
Flo berjalan cepat ke arah kamarnya, membanting pintu kamar dengan sisa tenaganya, dia bersandar dibelakang pintu, isak tangis yang coba ditahannya sejak di jembatan tadi akhirnya meluap tumpah ke permukaan.
Perlahan tubuh Flo meluruh jatuh ke bawah lantai, sejak tadi Reihand membisikkan cinta kepadanya sejujurnya Flo juga ingin sekali mengatakan isi hatinya.
"Gue juga sayang sama lo Rei.." Ucap Flo tertahan di tenggorokan.
Flo memeluk kedua lututnya sambil tertunduk dalam tangis.
Dia tidak menoleh, dia berusaha tidak mengeluarkan suara sekecil apapun karna Flo tidak ingin Reihand goyah dan berlari ke arahnya.
Flo harus menepati janjinya pada Widya, dia akan membiarkan sahabatnya itu yang mendapatkan cinta dari Reihand. Meski Flo tau pada akhirnya dia sendiri akan hancur, akan patah dan terpuruk karena patah hati.
...***...
Esoknya setelah selesai makan siang, Mobil yang ditumpangi Arga dan kawan kawan sudah melesat meninggalkan area resort.
Meira terus memperhatikan raut wajah Flo yang murung, meski Flo tidak mengatakan apapun, tapi Meira sangat tahu pasti telah terjadi sesuatu diantara Flo dan Reihand, karena saat Meira menoleh ke bangku Reihand, laki laki itu pun sama murungnya dengan Flo.
Setelah 4 jam perjalanan, mobil Arga berbelok menuju jalan lurus yang berakhir di sebuah perbukitan.
"Tebingnya ada diatas sana, kalian harus naik kesana melewati 100 anak tangga." Kata Arga saat mobil mereka sudah berhenti di sebuah tempat tujuan.
Flo melihat keluar mobil, ternyata lumayan banyak pengunjung disini, dia melihat beberapa mobil sudah terparkir rapih di sebelahnya.
"Apa?" Widya tercengang.
"Yah, Meira gak bisa ikut dong, yang gue denger ibu hamil kan gak boleh naik tangga yang terlalu tinggi." Ucap Manji.
"Iya, betul, kasian lah kalau Meira gak ikut." Timpal Farel.
Arga hanya menyunggingkan senyum.
"Kata siapa Meira gak ikut? Udah yuk turun, bawel banget!" Arga membuka pintu mobil dan melompat turun.
Mereka kini berdiri dibawah anak tangga paling pertama.
Langit sudah mulai berubah warna menjadi ke emasan.
Kalau melihat pemandangan diatas sana pasti indah sekali. Gumam Meira.
Arga memperhatikan Meira dan menebak apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Tenang sayang, kamu bisa tetap melihat sunset di atas sana, aku akan menggendong mu Tuan Putriku."
__ADS_1
Arga mengangkat tubuh Meira ke dalam pelukannya. Yang lain langsung menoleh kaget kemudian tak lama mereka senyum senyum sendiri.
Ya ampun gak ada habis habisnya pasangan satu ini. Batin Flo iri.
Flo menoleh ke arah Reihand, Reihand ikut menatapnya sekilas tapi kemudian dia langsung membuang muka ke arah lain.
Reihand terlihat semakin dingin sikapnya.
Arga sudah naik meniti tangga lebih dulu dengan menggendong tubuh Meira dalam dekapannya.
Yang lain mengikuti dari belakang. Reihand tiba tiba menggandeng tangan Widya, Widya sontak menatap tangannya yang sedang digenggam Reihand dengan tatapan kaget.
"Gue takut lo jatuh, pegangan tangan gue Wid." Ucap Reihand lembut.
Flo yang berdiri di belakang mereka seketika terdiam. Sepertinya Reihand mulai mau membuka hatinya untuk Widya.
Flo meremas tangannya sendiri. Sesak itu tiba tiba menjalar lagi di hatinya. Dia harus kuat, ini pilihannya, melepas Reihand untuk sahabatnya Widya, apapun yang akan terjadi dia harus menghadapi sendiri konsekuensinya.
Flo berpegangan pada pegangan tangga, perjalanan menaiki anak tangga itu ternyata tidak mudah.
Meski cuacanya sedang tidak panas tapi sekujur tubuhnya sudah basah oleh keringat.
Dengan nafas terengah Flo beberapa kali berhenti untuk mengambil nafas dalam dalam.
Lo liatkan Flo, Reihand sudah mulai ngedeketin gue duluan, gue yakin sebentar lagi dia bakal jadi milik gue seutuhnya. Gumam Widya dalam hati.
Sementara Arga, pria itu, meskipun menaiki tangga ini sambil menggendong tubuh Meira, tapi dia sudah tak terlihat sama sekali dari tempat Flo berdiri. Sepertinya Arga dan Meira sudah mencapai puncak tebing.
"Buset, hebat juga Arga!" Kata Flo pelan sambil mengusap keningnya yang basah oleh keringat.
Flo bersandar dan duduk di salah satu anak tangga, dia sangat lelah, kakinya begitu pegal, rasanya dia harus meluruskan otot totot kakinya yang terasa kaku dan nyeri.
Flo mengambil botol yang berisi air minum di ranselnya.
"Flo, kok berhenti, ayo jalan lagi, nanti ketinggalan ngeliat sunset loh!" Teriak Widya dari atas.
Flo menoleh dan mengangkat satu tangannya, menandakan dia ingin istirahat dulu.
Setelah yakin tenaganya cukup terisi meskipun dia hanya duduk sekitar satu menit, Flo kembali berdiri.
Di tatapnya anak tangga di atasnya, mungkin hanya perlu menaiki sekitar 15 anak tangga lagi untuk mencapai ke puncak tebing.
"Oke, Flo. Lo pasti bisa!" Ucap Flo menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Flo berjalan dengan tertatih hingga akhirnya dia berhasil juga sampai di atas tebing.
Betapa terbelalak nya Flo ketika kakinya baru sampai di atas tebing yang tingginya mungkin sekitar tiga puluh meter di atas permukaan tanah itu.
Flo seperti melayang diatas ketinggian, langit terasa begitu dekat dari tempatnya berdiri sementara lautan membentang sejauh mata memandang, sang alam dengan gagahnya menampakkan seluruh keindahannya dari batas cakrawala.
"Flo, sini." Manji menarik lengan Flo, pontang panting Flo mengikuti langkah Manji, dia menyuruh gadis itu naik ke atas sebuah batu ceper yang ukurannya lumayan besar yang ada di tengah tengah tebing.
"Naik kesini, pemandangannya lebih jelas dari sini."
Flo mengangguk. Manji naik lebih dulu ke atas batu itu, kemudian dari atas batu tangan panjangnya terulur dan menarik lengan Flo. Gadis itu hampir jatuh namun untung saja ada Manji yang dengan sigap menahan tubuhnya dengan kedua tangan yang memeluk pinggang Flo.
"Maaf Ji, kakingue kepleset.."
"It's okey Flo, lo gak apa apakan?"
Flo menggeleng sambil tersenyum.
Reihand yang tengah berdiri beberapa langkah dari mereka, memperhatikan Manji dan Flo lewat sudut matanya. Ada amarah yang bergejolak hebat di dadanya. Tapi dia harus tekan sedalam mungkin kemarahan itu agar tidak tumpah.
Dia sadar Flo ingin dia menjauh darinya, meski hati kecilnya masih sangat yakin Flo juga menyukainya.
Dia memilih untuk mengikuti permainan Flo, tidak ada cara lain, kalau Flo tidak bisa dia tarik secara suka rela untuk berada di sampingnya, maka Reihand akan melakukan cara lain, meskipun caranya kali ini akan melukai dirinya sendiri dan juga orang yang disayanginya yaitu Flo.
"Wah, cantik anget Ji." Flo takjub, sepasang matanya berbinar menatap pemandangan luar biasa di bawah sana.
"Lo suka Flo?"
"Iya, Ji cantik banget."
"Tapi gak secantik elo, Flo."
Kata Manji lembut sambil menatap Flo lurus.
Flo tercengang, dia menoleh dan melihat Manji sedang tersenyum kepadanya, senyum yang penuh dengan makna.
Flo hanya membalas ucapan Manji itu dengan senyum kecil yang dipaksakan, harusnya dipuji seperti ini kita deg degan kan? tapi kenapa dia merasa biasa saja. Dia tidak merasa berbunga bunga atau deg degan.
Beda sekali dengan saat berhadapan dengan Reihand, tanpa mengeluarkan kata kata manis pun, hanya dengan di tatap oleh Reihand, jantung Flo serasa ingin melesak dari tempatnya.
Flo sadar sekarang, ternyata dia memang benar benar menyukai Reihand, dan sialnya rasa sukanya pada Reihand ini jauh lebih hebat dibanding dia menyukai Manji dulu.
bersambung..
__ADS_1