Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Memaafkan Lusi


__ADS_3

Dirumah besar keluarga Alexander


Jam 21.00 wib


"Non, lebih baik non tunggu aden balik dikamar aja non, sambil tiduran ya.." usul bi Iyam sambil menyodorkan segelas air putih ke hadapan Meira.


Gadis itu menyambarnya dan dengan sekali tegus menghabiskannya.


Sudah hampir empat jam lebih nyonya mudanya itu menunggu diruang tamu seperti cacing kepanasan, mondar mandir tak karuan.


"Gak bi, aku gak tenang sebelum Arga kembali!" kekeuh Meira sambil sesekali wajahnya mengintip ke balik jendela. Tetap saja mobil Arga belum nampak kembali.


"Tapi non.."


"Bi! aku gak mau kemana mana, aku mau disini nungguin Arga!" tandas Meira final.


Akhirnya bi Iyam dan para pengawal lain membiarkan nona mudanya tetap diruang tamu sampai dia bosan menunggu.


jam 21.30


Mobil hitam Arga akhirnya terlihat memasuki gerbang rumah.


"Dimana Meira?" tanya Arga pada bi Iyam yang berdiri di depan teras saat dia turun dari mobilnya.


"Nona ketiduran diruang tamu tuan, nona menunggu kepulangan tuan muda sejak sore." jawab bi Iyam sambil tertunduk, dia takut Arga marah karna membiarkan Meira menunggu di ruang tamu sampai malam begini.


"Ketiduran?" Arga menoleh kaget.


"Iya den." Bi iyam semakin menunduk.


"Dia udah makan?" tanya Arga lagi.


"Udah den, tapi non Meira makannya cuma dikit, itu pun harus dipaksa."


Bi Iyam sudah membuka pintu utama, dia bergeser ke samping demi memberi Arga jalan untuk masuk. Meira terlihat sedang tertidur pulas di salah satu sofa panjang diruang tamu.


"Kami udah berusaha bujuk non Meira pindah ke kamar den, tapi non Meira gak mau." kata bi Iyam setengah berbisik.


"Baiklah, kembalilah bekerja." Arga mengibaskan tangannya, bi Iyam kelihatan sangat lega. Dia pikir Arga akan marah.


Arga melangkah pelan pelan ke ruang tamu, dimatikannya lampu ruangan itu lalu dia bersimpuh di depan kepala istrinya. Gadis itu nampak gelisah dalam tidurnya, sesekali dia bergerak miring ke kanan lalu tak lama pindah ke ke kiri.


Arga mengulurkan tangannya, menyibak helaian rambut yang menghalangi wajah cantik Meira.


"Aduh, bi Iyam kok malah dimatiin sih lampunya!" keluhnya sambil bangun dari tidurnya.


Meira terhuyung, tiba tiba kepalanya terasa agak pusing, dia terduduk di tepian sofa, matanya terbuka dan disaat itulah dia sadar ada seseorang yang sedang bersimpuh di depannya. Meski ruangan gelap, tapi bayangan tubuh hitam itu begitu nyata.


Meira kaget, dia kontan berdiri tapi tak ayal tubuhnya hilang keseimbangan dan hampir saja terjungkal kebelakang, disaat itulah Arga buru buru bangkit, kedua tangannya yang panjang terulur menggapai tubuh Meira sebelum gadis itu jatuh.

__ADS_1


"Meira! kalau pusing kenapa bangun tiba tiba?" desisnya.


Meira terbelalak, dia menatap wajah yang kini berada di hadapannya. Terlihat samar tapi dia sekarang tahu ini Arga, suara itu adalah suara milik suaminya.


"Arga, kamu udah pulang?!" Meira sangat girang, dia melompat ke dalam pelukan Arga.


"Iya, sayang, aku pulang, kenapa tidur disini?" tanya Arga lembut sambil membalas pelukan itu.


"Aku nungguin kamu."


"Kan bisa nungguin di kamar."


"Aku gak mau!"


"Kenapa?" tanyanya lembut, Arga membelai punggung Meira.


"Aku gak tenang sebelum ngeliat kamu pulang, kamu gak apa apakan?" Meira melepaskan pelukannya.


Arga mengangguk pelan.


"Ayo ke kamar." Arga menggendong tubuh Meira.


Cahaya lampu seketika menyoroti tubuh kekar itu saat mereka keluar dari ruang tamu yang gelap, Meira tercengang melihat kemeja Arga yang di penuhi dengan noda darah.


"Ini bukan darahku Meira." kata Arga sebelum Meira panik lebih jauh.


Arga tidak langsung menjawab, dia menghela napas dalam dalam. Sambil terus menaiki tangga Meira menatap Arga penasaran.


"Darah siapa?" Meira mengulangi pertanyaannya.


Mereka sampai di depan pintu kamar, Arga mengisyaratkan Meira untuk membantunya membuka handle pintu, karena kedua tangannya tengah sibuk memegang tubuh gadis itu.


Klek


Mereka pun masuk ke dalam kamar, Arga membaringkan tubuh Meira ke atas ranjang. Dia kembali duduk bersimpuh dihadapan istrinya.


Meira menatap Arga meminta penjelasan tentang noda darah itu.


"Ini.." Arga seperti berat untuk melanjutkan kalimatnya.


"Ini darahnya ibu Lusi."


"APA?" Meira tercengang, mulut dan matanya terbuka lebar.


"Ibu Lusi terluka?"


"Dia sudah meninggal."


"HAH?" Meira menutup mulutnya, terlalu syok mendengar berita mencengangkan ini.

__ADS_1


"Andrew hendak menusukku Mei, tapi ibu Lusi menghalanginya, dia yang jadi terkena pisau itu, aku benar benar menyesal tidak bisa melindunginya.." Arga menjawab lirih.


Dia menundukkan wajahnya sambil mengepalkan tangannya, perlahan Meira mengangkat wajah Arga, kedua tangannya memegangi pipi Arga lalu mengusapnya lembut. Meira terenyuh saat melihat wajah tampan itu kini tampak sedih dan terpukul.


"Kamu gak apa apa?" tanya Meira sambil menatap Arga dengan sorot mata khawatir.


"Aku tidak menyangka akan begini jadinya Mei.." kata Arga parau, matanya sudah merah, Meira tahu meskipun Arga tidak mengatakannya, dia pasti habis menangis karna kejadian ini.


Meira memeluk Arga erat. Diusap usapnya punggung Arga dengan lembut, berharap bisa memberikan sedikit rasa tenang untuk laki laki itu.


"Ini takdir Ga, ini udah takdir yang tertulis untuk ibu Lusi, kamu jangan nyalahin diri kamu ya?" bisik Meira pelan.


Arga hanya diam, tapi Meira bisa merasakan ada lelehan air mata yang turun ke atas bahunya. Arga menangis dalam diam.


Esoknya setelah mendapat kabar buruk itu lewat telpon dari Arga, tuan Heru langsung terbang pulang ke jakarta dari luar kota.


Dia menyempatkan ikut ke pemakaman Lusi yang secara agama dan hukum masih sah menjadi istrinya.


Meskipun Lusi dan anaknya Andrew sudah menorehkan luka yang begitu dalam untuk keluarganya, tapi demi rasa kemanusiaan juga demi menghormati kebersamaan yang selama ini terjalin, Heru tetap menyempatkan diri pergi ke tempat peristirahatan terakhir istrinya.


"Aku sudah memaafkanmu, pergilah dengan damai.." kata Heru pelan sebelum dia berbalik dan meniggalkan gundukan tanah berwarna merah itu.


Sudah usai, semuanya telah beres. Andrew telah meringkuk di tempat yang seharusnya, dibalik jeruji besi yang dingin dan pengap, laki laki itu tengah menunggu eksekusi hukuman apa yang nanti akan dijatuhkan kepadanya.


Sementara Arga tengah duduk di balkon kamarnya, dengan pakaian serba hitam dia memandang langit cerah dengan tatapan kosong.


"Hei.." Meira duduk disampingnya, tersenyum begitu hangat, Meira merebahkan kepalanya di dada bidang Arga.


Arga mencium pucuk kepala Meira dengan lembut.


"Kau lapar?"


"Belum sayang, kau sedang melamun apa?" tanya Meira sambil mendongakan wajah menatap Arga.


Arga terdiam sesaat.


"Aku hanya merasa kasihan pada wanita itu.." jawab Arga pelan.


"Ibu Lusi?" tebak Meira.


"Iya, di akhir hidupnya salah satu orang yang paling bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi di dalam keluargaku, dia malah menyelamatku dari maut, bukankah itu lucu Meira.." Arga menggantung kalimatnya.


"Aku jadi tidak bisa membencinya lagi." lanjutnya dengan wajah berduka.


Meira tersenyum sambil mengusap usap dada Arga. "Kau sudah melakukan hal yang benar dengan memaafkannya sayang, dia mungkin melakukan itu karna ingin menebus kesalahannya padamu.."


Arga menarik napas panjang, sambil menatap Meira dia mengatakan..


"Hem, aku rasa begitu, aku dan ayah memutuskan untuk memaafkan wanita itu."

__ADS_1


__ADS_2