Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Cemburu


__ADS_3

Arga menatap layar handphonenya dengan wajah ditekuk. Salah satu pengawalnya baru saja mengabarinya tentang satu informasi kurang mengenakan.


Ternyata Arga telah menyuruh salah satau pengawalnya untuk menggantikan posisi Manji dan Farel hari ini, Meira bahkan tidak sadar jika dirinya sedang di awasi seharian ini.


"Nona Meira sekarang sedang di dalam sebuah kafe tuan, bertemu dengan seorang pria bernama Reihand." Lapor salah seorang pengawal Arga.


Rahang Arga mengatup keras menahan gejolak amarah di dadanya. Seketika dilemparkannya tumpukan map yang berada tepat dihadapannya hingga kertas di dalam map itu berserakan kemana mana.


"Sial!!"


Ternyata Meira masih juga membantah perintahnya untuk tidak mendekati Reihand. Gadis itu benar benar bebal dan tidak takut akan ancamannya. Membuatnya benar benar merasa frustasi.


Arga mengepalkan tangannya lalu kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Pak Arga mau kemana? sore ini ada rapat bersama dewan direksi." Seorang wanita paruh baya berkacamata menghentikan langkah Arga saat pria itu hendak meninggalkan ruangannya.


Arga menoleh sesaat namun sejurus kemudian dia kembali meneruskan langkahnya.


"Tuan Heru melarang anda meninggalkan rapat penting ini pak, kata Tuan ada hal yang sangat penting yang mau disampaikan dalam rapat ini." Wanita itu agak takut meneruskan ucapannya.


Namun karna ini memang titah dari bos besarnya tuan Heru maka akan dia sampaikan kepada Arga apapun resikonya, dimarahi bahkan di caci maki itu jauh lebih baik dari pada dipecat dan harus kehilangan pekerjaannya disalah satu perusahaan paling maju di kota ini.


Dengan sedikit menunduk dia mencoba membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. Tak berani menatap Arga sedikitpun.


Arga menghela nafas gusar. Sial! hari ini Meira begitu beruntung. Akan dia lepaskan, hanya hari ini saja!


***


Jam 17.00 dikediaman rumah Reihand


Reihand duduk di balkon kamarnya sambil terus memperhatikan layar ponselnya. Hari ini Bima benar benar tak menghubunginya sama sekali. Membuat kecurigaannya benar benar semakin tak terbendung lagi.


Kalau memang benar Bima yang kemarin sudah membajak ponselnya dan menyuruh anak anak Jayakarta untuk menyerang anak anak Mandala, lantas apa sebenarnya motifnya? kenapa juga dia kemarin sampai mau melukai Meira? apa tujuannya?


Reihand mengetuk ngetuk dagunya sendiri dengan ponsel ditangannya. Penasaran yang semakin menjadi ini bisa membuatnya gila! dia harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya Bima mau lakukan!


***


Dikediaman rumah besar Heru Alexander


"Gawat mah gawat!" Andrew yang baru saja pulang dari kantornya melempar tas kerjanya dengan kasar ke atas kasurnya.

__ADS_1


Lusi yang melihat itu spontan kaget dan mencoba menenangkannya.


"Kenapa Andrew? ada apa sih? gawat kenapa?"


"Arga mah Arga! papah udah ngumumin kalau Arga yang bakal nerusin perusahaan yang di jakarta dan kemungkinan besar semua cabang di luar kota pun akan ada dibawah kekuasaannya mulai bulan depan, papah ngumumin kalau dia benar benar mau mempersiapkan Arga sebagai pewaris utama perusahaan kita! kacau! kacau!" Desis Andrew geram. Andrew mengacak ngacak rambutnya sendiri saking kesalnya.


Sontak Lusi langsung tercengang mendengar kabar buruk itu.


"Kapan papah mu mengumumkan itu semua?" Sahut Lusi, kini wajahnya menyiratkan kemarahan yang teramat dalam.


"Tadi saat rapat bersama semua dewan direksi!"


"Sialan si Arga! bener bener harus segera dilenyapkan dia Ndrew!" Ucap Lusi dengan nada sepelan mungkin namun terdengar sadis.


"Mamah benar, kita gak bisa nunggu sampai bulan depan, kita harus memikirkan cara untuk menyingkirkan anak berandalan itu!" Andrew menghela nafas jengkel, perasaannya benar benar bergejolak saat ini. Dia tidak ingin semua harta warisan ayah tirinya jatuh pada Arga.


Dia sudah berhasil menyingkirkan Stefan, dan kali ini tantangannya adalah adiknya Arga. Dulu menyingkirkan Stefan sangatlah mudah namun Arga lain cerita. Dia harus punya taktik agar rencananya bisa berjalan mulus sesuai keinginannya.


Namun ibarat pepatah klasik yang sering di dengar, serapih apapun seseorang menyembunyikan bangkai bau busuknya pasti akan tercium juga.


Mereka benar benar tak sadar jika sedari tadi pembicaraan mereka sudah direkam oleh ponsel milik Meira.


Jam telah menunjukkan pukul 19.30 wib


Meira menunggu kepulangan Arga dengan gelisah. Dia ingin segera memperlihatkan hasil rekamannya tadi kepada Arga agar suaminya itu tau semua kebusukan ibu dan kakak tirinya itu.


Namun Arga tak juga terlihat batang hidungnya padahal tadi dia melihat ayah dan kakak iparnya sudah pulang duluan, Meira jadi khawatir, dia memikirkan luka dikepala Arga bahkan belum sembuh sama sekali. sebenarnya kemana Arga?


Sementara itu di sebuah taman di pinggiran kota


Terlihat sebuah mobil toyota fortuner hitam yang baru saja parkir masuk ke dalam sebuah tempat makan yang bernuansa alam, saat pertama kali menginjakan kakinya, Arga sudah disambut banyaknya tanaman hias yang dibiarkan mengelilingi pintu masuk.


Arga terus melangkah ke dalam sambil mengawasi sekelilingnya, tempat ini tidak berubah banyak sejak terakhir kali dia nongkrong disini bersama Reihand beberapa tahun silam.


Setelah melewati beberapa table matanya langsung menyipit tajam ketika menyadari objek yang sedari tadi dicarinya kini sudah ditemukan, tengah duduk sambil menyenderkan punggungnya di kursi.


Dengan senyum menyeringai dia menatap balik Arga, dengan kilatan yang tak kalah tajamnya.


"lima menit!" Ucap Reihand seraya mengeluarkan rokok elektrik dari saku celananya. Dihisapnya kemudian rokok itu dan dihembuskannya asap itu ke udara, sengaja mengenai wajah Arga yang sekarang sudah berdiri tegap dihadapannya.


Arga mencoba menahan dirinya.

__ADS_1


"Lo telat lima menit men!" Ucap Reihand lagi. Kali ini sambil tersenyum mengejek.


Dengan rahang yang mengatup keras Arga bersiap dengan bogem mentah ditangannya, bogem mentah itu udah siap melayang ke wajah Reihand. Namun lagi lagi Arga masih mencoba menahan dirinya untuk tidak menimbulkan keributan ditempat yang penuh kenangan bersama orang yang kini tengah menatapnya sebagai musuh.


Setelah rapat tadi sore selesai, Arga langsung mengajak Reihand bertemu ditempat makan yang dulu sering mereka kunjungi bersama saat masih SMA.


Dia berencana untuk membalikkan uang yang pernah Meira pinjam, Arga tahu betul pasti Reihand memanfaatkan itu untuk terus bertemu dengan Meira.


"Gue gak perlu basa basi! gue akan transfer semua uang yang pernah Meira pinjem ke lo! lo kirim nomor rekening lo sekarang!"


Reihand tertawa mendengarnya.


"Jadi lo mau ketemu gue cuman buat ngomongin soal hutang Meira! hah bener bener lo ya! gue kira ada hal lain yang lebih penting."


Reihand mematikan rokoknya lalu kemudian menatap Arga dengan serius.


"Tentang Meira. Buat gue penting! gue tau lo sengaja ngedeketin dia buat nyerang gue. Lo bener bener brengsek!" Desis Arga geram


"Apa? brengsek?" Reihand menaruh tangannya di samping kupingnya sendiri.


"Coba lo ulang sekali lagi!" Perintahnya dengan nada getas namun tegas.


Brengsek? seharusnya kata kata itu dia yang ucapkan untuk Arga, tidak ingatkah dia soal kematian Viona dan bayinya! gumam Reihand merasa dongkol.


Arga hanya diam. Dia tidak ingin terpancing oleh kata kata mantan sahabatnya itu. Tujuan utamanya bertemu Reihand hanyalah untuk menyelesaikan hutang hutang Meira.


Reihand berdiri sambil memijit mijit bahunya sendiri.


"Udah lama nih kita gak adu jotos! satu lawan satu!" Tantang Reihand sambil mendorong dada Arga dengan keras.


Arga mengepalkan kedua tangannya. Benar benar hampir habis kesabarannya.


"Lo ada masalah apa sama gue? kasih tau gue! salah gue apa? dan jangan pernah bawa bawa Meira kedalam permasalahan kita!"


"Enak banget ya jadi lo Ga! bisa jatuh cinta lagi sama cewek lain. Setelah lo ngelakuin kesalahan besar dan bikin dua nyawa mati sekaligus! Lo mau tau salah lo apa Arga Alexander yang terhormat. Lo mau tau kan bangsat!" Reihand menarik kerah baju Arga hingga kini wajah mereka benar benar sangat dekat.


Arga mencoba menahan dirinya meski medan sudah sulit dikendalikan. Dia benar benar ingin sekali menonjok mulut Reihand dengan kedua tangannya.


"Lo masih gak percaya sama yang gue ucapin beberapa tahun lalu? jangan jangan ini alesan lo selama ini musuhin gue, karna Viona?" Arga menatap Reihand dramatis. Tak percaya jika mantan sahabatnya itu ternyata tak pernah bisa mempercayai ucapannya sedikitpun.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2