
Malam semakin hanyut dalam gelap. Sementara dua insan masih terlihat duduk di dalam sebuah kamar yang benderang. Yang satu sedang sibuk dengan rasa bersalah di dadanya, sementara yang satunya hanya duduk termenung tak tahu mau mengatakan apa.
"Jadi, selama ini lo udah tau kalau Andrew dan ibu Lusi punya rencana jahat buat nyelakain lo?" Tanya Meira akhirnya. Setelah melihat Arga tidak juga bersuara. Hanya ******* berat yang sesekali keluar bersama nafasnya yang terasa sesak.
Kenapa gue masih nanya si, jelas aja dia tahu semuanya, mata matanya kan dimana mana! hi kalau dipikir pikir mengerikan sekali. Gumam gumam sendiri.
"Hmmm"
hmm itu maksudnya iya apa engga? perjelas dasar cowok aneh! emangnya gue manusi super bisa menafsir setiap perkataan lo. Akhirnya kesel sendiri.
Arga menoleh sambil membetulkan letak rambut Meira yang menjuntai ke depan bahunya, menyelipkannya di belakang gadis itu.
Dia ngapain si tiba tiba! mau bikin gue jantungan!? aaaaaaaaah berteriak keras dalam hati.
"Kapan lo ngedenger percakapan antara Andrew dan ibunya itu?" Tiba tiba Arga melemparkan pertanyaan, tak sadar sikapnya barusan sudah mematik bom molotov di dada Meira.
Kalau diingat ingat, Arga memang tak pernah sekalipun memanggil ibu tirinya dengan sebutan 'Ibu' , pasti akan mengatakan 'ibu Andrew' atau lebih sering 'Anda' Meira malah bengong tiba tiba.
"Kalau orang nanya tuh di jawab!" Menunjuk kening Meira lalu mentoyornya hingga Meira hampir saja terjerembab kebelakang.
"Apaan sih, seenaknya!"
"Lagian malah ngelamun!" Kembali mentoyor kening Meira. Gemas sendiri dia pada istrinya.
Dia sendiri kalau ditanya jawabannya cuman hmm hmm! Gerutu Meira.
"Iya, iya maaf. Gue gak sengaja denger percakapan mereka berdua dikamar Andrew pas mau berangkat pergi ke kampus. Beberapa waktu lalu sebelum tawuran terjadi." Akhirnya menjawab juga.
Arga menghela nafas panjang.
"Mei, dengerin gue.., mulai sekarang dan seterusnya, lo harus lebih berhati hati dalam bertindak. Gue bakal nyuruh pengawal buat ngawasin lo 24 jam. Gue gak mau ada kejadian kaya tadi siang lagi. Jangan sok jadi pahlawan buat orang lain kalau itu cuman bakal bikin lo dalam bahaya!" Wajah Arga berubah serius.
"Dan inget, laporin setiap kegiatan lo mulai besok."
"Ta.."
"Oiya dan satu lagi, jangan pernah pergi kemanapun tanpa bilang lebih dulu sama gue!"
"Apa? tapi.."
"Ini perintah suami lo bukan negosiasi!"
__ADS_1
Glek
suami? sejak kapan dia nganggep gue ini istrinya? sejak kapaaaan? apa gebukan balok pas tawuran tadi udah bikin dia kehilangan kewarasannya ya. Meira menduga duga sendiri.
"Lo khawatir sama gue?" Meira menyipitkan matanya. Penasaran sekali dia dengan reaksi Arga. Apa yang akan dia jawab?
Laki laki itu malah melongoskan wajahnya. Kaget mendengar pertanyaan yang tiba tiba dilontarkan Meira.
"Gue cuman gak mau repot kaya tadi. Lo pikir tadi gue gak lagi ada kerjaan di kantor? gara gara lo, gue ninggalin meeting penting! waktu gue terlalu berharga buat ngurusin hal hal kaya gini!"
Meira manyun.
"Terus kenapa lo masih dateng kalau waktu lo emang seberharga itu?" Masih belum menyerah dan mencoba mencari tahu.
Ayo jangan malu malu, bilang kalau lo emang khawatir sama gue kan? iya kan?
"Lo mau tau jawabannya?" Arga berbalik dan menghadap dirinya.
Kali ini Arga mendekatkan wajahnya, membuat Meira kaget dan refleks menjauh dari tempat duduk semula. Namun tangan Arga lebih cepat menjangkau pinggangnya lalu menekannya untuk tetap diam di tempat semula.
Meira menelan ludah berat. Wajahnya sudah berubah panik. Arga malah menikmati ekspresi kepanikan itu.
"Lo mau apa?! ini udah malem!" Tanyanya gugup.
Sepertinya Arga berhasil membalikkan keadaan. Meira yang tadi berani menatapnya malah langsung ciut nyalinya.
"Lupain pertanyaan gue tadi, lebih baik kita tidur sekarang!" Ajaknya sambil memalingkan wajah ke arah lain. Membuat Arga menahan gelak tawa melihat kepanikan diwajah gadis itu.
Meira hendak bangkit namun Arga sudah menarik tubuhnya hingga jatuh terjerembab di atas kasur.
"Arga!!!!"
"St!" Arga membekap mulut mungil itu dengan salah satu telapak tangannya. Satu tangannya yang lain mulai aktif berkeliaran masuk ke dalam baju tidur Meira.
Meira menggeleng dengan tatapan memohon dia memberanikan diri menatap mata laki laki yang kini sudah ada di atas badannya, mata itu seolah berkata agar Arga mau melepaskannya.
Tapi bukan Arga namanya kalau tidak berhasil membuat jantung Meira berdegup dengan cepat, wajah Meira yang sedang panik dan muka merona merah itu malah membuatnya semakin bersemangat untuk menjahili gadis itu.
"Kalau nanya jangan setengah setengah.." Bisik nya di telinga Meira.
Dikecupnya belakang kuping Meira membuat gadis itu merinding seketika.
__ADS_1
"Lo mau tau jawabannya kenapa tadi gue dateng ke tawuran buat nyelametin lo?"
Meira menggeleng cepat.
Tidak! tidak! aku sudah menarik kembali pertanyaanku tadi, sekarang tolong lepaskan aku dan lekaslah tidur! Begitu sorot mata Meira mengisyaratkan.
"Bakal gue jawab pertanyaan lo tadi, tapi lo harus ngasih imbalan yang setimpal karna jawaban gue ini sangat berharga." Ucapnya sambil menatap lurus kedalam bola mata Meira.
Meira mati kutu. Mata mereka saling beradu tatap beberapa saat.
Terlambat untuk kabur. Arga malah sudah berhasil melepaskan kemejanya dan melemparkannya ke lantai dengan kasar.
Dia mulai menyusuri leher jenjang gadis itu sementara satu tangannya sibuk menyibak satu persatu kancing baju Meira dari atas.
Meira mencoba menahan tangan Arga namun nihil, tenaga lelaki itu jelas bukan tandingannya. Secepat kilat kini tubuhnya sudah menyusul polos dibawah kukungan tubuh kekar sang pentolan kampus.
Arga menyingkirkan rambut yang menempel di pipi Meira dan melancarkan serangan pertamanya di bibir gadis itu.
Hhftt Beberapa kali Meira hampir kehabisan nafas meladeni ciuman panas Arga. Kini dirinya tidak bisa kemana mana lagi.
Disaksikan rembulan yang bersinar diatas langit. Meira merintih beberapa kali, berbarengan dengan serangan serangan yang Arga berikan.
Dia tak membiarkan gadis itu bernafas sedikit saja. Permainannya kali ini begitu liar. Arga bahkan mengeluarkan benih cintanya sampai berkali kali di dalam mahkota milik Meira.
Nafas mereka tersengal berbarengan dengan hentakan demi hentakan yang berirama.
"Sakit, Ga.." Ucap Meira sesekali.
Arga hanya membalasnya dengan kecupan kecupan lembut di pucuk kepala Meira.
Hingga akhinya mereka berdua sampai dipermainan inti, Arga terjatuh lunglai disamping tubuh Meira. Tangannya melingkar dipinggang gadis itu dan memeluknya dari belakang.
"Lo tau? hari ini gue khawatir setengah mati karna ulah lo, jangan pernah masuk ke dalam tawuran lagi, kalau gak, lo bakal habis Mei!" Ucapnya penuh ancaman.
Meira tergelak.
apa katanya tadi? khawatir? Apa itu artinya dia punya perasaan sama gue?
Namun setelah itu, Arga tak mengatakan apa apa lagi. Hening, dan Meira pun tak berniat bertanya lebih jauh. Dia sangat lelah saat ini, Cukup dia menerka nerka saja dalma hatinya apa makna ucapan Arga barusan.
Tiba tiba Arga mencium pundak Meira dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua. Bergegas mematikan lampu di atas ranjang, lalu tanpa menunggu waktu yang lama mereka sudah tertidur dengan begitu pulas.
__ADS_1
bersambung..