
Kini ketiganya duduk di sofa yang ada di ruangan Diego. Luna juga terlihat sedikit lebih tenang sekarang.
"... Jadi seperti itu," Diego baru saja selesai menjelaskan kenapa Velina ada di sini sekarang. Termasuk tentang pernikahannya dengan Velina yang di adakan lusa.
"Apa wanita ini sungguh bisa di percaya?" Luna menatap Velina dengan tatapan tak yakin juga merendahkan, "apa kau yakin ingin menikahinya juga?" Ia beralih menatap sang kakak meminta penjelasan.
"Memangnya aku punya pilihan lain? Setidaknya dia telah berhasil membujuk Farel untuk tidak jadi menceraikanmu, jadi ini adalah harga yang harus ku bayar padanya."
"Tapi... Kau kan bisa memberinya uang, tidak perlu sampai menikahinya," Luna merasa tidak terima.
"Luna, jaga bicaramu!" Ini kedua kalinya Diego terpaksa bicara keras pada Luna.
"Kakak, dia hanya orang luar. Sekarang bahkan kau tega membentakku hanya demi wanita ini. Apa kau sungguh jatuh cinta padanya?!" Luna masih terus mengajukan protes.
Mata Diego dan Velina sontak saling bertemu dan menatap, keduanya tampak salah tingkah mendengar omongan Luna.
"Luna, maafkan aku. Aku tidak akan begini jika kau bisa menjaga sikapmu," Diego terpaksa menurunkan sedikit intonasi suaranya. "Bukankah ini yang kau inginkan? Tetap bertahan dengan Farel? Jadi kau harus bisa juga menerima kenyataan jika Velina akan menjadi istriku."
"Tapi kenapa sampai harus menikahinya?!" Luna masih kekeuh dengan argumen-nya.
"Karena tidak semua hal bisa di nilai dengan uang. Jika bukan karena Velina, aku tidak yakin Farel akan mau membatalkan perceraiannya denganmu."
"Kakak..."
"Aku pusing jika kau terus saja merengek, kau tahu betapa sulitnya aku untuk selalu dapat memenuhi keinginanmu?!"
Luna kesal sampai tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya bisa melirik Velina dengan tatapan sinis.
"Hanya ini jalan keluar yang bisa ku lakukan saat ini. Apa kau paham? Atau kau ingin aku tidak menikahi Velina dan membiarkan pria itu mengejarnya lagi?"
Luna yang hendak mengajukan protes lagi, kini tampak serba salah. Sepertinya ia tak punya pilihan lain untuk menolak rencana sang kakak.
Tling... Tling... Tling...
Ponsel Diego berdering, ia merogoh benda pipih itu dari saku celananya. "Sebentar, aku mau angkat telepon dari klien dulu."
"Halo..." Diego berjalan menjauh untuk menerima panggilannya.
Sementara itu, Luna menggunakan kesempatan itu untuk mengintimidasi Velina. Ia duduk mendekat ke arah Velina dan mulai menyerangnya, "setelah gagal merebut suamiku, sekarang kau berusaha merebut perhatian kakakku, kau pikir aku akan membiarkanmu hidup dengan tenang?" Ujarnya sinis dengan suara lirih karena takut Diego akan mendengarnya.
"Aku? Gagal merebut suamimu? Ku pikir kau harus meralat kata-katamu, suami mu sendiri yang mengejarku," Velina mengulas senyum kemenangan.
__ADS_1
"Kau--" Wajah Luna berubah marah dan mengangkat satu tangannya ke udara hendak menampar Velina, tapi gerakannya tertahan karena Diego telah kembali ke tengah-tengah mereka.
"Awas kau!" Akhirnya ia hanya bisa memberi ancaman dengan bibirnya yang bergerak tanpa suara, dan terpaksa menurunkan tangannya kembali.
Velina merasa tidak takut dan malah menunjukkan sikap tenangnya yang membuat Luna makin kesal.
"Luna, karena hari ini kau masih sakit, aku telah menyuruh sopir untuk menjemputmu kemari, kau pulanglah lebih dulu dengannya."
"Tapi, kak. Aku ingin kakak yang mengantarku," rengek Luna dengan manja.
"Tidak bisa, karena sore ini juga aku harus bertemu dengan klien."
"Aku sedang sakit, kenapa kau tidak perhatian padaku," Rengeknya lagi seperti anak kecil.
"Luna sayang, aku mohon mengertilah, kali ini saja, aku ada meeting dengan klien besar jadi tidak mungkin membatalkan pertemuanku dengannya."
"Kan ada Juan, kenapa tidak suruh dia saja untuk menggantikan mu! Kau antar aku pulang, aku ingin kau yang mengantarku," bujuk Luna tak mau mengerti.
"Kali ini aku tidak bisa mewakilkannya pada Juan. Kau tidak lihat, dia sudah ku suruh menemui klien-ku yang lainnya? Jadi klien kali ini tidak bisa suruh dia untuk menggantikan ku. Aku harap kau mengerti posisiku."
"Huh..." Luna memasang wajah cemberut sembari melipat tangannya di dada. Diego hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkahnya.
"Aku janji akan pulang cepat."
"Janji."
Wajah Luna seketika berubah berbinar mendengar penuturan sang kakak.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke lantai bawah, sopir sudah menunggumu."
"Kalau begitu, ayo." Luna beranjak berdiri dengan semangat.
Diego tampak membenarkan rambut Luna yang berantakan, juga membenarkan sweeter wanita itu. Terlihat sekali Diego yang sangat menyayangi Luna.
Velina diam-diam membatin, pria ini sebenarnya tidak terlalu buruk.
"Aku akan mengantar adikku di bawah sebentar, tunggu Farel kembali dan minta tolong padanya untuk siapkan berkas untuk meeting sore ini." Ujar Diego pada Velina sesaat sebelum ia melenggang pergi meninggalkan ruangan.
"Baik," Velina mengangguk hormat. Sedangkan Luna masih menatapnya dengan tatapan kebencian.
"Ayo, kak. Aku malas jika harus berada lama-lama satu ruangan dengannya." Mengalungkan lengannya pada sang kakak.
__ADS_1
Velina tak ingin menggubrisnya, ia justru mengulas senyum dan berkata, "hati-hati di jalan, a-dik ipar."
"Apa?!" Luna mendelik, tidak percaya wanita ini begitu percaya diri. "Aku belum jadi adik iparmu, dan aku tidak suka punya kakak iparmu sepertimu!" Sergahnya kesal.
"Luna..." Diego mencoba memperingatkan. Wanita itu akhirnya terdiam.
"Baiklah, kami pergi dulu." Pamitnya pada Velina dengan sedikit canggung. Velina hanya membalasnya dengan mengangguk hormat.
***
"Aku tidak percaya kakak sungguh akan menikahinya, wanita yang tidak jelas asal usulnya, apa kakak tidak memikirkan reputasi kakak?"
Diego baru saja pulang dan Luna langsung memberondongnya dengan pertanyaan yang tidak enak di dengar. Sedangkan di sisinya masih berdiri Velina yang ikut pulang bersamanya.
Diego menghela napas mencoba untuk tenang, "kau istirahatlah ke kamarmu, aku akan bicara dengan adikku terlebih dahulu." Ucapnya pada Velina.
Wanita itu hanya mengangguk dan tanpa banyak kata berlalu dari sana.
Setelah Velina benar-benar menghilang dari pandangannya, barulah Diego menatap ke arah Luna. "Kenapa kau mengatakan hal itu di hadapannya? Apa kau sengaja?"
"Aku yakin kakak tidak mencintai wanita itu kan? Tapi kenapa sekarang kakak selalu membelanya?"
Diego bisa merasakan perasaan tidak aman yang di rasakan sang adik saat ini.
"Luna... Dengar, berhentilah mengurusi kehidupan pribadiku."
"Bahkan sekarang kau berkata seperti ini padaku, kau tega!" Mata Luna kini tampak berkaca-kaca.
Diego memijit pangkal hidungnya merasa pusing. Ini memang kesalahannya sendiri yang terlalu memanjakan sang adik, dan membuat wanita itu jadi tidak bisa mandiri secara emosi.
"Bukan begitu maksudku, tapi ku pikir, aku menikah dengan siapapun adalah hak-ku."
"Tapi aku peduli dengan reputasimu," protes Luna lagi.
"Soal itu kau tidak perlu khawatir, kami hanya akan menikah secara rahasia, tidak akan ada orang luar yang tahu kecuali keluarga kita saja."
"Benarkah?"
"Itu benar."
Mendengar itu, wajah Luna mendadak berubah senang. Kalau begitu aku bisa punya kesempatan memisahkan mereka berdua. Dan sepertinya aku punya rencana untuk itu. Ujar Luna dalam hati.
__ADS_1
Bersambung.