
"Met, kamu mau gak nikah sama aku?" Andrew masih sabar menunggu jawaban Meta. Gadis itu tampak gusar, beberapa kali melirik ke arah bos besarnya tuan Heru Alexander.
Tuan Heru juga terlihat sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Andrew. Tak menyangka jika putra sulungnya itu akan melamar sekretarisnya sendiri.
Kalau dia menolak lamaran Andrew, Meta takut jika itu akan berpengaruh pada karirnya di perusahaan keluarga Alexander.
"Ndrew, apa ini tidak terlalu cepat? kita bahkan belum bertemu dengan orang tuanya Meta." Ucap Lusi ibu Andrew dengan wajah merah menahan amarah.
Tak habis pikir kenapa Andrew tak berdiskusi dulu dengan dirinya soal rencana pernikahan ini.
"Mah, itu urusan gampang, setelah ini kita bisa mengatur pertemuan dua keluarga besar."
"Tapi kau harusnya memberitahu papah mu lebih dulu. Pernikahan itu bukan hal yang bisa diputuskan dengan gampang."
"Sudah mah, biarkan Andrew. Dia sudah besar dan berhak memutuskan apa yang dia ingin lakukan, lanjutkan Ndrew." Potong tuan Heru, membuat rona bahagia semakin terpancar dari wajah Andrew.
Meta semakin terpojok, dia sudah tidak bisa mundur lagi kalau begini.
Gadis itu menarik napas dalam dalam, semua mata tampak sedang menunggu dirinya membuka mulut.
Arga yang menangkap kepanikan diwajah Meta malah tersenyum kecil, dia begitu menikmati drama di depannya ini. Sedikit penasaran juga akan jawaban apa yang akan Meta lontarkan karna setahu dia gadis itu sangat tergila gila padanya bukan pada kakak tirinya Andrew.
"Aku.., aku mau menikah dengan kamu Andrew." Jawab Meta akhirnya, dengan seulas senyum yang sudah pasti dipaksakan sekuat tenaga.
Semua orang begitu terkejut terutama Andrew. Dia tak menyangka jika hari ini akan datang, hari dimana dia bisa seutuhnya memiliki gadis yang selama ini hanya bisa dikaguminya dari jauh.
Andrewpun langsung memeluk Meta. Rona bahagia terpancar jelas diwajahnya.
Setelah memakaikan cincin dijari manis Meta. Tuan Heru langsung menyuruh Andrew untuk mempersiapkan pertemuan dua keluarga besar untuk membahas rencana pernikahannya.
Lusi masih tampak tidak setuju dengan keputusan anaknya namun diapun sudah tidak bisa protes karna suaminya sendiri ternyata tidak keberatan jika Andrew ingin menikah dengan sekretarisnya itu.
Arga langsung kembali ke kamarnya begitu makan malam telah selesai.
Meira menyusulnya dari belakang, entah kenapa Meira merasa Meta tidak menyukainya, saat dia mencoba melemparkan senyum tadi Meta seperti melongos dan tidak membalasnya.
Klek
Meira menutup pintu kamarnya setelah mereka masuk. Arga langsung merebahkan dirinya di kasur, menatap ke arah langit langit kamar.
Dia tak mengerti mengapa Meta menerima lamaran itu kalau ternyata dia tidak menyukai Andrew. Untuk apa?
__ADS_1
Namun sejurus kemudian dia sudah tak mau ambil pusing. Di tatapnya Meira yang sedang berdiri di belakang pintu.
"Matiin lampunya!" Ucap Arga.
Meira menoleh kaget. Langsung dia merasakan aura menyeramkan saat dikamar mandi tadi.
"Lo mau langsung tidur?"
"Emang mau ngapain?" Malah balik bertanya. Arga terduduk sambil menatap ke arah Meira.
Hati Meira berdebar lagi. Entah kenapa setiap kali beradu tatap dengan Arga, Meira benar benar tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Arga berdiri lalu melangkah menghampiri Meira.
Meira buru buru menghindar dan berjalan ke arah lemari namun langkahnya kalah cepat dengan salah satu lengan Arga yang kini telah terulur dan mencegat tubuh mungilnya.
"Mau kemana?" Bisik Arga dibelakang telinga Meira membuat bulu kuduk Meira seketika berdiri.
"Mau ke lemari ngambil selimut."
Kening Arga berkerut.
"Selimut buat apa?" Tanya Arga. Nada suaranya mulai terdengar tidak santai.
"Kan gue udah bilang mulai sekarang lo tidur sama gue, apa lo belum paham juga yang gue bilang kemaren?" Kini nada suara Arga terdengar benar benar marah.
Tamatlah aku! apa aku salah bertindak lagi?
Dengan cepat Arga langsung membalikkan posisi tubuh Meira yang membelakanginya. Kini mereka saling berhadapan. Meira sudah tak bisa mengelak lagi untuk melihat wajah tampan yang kini sedang marah itu.
"Apa lo gak sudi tidur di atas ranjang itu sama gue?"
"Bukan gitu Ga! engga gitu!"
"Terus kenapa masih berencana tidur dilantai?"
"Gue.. gue cuman.."
"Cuman apa?" Tanya Arga tak sabar.
Meira menggigit bibir bawahnya, dia bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
Arga menelan salivanya, tindakan Meira yang sedang menggigit bibir bawahnya itu membuatnya tak bisa berkonsentrasi.
"Bisa diem gak!" Bentak Arga.
Hah? Meira mengerutkan alisnya, masih menggigit bibir bawahnya. Dia menurut dan tak membuka suaranya lagi.
terserahlah, tadi dia nanya kan gue jawab, kok sekarang malah nyuruh gue diem, emang dasar aneh! Meira kesal sendiri.
"Bodoh! bukan diem itu!"
Tangan kiri Arga mengangkat dagu Meira secara tiba tiba. Meira tersentak kaget dan hendak mundur ke belakang namun dengan sigap tangna kanan Arga menahan pinggangnya.
"Lo kenapa sih mancing gue terus!"
Masih tak mengerti, meira menggigit bibir bawahnya karna merasa benar benar tak paham dengan maksud perktaaan Arga.
Sedetik kemudian bibir laki laki tampan itu sudah mendarat tepat didepan bibirnya. Memberikan satu pagutan hangat yang mampu membuat Meira mematung seketika.
Arga mempererat genggamannya pada pinggang Meira dan terlihat begitu menikmati ciuman itu sementara Meira masih tak bisa mencerna situasi hingga beberapa detik kemudian dia baru tersadar dan berusaha mendorong tubuh jangkung itu namun berakhir gagal.
Barulah beberapa detik kemudian Arga melepaskan bibirnya sendiri saat sadar wajah Meira mulai membiru karna mencoba menahan nafasnya.
"Bodoh! Lain kali sambil bernafas!!!" Arga menyentil kening Meira.
Meira masih mencoba mengatur nafasnya yang masih terasa sesak sembari memegangi dadanya sendiri, menjinakkan irama jantung yang juga mulai tak bisa dia kendalikan.
Dengan gampangnya dia mengatakan 'Lain kali'!!! Huh, mau aku benar benar mati kehabisan nafas sepertinya!
Arga mulai berbalik namun baru satu langkah dia sudah menghadap ke arah Meira lagi. Dia membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis itu.
"Dan ingat satu hal ini, jangan pernah berani menggigit bibir bawah lo dihadapan orang lain, kalau engga.. tamat riwayat lo!"
Meira melongo!
apa apaan dia! memang apa yang salah dengan menggigit bibir bawah? gue refleks mana bisa dikendalikan dasar cowok idiot!
"Buruan tidur disini!" Perintah Arga sambil menepuk nepuk sisi kasur disebelahnya. Wajahnya terlihat sangat tenang tanpa beban. Tubuh jangkung itu kini sudah merebahkan dirinya diatas tempat tidur besar nan mewah.
Meira mencoba menahan kekesalannya, apakah Arga sengaja melakukan semua ini? tidak tahukah dia bahwa Meira sedang mencoba mati-matian menahan gejolak dihatinya. Apakah Arga benar benar tak merasakan perasaan yang sama seperti yang dia rasakan?
Akhirnya dengan perasaan dongkol Meira tetap mematuhi titah suaminya itu. Dia mulai berjalan mendekati ranjang besar itu. Lalu kemudian duduk dan tak lama ikut merebahkan badannya di sebelah Arga.
__ADS_1
Meira seperti patung hidup, kekacauan dihatinya seolah membuatnya tak bisa berkutik, tak tahu harus berbuat apa. Tapi orang yang sudah membuat hatinya tidak karuan itu malah dengan entengnya mengorok disebelahnya.
bersambung..