Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Terpaksa Menerima Cinta Widya


__ADS_3

Arga menatap Reihand. Reihand terlihat sangat bingung harus merespon perasaan Widya ini dengan cara bagaimana.


Di satu sisi dia tidak tega juga setelah mendengar penjelasan dokter tadi tentang kondisi Widya. Tapi di sisi yang lain. Dia tidak mungkin menerima cinta gadis ini hanya karna rasa kasihan.


"Wid, kenapa kamu gak cerita sama Papah kalau kamu punya penyakit seberbahaya itu, apa kamu tahu kondisimu ini?" Papah Widya membantu memapah tubuh mamahnya Widya yang masih lemah. Mereka menghampiri Widya.


Perlahan Widya melepaskan pelukannya di tubuh Reihand.


Ia mendongak dan menatap kedua orang tuanya dengan sorot mata menyesal.


"Jadi kamu sudah tau Wid?"


Diamnya Widya menjelaskan semuanya.


Lagi lagi semua yang ada disitu terperanjat kaget. Sejak kapan? Bahkan gadis itu masih aktif kuliah dan tidak pernah menunjukkan tanda tanda sakit yang parah.


"Lebih baik Tuan dan Nyonya bawa Widya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, jangan membiarkan kondisinya lagi karna akan fatal akibatnya, kanker bukan suatu penyakit yang bisa disembuhkan dengan cepat. Butuh proses panjang dan kalau sudah menyebar ke organ lain, akan sangat kecil kemungkinan untuk sembuh." Usul Dokter Jerry.


Setelah selesai memeriksa teman Arga. Dokter Jerry pun pamit. Dia masih banyak urusan di rumah sakit. Hanya karna Arga yang memanggilnya kemari, dia langsung meninggalkan semua urusannya disana.


"Terima kasih banyak Dokter Jerry." Arga mengantarkan Dokter Jerry sampai ke depan pintu.


"Sama sama, Tuan Arga. Saya permisi dulu." Dokter itu menundukkan kepalanya dan berbalik kembali ke dalam mobil.


Di dalam rumah Widya. Suasana masih terasa sangat tegang.


Berkali kali mamahnya Widya berteriak histeris mengetahui kenyataan pahit yang menimpa anak mereka satu satunya.


Flo menatap Widya prihatin. Andai dia bisa memeluknya sekarang. Dia ingin sekali memberikan pelukan pada Widya. Dia ingin memberikan semangat agar Widya sembuh dan melewati ini semua.


Tapi sayang, itu hanya mimpi di siang bolong. Karna kenyataannya gadis itu bahkan tidak sudi disentuh olehnya.


"Benar kata Dokter tadi. Kita harus kerumah sakit sekarang." Kata Mamahnya Widya di sela isak tangisnya. Yang lain mengangguk setuju.


"Iya, lebih baik langsung dibawa ke rumah sakit aja Tan. Biar dapet penanganan lebih lanjut." Manji ikut mengusulkan.


"Tidak! aku tidak mau kerumah sakit!" Tolak Widya buru buru.


"Kenapa Wid?" Tanya Meira. Yang lain ikut menatapnya.


"Aku gak mau di obati. Biar aja aku mati. Toh laki laki yang sangat aku sayangi juga tidak mau bersamaku. Untuk apa aku hidup. Biarkan penyakit ini menggerogoti ku!" Pekiknya lirih. Air mata merembes dari kedua ujung sudut matanya yang sudah sembab dari tadi.


Reihand mematung. Posisi ini membuatnya dilema berat. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Semuanya menjadi semakin runyam.


"Nak, Reihand. Ibu mohon kamu mau kan menerima cintanya anak Ibu.." Ibunya Widya tiba tiba mendekati Reihand dan memegang kedua tangan cowok itu.


Sontak Reihand terperangah. Dia hendak melepaskan genggaman itu tapi tidak enak karna sedetik kemudian. Ibu Widya bersimpuh di kakinya.


"Tidak jangan begini Tante, apa yang Tante lakukan!" Reihand berjongkok. Buru buru yang lain ikut membantu Ibu Widya untuk berdiri lagi.


Meira teriris melihat pemandangan ini. Di sisi lain dia kasihan pada Widya dan keluarganya. Ibunya pasti sangat terpukul. Tapi di sisi lain, Flo.. Ah, Flo kenapa semuanya jadi makin runyam begini. Kasihan sekali dia. Batin Meira tidak tega menatap Flo yang terlihat ikut sedih dengan semua ini. Dia pasti mengkhawatirkan Widya.

__ADS_1


"Saya mohon nak Reihand. Terimalah cintanya Widya. Sepertinya hanya kamu yang bisa membujuknya untuk melakukan pengobatan." Papahnya Widya ikut membuka suara. Pria tua itu menatapnya lekat. Memohon dengan sangat lewat kedua matanya. Reihand bisa melihat gurat gurat kesedihan di wajahnya yang sudah mulai keriput.


Bagai dihantam jalan yang bercabang. Reihand kini dihadapkan pada kedua pilihan.


Dia melirik Flo. Gadis itu hanya menatap balik dirinya sekilas lalu kemudian dia kembali memalingkan wajahnya, memutus kontak diantara dirinya.


Entah kenapa dia merasa Flo juga pasti sedang gamang sekarang. Bagaimana ini. Dia benar benar bingung.


Reihand benar benar tidak bisa menjawab pertanyaan orang tua itu. Tidak mungkin dia menerima cinta Widya sementara jauh di dalam lubuk hatinya hanya ada Flo.


"Lebih baik kalian semua pulang!" Widya tiba tiba berdiri. Kesal karna Reihand tidak juga mau membuka mulutnya. Tapi sedetik kemudian dia oleng sambil memegangi kepalanya yang terasa berputar putar. Reihand kembali meraih tubuhnya dan membantunya untuk duduk di sofa.


"Bisa gak sih Wid. Lo nurut sama orang tua lo sendiri!" Reihand akhirnya tak tahan untuk berkomentar.


Di saat sakit parah begini pun. Reihand masih berpikir berkali kali untuk menerima perasaannya.


Widya mengetahui penyakitnya ini saat dia pulang berlibur dari ambon beberapa pekan yang lalu.


Dia merasa badannya cepat lelah dan kadang dirumah dia pingsan tanpa sebab. Tanpa sebab juga dia sering demam. Dia pikir itu hanyalah sakit biasa pada umumnya. Ternyata saat dia mencari tahu lewat konsultasi dengan seorang dokter di rumah sakit waktu di telpon malam itu. Dokter itu mengatakan kalau kemungkinan tanda tanda dari penyakitnya itu mengarah pada Kanker.


Sejak itulah Widya semakin takut untuk melakukan pemeriksaan langsung ke rumah sakit. Dia terlalu takut untuk melihat hasilnya.


Ditambah akhir akhir ini dia tidak punya tempat untuk berbagi karna hubungannya dengan kedua sahabatnya Meira dan juga Flo sedang renggang.


Dia frustasi berat. Tapi tidak bisa mengatakannya pada siapapun. Keadaannya jadi bertambah parah karna itu.


"Wid, lo harus tetep ke rumah sakit. Penyakit lo ini gak main main!" Meira masih berusaha membujuk Widya.


"Gue gak mau! kecuali Reihand mau jadi cowok gue. Baru gue mau pergi kerumah sakit buat ngelakuin pemeriksaan medis. Kalau engga, jangan mimpi deh. Lebih baik kalian semua pergi sekarang! gak usah sok peduli sama gue!"


Manji dan Farel tampak kesal karna sikap keras kepalanya Widya.


Sementara Arga masih berusaha diam memperhatikan. Sebenarnya dia malas lama lama disini. Malas melihat ke egoisan Widya pada semua orang. Gadis ini benar benar membuatnya naik pitam. Andai dia bukan sahabatnya Meira. Arga pasti sudah enyah dari ini.


Tapi kalau dia pergi dari sini. Meira akan ngambek padanya. Terpaksa dia harus bertahan meski hatinya sudah tidak betah lama lama disini.


"Wid! lo gak kasian apa sama orang tua lo. Liat tuh mereka, sedih banget. Ayolah Wid jangan egois!" Farel menambahkan.


"Iya nak. Kita kerumah sakit sekarang ya?" Bujuk Mamahnya Widya sambil terus terisak dalam tangisnya.


Widya menggeleng pelan. Wajahnya sudah benar benar mucat. Reihand tersentak ketika melihat rembesan darah keluar dari mulut cewek itu.


Semua yang berdiri di belakang tak kalah terkejutnya.


"Wid. Lo mimisan!" Reihand langsung meminta Farel melempar tisu di atas meja.


Segera dia tekan hidung Widya dengan tisu itu menggunakan tangan kanannya. sementara kirinya menopang kepala Widya dibelakang.


"Tante, udah kita bawa Widya langsung aja kerumah sakit!" Reihand hendak membopong tubuh Widya. Tapi gadis itu menolak mati matian.


"Gue gak mau! gue bilang gue gak mau! gue lebih baik mati!"

__ADS_1


"OKE GUE BAKAL TERIMA CINTA LO WID!" Reihand akhirnya membentak dengan suara tertahan. Dia mengepalkan kesepuluh jarinya.


Widya tercengang. Tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.


Teman temannya saling tatap. Meira langsung mendekat ke arah Flo. Mengusap punggung gadis itu.


Flo mematung. Tak kalah kaget dengan ucapan Reihand barusan. Tali harapan di dalam hatinya putus seketika. Sekeras apapun dia menyangkal. Ternyata sesakit ini rasanya melepaskan orang yang kita cintai untuk bersama orang lain.


Dia sudah menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk. Tapi pada dasarnya Flo juga hanya wanita biasa. Di mulutnya dia bisa menyangkal perasaannya. Tapi hatinya tidak. Hatinya rapuh.


Mati matian dia tahan agar butiran bening di matanya tidak sampai jatuh. Dia tidak mau Reihand berubah pikiran dan membatalkan kata katanya hanya karna melihat dia menangis.


"Gu bakal jadi kekasih lo mulai sekarang, puaskan? sekarang lo udah mau kan pergi kerumah sakit?"


Widya masih ternganga. Digenggamnya tangan Reihand. Air mukanya berubah menjadi sangat bahagi.


"Apakah gue lagi mimpi? lo beneran mau nerima cinta gue Rei? seriusan?"


Reihand hanya diam. Dia menarik nafas panjang.


"Iya, Wid." Katanya lirih. Sama hancurnya dengan Flo. Hati Reihand juga patah ketika mengatakan itu.


Dia mematahkan dua hati sekaligus. Hatinya dan juga hati Flo. Dia bahkan sekarang tidak sanggup menatap ke arah Flo. Dia terlalu takut dirinya akan goyah dan menarik kata katanya lagi jika menangkap kesedihan sedikit saja diwajah gadis itu.


"Rei!" kali ini Arga mendekat. Dia menekan bahu Reihand sambil menggelengkan kepalanya. Seolah memberikan peringatan pada Reihand agar jangan gegabah mengambil keputusan.


Tapi Reihand menepis tangan Arga. Sudah terlanjur. Dia sudah memilih. Memilih untuk menyelamatkan gadis ini dari pada cintanya sendiri.


Widya tampak begitu bahagia. Dia langsung melompat ke dalam pelukan Reihand.


"Kalau begitu kita langsung kerumah sakit aja ya sekarang?" Kata Mamah Widya. kecemasan di wajahnya tadi sedikit berkurang. Akhirnya Widya mau dibawa ke rumah sskit untuk melakukan pemeriksaan medis.


Reihand menggendong tubuh Widya di dalam pelukannya. Gadis itu terperanjat. Tapi sedetik kemudian tersenyum sangat cerah. Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana dia memiliki Reihand seutuhnya. Widya mengalungkan tangannya di leher Reihand dan menyandarkan kepalanya di bahu cowok yang sekararang resmi menjadi kekasihnya itu.


"Gue sayang elo Rei." Ucap Widya pelan.


Reihand tak menjawab. Yang terdengar hanyalah hembusan nafas yang berat.


Mereka pun ikut keluar dari rumah Widya. Reihand membawa gadis itu ke arah parkiran. Papahnya Widya langsung menyiapkan mobil untuk mereka tumpangi.


"Motor kamu taruh disini aja Rei. Nanti biar pulangnya diambil. Kamu naik mobil saja sama Widya ya?" Usul mamahnya Widya.


Reihand hanya mengangguk pasrah.


Dia ingin sekali melirik Flo. Ingin sekali melihat reaksi gadis itu tapi dia tidak sanggup.


Flo berjalan ke arah gerbang depan. Langkahnya gontai. Kini semuanya sudah selesai. Berakhir sampai disini.


.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2