Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Fist Night


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Sena merasa


badannya sudah sangat lelah. Ia duduk di sofa dalam kamarnya. Acara resepsi


pernikahannya baru saja usai. Ia diantar kembali ke kamarnya oleh para asisten


yang berpakaian hitam putih.


Sepanjang pesta tak banyak yang menarik baginya selain


ruangan yang super mewah dan cukup menyilaukan matanya, tak ada hal lain lagi


yang membuatnya tertarik untuk berlama-lama di ruangan tersebut. Terlebih saat


melihat Tara yang tak pernah mencoba berbicara atau mungkin hanya sekedar


melirik padanya. Pandangannya selama acara hanya datar tanpa ekspresi. Bahkan


ia tak mau repot-repot  berakting dihadapan para tamu untuk


memperlihatkan bahwa pernikahan ini memang nyata. Yah, mungkin seorang seperti


Tara Zeldan memang tak perlu menjaga image nya, secara perangainya yang buruk pun tetap tidak akan menggoyahkan relasi


dari perusahaan besar menjauhinya. Mengingat Zeldan Corps pasti merupakan


tangkapan besar untuk mereka jika berhasil melakukan kerjasama.


Sena mengangkat kakinya ke atas sofa, merebahkan dirinya pada


sandaran sofa yang super empuk. Sena belum mau berganti baju atau membuka


aksesoris di tubuhnya. Berbeda dengan acara tadi pagi, saat akad sena mengenakan gaun putih berlengan panjang dengan model duyung sehingga


memperlihatkan hampir seluruh bentuk tubuhnya yang indah, kali ini Sena


mengenakan ball gown yang sesuai


untuk acara royal wedding.Gaun itu didesain


khusus dengan aksen sayap kupu-kupu di seluruh tubuhnya dan dipadukan dengan


kilauan mutiara. Bisa dibayangkan, itu tentu gaun yang sangat berat baginya.


’Byuuurrr’ Sena gelagapan menerima siraman air di


wajahnya. Tak ayal tubuhnya kini menjadi basah kuyup.


“Shiitt! Woy, lu nggak bisa ngomong apa yah?! Ini udah kedua


kalinya lu siram gue, sialan!” Sena mencak-mencak mendapat perlakuan yang sama


untuk kedua kalinya.


“Nggak ada yang bilang kamu boleh tidur, Nona.” Jawab laki-laki


itu tenang.


“Brengsek lu!” ucap Sena yang masih sangat marah.


“Cepat ganti bajumu, jika dalam waktu lima belas menit kamu


tidak keluar, kamu pasti akan menyesal!” ucap Tara yang langsung keluar dari


ruangan itu. Kepergiannya langsung digantikan oleh segerombolan pelayan yang


berjajar rapi persis seperti tadi pagi.


“Mari Nona, kami akan membantumu bersiap.” Ucapnya.

__ADS_1


Sena bangkit dari duduknya, tanpa menjawab apapun ia


membiarkan para asisten tersebut membantunya berganti pakaian dan menghapus make up nya. Sebagian dari asisten itu


telah membawa beberapa baju yang bisa dipilihnya, tapi Sena merasa tak ada satu


baju pun yang cocok dengannya, ia merasa semua baju itu terlalu membuatnya


terasa lebih tua dari usianya. Untung ia membawa baju dari rumahnya semalam,


pikirnya. Sena mengambil baju tersebut dari kopernya dan memakainya.


Sena mengenakan mini dress  berwarna abu muda tanpa lengan dengan


belahan v di dadanya, itu tidak terlalu mencolok namun cukup terlihat seksi.


Panjang rok itu diatas lutut, memperlihatkan kakinya yang panjang dan mulus.


Terakhir ia menyematkan sepatu heels  berwarna hitam model laser cutting dan menenteng sebuah tas tangan berwarna senada. Sena


merasa puas dengan penampilannya sekarang. Sebelum ia keluar, Sena mematut


dirinya dicermin, melihat riasannya yang baru saja ia poleskan tipis-tipis dan


menggeraikan rambutnya begitu saja. Perfect, batin Sena puas.


Sena melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Saat berada


di muka pintu, telah berdiri seseorang yang sepertinya sedang menunggunya.


”Mari ikut saya, Nona.” Ucap lelaki itu. Sena berjalan dibelakang lelaki itu,


mengikuti langkah kakinya.


Beberapa menit kemudian Sena telah sampai di halaman depan


Hotel, terlihat sebuah limosin telah terpakir dihadapannya. Sena berjalan


Kamu terlambat empat menit tiga puluh lima detik. Berdiri disana sepanjang


keterlambatan kamu.”


‘Oh Tuhan, orang ini benar-benar menyebalkan!’ batinnya.


”Apa yang kau katakan? Apa kau ingin aku mendepakmu menjadi


gelandangan?!” ucapnya tajam.


Raut wajah Sena langsung berubah khawatir, ia


menggeleng-gelengkan kepalanya kepalanya cepat, kemudian ia mengunci mulutnya


rapat-rapat, agar tak lagi membangunkan singa super kejam dihadapannya ini.


“Masuk!” ucapnya tanpa melirik.


Sena pun masuk dalam limosin itu. Tak lama kemudian mereka


bergerak memecah keheningan kota menuju tempat yang tak pernah ia tahu kemana.


Sejak Sena menyatakan persetujuannya terhadap pernikahan ini ia sudah seratus


persen pasrah tentang apa yang akan terjadi kedepannya, ia hanya ingin


meneruskan hidupnya yang nyaman, termasuk mengamankan aset dan kehidupan ayahnya


pula. Sena hanya berharap, setelah ini dia tidak dibunuh dan dilemparkan


menjadi makanan hiu ataupun harimau.

__ADS_1


Setelah sekitar tiga puluh menit, mereka sampai disebuah


lapangan penerbangan. Dihadapannya terpampang sebuah Jet pribadi yang siap


membawanya. Tara berjalan duluan diikuti Sena dan Krisan menuju kedalam Jet


pribadi miliknya. Krisan mengantarkan Sena dan Tara ke ruangan khusus di bagian


dalam. Setelah dirasa tidak ada yang dibutuhkan Sena dan Tara, Krisan kembali


ke tempatnya dibagian depan kabin pesawat.


Sena berjalan ke ujung kabin pesawat, berusaha menghindari


Tara, ia tidak tahu akan seberapa lama dia bisa bertahan meredam emosinya pada


si kejam Tara Zeldan. Namun belum juga Sena sampai di tempat duduknya, Tara menarik


tangannya, membalikkan badan Sena sehingga berhadapan dengannya. Wajah mereka


sekarang sangat dekat, tak ayal jantung Sena berdetak sangat kencang, berbeda


dari biasanya. Tara mendorong Sena ke dinding kabin, kedua tangannya memegang


tangan Sena dan menguncinya pada dinding, setelah itu Tara menempelkan bibirnya


pada bibir Sena, menciumnya dengan kasar. Sena yang terkejut dengan perlakukan


ini berusaha berontak, namun tenaganya sungguh kalah jauh dari Tara. Semakin


lama ciuman itu semakin dalam, timbul gelenyer yang menggelitik dibagian


sensitifnya. Sena mendengus, membenci tubuhnya yang malah menikmati keintiman


itu. Namun Sena  berusaha pasrah, ia akan


membiarkan segalanya terjadi, menikmati segala yang Tara berikan,  membalas perlakuan manis Tara padanya, toh


mereka sudah sah menjadi suami istri sekarang.


Namun tiba-tiba Tara mendorong Sena, menghempaskannya pada Sofa


yang terletak tak jauh darinya. “Hahaha… itukah yang kau inginkan? Sengaja


berpakaian seksi untuk menggodaku. Aku ingatkan jangan bermimpi, Sena Zafiera,


aku tak akan pernah sudi menyentuhmu! Dan jangan sekali-kali kau gunakan bajumu


lagi, kau harus menuruti kataku, mengenakan apa yang sudah dipilihkan untukmu.


Terkecuali jika kau sudah tidak sabar ingin kembali ke jalanan.” Tara membuka


jasnya, kemudian ia melemparkannya pada Sena, setelah itu ia berbalik dan duduk


sejauh mungkin dari tempat Sena duduk.


Mata Sena sudah memerah, merasa sakit dan benci pada


perlakuan Tara yang sangat kejam, ia memeluk dadanya sendiri, merasa apa yang


dikatakan Tara adalah menuduhnya sebagai pelacur. Namun ia tak membiarkan


tangisnya mengalir, ia tak ingin Tara merasa menang dan lebih bahagia lagi


menyadari kelemahan Sena. Sena pun mengambil jas Tara yang teronggok dilantai,


kemudian ia gunakan untuk menyelimuti tubuhnya. Sena membuka tas tangannya, mengeluarkan handsfree dan mengenakan pada


telinganya. Tak ada musik disana, hanyak pikirannya yang melayang-layang tak

__ADS_1


tahu arah.


__ADS_2