
Widya terduduk lesu di atas bathub, menyesali tindakan gegabahnya tadi, aturan dia bisa menahan diri dulu untuk tidak mencium Reihand. Sekarang sesal pun tidak akan merubah keadaan.
Widya membuang nafas kasar sambil menenggelamkan tubuhnya kedalam bathub.
"Lo harus jadi milik gue Rei..harus!" Gumamnya.
...****...
Sorenya, Flo terlihat keluar dari kamarnya, dia masih khawatir tentang kondisi Widya.
Flo berjalan ke arah kamar Widya yang letaknya beda dua kamar dari dirinya.
Tok tok tok.
Tak lama Widya membuka pintu kamarnya.
"Flo, ada apa?" Widya masih berdiri di celah pintu seakan tak mempersilahkan Flo masuk.
"Wid, lo udah gak apa apa?" Flo menunduk ke arah kaki Widya, dia terkejut melihat Widya ternyata sudah bisa berdiri tegak.
"Seperti yang lo lihat Flo." jawab Widya sambil memutar mata, kelihatan malas meladeni Flo.
"Syukurlah gue seneng dengernya, gue takut kaki lo kenapa napa Wid." kata Flo.
"Hmm." jawab Widya singkat.
"Flo, lagi apa disini?"
Reihand tidak menyadari jika Flo sedang berbicara dengan Widya.
Widya buru buru membuka pintunya lebar lebar ketika menyadari kedatangan Reihand.
"Reihand.." Sapa Widya sambil tersenyum manis.
Reihand menoleh kaget, dan kikuk membalas senyuman Widya, dia merasa canggung kalau mengingat kejadian tadi siang saat Widya mencoba mencium bibirnya.
"Wid, lo udah gak apa apa?" tanya Reihand sambil memperhatikan ke arah kaki Widya, gadis itu tadi siang kelihatannya sangat kesakitan di bagian kakinya, tapi kenapa sekarang malah seperti tidak habis mengalami kecelakaan ya? Cepat sekali dia sembuhnya, Reihand merasa sedikit heran, tapi dia tidak berani berspekulasi lebih jauh.
Widya mengangguk cepat sambil senyum senyum.
"Iya, gue gak apa apa, Rei. Tadi ada tukang pijet yang dipanggil sama pemilik resort ini. Udah mendingan banget sih kaki aku." jawab Widya tergagap, tapi dia coba tutupi dengan senyum yang lebar.
"Bagus kalau gitu." Reihand ikut senang mendengarnya.
Flo hanya menahan nafas, ko Widya tadi bicara kepadanya sangat pelit, tapi giliran Reihand.. ah, Flo menggeleng keras, tidak tidak! ini pasti cuman perasaan Flo aja!
__ADS_1
"Oh, iya Flo, tadinya aku mau ngajakin kamu naik speedboat, yuk ikut aku." Reihand meraih salah satu tangan Flo.
Flo tercengang, tatapannya langsung beralih pada Widya sahabatnya. Gadis itu langsung diam, senyumnya yang secerah matahari pagi tadi mendadak lenyap dari wajahnya. Dia cemberut berat.
Flo langsung menarik tangannya dari genggaman Reihand. Terperangah Reihand saat genggaman tangannya pada Flo dilepas begitu saja.
"Rei, gimana kalau lo ajak Widya aja? soalnya gue mau ada urusan lain."
Reihand mengerutkan kedua alisnya. Dia menatap Flo lurus, kenapa sih gadis ini selalu saja menghindar darinya.
"Wid, lo gak keberatankan nemenin Reihand?" tanya Flo, Widya menjawab dengan anggukan cepat.
Wajah Widya kontan berubah bahagia, dia maju dan buru buru berdiri di sebelah Reihand.
"Yuk, Rei. Kita mau speedboat dimana?" tanya Widya, salah satu tangannya sudah menggelayut manja disalah satu lengan Reihand.
Belum juga Reihand menjawab tapi Flo sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Reihand mendesis jengkel, dua mata elangnya menajam mengiringi kepergian Flo yang lari ke luar resort, Gadis itu benar benar membuat Reihand senewen tingkat tinggi.
"Rei.. kok ngelamun sih? yuk mau speedboat kemana?" Widya mengulangi pertanyaannya.
Reihand mendelik ke arah Widya, gadis itu terlihat bersemangat, tapi tidak dengan dirinya, dia sudah kehilangan minat untuk bermain speedboat, karna bukan dengan Widya dia ingin menghabiskan waktunya naik perahu kecil itu.
"Sorry, Wid. Gue mendadak berubah pikiran. Lo naik sama yang lain aja." Reihand mencoba melepaskan tangan Widya.
"Kok gitu, ayolah Rei, mumpung kita masih disini, aku pengen naik speedboat."
Dia masih terus berusaha mencengkram tangan Reihand, dia menatap Reihand dalam sambil menunjukkan tampang memelasnya.
Akhirnya dengan sangat amat terpaksa, Reihand menuruti keinginan Widya. Dia berjalan ke luar resort dengan perasaan gamang.
......***......
Flo berjalan di bibir pantai seorang diri, entah kemana dia akan pergi, tak ada tempat tujuan, yang pasti dia ingin melangkah sejauh jauhnya dari Reihand dan juga Widya. Tujuannya memang untuk membuat Widya semakin dekat dengan Reihand.
Tapi kadang kadang Flo juga merasa bersalah pada Reihand, Pria itu sepertinya mulai tertarik juga padanya, Flo bukannya tidak sadar, tapi tembok yang ada diantara mereka terlalu besar, terlalu tinggi, bahkan mustahil untuk Flo lewati.
Widya sahabat yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri selain Meira, sahabat yang selalu ada disampingnya ketika susah maupun senang, sahabatnya itu juga menyukai Reihand, Flo bisa melihat rasa suka Widya yang begitu besar pada cowok itu.
Dia tidak mungkin menjadi penghalang Widya untuk mendapatkan cintanya.
Perlahan Flo mengusap dadanya sendiri, terlalu sesak jika memikirkan dia akan tersiksa kedepannya dengan perasaan sialan ini.
Flo berhenti dan melepas sendalnya, kakinya yang putih dia biarkan bebas menginjak pasir putih dibawahnya.
Rasanya tenang dan damai, Flo melihat sebuah ayunan yang diikat disebuah pohon. Flo mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Hah, rasanya seperti berada di surga saja.." desah Flo sambil menghirup udara pantai yang terasa hangat.
Keindahan pantai ini membuatnya lupa sejenak dengan perasaan sesaknya tadi.
Flo berayun sambil terus menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi orange.
Dia melihat ke arah laut, disana ada beberapa orang yang sedang melakukan snorkeling dan. naik diatas speedboat.
Flo terperangah ketika sepasang matanya tak sengaja menangkap sosok Reihand dan Widya yang sedang berselancar tak jauh dari tempatnya sekarang.
Widya melambai kepadanya dengan wajah yang begitu sumringah, mereka naik di satu perahu, Reihand yang membawa speedboat sedangkan Widya duduk manis dibelakang Reihand sambil memeluk pinggang cowok itu.
Reihand menoleh sekilas ke arahnya, tapi kemudian cowok itu langsung membuang muka dan fokus mengemudi kembali.
Deg.
Flo merasa nyeri di hatinya, tapi dia tetap mencoba tersenyum dan membalas lambaian Widya.
"Hati hati Wid!" teriak Flo keras. Widya mengacungkan jempolnya.
Reihand pasti kesal dan marah kepadanya. Tapi biarlah, ini lebih baik, Flo jadi tidak harus bersusah payah menjauhi Reihand, karna dengan kejadian ini, cowok itu pasti akan mulai menjauhinya.
Lama Flo berayun di ayunan itu, dia sampai tak sadar ketiduran disana. Saat membuka mata, ternyata hari sudah sangat senja, matahari sudah mulai tenggelam di peraduannya.
Langit senja di kejauhan terlihat begitu cantik, Flo takjub, semilir angin membelai tubuh mungilnya, lumayan dingin udara sore disitu.
Dia pun turun dari ayunan dan memutuskan untuk kembali ke resort.
Flo menenteng sendalnya, dia berjalan kaki di tepi pantai dengan perasaan yang berkecamuk.
"Flo.." Tiba tiba Flo menghentikkan langkahnya. Dia kenal betul suara itu.
Deg.
Jantungnya berdetak lebih kencang, Reihand sudah berdiri tegap di depannya, sepasang matanya berkilat menatapnya tajam. Ternyata dugaan Flo salah. Dia pikir Reihand akan menyerah, tapi ternyata cowok itu malah semakin penasaran dibuatnya.
Reihand ingin Flo tau dengan siapa dia berhadapan, cowok yang digilai banyak cewek. Kurang ajar benar kalau matanya tidak ada yang terbuka satu pun.
Sudah banyak sekali yang selama ini mengantri jadi pacarnya, lusinan cewek yang tergila gila padanya seperti Widya bahkan bisa dia temui setiap hari.
Tapi Flo, gadis ini adalah gadis pertama yang berani menghindar darinya, yang berani dengan lancangnya membuatnya tidak bisa tidur nyenyak setiap malam, insiden di ruko bekas mie ayam itu sudah mengubah hari hari Reihand dan Flo.
Reihand mendekat, Flo kontan jadi tegang bahkan sendal yang ada ditangannya tanpa sadar terlepas.
"Bisa, kita ngomong sebentar?" tanyanya lembut, tapi entah kenapa Flo merasa Reihand mengucapkannya dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
__ADS_1
Reihand berdehem, sambil terus melangkah pelan ke arah cewek itu, refleks Flo mundur.
Dia melihat sekitar, baru sadar ternyata ditempat itu sudah sepi, hanya dia dan Reihand yang ada disana.