Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Ketahuan


__ADS_3

Setelah dari rumah sakit X, Arga kembali membawa Meira pulang kerumah besar.


Saat melewati gerbang mobilnya berpapasan dengan mobil milik Andrew, namun sayangnya Arga tidak menyadarinya karna Andrew membawa mobil rental yang sama sekali tidak dia kenal.


"Itu dia Arga! sial! aku benar benar tidak bisa mengawasi mereka dari dekat! aku harus apa sekarang?!" Tanya Andrew pada dirinya sendiri, Andrew menggigit jari telunjuknya sendiri, menggoyang goyangkan kakinya, resah.


Akhirnya Andrew hanya bisa memperhatikan mobil hitam milik Arga masuk ke dalam gerbang sampai akhirnya menghilang dari pandangannya.


Mobil Arga pun berhenti tepat di depan pelataran rumah, semua pelayan menyambut kepulangan Arga di depan pintu masuk.


Arga menyerahkan kunci mobilnya ke tangan salah satu pengawal.


Dia lalu berjalan membukakan pintu mobil yang satunya untuk Meira.


"Turunlah, hati hati dengan langkahmu sayang.." kata Arga lembut.


Meira hanya mengulum senyum, dia merasa Arga bersikap terlalu berlebihan tapi kenapa dia merasa menikmati semua ini ya?


"Bi Sri, apa ayah ada dirumah?" tanya Arga sambil menuntun Meira menaiki anak tangga.


Bi Sri menggeleng pelan.


"Belum den, bapak pulang sehabis maghrib, tadi bapak nelpon ke nomor rumah." Jawab bi Sri.


"Ya udah kalau begitu pergilah, lanjutkan pekerjaan kalian."


"Baik den.." Kata bi Sri sambil membalikan badan.


"Tunggu dulu bi, tolong masak sup ayam kampung ya untuk makan malam."


Meira menoleh kaget, tumben Arga meminta suatu hidangan spesial untuk makannya, biasanya laki laki itu tidak terlalu ambil pusing soal menu makanan yang ada diatas meja.


"Iya, den baik."


Arga pun kembali melangkah dan menuntun Meira ke dalam kamar.


Klek


"Duduklah disini, aku akan menyiapkan air hangat untuk kamu mandi." Kata Arga sambil mengusap pipi Meira lembut.


Meira mengangguk patuh, setelah Arga masuk ke kamar mandi, dia segera menjatuhkan dirinya di kasur.


ah hari ini aku merasa seperti seorang putri yang dilayani oleh seorang raja, Batin Meira.


Meira menatap langit langit, tiba tiba teringat kejadian tadi siang. Bagaimana kalau ternyata Arga benar benar tidak mengijinkannya masuk kuliah lagi?


tidak! aku masih ingin menyelesaikan kuliahku Tuhan, hiks. Mulai frustasi lagi kalau ingat itu.


Klek


Tiba tiba pintu kamar mandi terbuka, Meira tercengang ketika melihat Arga sudah tidak mengenakan apapun selain handuk putih polos yang melilit pinggangnya.


"Kamu mau mandi?" Tanya Meira, dia duduk dipinggir ranjang.


"Tidak, aku mau membantumu mandi." Jawab Arga.


Tubuh berotot milik Arga membuat Meira sedikit ketar ketir.


"Membantuku mandi? lantas kenapa kamu membuka baju?"


"Tentu saja aku buka baju, kalau tubuhku basah aku bisa langsung ikut mandikan?!" Menjawab dengan sangat santai.


Glek


Tiba tiba firasatnya jadi tidak enak.


Arga mendekat dan langsung bersimpuh di depannya. Membuka kancing baju Meira dari atas dan turun kebawah.


"Tunggu dulu Ga, aku bisa sendiri!" Cegah Meira sambil memegang tangan Arga yang sudah siap melepaskan kemejanya yang telah terbuka sempurna kancingnya.


Namun Arga tak menghiraukan, dia tetap asyik meneruskan menelanjangi tubuh istrinya itu.


"Arga!!!" teriaknya kesal saat Arga tak juga mau mendengarkannya.


"Hem, apa?"


Meira menarik selimut dibelakangnya dan berusaha menggunakan itu untuk menutup tubuhnya yang kini hanya berbalut bra saja.


"Kenapa? memang apa yang mau kamu sembunyikan?" Melirik kesal karna Meira mengganggu keasikannya.


"Aku bahkan sudah melihat seluruh bagian tubuhmu." Tersenyum simpul sambil mendekatkan wajahnya ke arah Meira, sesaat hembusan nafas Arga menerpa wajahnya.


Meira menunduk malu, wajahnya mungkin sudah semerah tomat yang busuk.


"Lepaskan itu, mengganggu saja!" menyingkirkan selimut tebal yang Meira gunakan untuk melindungi tubuhnya.


Selimut itu dilemparkan Arga ke lantai.


Tangan Arga mulai bergentayangan lagi ke tubuh Meira, kali ini lengan kekar itu memeluk pinggang Meira, menarik resleting rok yang Meira kenakan.


Srek


"Berdirilah!" Titahnya.


Jika Meira berdiri maka otomatis roknya akan terjun bebas ke bawah kakinya.


"Tidak!"


"Kau benar benar ya," sudah mulai benar benar kesal.


Arga tak sabar, dia pun mengangkat kedua bahu Meira yang mau tak mau membuat Meira ikut berdiri.


Rok pun meluncur bebas dari pinggang gadis itu. Arga menyeringai, tangannya mulai aktif lagi.


Kali ini tangan itu berhenti dibelakang punggung Meira, memutus ikatan bra dengan paksa.


"Arga!"


"Heft" Belum sempat meneruskan protes bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Arga.


Sementara tangan Arga semakin aktif mere mas gunung kembar Meira.

__ADS_1


Menerima serangan mendadak itu membuat Meira tidak punya pertahanan diri.


Cukup lama mereka bergulat dengan ciuman yang sangat panas semakin lama semakin meminta lebih.


"Apa yang kau lakukan? katamu mau mandi!" kata Meira sambil berusaha mendorong tubuh Arga saat laki laki itu melepaskan ciumannya


Meira mencoba mengambil udara sebanyak banyaknya untuk mengisi rongga paru parunya, ciuman Arga tadi begitu dalam hingga membuatnya sulit bernafas.


"Aku tidak tahu Meira, tapi tubuh ini bergerak sendiri, jangan salahkan aku, salahkan saja tubuh ini!" menjawab sekenanya.


Meira hendak mengambil handuk di lemari namun lagi lagi Arga mencegat tangannya.


"Mau kemana?"


"Mandi, ayo mandi!" Berusaha melepaskan genggaman tangan Arga namun laki laki itu malah mengangkat tubuh mungilnya ke atas kasur.


Arga naik keatas tubuhnya, kedua kaki dan tangan kekarnya menopang tubuh atletisnya.


Jantung Meira berpacu melawan waktu ketika merasakan bibir Arga turun ke bahu dan mencium tengkuknya dengan lembut.


Meira menggigit bibirnya berusaha menahan mulutnya agar tidak terpancing.


Namun semakin gila Arga kini malah bermain dengan kedua gunung kenyalnya, mencium dan sesekali menyedotnya.


Tekad penolakan dan reaksi tubuh Meira malah berbanding terbalik.


"Argh," Desah an keluar dari mulut mungilnya.


Arga tersenyum mendengarnya. Kepalanya naik lagi ke atas, wajah mereka saling bertemu.


Kedua mata coklat Arga seakan meminta sesuatu darinya, berharap Meira mengerti.


"Arga, kau taukan ini semester pertama kehamilan, tadi kata dokter.."


"Dia bilang boleh, asal aku melakukannya dengan sangat hati hati." kata Arga memotong ucapan Meira.


Gadis itu menelan ludah, memang benar Dr. William tadi mengatakan kalau mereka tetap bisa berhubungan suami istri asal Arga memperhatikan beberapa hal.


"Maafkan aku Meira, aku pikir aku akan tahan dengan hanya mandi bareng, tapi melihat tubuh ini hasrat ku ternyata meminta lebih." Kata Arga apa adanya.


Tangannya sudah mulai aktif lagi berkeliaran ke bawah, kali ini turun ke perut Meira, mengelusnya lembut.


"Sayang, kau mau melayaniku?" tanya Arga, tangannya sudah siap masuk diantara dua kaki Meira.


Meira terdiam sesaat, meskipun dia ingin menolak tapi sentuhan Arga malah memabukkan dirinya. Laki laki tampan ini selalu bisa membangkitkan hasratnya.


Tangan itu masih tak bergerak seolah menunggu sinyal dari Meira.


"Iya, aku mau." Kata Meira malu malu sambil menggigit bibir bawahnya.


"Kau mau menggodaku ya!" memperhatikan bibir merah yang sedang Meira gigit.


"Tidak tidak!" Bantah Meira.


Arga tersenyum sambil mengecup bibirnya.


"Jangan pernah menggigit bibirmu sendiri di depan orang lain! aku akan menghukum mu kalau berani."


"Kenapa memangnya?" Meira mengerutkan alisnya.


Walaupun tak mengerti tapi Meira akhirnya mengangguk pelan.


Kepala Arga mulai turun perlahan ke leher, meninggalkan banyak jejak merah disana.


Setelah itu turun lagi ke dada, kali ini mengisap kesukaannya lumayan lama, membuat Meira merintih berkali kali.


Sementara tangan kekarnya sudah sampai diatas mahkota milik istrinya.


Arga memasukkan salah satu jari telunjuknya perlahan, hangat menerpa kulit jarinya. Lalu memulai gerakan maju mundur pelan pelan dan sangat hati hati.


Meira memejamkan mata, sensasi yang luar biasa kini menjalar di seluruh tubuhnya. Tangannya mencengkram seprei kuat kuat.


"hem Arga!"


"Ya, Meira aku akan membuatmu terbang ke puncak." Bisik nya sambil kembali memberikan pagutan yang sangat dalam dibibir Meira.


Mata mereka bertemu, debaran hasrat, cinta dan nafsu menjadi satu.


Meira mengerang, dia merasa sulit bernafas ketika tangan Arga semakin aktif bermain di mahkotanya.


"akhhh"


Setelah melihat Meira sudah terpancing, Arga pun membuka lilitan handuk di pinggangnya, melemparkannya dengan asal ke lantai.


Harum tubuh pria tampan itu menyatu dengan udara disekitar Meira, membuat jantung Meira kembali berdegup lebih cepat.


Arga menggenggam kedua lengan Meira dan menguncinya disamping kepala gadis itu.


Mereka saling bertatapan sampai akhirnya Meira merintih merasakan sesuatu tengah menghentak paksa tubuh bagian bawahnya.


Arga mencengkram lengannya lebih kuat, matanya terpejam menikmati setiap gelombang cinta mereka.


"Aku akan bermain pelan pelan Meira, bukalah matamu.." Kata Arga sambil mencium kening Meira.


Rintihan demi rintihan keluar dari mulut mungil Meira seiring dengan serangan maut yang diberikan oleh Arga.


Namun Meira bisa merasakan kali ini permainan Arga sangat berbeda, dia bermain dengan hati hati juga sangat lembut.


Arga memperlambat pergerakannya berkali kali saat melihat gadisnya kesakitan.


Nafas mereka memburu, peluh keringat bercucuran membanjiri ranjang seolah menjadi saksi betapa panasnya permainan mereka kali ini.


"Arga, aku sudah tidak tahan." Kata Meira dengan nafas yang terengah.


"Apa kau sudah mau sampai?" Keringat ditubuh Arga membuatnya tampak lebih gagah.


"Iya sepetinya." Jawab Meira sambil memejamkan matanya, dia merasa tubuhnya sebentar lagi akan melakukan pelepasan.


"Baiklah aku percepat ya sayang." Kata Arga sambil menyesap bibirnya.


Lalu Meira merasakan serangan Arga kian intens menghujam nya, membuatnya semakin terlena dan tanpa sadar dia mengerang panjang saat mencapai puncak.

__ADS_1


Arga langsung mencabut senjatanya, dia tahu Meira akan kesakitan jika dia masih meneruskan aksinya di tengah puncak pelepasan Meira.


tubuh Meira bergetar sesaat, sensasi yang diberikan Arga sangat luar biasa kali ini.


Arga mencium keningnya dan ikut berbaring disebelah Meira. Meira menoleh dan melihat Arga sedang mengatur nafasnya.


"Kau belum sampai ya?" Tanya Meira sambil mengusap keringat di dada Arga.


"Hem, tak apa sayang."


Meira langsung bangun dan menaiki tubuh Arga. Arga sampai tersentak kaget.


"Meira kamu mau apa?"


Meira tersenyum sambil mengambil posisi, dan jleb, Arga merasakan miliknya yang masih sangat keras di himpit lagi.


"Argh." tidak tahan dengan kenikmatan yang Meira berikan laki laki itu mengerang panjang.


Meira mulai mengangkat pinggulnya dan perlahan menurunkannya.


Arga terlena mendapatkan serangan demi serangan dari Meira, tak menyangka jika Meira bisa membalasnya dengan sangat baik.


"Meira, apa perutmu sakit?" tanya Arga ditengah tengah pergulatan. Masih khawatir dengan kondisi Meira yang tengah hamil muda.


"Tidak sama sekali sayang.." Jawab Meira.


Arga pun tersenyum, Meira masih memberikan servis di atas tubuhnya, bergerak lincah diluar dugaan Arga karna selama ini Meira cenderung pemalu.


Pergulatan menjadi semakin panas ketika Arga merasakan sudah sampai diujung tanduk, urat tubuhnya menegang, tangannya mencengkram pinggang Meira membantu gadis itu menghentak lebih cepat.


"Meira, aku keluarkan didalam ya?"


"Hem.."


Dan akhirnya Meira berhasil membawanya ke terbang ke nirwana.


"argh!!!"


Erangan cukup panjang yang keluar dari mulut Arga menjadi akhir permainan ranjang mereka.


Meira ambruk diatas tubuh Arga, nafasnya naik turun tak beraturan.


Arga membelai rambut Meira lembut lalu mengecupkan.


"Terima kasih Meira, kau membuatku benar benar kehilangan kata kata.." Bisik Arga.


Meira masih berada diatas Arga, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Meira hanya diam, masih berusaha mengatur nafasnya, dia juga kaget atas perbuatannya tadi, entah kenapa tiba tiba nafsunya naik berkali lipat setelah merasakan pelepasan.


"Kau lelah sayang?" Tanya Arga, karna dia hanya mendengar deru nafas Meira.


"Hem, sedikit lelah.." Jawab Meira sambil mengangkat kepalanya.


Arga melihat keringat membanjiri wajah cantik istrinya, dia membelai pipi Meira dengan lembut.


Meira mendekatkan wajahnya, bibir mereka bersatu lagi, kali ini Meira membuka mulutnya seolah mempersilahkan Arga memakan habis seluruh isi mulutnya.


"Kau mulai nakal ya sayang!" Tersengal karna ciuman yang diberikan Meira benar benar diluar dugaan.


Ada apa dengan Meira? kenapa malah dia yang terlihat mendominasi? apakah ini bawaan bayi mereka?


Arga menyibakkan rambut Meira kebelakang telinga, mereka bertatapan lama tanpa saling bersuara.


Meira melihat kedua bola mata Arga begitu teduh dan menyiratkan cinta yang begitu dalam untuknya, begitupun juga dengan Arga, dia bisa melihat gadis dihadapannya ini menyayanginya dengan segenap rasa yang dia punya.


Kehadiran buah hati diantara mereka akan mempererat tali cinta yang selama ini mereka bangun.


Arga mengangkat tubuh Meira dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Meletakan tubuh itu ke dalam bathub lalu mulai menyalakan kran air hangat.


Arga membasuh tubuh Meira dengan lembut, menuangkan sabun ke penggosok badan sehingga busa busa keluar dari sana.


Akhirnya mereka pun mandi yang benar benar mandi.


...****...


Sementara itu di dalam mobil Andrew masih terus mengawasi di depan jalan, namun dia kebingungan sendiri karna tidak bisa melakukan apapun, jangankan mengintai Arga dan Meira, untuk masuk ke dalam gerbang saja rasanya mustahil, penjagaan disana terlalu ketat.


"Apa aku telpon Meta aja ya, aku kangen banget sama dia.." Kata Andrew sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


Setelah beberapa saat menimbang akhirnya Andrew pun memutuskan untuk menelpon istrinya itu, dia memakai nomor baru karna nomor lamanya sudah dia nonaktifkan.


"Halo ini siapa?" suara Meta terdengar seperti angin surga di telinga Andrew.


Andrew menahan nafas, baru saja dia mau menjawab tiba tiba dia dikagetkan dengan suara laki laki yang sepertinya sedang ada disebelah Meta.


"*Baby, siapa yang nelpon?"


Cup*. Andrew mendengar dengan jelas suara kecupan, lalu diiringi tawa dari Meta.


"Gak tau nih sayang, nomor baru." Jawab Meta pada pria itu.


Andrew mengepalkan tangannya, darahnya tiba tiba mendidih, rahangnya mengeras.


Siapa pria itu? Meta jangan bilang kau berselingkuh di belakangku!? Andrew menggertakan giginya.


"Halo ini siapa ya?" tanya Meta, namun Andrew masih diam, hanya deru nafasnya yang berat yang bisa Meta dengar.


"*Siapa baby?" tanya pria itu lagi.


"Entahlah, mungkin dia cuma iseng*!"


Tut tut tut, sambungan telpon ditutup Meta.


Andrew terbelalak, dia mencoba mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak.


Tidak tahan dengan kenyataan pahit yang baru saja diterimanya akhirnya dia menggebrak dasbor dengan sangat kencang.


Brak, kotak tisu sampai melayang lalu jatuh ke kursi disebelahnya.

__ADS_1


Andrew menenggelamkan kepalanya distir. Perasaan marah, sesak dan kesal berbaur menjadi satu.


"Kenapa Met? kenapa? padahal aku sangat mencintamu?!" menggebuk dasbor berkali kali, meluapkan kekesalan yang begitu besar.


__ADS_2