Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Pindah tempat duduk


__ADS_3

"Lo suka nasi goreng, kalau gitu besok gue bikinin bekel buat lo ya?" Kata Widya menawarkan dengan wajah bersemangat.


"Gak usah repot repot Wid, gue cuman mau makan nasi goreng kadang kadang doang, gak terlalu doyan juga sih."


Seketika wajah Widya cemberut berat.


"Tapi, lo makan itu lahap banget kayaknya." Jawab Widya sambil menunjuk nasi goreng yang masih di kunyah di dalam mulut Reihand.


Reihand terlihat acuh, sibuk menghabiskan sisa bekal yang di berikan oleh Flo tadi


Kemudian dia mengambil botol air yang di tinggalkan Flo disamping tempat duduknya, meneguknya dengan rakus.


Widya sampai mengerutkan keningnya, terlihat agak bingung, tadi katanya gak terlalu doyan, tapi nasi goreng di dalam kotak itu dilahapnya sampai bersih tak bersisa nasi sebiji pun.


"Lo lapar banget?"


"Iya." Jawab Reihand singkat.


Reihand membereskan tempat bekal itu dan memasukkannya ke dalam tas. Widya masih memperhatikan dengan tampang agak sedikit curiga.


Kenapa kotak bekalnya warna pink, gue kayak pernah liat, kayak punyanya si Flo, deh. Tapi tadi dia bilang kalau dia bawa sendiri bekal ini dari rumah. Apa jangan jangan Reihand berbohong?


Widya menerka nerka. Dia menatap Reihand yang masih sibuk membereskan tempat makannya.


Setelah selesai, pria itu pun bangkit. Dia berjalan meninggalkan Widya yang masih melamun.


Setelah menoleh ke samping, Widya kaget saat tak melihat pria itu disampingnya.


Segera dia bangkit dan berlari mengejar Reihand yang bel terlalu jauh dari tempatnya.


"Kok lo jalan duluan sih, gak nungguin gue." Sewot Widya sambil mengimbangi langkah Reihand disampingnya.


"Gue kira lo masih mau duduk disitu." Jawab Reihand santai seolah tidak berdosa sudah meninggalkan Widya seorang diri tadi.


Widya menahan jengkel, kenapa sih Reihand gak bisa bersikap romantis, dia tahu mereka memang belum resmi jadian, tapi kan mereka berdua sedang dalam masa pendekatan, seharusnya sebagai pria yang baik dia memperlakukan Widya dengan manis layaknya pasangan lain.


"Lo mau ke kantin gak? Yuk kita beli jus atau minuman apa kek, masih ada 15 menit sebelum masuk kelas pertama." Ajak Widya sambil menggandeng tangan Reihand.


"Gak, gue udah kenyang Wid, lo gak liat tadi gue udah makan banyak."


Reihand sampai lupa, bekal tadi milik Flo, saking enaknya dia malah menghabiskan bekalnya sendirian, Flo pasti lapar.


Akhirnya Reihand putar badan.

__ADS_1


"Loh, mau kemana?"


"Ke kantin bentar mau beli roti."


Widya mengernyitkan alisnya.


"Katanya tadi kenyang." Widya ikut putar badan dan jalan disamping Reihand, langkah Reihand begitu gesit, Widya sampai kesusahan mengimbangi langkahnya.


"Gue berubah pikiran, siapa taukan di tengah pelajaran gue laper." Jawab Reihand asal, dia tidak mungkin kan mengatakan pada Widya kalau dia mau membelikan makanan untuk mengganti bekal Flo yang tadi dia habiskan.


Setelah sampai di dalam kanti, Reihand langsung menuju konter cemilan.


Dia membeli dua bungkus roti dan sekotak susu rasa coklat.


Widya ikut membeli makanan, dia buru buru membayar jajanannya saat sadar Reihand sudah mau keluar kantin lagi.


"Rei, tungguin!" Widya mengekor dibelakang Reihand dengan berlari cepat.


Reihand bahkan tidak mau berhenti sejenak untuk sekedar menunggunya. Widya jadi ragu, apakah Reihand punya perasaan yang sama juga padanga, jangan jangan dia cuman geer aja selama ini.


"Rei, gue boleh tanya sesuatu gak?"


"Apa?" tanya Reihand tanpa menoleh.


Reihand berhenti melangkah, dia menatap Widya lurus.


"Lo maunya kemana?" Reihand malah bertanya balik.


"Kok malah nanya balik!" Widya jadi bingung.


"Iya, lo emang maunya gimana?" Reihand masih menatap Widya seakan meminta jawaban.


"Gue pengennya sih kita sampai jadian, gue kan sayang sama lo Rei, lo gak udah tau perasaan gue kaya gimana." Kata Widya tanpa rasa malu.


Reihand hanya menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Oke." Jawabnya singkat.


Kemudian pria itu dengan tenangnya kembali melangkahkan kakinya ke arah kelas.


Widya langsung mengimbangi langkahnya lagi dengan wajah kebingungan dia menatap Reihand yang masih terus berjalan tanpa mau menoleh ke arahnya.


Oke? jawaban macam apa itu? Maksud Reihand oke itu iya atau tidak? ish apa gak bisa ngasih jawaban yang menjabarkan biar gue paham apa maunya elo Rei.

__ADS_1


pada akhirnya Widya hanya bisa menggerutu dalam hati. Entah dia harus senang atau sedih dengan jawaban 'Oke' itu.


Mereka pun sampai di depan kelas. Reihand masuk dan matanya langsung tertuju pada bangku Flo, tapi gadis itu tak ada disana, lalu pandangannya beralih pada baris kedua bangku yang ada disebelah tempat duduknya.


Ternyata Flo pindah tempat duduk, wajah bahagia Reihand tadi mendadak lenyap, dia mengepalkan tangannya tanpa sadar. Widya yang bingung Reihand tiba tiba menghentikan langkahnya di depan pintu ikut menoleh.


Seketika dia ikut tercengang melihat Flo sudah tidak duduk di tempat biasa. Gadis itu tengah sibuk mengobrol dengan mahasiswi lain sambil sesekali tertawa, sepertinya Flo sedang membicarakan sesuatu yang lucu.


Huh baguslah, pergi sana jauh jauh dari gue dan Reihand, lo akhirnya sadar diri juga, Flo. Lo gak akan menang ngelawan gue. Gumam Widya dalam hati.


Dengan menekan segala kekesalan di dalam hatinya, Reihand melanjutkan langkah kakinya, berusaha bersikap setenang mungkin padahal gemuruh besar sedang berpusat di dalam dadanya.


Dia kesal, dia marah, dia tidak terima Flo terus berusaha menjauhinya. Dia ingin sekali menarik gadis itu ke sisinya, tapi kenapa semuanya sesulit ini?


Flo menghentikan tawanya saat sadar dengan kedatangan Reihand dan Widya, dia sempat menoleh sesaat tapi kemudian Flo memalingkan wajahnya, pura pura tidak peduli.


Reihand semakin dibakar amarah, dia ingin berteriak keras dan memukul sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya tapi sadar jika tindakannya hanya akan membuat orang lain menganggapnya gila.


Akhirnya dengan menggertakan kedua rahangnya rapat rapat, dia mencoba menetralkan air wajahnya, Sementara berbanding terbalik dengan Reihand. Widya justru merasa sangat bahagia akhirnya bisa bebas dari gangguan Flo.


"Kok si Flo pindah ya.." Kata Widya berlaga peduli padahal hatinya bersorak riang.


Reihand hanya memasang tampang acuh. Tidak memperdulikan kata kata Widya.


Tak lama Meira masuk ke dalam kelas, dia kaget saat melihat Flo ada dibarisan lain.


Dengan setengah bingung Meira menghampiri bangkunya tapi matanya tetap fokus melirik Flo, Flo masih sibuk berbincang dengan teman teman disekitar bangku barunya.


"Flo kok pindah duduk sih, Wid?" Tanya Meira sambil menaruh tasnya di bawah meja.


Widya mengangkat bahu.


"Gak tau deh Mei, mungkin mau cari suasana baru kali, atau mau punya temen temen baru, liat noh dia lagi asik banget ngobrol sama yang lain." Kata Widya mengompori, dia berharap Meira akan termakan ucapannya.


Dia ingin Meira juga menjauh dari Flo, semakin Flo kehilangan segalanya, bagi Widya itu lebih bagus.


"Ah, gak mungkin deh Wid, kalau mau nyari suasana baru bisa jadi.." Sergah Meira.


Dia memperhatikan Flo sementara kedua tangannya sibuk mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya.


Flo sempat menoleh lalu melemparkan senyumnya pada Meira. Hanya sesaat, setelah itu Flo kembali sibuk dengan aktifitasnya, dia mengeluarkan alat alat tulisnya dari dalam tas miliknya.


Tidak ada yang tahu, Flo sedang berusaha mati matian untuk terlihat tenang, padahal dia merasa sedih, hampa dan kesepian.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2