
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Sena merasa
badannya sudah sangat lelah. Ia duduk di sofa dalam kamarnya. Acara resepsi
pernikahannya baru saja usai. Ia diantar kembali ke kamarnya oleh para asisten
yang berpakaian hitam putih.
Sepanjang pesta tak banyak yang menarik baginya selain
ruangan yang super mewah dan cukup menyilaukan matanya, tak ada hal lain lagi
yang membuatnya tertarik untuk berlama-lama di ruangan tersebut. Terlebih saat
melihat Tara yang tak pernah mencoba berbicara atau mungkin hanya sekedar
melirik padanya. Pandangannya selama acara hanya datar tanpa ekspresi. Bahkan
ia tak mau repot-repot berakting dihadapan para tamu untuk
memperlihatkan bahwa pernikahan ini memang nyata. Yah, mungkin seorang seperti
Tara Zeldan memang tak perlu menjaga image nya, secara perangainya yang buruk pun tetap tidak akan menggoyahkan relasi
dari perusahaan besar menjauhinya. Mengingat Zeldan Corps pasti merupakan
tangkapan besar untuk mereka jika berhasil melakukan kerjasama.
Sena mengangkat kakinya ke atas sofa, merebahkan dirinya pada
sandaran sofa yang super empuk. Sena belum mau berganti baju atau membuka
aksesoris di tubuhnya. Berbeda dengan acara tadi pagi, saat akad sena mengenakan gaun putih berlengan panjang dengan model duyung sehingga
memperlihatkan hampir seluruh bentuk tubuhnya yang indah, kali ini Sena
mengenakan ball gown yang sesuai
untuk acara royal wedding.Gaun itu didesain
khusus dengan aksen sayap kupu-kupu di seluruh tubuhnya dan dipadukan dengan
kilauan mutiara. Bisa dibayangkan, itu tentu gaun yang sangat berat baginya.
’Byuuurrr’ Sena gelagapan menerima siraman air di
wajahnya. Tak ayal tubuhnya kini menjadi basah kuyup.
“Shiitt! Woy, lu nggak bisa ngomong apa yah?! Ini udah kedua
kalinya lu siram gue, sialan!” Sena mencak-mencak mendapat perlakuan yang sama
untuk kedua kalinya.
“Nggak ada yang bilang kamu boleh tidur, Nona.” Jawab laki-laki
itu tenang.
“Brengsek lu!” ucap Sena yang masih sangat marah.
“Cepat ganti bajumu, jika dalam waktu lima belas menit kamu
tidak keluar, kamu pasti akan menyesal!” ucap Tara yang langsung keluar dari
ruangan itu. Kepergiannya langsung digantikan oleh segerombolan pelayan yang
berjajar rapi persis seperti tadi pagi.
“Mari Nona, kami akan membantumu bersiap.” Ucapnya.
__ADS_1
Sena bangkit dari duduknya, tanpa menjawab apapun ia
membiarkan para asisten tersebut membantunya berganti pakaian dan menghapus make up nya. Sebagian dari asisten itu
telah membawa beberapa baju yang bisa dipilihnya, tapi Sena merasa tak ada satu
baju pun yang cocok dengannya, ia merasa semua baju itu terlalu membuatnya
terasa lebih tua dari usianya. Untung ia membawa baju dari rumahnya semalam,
pikirnya. Sena mengambil baju tersebut dari kopernya dan memakainya.
Sena mengenakan mini dress berwarna abu muda tanpa lengan dengan
belahan v di dadanya, itu tidak terlalu mencolok namun cukup terlihat seksi.
Panjang rok itu diatas lutut, memperlihatkan kakinya yang panjang dan mulus.
Terakhir ia menyematkan sepatu heels berwarna hitam model laser cutting dan menenteng sebuah tas tangan berwarna senada. Sena
merasa puas dengan penampilannya sekarang. Sebelum ia keluar, Sena mematut
dirinya dicermin, melihat riasannya yang baru saja ia poleskan tipis-tipis dan
menggeraikan rambutnya begitu saja. Perfect, batin Sena puas.
Sena melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Saat berada
di muka pintu, telah berdiri seseorang yang sepertinya sedang menunggunya.
”Mari ikut saya, Nona.” Ucap lelaki itu. Sena berjalan dibelakang lelaki itu,
mengikuti langkah kakinya.
Beberapa menit kemudian Sena telah sampai di halaman depan
Hotel, terlihat sebuah limosin telah terpakir dihadapannya. Sena berjalan
Kamu terlambat empat menit tiga puluh lima detik. Berdiri disana sepanjang
keterlambatan kamu.”
‘Oh Tuhan, orang ini benar-benar menyebalkan!’ batinnya.
”Apa yang kau katakan? Apa kau ingin aku mendepakmu menjadi
gelandangan?!” ucapnya tajam.
Raut wajah Sena langsung berubah khawatir, ia
menggeleng-gelengkan kepalanya kepalanya cepat, kemudian ia mengunci mulutnya
rapat-rapat, agar tak lagi membangunkan singa super kejam dihadapannya ini.
“Masuk!” ucapnya tanpa melirik.
Sena pun masuk dalam limosin itu. Tak lama kemudian mereka
bergerak memecah keheningan kota menuju tempat yang tak pernah ia tahu kemana.
Sejak Sena menyatakan persetujuannya terhadap pernikahan ini ia sudah seratus
persen pasrah tentang apa yang akan terjadi kedepannya, ia hanya ingin
meneruskan hidupnya yang nyaman, termasuk mengamankan aset dan kehidupan ayahnya
pula. Sena hanya berharap, setelah ini dia tidak dibunuh dan dilemparkan
menjadi makanan hiu ataupun harimau.
__ADS_1
Setelah sekitar tiga puluh menit, mereka sampai disebuah
lapangan penerbangan. Dihadapannya terpampang sebuah Jet pribadi yang siap
membawanya. Tara berjalan duluan diikuti Sena dan Krisan menuju kedalam Jet
pribadi miliknya. Krisan mengantarkan Sena dan Tara ke ruangan khusus di bagian
dalam. Setelah dirasa tidak ada yang dibutuhkan Sena dan Tara, Krisan kembali
ke tempatnya dibagian depan kabin pesawat.
Sena berjalan ke ujung kabin pesawat, berusaha menghindari
Tara, ia tidak tahu akan seberapa lama dia bisa bertahan meredam emosinya pada
si kejam Tara Zeldan. Namun belum juga Sena sampai di tempat duduknya, Tara menarik
tangannya, membalikkan badan Sena sehingga berhadapan dengannya. Wajah mereka
sekarang sangat dekat, tak ayal jantung Sena berdetak sangat kencang, berbeda
dari biasanya. Tara mendorong Sena ke dinding kabin, kedua tangannya memegang
tangan Sena dan menguncinya pada dinding, setelah itu Tara menempelkan bibirnya
pada bibir Sena, menciumnya dengan kasar. Sena yang terkejut dengan perlakukan
ini berusaha berontak, namun tenaganya sungguh kalah jauh dari Tara. Semakin
lama ciuman itu semakin dalam, timbul gelenyer yang menggelitik dibagian
sensitifnya. Sena mendengus, membenci tubuhnya yang malah menikmati keintiman
itu. Namun Sena berusaha pasrah, ia akan
membiarkan segalanya terjadi, menikmati segala yang Tara berikan, membalas perlakuan manis Tara padanya, toh
mereka sudah sah menjadi suami istri sekarang.
Namun tiba-tiba Tara mendorong Sena, menghempaskannya pada Sofa
yang terletak tak jauh darinya. “Hahaha… itukah yang kau inginkan? Sengaja
berpakaian seksi untuk menggodaku. Aku ingatkan jangan bermimpi, Sena Zafiera,
aku tak akan pernah sudi menyentuhmu! Dan jangan sekali-kali kau gunakan bajumu
lagi, kau harus menuruti kataku, mengenakan apa yang sudah dipilihkan untukmu.
Terkecuali jika kau sudah tidak sabar ingin kembali ke jalanan.” Tara membuka
jasnya, kemudian ia melemparkannya pada Sena, setelah itu ia berbalik dan duduk
sejauh mungkin dari tempat Sena duduk.
Mata Sena sudah memerah, merasa sakit dan benci pada
perlakuan Tara yang sangat kejam, ia memeluk dadanya sendiri, merasa apa yang
dikatakan Tara adalah menuduhnya sebagai pelacur. Namun ia tak membiarkan
tangisnya mengalir, ia tak ingin Tara merasa menang dan lebih bahagia lagi
menyadari kelemahan Sena. Sena pun mengambil jas Tara yang teronggok dilantai,
kemudian ia gunakan untuk menyelimuti tubuhnya. Sena membuka tas tangannya, mengeluarkan handsfree dan mengenakan pada
telinganya. Tak ada musik disana, hanyak pikirannya yang melayang-layang tak
__ADS_1
tahu arah.