Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Diturunkan ditengah jalan lagi


__ADS_3

Jam 20.00 malam


Setelah makan malam selesai Meira duduk termenung dimeja makan. Semua sudah kembali ke kamarnya kecuali Meta, gadis itu masih terlihat sibuk mengunyah buah apel ditangannya.


Meta melirik Meira yang mukanya begitu kusut. Melihat sekilas saja Meta bisa menebak kalau Meira pasti sedang memikirkan soal Arga yang kehilangan ingatannya. Dia menyeringai saat teringat kejadian tadi siang.


"Ehem!"


Meta berdehem sambil menghampiri kursi Meira.


Meira melirik sekilas lalu kembali acuh.


"Pasti sedih sekali ya tidak diingat oleh orang yang sangat kita sayangi." Kata Meta tiba tiba.


Meira hanya diam, dia sedang malas untuk ribut, hari ini menghadapi perubahan sikap Arga saja sudah membuatnya lelah. Dia tidak mau membuang energi lagi untuk meladeni kakak iparnya ini.


Meira pun berdiri dan hendak pergi ke lantai atas, namun Meta malah mengejar langkahnya dari belakang.


"Aku yakin Arga melupakanmu karna didalam ingatannya kamu itu memang tidak spesial!" Meta tertawa mengejek.


Meira menarik nafas dalam dalam.


"Lebih baik lepaskan saja Arga, aku yakin dia tidak akan pernah mengingatmu lagi."


Sudah cukup! Meira berbalik dan menatap tajam kakak iparnya.


"Jika kakak tidak ingin pipi kakak yang mulus itu lecet karna tanganku ini, kakak lebih baik diam." Ucap Meira sambil menyeringai, seringainya begitu mengerikan sampai sampai membuat Meta seketika terdiam.


"Kamu mengancamku?" Tanya Meta sengit.


"Aku hanya memperingatkan!" Meira mendekat dan melotot ke arah Meta hingga membuat Meta refleks berjalan mundur kebelakang tangga.


Kakinya tak sengaja keseleo, dia pun terjatuh dan akhirnya terguling ke lantai bawah dengan posisi tertelungkup.


"Aw!" Met meringis dan berusaha bangkit. Dia merasakan sekujur badannya sakit.


Meira hanya diam mematung di tengah tangga melihat kejadian itu.


"Lihat kan, bahkan tanpa menyentuh kakak, Tuhan sudah lebih dulu memperingatkan mu untuk menjaga lisan!" Ucap Meira getas.


Meta mendengus kesal dia pun berusaha berdiri dan hendak mengejar Meira namun Meira sudah lebih dulu berbalik dan meninggalkannya seorang diri.

__ADS_1


"Sialan! dasar bocah sialan! beraninya kamu Meira main main denganku! awas kamu! aku gak akan tinggal diem udah di perlakuin gini!" Umpatnya kesal sambil melempar sisa buah apel ditangannya.


****


Jam delapan tepat


Hari itu Arga memutuskan untuk kembali ke kampus. Tuan Heru tidak bisa memaksanya kembali ke perusahaan karna kondisi Arga yang memang belum sepenuhnya pulih.


Dan untuk sementara waktu posisi Arga masih dipegang oleh papahnya sampai Arga mampu mengingat semuanya.


Tuan Heru tidak ingin membebani Arga dengan pekerjaan di perusahaan karna takut dia akan kelelahan, jadi dia memutuskan untuk membiarkan Arga kembali ke kampus dulu sementara waktu ini.


Setelah sarapan, Meira melirik jam ditangannya. Gawat! kelasnya dimulai setengah jam lagi. Dia pun buru buru berjalan ke parkiran rumah mengejar Arga yang terlihat sedang memanaskan motor gedenya.


"Ga, aku boleh nebeng gak?" Tanya Meira ketika dia sudah berdiri dibelakang jok motor Arga. Meira menggigit bibirnya sendiri, sebenarnya dia takut untuk bertanya pada Arga, namun apa salahnya berusaha?


Arga menoleh dan membuka kaca helmnya, dua bola matanya langsung menatap tajam ke arah Meira.


"Nebeng? kamu suruh aja salah satu supir disini buat anter ke kampus!" Arga mulai menggeber motornya.


"Tapi aku maunya sama kamu Ga!" Kekeh Meira.


Namun sebelum Arga kembali menyahut Meira sudah lebih dulu mengambil tindakan, dia mengulurkan tangannya dan berpegangan pada kedua bahu Arga sebagai penopang untuk memindahkan posisi tubuhnya naik ke atas motor.


"Yap, udah nih, yuk jalan!"


Kini Meira sudah duduk manis di jok belakang dengan senyum mengembang.


"Ngapain kamu? Turun!" Bentak Arga galak


"Engga mau!"


"Turun aku bilang!" Dengus Arga jengkel.


Meira menggeleng keras, seolah tidak takut dia malah memeluk pinggang Arga dari belakang dan menempelkan mukanya dipunggung Arga.


Arga semakin emosi. Diliriknya Meira dari kaca spion motor, gadis itu entah kenapa seperti ulat keket yang mencoba terus berada didekatnya. Setiap kali melihat wajahnya dada Arga terasa sesak.


"Kok diem? yuk jalan Ga, sebentar lagi kelas aku mau dimulai nih!" Ajak Meira, wajah polosnya menyembul dibelakang punggung Arga.


Rahang Arga mengeras, namun seketika sebuah rencana terbersit diotaknya. Arga pun menjalankan motornya membelah jalanan di kota Jakarta yang mulai terlihat padat.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Meira terus mengetatkan pelukannya. Dia begitu senang bisa memeluk Arga lagi meski Meira tahu saat ini Arga pasti kesal kepadanya.


Tapi Meira tak peduli, apapun akan dia lakukan agar Arga bisa kembali mengingatnya, dia akan terus menempel pada Arga, tak perduli sekalipun dia akan dimarahi habis habisan oleh laki laki ini, tak peduli cacian sehebat apapun yang akan diterimanya nanti, dia akan tetap berusaha.


Tak lama motor mereka sampai di sebuah perempatan. Arga menepikan motornya.


"Kok berenti?" Meira mengerutkan keningnya.


"Turun!"


Arga membuka kaca helmnya.


"Engga!" Meira masih bersikukuh.


"Kamu gak tau malu banget ya jadi cewek! turun!" Intonasi suaranya mulai mengeras.


Meira meremas tali tasnya. Dia harus kuat, dia harus bertahan.


"Tapi ini masih jauh dari kampus ga." Meira mencoba mencari alasan dan memang masuk akal karna posisi mereka berhenti saat ini memang masih lumayan jauh dari area kampus.


"SAYA BILANG TURUN!" Bentak Arga tanpa menoleh sedikitpun.


Meira tergelak, dia menatap punggung itu dengan bibir bergetar.


"Kamu tuli?" Arga mendesah. Dia kemudian turun dari motornya. Menatap Meira yang kelihatan hendak menahan tangis. Gadis itu masih duduk di jok belakang.


Tak peduli orang orang sekitar yang lewat memperhatikan mereka, Arga mengangkat tubuh mungil itu dengan paksa dari atas motor. Meira berontak namun sudah pasti itu sia sia karna tenaga Arga bukanlah lawan seimbang untuknya.


Sebelum menjalankan kembali motornya, Arga mendekatkan wajahnya ke wajah Meira hingga jarak muka mereka begitu dekat.


"Inget, Meira, meskipun kita diikat dengan status pernikahan bukan berarti kamu bisa seenaknya dekat dekat sama saya! kalau kamu masih berani juga, saya bakal bikin hidup kamu heboh nantinya!"


Meira yang masih shock hanya bisa diam. Nafasnya memburu, dadanya sesak, air matanya melesak ingin keluar, tapi coba ditahannya mati matian. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan Arga.


"Bye! sampai ketemu di kampus ya!" Ucap Arga sambil kembali melajukan motornya, tanpa rasa bersalah dia meninggalkan Meira sendirian diperempatan jalan.


Sebelum motornya melaju benar benar jauh, Arga melirik spion beberapa kali untuk melihat ke arah tempat Meira berdiri, gadis itu masih mematung. Entah kenapa skelebat bayangan tiba tiba muncul di dalam ingatannya.


Arga mengerjapkan matanya untuk tetap fokus. Dia merasa de javu, kejadian ini seolah pernah terjadi sebelumnya. Menurunkan seseorang di tengah jalan, tapi siapa?


sekelebat ingatan itu hanya menampilkan sekilas dirinya yang sedang tertawa terbahak sambil meninggalkan seorang gadis dipinggir jalan. Wajah gadis itu tidak terekam jelas dalam memorinya, siapa dia? apa mungkin itu Meira?!

__ADS_1


__ADS_2