Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Lamaran Andrew


__ADS_3

Setelah tau siapa tamu spesial yang Andrew bawa kerumah, Arga langsung bergegas naik ke atas.


"Tuan, jam 20.00 seluruh keluarga disuruh berkumpul diruang makan."


"Aku sudah tau, dimana Meira? apa dia sudah kembali dari kampus?"


"Sudah tuan, nona mungkin sedang ada dikamar, dia belum turun kebawah." Pelayan itu langsung menghentikan langkahnya ketika sampai di depan kamar Arga.


"Yasudah kau boleh pergi."


Pelayan itu pun pergi, Arga langsung masuk ke dalam kamar. Hening, dia tak melihat Meira disana.


Arga menjatuhkan dirinya di atas kasur, membuka dasi lalu melemparkannya dengan asal.


Dia mendengar gemericik air dikamar mandi.


Sepertinya gadis itu ada di dalam sana.


Tanpa sadar tubuhnya bangkit lalu berjalan ke arah sumber suara.


Dibukanya pintu kamar mandi secara perlahan.


Klek


"Eh, siapa itu?" Meira tersentak kaget, buru buru mengusap buih buih gelembung sampo dari wajahnya. Telinganya menangkap jelas suara pintu terbuka.


Arga sudah menerobos masuk dan tersenyum begitu polos dibalik daun pintu.


"Lo ngapain disini?!" Umpatnya kesal, buru buru Meira menarik tirai yang digunakan untuk menutup area Bathtub untuk menyembunyikan semua yang bisa Arga lihat.


Arga tak menjawab, malah dengan santainya mulai membuka kemeja dan celana yang dipakainya. Membuangnya ke lantai dengan asal. Dia menyalakan shower dan berdiri disana, membiarkan tubuh atletis miliknya tersiram guyuran air yang berjatuhan dari atas.


"Lo mau apa?" Meira hampir menjerit, dengan kedua tangannya dia mencoba menutup matanya. Tak ingin melihat tubuh Arga yang kini sudah polos sempurna.


"Lo gak liat gue lagi mandi." Jawab Arga santai.


Meira menggertakan giginya. Menahan kesal.


Apa gak bisa nunggu sampai gue selesai dulu! Sialan Arga. Kalau begini ceritanya gimana gue bisa keluar! Arrrgggh!!! Menggerutu kesal sambil memegangi rambutnya yang masih penuh dengan busa sampo.


Meira menyesali kenapa dia menaruh handuk di cantolan pintu tadi, terlalu jauh untuk dijangkau, kenapa tidak di dekat bathtub saja, sehingga dia bisa dengan mudah melesat keluar dari kamar mandi ini.


Hiks! sekarang gue harus gimana?


Berbeda dengan kepanikan Meira. Arga malah sedang santai menggosok busa busa sabun di badannya sambil bersenandung kecil. Tak menyadari jika dia sudah membuat Meira panik setengah mati, gadis itu masih mematung tak berkutik dibelakang tirai Bathtub.


"Meira.."


Meira tergelak. Kaget saat mendengar Arga memanggilnya.


"Kemari!!!"


"Mau apa?"

__ADS_1


"Buruan!!"


"Engga mau!!!"


"Lo mau mati?"


Meira menggeleng keras dibalik tirai.


Arga lalu melangkah mendekatinya, menyibak tirai yang sedari tadi sudah membuat jarak diantara mereka.


Meira kaget dan buru buru hendak berlari ke arah pintu namun tangan Arga telah lebih dulu menangkap tubuh mungilnya dari belakang.


Deg


Jantung Meira berdebar lagi. Wangi sabun dari tubuh kekar Arga bisa Meira cium dengan sangat jelas. Wangi yang begitu maskulin, membuat jantungnya sebentar lagi mungkin akan meledak.


"Kenapa lo gak selesein mandi lo? mau keluar dari sini dengan rambut penuh busa kayak gini?"


Arga menarik ujung rambut Meira.


"Nanti gue bilas sendiri, sekarang silahkan lo mandi duluan aja!"


Arga geram. Ditariknya Meira ke bawah shower, Meira kaget, kini tubuhnya telah menempel sempurna dengan dinding kamar mandi dibelakangnya.


"Lo gak paham juga?"


Gue mau mandi bareng, dasar lemot! Arga mengutuk Meira dalam hatinya.


Meira hendak lari lagi namun Arga langsung menahan tubuhnya.


"Kenapa malu? gue udah ngeliat semuanya."


Glek. Meira menelan ludah berat.


Arga menarik ujung ikatan handuk yang menempel di dada Meira, setelah berhasil melepaskan handuk itu dari tubuh istrinya dia lalu membuangnya begitu jauh.


Meira melotot kaget, refleks kedua tangannya mencoba menutupi bagian intim yang mudah terlihat oleh sepasang mata coklat milik Arga.


Arga mengangkat dagu Meira, membuat pemilik wajah cantik itu mau tak mau kini membalas tatapannya. Meira merasa sesak, sekujur tubuhnya seakan tak bisa bergerak, dia terpana pada wajah tampan yang kini begitu dekat dengan dirinya.


Tiba tiba tangan Arga telah berada dibelakang pinggangnya untuk menyalakan kran shower. Gemericik air seketika membasahi tubuh keduanya.


Meira semakin lemas kala Arga semakin mendekatkan wajahnya. Arga mengusap bibir ranumnya dengan ibu jarinya.


Entah kenapa Meira tak bisa menolak kali ini. Pun ketika Arga mendaratkan satu pagutan hangat di bibirnya.


"Buka mulutmu.." Perintah Arga ditengah tengah ciuman panas mereka.


Meira menggeleng kecil. Muka Arga berubah marah.


Diapun kembali menyesap bibir Meira dan menggigitnya hingga Meira terpekik dan tak sadar membuka mulutnya untuk berteriak.


Tak mau melewatkan kesempatan itu, Arga dengan buas menautkan lidahnya dengan lidah gadis itu.

__ADS_1


Meira kaget, hendak melepaskan dirinya namun tangan kiri Arga telah berada dibelakang kepalanya, menahannya untuk tidak bergerak sedikitpun. Sementara itu tangan kanannya sudah mendarat di belakang pinggangnya.


Ciuman ganas itu pun berlangsung lumayan lama. Arga begitu kalap, tak menyadari jika beberapa kali Meira hampir kehabisan nafas karna kuatnya sesapan yang dia berikan.


Meira dan Arga sama sama tersengal, nafas keduanya naik turun, dibawah gemericik air. Arga melampiaskan segala nafsunya pada gadis yang akhir akhir ini sudah lancang masuk ke dalam hatinya.


"Arga!!!" Barulah setelah Meira terengah engah Arga melepaskan bibirnya. Membiarkan gadis itu menghirup udara sebanyak banyaknya.


Arga menatapnya lurus, Meira masih mencoba mengatur nafasnya. Dia begitu malu, teramat malu pada keadaanya saat ini, tapi kenapa tadi dia begitu menikmati sentuhan bibir pria ini?


Sepertinya Meira sudah tidak bisa lagi lari dari fakta bahwa dirinya memang sudah jatuh cinta pada pria dihadapannya ini.


Arga mengusap pucuk kepalanya pelan.


"Selesaikan mandi lo, gue akan teruskan ini setelah kita makan malam nanti!" Kata Arga sebelum menghilang dibelakang pintu, membuat Meira semakin lemas dibuatnya.


Waktu telah menunjukkan pukul 20.00.


Arga menuruni tangga disusul Meira dibelakangnya.


Dia sudah melihat kedatangan Meta di ruang makan saat pulang tadi. Jadi tidak begitu kaget saat berpapasan langsung dengan sekertaris papahnya itu.


Yang Arga ingin tahu, apa maksud Andrew membawa wanita ini kemari.


"Arga, Meira, duduklah." Tuan Heru memerintah pelayan untuk menarik kursi bagi kedua anaknya itu.


Meira menatap Meta, melemparkan senyum namun Meta malah melongos. Wajahnya berubah jutek saat melihat Meira.


"Andrew, papah dengar dari ibumu ada yang ingin kamu sampaikan kepada kami, ada apa Ndrew? apa semua baik baik saja?"


Semua mata kini menatap Andrew.


Andrew menarik nafas dalam dalam. Dia meraih tangan Meta lalu menggenggamnya.


Semua orang terkejut namun tetap tak ada yang bicara, menunggu Andrew menjelaskan.


"Pah, sebenarnya aku mengajak Meta kesini karna aku ingin menyampaikan maksudku untuk melamarnya malam ini di depan kalian semua." Ucap Andrew sungguh sungguh.


Semua orang memandang dengan wajah kaget terutama Meta. Dia pikir Andrew mengundangnya kerumah besar ini hanya untuk diperkenalkan saja di depan keluarganya sebagai seorang kekasih. Tapi apa ini? Ternyata laki laki ini lebih sinting dari dugaannya.


Andrew mempererat genggamannya pada Meta. Dia terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku jas hitamnya.


Wajah Lusi sudah mulai terlihat tegang. Arga tersenyum menikmati drama di depannya. Cukup menarik karna dia tahu Meta tampak tidak nyaman dengan apa yang Andrew sedang lakukan.


Beberapa kali Meta melemparkan pandangannya pada Arga, penasaran dengan respon laki laki yang sesungguhnya dia sukai. Tapi Arga malah terlihat menikmati kesengsaraannya.


Bagaimana ini? Sial! Andrew sepertinya memang sengaja menempatkan aku diposisi ini, aku tidak mungkin menolak lamarannya didepan bosku sendiri!


Meta menahan kesal didadanya. Andrew menatapnya lurus. Pak Heru sempat terkejut namun dia tetap memberikan kesempatan untuk Andrew menyelesaikan bicaranya.


"Met, kamu mau gak nikah sama aku?"


Ucap Andrew sambil membuka kotak hati merah ditangannya. Sebuah cincin dengan mata berlian berwarna putih mengkilap terlihat bertengger manis di dalam kotak itu.

__ADS_1


Sepasang mata Lusi hampir saja mau melompat dari tempatnya membuat Arga ingin sekali rasanya tertawa terbahak bahak.


Bersambung


__ADS_2