Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Tragedi dijalan


__ADS_3

Reihand beringsut keluar dari dalam mobil dengan tangan terkepal.


Diluar sudah terlihat beberapa orang berkerumun mengitari mobil silvernya. Wajah mereka tampak tak asing dimata Reihand, ternyata mereka adalah anak anak Jayakarta.


Sementara itu Flo dan Widya meringkuk ketakutan di dalam mobil, Meira mencoba menenangkan kedua sahabatnya itu dengan merangkul erat tubuh mereka.


"Wih wih, ada MANTAN PENTOLAN Jayakarta nih, ketemu juga kita disini!" Oceh salah seorang dari mereka.


Reihand mendengus kesal. Ditatapnya satu persatu teman teman yang dulu begitu setia kepadanya itu.


"Ada perlu apa? kenapa ngeberhentiin mobil gue dadakan?! lo tau gak gue lagi bawa para cewek di dalem mobil, kalau mereka sampai lecet dan kenapa napa, gue gak akan tinggal diem!" Ucap Reihand sinis sambil menatap tajam ke arah teman temannya.


Teman teman Reihand kontan tertawa mengejek. "Oh jadi lo pindah ke Mandala cuman buat jadi sopir? atau kacung cewek cewek sana?"


Yang lain tertawa lagi.


Rahang Reihand mulai mengeras. Dia mencoba menahan emosi agar tak terpancing. Bagaimanapun dia tidak mungkin baku hantam dengan teman temannya sendiri. Meksipun entah mereka masih menganggapnya teman atau tidak.


"Kenapa lo pindah ke Mandala Rei? lo bener bener gak bisa di tebak ya.."


Kali ini gantian Reihand tertawa getir.


"Jadi kalian ngeberhentiin mobil gue cuman mau nanyain itu?"


"Iya, kita gak terima lo pindah ke Mandala! itu sama aja lo ngekhianatin kami semua!"


"Haha ngekhianatin?" Kedua alis Reihand terangkat, dia merasa lucu mendengar kalimat salah satu temannya itu.


Reihand mendekat sambil memajukan kepalanya ke salah satu temannya.


"Bukannya kalian ya yang udah ngekhianatin gue? bukannya kalian yang udah ngebuang gue gitu aja? men!!! apa kalian lupa gue udah di lengserkan dari posisi yang selama ini mati matian gue jaga buat kalian, tapi kalian.." Bibir Reihand tampak bergetar, sekarang emosinya benar benar sudah berada di puncak kesabarannya.


"Kalian malah dengan gampangnya menjatuhkan gue begitu aja! lantas apa lagi yang gue harapkan dari pertemanan kita? solidaritas? jelas kalian gak punya itu semua! jadi apa salah kalau gue nyari jalan gue sendiri?" Tanya Reihand. Wajahnya terlihat emosional.


Teman temannya hanya diam, mereka tak mampu menjawab pertanyaan Reihand. Reihand memang berhak belajar di manapun tapi kenapa harus Mandala?


"Apa lo dendam karna sekarang Bima lah yang kami angkat jadi pentolan Jayakarta? apa itu sebabnya lo pindah ke Mandala? lo mau balas dendam sama kita, iya kan?" Akhirnya salah seorang dari mereka berani membuka mulut.


Reihand lagi lagi tertawa getir.


"Haha gue gak sepicik itu Josua! gue pindah ke Mandala karna gue emang pengen pindah kesana, lagi pula untuk apa gue bertahan di Jayakarta? kalau teman teman gue sendiri udah gak pernah bisa ngehargain keberadaan gue, buat apa?!"


Mereka terdiam. Kata kata Reihand seperti menampar mereka satu persatu secara telak.


"Lagi pula ini bukan soal jabatan, gue mau jadi pentolan atau pun engga, gue cuman pengen kalian nerima gue sebagai teman seperjuangan! kita udah ngelewatin banyak hal bersama men!" Ucap Reihand sungguh sungguh, tatapan kekecewaan terpancar jelas dimata indahnya.


"Jadi untuk apa gue bertahan di Jayakarta? untuk tak dianggap sama kalian semua hah? untuk melihat kalian membelakangi gue waktu pelajaran? atau ngediemin gue pas istirahat? untuk apa Hah?!!" Reihand masih terus bersenandung.


Amarah di dadanya kian berkecamuk dan perlahan mulai muncul ke permukaan.


Selama ini dia mencoba menahan diri untuk tak terpancing. Sejak insiden dirinya dijatuhkan dan digantikan oleh Bima dari posisinya sebagai pentolan kampus, teman temannya ini mulai menjauhinya dan yang membuat Reihand tambah sakit adalah sikap mereka yang secara terang terangan membandingkan dirinya dengan Bima.


"Tapi kenapa harus Mandala Rei? kenapa? apa gak ada kampus lain di jakarta?!"


"Banyak, tapi kebetulan gue pengennya ke Mandala!"


Cih!


Seseorang bernama Josua terlihat berang, dia maju dan mencengkram kerah kemeja Reihand.

__ADS_1


"Lo mau cari mati ya?" Tanya Josua.


Reihand tertawa sinis. "Hati gue udah lama mati sejak kalian semua menjatuhkan harga diri gue waktu itu!"


Sekilas Reihand teringat kembali hari dimana dirinya di lengserkan begitu saja dari posisi Pentolan Kampus oleh teman temannya.


"Kenapa diem? pukul!" Tantang Reihand sambil menampar nampar pipinya sendiri.


"Nih disini masih mulus, pukul cepet!" Pinta Reihand lagi.


Josua menahan berang. Tiba tiba salah satu temannya menarik lengan Josua dari leher Reihand.


"Udah Jos, kita lebih baik pergi sekarang, bagaimanapun dia pernah jadi orang berjasa buat kampus kita, kita lepasin dia kali ini karna alasan itu."


Josua mendengus jengkel. Terpaksa dia melepaskan cengkeramannya dengan menghentak keras tubuh Reihand hingga pria itu berbenturan dengan badan mobil dibelakangnya.


Reihand hanya tertawa miris, dia tak menyangka akan berada diposisi ini, dianggap musuh oleh teman temannya sendiri.


Mereka pun menarik paksa Josua yang masih terlihat kesal meninggalkan Reihand sendiri.


"Inget Rei, urusan kita belum KELAR!" teriak Josua saat dirinya sudah ada di sebrang jalan sambil mengacungkan jari tengahnya.


Reihand hanya diam menahan segala amarah yang kini sudah memuncak di kepalanya.


Gerombolan teman temannya pun terlihat pergi menggas motor mereka masing masing dengan kecepatan penuh.


Reihand kembali ke dalam mobilnya, Meira dan kedua sahabatnya yang menyaksikan itu semua hanya bisa terdiam.


"Sorry ya, kalian pasti kaget." Ucap Reihand akhirnya, tanpa menoleh dia mulai menjalankan kembali mobilnya.


"Rei, kalau lo lagi gak mood, kita batalin aja nontonnya ya, next time masih bisa." Usul Meira.


Mereka bertiga mendengar semua percakapan diluar tadi dengan sangat jelas dan menarik kesimpulan kalau hubungan Reihand dan teman temannya dikampus lamanya ternyata sedang renggang.


"Gak perlu ladies, tiketnya kan udah terlanjur dibeli, sayang dong kalau dibatalin, lagian gue gak apa apa santai aja." Suara Reihand terdengar bergetar meski wajahnya menampakkan senyum.


Akhirnya sore itu mereka bertiga tetap jadi menonton bioskop meski Reihand tak ikut nonton dan hanya menunggu ketiga gadis itu di tempat parkir.


***


Seminggu kemudian


Di puncak bogor


Sebuah mobil hitam terlihat melaju dengan kecepatan penuh membelah jalanan berkelok menuju sebuah Villa di atas bukit.


Kabut tebal mulai menyelimuti dan membuat jarak pandang siapapun disana jadi terbatas, Arga yang mengendarai mobil hitam itu tampak fokus karna jika dia lengah sedikit saja, sudah dipastikan mobilnya akan masuk jurang di sisi kiri jalan yang tanpa pembatas itu.


Malam itu dia baru saja kembali dari meeting bersama koleganya, sopirnya yang sering mengantarkannya tadi pagi entah kenapa dia mendadak sakit dan ijin tidak masuk, jadi mau tak mau Arga harus menyetir sendiri.


Arga meraih kotak merah yang dia letakan di kursi kosong disebelahnya.


"Meira pasti bakal suka ini" Ucap Arga sambil tersenyum membayangkan reaksi Meira ketika menerima hadiah pertama darinya, dia membuka kotak itu yang ternyata berisi sebuah kalung dengan liontin berbentuk sayap merpati.


Dari awal pernikahan Arga memang tidak pernah sekalipun memberikan sesuatu kepada Meira, jadi saat pulang dari meeting tadi dia menyempatkan diri mampir ke salah satu toko perhiasan untuk membelikan Meira sebuah hadiah.


"Ah kalau membayangkannya aku jadi rindu sekali pada gadis cerewet itu, aku akan menelponnya." Arga mengambil hp di saku kemejanya, dia menekan nomor Meira setelah menyambungkan ponsel itu dengan headsetnya.


"Halo.." Arga lagi lagi tersenyum mendengar suara diseberang telpon.

__ADS_1


"Sayang, bagaimana kabarmu hari ini? apa kamu baik baik aja?" Tanya Meira lagi diseberang telfon.


"Apa kamu sudah makan?" Lagi lagi Meira.


"Sayang? kok diem aja?" Suara Meira meninggi.


Arga menahan tawa mendengar rentetan pertanyaan itu.


"Ya gimana aku mau ngomong, kamu gak ngasih aku kesempatan buat jawab."


"Ouh iya, ya. Hehe."


Arga mengeluarkan kalung itu dengan satu tangannya.


"Aku punya sesuatu buat kamu Mei, coba tebak!" Ucap Arga sambil tetap mengemudi.


"Apa? boneka? atau coklat?" Suara Meira terdengar penasaran.


"Haha ngapain aku kasih begituan, memangnya kamu anak SMA yang baru puber?"


"Ya terus apa dong!"


"Ya tebak dong!"


"Aku gak tau ga, apaan dong? buruan kasih tau jangan bikin penasaran." Suara Meira mulai terdengar frustasi.


"Ok ok baiklah aku kasih tau.." Jawab Arga akhirnya, dia tak tega mendengar rengekan Meira.


"Kalung dengan liontin sayap merpati. Ku dengar dari penjualnya kalau merpati itu melambangkan cinta yang kuat dan suci, aku membelinya karna aku ingat pada cinta kita Mei.." Ucap Arga.


Meira diam beberapa saat, andai Arga saat ini ada disampingnya, dia pasti sudah melompat dan memeluk erat laki laki itu. Aura bahagia kini terpancar jelas dimatanya.


Dia benar benar tak menyangka jika pria yang dulunya begitu kejam dan sedingin es itu bisa melakukan hal romantis dengan memberikannya hadiah semacam itu.


"Sayang.. kamu masih disana?" Tanya Arga yang tidak juga mendengar suara Meira.


"Terima kasih sayang.." Jawab Meira terbata, suaranya terdengar sedang menahan air mata.


"Besok setelah menyelesaikan meeting terakhir aku akan segera kembali, aku kangen banget sama kamu.."


Arga masih terus melajukan mobilnya tanpa menyadari dari arah depan muncul mobil lain yang mengambil sebagian jalan yang akan dilaluinya secara mendadak.


Kejadiannya begitu cepat, kabut yang menyelimuti semakin membuat Arga tak tahu kemana dia membanting setirnya untuk menghindari tabrakan.


BRAAAAAGHHHH


Beberapa kali Meira mendengar suara benturan benda yang sangat keras dan diakhiri dengan bunyi rem mobil yang berdenyit.


Meira tesentak kaget, refleks dia berdiri dan mencoba memanggil nama Arga berkali kali.


"Sayang ada apa? suara apa itu barusan?"


Arga tidak menyahut, yang ada hanya suara angin yang berhembus.


"Arga?!" Meira mulai khawatir karna Arga tidak juga menyahut, dia melihat layar ponselnya karna takut sambungannya terputus, tapi ternyata telponnya masih terhubung.


"ARGA JAWAB!" Ucapnya lagi dengan histeris.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2