
"Bisa kita ngomong sebentar?" Reihand mengulangi pertanyaannya. Nadanya masih terdengar sangat lembut dan halus.
Tapi tetap saja Flo merasa sangat takut dan gemetar hebat, disana sekarang mereka hanya berdua saja, kalau Reihand sampai nekat dia bisa apa? Lari? tidak mungkin, karna Reihand pasti akan bisa menangkapnya dengan mudah.
Berteriak keras? mustahil juga, siapa yang bakal mendengarnya, lokasinya cukup jauh dari resort. Flo merutuki kebodohannya, kenapa bisa sih dia sampai ketiduran di ayunan tadi sampai tak sadar hari sudah beranjak jadi senja.
"Mau ngapain Rei? ngomong aja buruan." tanya Flo dengan membusungkan dada, dia gak boleh kelihatan takut biar Reihand tidak sampai nekat.
Reihand menatap wajah nona di depannya yang sama sekali tidak welcome.
"Gimana aku mau ngomong, kamu mundur terus.." ucapnya.
Memang Flo masih tetap mundur setiap kali Reihand berusaha untuk maju ke arahnya.
"Emang kenapa kalau aku mundur? udah kalau mau ngomong, ngomong aja!" Flo sudah ingin lari terbirit-birit dari sana, tapi apalah daya kakinya malah terasa lemas sampai ke tulang tulang.
"Gak enak ngomong kaya gini, bisa kita nyari tempat duduk?" tanya Reihand, masih dengan suara lembut.
"Ngomong disini aja!"
"Gak enak Flo ngomong dengan situasi kaya gini.."
"Kaya gini gimana?" potong Flo.
"Ya liat sendiri, kamu mundur terus kaya gitu, kaya aku orang jahat aja."
"Emang kamu jahat!"
Reihand mendesis jengkel, sepasang matanya berkilat menatap Flo.
"Jahat?" Reihand menaikkan satu alisnya.
"Iya jahat!" Flo menantang balik tatapan kekesalan Reihand, dipikir cowok itu dia takut apa! iya sih takut, takut banget malah. Tapi Flo harus berakting seakan akan dia cewek pemberani, dia tidak mau terlihat lemah di hadapan Reihand.
"Coba jelasin, jahatnya gue dimana, Flo?" Reihand masih berusaha mendekat namun Flo juga masih berusaha mundur, hingga mereka tidak sadar sudah berjalan lumayan jauh dari tempat semula mereka bertemu.
__ADS_1
Flo menggigit bibir bawahnya, haruskah dia mengatakan protesnya pada Reihand tentang ciuman pertamanya yang direnggut paksa waktu itu, menurut Flo itu suatu bentuk kejahatan yang sangat besar.
"Lo gak perlu tau, tunggu dulu deh, kenapa lo malah balik nanya? kan tadi elo yang mau ngomong sesuatu, udah ngomong aja yang mau lo omongin tadi, buruan, gue mau balik ke resort nih!" Flo memasang tampang judes abis.
Tapi justru itu membuat Reihand ingin sekali tertawa geli. Dia bisa melihat dengan jelas ketakutan diwajah gadis itu, meski dia sudah membungkusnya sedemikian rupa dari pandangan Reihand.
"Flo.." Reihand berdecak, agak gemas juga dia melihat Flo terus mundur.
Sengaja dia mempercepat langkahnya, Flo kontan jadi panik, tunggang langgang dia mundur kebelakang.
"Apa? jangan deket deket! kalau mau ngomong udah disitu aja.." kata Flo sambil mengangkat tangannya ke depan dan menyuruh Reihand berhenti. Jujur saja dia sudah sangat cape mundur mundur ke belakang untuk menghindari Reihand.
"Gimana kedengaran nanti yang aku omongin kalau jauh-jauhan kaya gini?"
"Gak apa apa, pasti kedengeran tenang aja!" potong Flo buru buru.
"Tapi Flo, aku gak mau kita jauh jauhan kaya gini, gak enak.."
"Enak-enak aja kok! udah buruan ngomong." Flo malah nyolot, tak menggubris wajah Reihand yang mulai kelihatan geram.
"Yaudah kalau emang penting buruan ngomongnya!"
Belum juga Reihand selesai bicara sudah dipotong lagi.
Reihand akhirnya habis kesabaran, beraninya Flo acuh padanya dan ini bukan yang pertama.
Reihand tampak menarik nafas dalam dalam sambil memejamkan matanya, dia berhenti melangkah, tapi justru hal itu membuat Flo semakin panik, bagaimanapun Reihand itu cowok, kekuatannya jelas bukan tandingan Flo sama sekali.
Apalagi saat ini mereka hanya berdua disitu, jika sampai sesuatu terjadi, Flo tidak akan mungkin bisa melawan.
Semakin panik dengan isi pikiran sendiri, Flo diam diam mundur pelan pelan dan tepat dihitungan ketiga saat dia hendak balik badan dan lari, Reihand membuka matanya, sepasang mata elangnya menajam menatap Flo dalam diam.
"Flo, jangan coba lari, semakin lo lari, semakin jauh kita dari resort, kalau kamu gak mau aku sampai bikin ulah lagi, lebih baik turutin omongan aku, diem di tempat!" tandas Reihand dengan suara yang terdengar seperti sebuah ancaman, dengan sangat terpaksa Reihand harus menakut nakuti Flo agar gadis itu mau diam.
Berhasil. Flo berhenti melangkah, kakinya lemas sekali. Pelan pelan dia balik badan, dengan wajah tegang dia menatap Reihand yang mulai melangkah ke arahnya dengan pelan.
__ADS_1
"Flo.." Reihand menatap Flo tepat di manik matanya.
"Ada yang mau aku omongin, bisa kita cari tempat duduk?" ucap Reihand lembut tapi Flo tetap bisa melihat kekesalan di kedua mata cowok itu.
Flo mengangguk, kalau dipikir pikir percuma juga dia menghindar, toh Reihand pasti bisa dengan mudah menangkapnya. Jadi turuti saja apa maunya Reihand sekarang, lebih cepat dia ngomong lebih baik.
"Ayo, kita duduk disana." Reihand menunjuk sebuah bebatuan yang ada di dekat mereka. Reihand menyuruh Flo duduk diantara bebatuan yang tingginya setengah badan Flo.
Flo menatap bebatuan itu dengan kening berkerut. Meski pun tingginya hanya setengah badannya, tetap saja Flo tidak bisa begitu saja bisa duduk diatasnya, dia butuh pijakan untuk bisa naik ke atasnya.
"Gue gak bisa naik!" ucap Flo sambil menunjuk Roknya malu malu, masa iya dia harus manjat batu dengan keadaan memakai rok seperti ini, mau ditaruh dimana mukanya?
Reihand garu garuk kepala, jadi ikutan malu, tapi buru buru dia pasang tampang dinginnya lagi.
Reihand akhirnya membantu mengangkat tubuh Flo dan mendudukkannya disana. Reihand lalu memanjat bebatuan itu dan ikut duduk disamping Flo.
"Ada apa?" tanya Flo dengan wajah ketakutan, tangannya sampai gemetar. Reihand kontan diam, dia menarik nafas panjang, apa dia sudah keterlaluan ya pada Flo? gadis ini kelihatannya benar benar gemetar.
"Flo, maafin gue kalau gue agak maksa kaya gini.." kata Reihand lembut mulai membuka percakapan, tapi wajah kesalnya tetap tidak akan dia hilangkan, biar Flo nurut selama dia menyelesaikan ucapannya.
"Sebelum gue ngomong ke intinya, gue pengen tahu maksud dari kata kata lo tadi apa ya? kenapa tiba tiba ngatain gue jahat?" Reihand menatap Flo tepat di manik matanya.
Flo menelan ludah berat, mampus! harusnya tadi dia gak memancing Reihand dengan mengatakan dia 'jahat'.
Flo menggeleng keras.
"Lupain aja. Silahkan lanjutin tujuan utama lo tadi, lo mau ngomong apa?" Flo berusaha menghindar.
Reihand mendesis geram, susah sekali rasanya membuat cewek ini menuruti ucapannya.
"Flo, selagi gue nanya baik baik tolong dijawab ya.. kenapa tiba tiba lo ngatain gue jahat tadi? apa gue punya salah yang selama ini gak gue sadar?" Kata Reihand kalem tapi ekspresi wajahnya mengatakan kalau dia kelihatan sudah tidak sabar.
Flo ciut juga saat Reihand mulai mendekatkan wajahnya, hembusan nafasnya yang hangat menerpa wajah Flo, membuat bulu kuduk Flo seketika merinding.
Flo mencengkram roknya kuat kuat, dasar gak peka! lo jahat karna lo waktu itu udah berani merenggut ciuman pertama gue! ciuman pertama yang udah gue jaga selama ini. Dan dengan tololnya lo masih tanya jahatnya lo dimana?
__ADS_1