak bilang kalau lo mau makan sakan rumah, kan gue bisa bawain buat lo Rei." Widya langsung duduk disamping Reihand tempat yang tadi di duduki Flo.
Merasa Flo sudah tidak ada kepentingan lagi disitu, dan karna Reihand juga membantu menyelamatkan dirinya dari kemarahan Widya dengan mengaku kalau bekal itu dia sendiri yang bawa, akhirnya Flo memutuskan untuk kembali ke kelas.
Reihand menatap kepergian Flo hingga gadis itu menghilang di ujung koridor, dia bahkan meninggalkan kotak bekalnya di tangan Reihand.
Air muka Reihand seketika berubah tanpa Widya sadari. Dia masih tetap makan nasi goreng dengan lahap, cuman bedanya sekarang wajahnya terlihat sangat dingin dan malas.
bersambung
__ADS_1