Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Ancaman Widya


__ADS_3

"Wid, gue tau perasaan lo tulus sama Reihand, tapi Flo..lo gak berhak nyuruh dia buat nyembunyiin perasaannya sama Reihand apalagi buat mundur." Kata Meira hati hati, dia tidak ingin membuat Widya tambah marah.


Widya menarik nafas panjang sambil mengepalkan kedua tangannya. Meira jadi ngeri sendiri melihatnya. Tidak pernah dia melihat Widya seemosional ini.


"Wid, tenang Wid." Meira mencoba mengelus punggung Widya lembut, namun Widya malah menepisnya.


Widya menatap tajam Meira.


"Kalau lo dan Flo masih mau jadi sahabat gue, jangan pernah usik gue sama Reihand!"


Flo tercengang, apa Widya sudah gila!


"Wid, kok lo ngomongnya gitu, sadar Wid, jangan kalap hanya karna Reihand, gue sama Flo udah sama Flo jauh sebelum Reihand ada."


"Justru itu, karna kalian sahabat baik gue, jadi kalian harusnya dukung gue, Lo mau dukung gue apa Flo sih, Mei?" Tanya Widya sambil mengangkat salah satu alisnya.


Meira sudah kehabisan kata, bagaimana mungkin Widya bisa menanya hal konyol seperti itu, jelas saja Meira tidak akan memilih salah satu dari mereka. Mereka berdua adalah sahabat baiknya, tidak ada yang Meira bedakan.


Dia akan mendukung Widya begitupun dengan Flo.


Dia hanya tidak suka cara Widya yang egois menyuruh Flo mundur hanya karna dia menyukai Reihand lebih dulu.


"Wid, gue sama Flo gak mungkin gak bahagia ngeliat lo udah ketemu sama orang yang lo sayang, tapi Wid, posisinya disini cukup rumit, Flo dan Reihand.." Meira keceplosan, untung saja dia masih bisa mengerem mulutnya.


Widya memicingkan matanya. Dia sudah tahu apa yang mau Meira katakan tadi.


Jadi, lo juga udah tau ya kalau mereka saling mencintai..tapi tetap saja jangan berharap gue bakal mundur Mei, gue bakal bikin Reihand melupakan Flo dan jatuh cinta sama gue.


Widya berdiri, dia rasa disini dia tidak akan mendapat dukungan Meira.


"Wid, lo mau kemana?"


"Gue mau balik ke kamar, gue males ngomongin Flo! gue udah tegesin sama dia, jangan coba coba buat deketin Reihand. Kalau sampai dia ngelanggar, gue akan pergi dari persahabatan ini!"


Meira lagi lagi tercengang, ya ampun Widya, segitu mudahnya dia mengeluarkan ancaman itu, mengakhiri persahabatan apa semudah membalik telapak tangan?


Meira menggeleng kepalanya heran, kemana Widya yang dia kenal dulu? yang hatinya lembut dan peduli pada orang lain.


Ternyata semua yang Arga katakan semalam benar, cinta bisa membuat seseorang menghalalkan segala cara.


Widya berbalik dan melangkah meninggalkan Meira, tapi sebelum dia sampai di pintu balkon, dia menghentikan langkahnya.


"Mei, gue anggep kita gak pernah ngomongin ini. Gue harap lo juga pura pura gak tau kalau Flo dan Reihand saling suka! atau lo akan kehilangan gue.."


"Wid!" Meira berdiri dan mencoba mengejar Widya, tapi Widya malah mempercepat langkahnya.


Meira terduduk di dalam kursi makan di dalam restoran itu. Dia mengusap wajahnya frustasi. Ya ampun kenapa bisa jadi begini.


Hubungan Widya dan Flo malah memburuk karna Reihand.


Apa yang harus Meira lakukan untuk menyelamatkan semuanya? dia tidak mau persahabatannya pecah, tapi dia juga tidak tega melihat Flo menderita.


"Mei, lo kenapa?" Flo tiba tiba berdiri di dekatnya, dia menatap cemas Meira yang kelihatan sangat sedih.


Flo duduk di sebelah Meira sambil menjulurkan kepalanya.


"Perut lo sakit Mei? atau ada masalah lain? Ada yang bisa gue bantu gak?" Tanya Flo panik.

__ADS_1


Meira mengangkat kepalanya, astaga Flo, sibaik hati ini kenapa malang sekali nasibmu!


Meira tak menjawab, dia malah memeluk sahabatnya itu dengan perasaan hancur.


"Ada apa, Mei? lo nangis ya?" Flo merasakan ada lelehan air mata yang jatuh ke bahunya.


Meira memang menangis, dia sedih memikirkan kata kata Widya tadi.


"Engga kok Flo, gue baik baik aja, gue cuman ngerasa lagi pengen nangis aja, bawaan bayi kali ya." Ucap Meira berbohong, dia tidak ingin membuat Flo khawatir.


Flo mengambil tisu di atas meja dan menyerahkannya pada Meira.


"Katanya orang hamil itu perasaannya sensitif, bisa nangis tiba tiba, ternyata emang bener ya Mei.." Flo dengan polosnya percaya ucapan Meira.


Meira hanya mengangguk pelan.


"Lo tadi abis dari mana?" Tanya Meira mengalihkan topik.


"Gue abis beli sesuatu buat kita bertiga, tunggu, gue keluarin dulu."


Flo merogoh sesuatu dari kantong celananya.


"Taraaa, gue beli ini buat lo sama Widya, cantik gak Mei.." Flo menyerahkan tiga buah gelang cantik yang terbuat dari karang laut yang dibentuk sedemikian rupa, ditengah tengah gelang itu ada mutiara berwarna putih, sangat cantik.


Flo memakaikan salah satu gelang itu ke tangan Meira.


"Tuh, kan cantik banget pas ditangan lo Mei, yang ini buat Widya, hehe, oh iya kemana tuh anak?" Tanya Flo, sepasang matanya berkeliaran ke seluruh penjuru restauran, tapi dia tidak menemukan Widya.


Meira terdiam, menatap nanar gelang yang Flo berikan, Wid, sadar Wid..Flo begitu sayang sama lo, kenapa lo malah jahat sama dia. Batin Meira.


"Mei, Widya mana? gue mau kasih nih gelang.."


"Oh, yaudah gue kesana bentar ya, lo gak apa apa gue tinggal disini? atau mau gue anter ke kamar?"


"Gue disini aja deh, Flo, gue mau nunggu Arga. Oh iya makasih ya gelangnya, Flo, cantik banget."


Flo mengangguk lalu berdiri.


"Yaudah gue kamar Widya dulu ya."


Meira tersenyum, teriris melihat pemandangan di depannya. Sifat Flo beda sekali dengan Widya, bahkan tanpa Widya minta pun, Flo sebenarnya sudah suka rela mengikhlaskan perasaannya.


Meira terus menatap punggung Flo, hingga akhirnya gadis itu menghilang dibalik pintu.


Tok tok tok


"Wid, ini gue, Flo." Flo setengah berteriak, senyum mengembang di wajahnya, dia tidak sabar memberikan gelang itu pada Widya.


Kira kira Widya suka gak ya?


Klek


Pintu pun terbuka.


Widya menatap Flo malas tapi dia tetap berusaha tenang.


"Ada apa Flo?"

__ADS_1


"Gue masuk ya?" Tanya Flo, karna Widya tidak mempersilahkan masuk sama sekali.


Dengan memutar bola mata Widya melenggang masuk ke dalam kamar.


"Tutup pintunya." Perintah Widya yang berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamar. Dia duduk di tepi ranjang. Flo ikut duduk di sebelahnya.


"Ada apa, Flo."


"Wid, liat deh, gue punya hadiah buat lo!" Dengan antusias Flo menunjukkan gelang yang baru saja dibelinya.


Widya mengernyitkan alisnya melihat benda bulat kecil itu di telapak tangan Flo.


"Gue beli ini kembaran buat kita bertiga, tadi yang satu udah gue kasih ke Meira, yang ini buat lo hehe, bagus gak?"


Flo menyodorkan gelang itu kehadapan Widya.


Widya menerimanya, lalu mengangkatnya tinggi tinggi, kalau memperhatikan detailnya sepertinya barang murah!


Brak


Tiba tiba Widya melempar benda itu ke lantai, gelang yang terbuat dari kerang itu pun pecah seketika, berserakan disekitar lantai.


Flo tersentak kaget, dia tak menyangka Flo akan melempar gelang yang dia berikan.


"Wid! kenapa lo buang?"


"Barang murah kaya gitu mau lo kasih buat gue?"


Flo tercengang, matanya membulat lebar, astaga kenapa bisa Widya bisa mengeluarkan kata kata sejahat itu.


Flo menahan tangisnya.


Widya tersenyum kecut.


"Gue gak butuh gelang murahan lo Flo. Kalau lo mau ngasih gue hadiah, kasih Reihand buat gue!"


"Wid! Reihand bukan barang! lagi pula kita udah bahas inikan, gue gak akan ngedeketin dia, gue ikhlas lo sama dia."


"Halah, gue gak percaya sebelum lo ngebuktiin omongan lo itu!"


"Ngebuktiin gimana sih Wid?" Flo sudah tidak bisa membendung tangisnya.


"Gue udah denger semuanya waktu Reihand nyatain cinta sama lo di pantai! lo juga suka kan sama dia? gak usah munafik, Flo!" Desis Widya geram, dia berdiri sambil menahan emosi yang mulai memuncak di dadanya.


Bagai disambar petir di siang bolong, Flo tercengang untuk kesekian kalinya, ternyata Widya sudah mendengar semuanya.


"Wid, kalau lo emang sayang sama Reihand, kejar dia, bikin dia jatuh cinta sama lo!"


"Gak akan bisa, kalau masih ada lo diantara gue sama dia!"


"Terus gue harus gimana Wid?"


Widya menatap Flo tajam, dia mendekati Flo dan mendorong bahunya dengan telunjuknya.


"Jauhin Reihand sekeras yang lo bisa!"


Widya lalu berjalan ke arah pintu, dia membanting pintu dari luar dengan sangat kencang.

__ADS_1


Flo terguncang, hatinya hancur dan patah karna kata kata Widya. Tubuh Flo meluruh ke lantai, dia menangis sejadi jadinya.


Bersambung..


__ADS_2