
Setelah mengantarkan Meira ke depan gerbang kampus, mobil Arga melaju lagi merayap diantara banyaknya transportasi di jalan umum jantung ibu kota.
Pikirannya menerawang. Dia kembali mengingat kejadian saat seseorang yang wajahnya tertutup topeng itu mencoba menimpuk ke arah Meira.
Siapa sebenarnya dia? apa benar dia Bima?
Arga teringat kembali kata kata Reihand yang mencurigai seseorang dibalik topeng itu.
"Tuan, kita sudah sampai." Ucap sang sopir membuyarkan lamunan Arga.
Arga langsung menatap keluar, ke sebuah bangunan megah dihadapannya. Sudah lama sekali dia tidak kesini. Terakhir kali dia kesini, dia pergi tanpa berpamitan dengan sang pemilik rumah.
Sang sopir turun lebih dulu lalu membuka pintu belakang mobil.
"Tunggu saja disini."
"Baik tuan." Sang sopir membungkuk sambil mengangguk patuh.
Arga lalu berjalan ke arah gerbang. Seorang satpam dengan sigap membukakan pintu pagar saat melihat kedatangannya.
"Selamat pagi Tuan Arga. Tuan Reihand sudah menunggu di dalam. Mari saya antar ke dalam."
Ternyata tidak berubah, masih dengan satpam yang sama waktu itu. Jelas dia kenal siapa Arga karna saat sekolah dulu Arga memang sering main kesini.
"Tidak usah, kau kembali saja bekerja."
"Ba..baik tuan Arga." Satpam itu seolah takjub melihat perubahan Arga yang begitu mencolok, tak menyangka jika anak yang memakai seragam SMA dulu itu kini sudah berubah menjadi tuan muda yang begitu tampan.
Arga terus melangkah dan saat sampai depan pintu, seseorang telah muncul lebih dulu disana.
"Arga!!"
Reihand tampak senang. Lalu setengah berlari ke arah Arga.
"Masuklah, baru aja gue mau sarapan, ayo kita sarapan bareng."
Arga hanya diam tapi tetap mengikuti sang pemilik rumah masuk ke dalam.
Ditatapnya sekeliling, masih belum banyak yang berubah dari rumah ini.
"Gue kira lo udah lupa jalan kesini.." Reihand menarik satu kursi di meja makan agar Arga bisa duduk.
"Ayo duduk."
"Sejak kapan lo jadi sopan kaya gini?"
"Hehe.." Reihand cengengesan. Dia memang sangat gugup saat ini. Sehingga tidak tahu mau berbuat apa selain menjamu Arga sebaik mungkin. Sahabat yang sudah lama sekali tidak main kerumahnya.
__ADS_1
Ini adalah pertemuan kedua setelah semua kesalahpahaman diantara mereka berdua selesai.
Saat semalam Arga mengirimkan pesan bahwa dia akan berkunjung kerumahnya, Reihand begitu kaget sekaligus senang. Dia pikir Arga belum memaafkannya sepenuh hati.
Saat Arga mengatakan untuk melupakan semua kejadian kemarin kemarin rasanya Reihand masih ragu. Tapi kedatangan Arga hari ini adalah sebuah angin segar. Dia merasa sudah diampuni oleh Arga
"Mana nyokap lo?"
Kebiasaan Arga saat kemari, selalu menanyakan Ibu Reihand. Ibu yang memperlakukannya layaknya anak sendiri. Untuk itu juga Arga datang lagi kerumah ini, rumah yang memberikannya cukup banyak kasih sayang sebuah keluarga.
"Arga, ya ampun ini beneran Arga?" Seorang wanita paruh baya muncul dari dapur dengan sepiring ayam goreng ditangannya. Matanya begitu terkesima pada kehadiran Arga.
Buru buru dia letakan piring berisi ayam itu ke atas meja dan segera memeluk Arga.
Arga langsung berdiri dan memebalas pelukan ibu Reihand. Wajahnya yang dingin mendadak menjadi hangat saat melihat kedatangan wanita paruh baya itu.
"Bagaimana keadaan ibu?"
"Baik Ga, ya ampun ibu kangen banget sama kamu, kamu lagi cuti kuliah ya? gimana di Jepang? kamu betah disana Ga? sampai kamu gak main main lagi kesini."
Ibu Reihand terus nyerocos sambil meletakan sebuah piring kosong dihadapan Arga. Lalu menyendok secentong nasi goreng dari sebuah wadah makanan didepannya.
Arga mengerutkan keningnya, bingung.
Dia langsung menatap Reihand meminta penjelasan.
Reihand mengedipkan kedua matanya. Memberikan isyarat agar Arga mengangguk saja.
"Kamu kok rapih banget Ga?" Melihat ke arah jas serba hitam yang Arga kenakan.
"Ouh iya bu, aku lagi ada urusan disini, maaf ya aku baru sempet main kesini." Arga bingung harus menjawab apa lagi. Sepertinya Reihand tidak menceritakan kejadian sebenarnya diantara mereka berdua.
Setelah berbincang sebentar dengan ibunya Reihand. Reihand pun membawa Arga ke balkon kamarnya. Tujuan sebenarnya Arga datang kesana, mengobrol empat mata dengan Reihand.
Tak lama seorang pelayan datang, membawakan dua gelas jus jeruk ke atas meja. Setelah itu Reihand menyuruhnya pergi lagi.
Arga memandang ke arah langit. Reihand menatapnya, masih terasa canggung. Sudah lama sekali mereka tidak duduk berdua dengan santai begini layaknya manusia biasa, karna biasanya mereka seperti tom and jerry yang bertemu saat tawuran pecah, menyerang satu sama lain.
Namun dua pentolan kampus itu kini sedang duduk, saling berhadapan satu sama lain, tidak ada penyerangan bahkan suasana terasa begitu damai dan tentram.
"Apa lo udah nyari tahu soal Bima?" Arga akhirnya membuka suara.
Reihand menggeleng tipis.
"Beberapa hari terakhir dia seperti hilang ditelan bumi, semenjak kejadian tawuran itu gue gak ngeliat dia dikampus, dia yang hampir tiap hari datang kesini pun udah gak pernah nongol lagi."
"Apa rencana lo ke depannya Ga?" Gantian Reihand bertanya.
Arga diam sesaat. Mengambil jus jeruk dari atas meja kemudian meneguknya sedikit.
__ADS_1
"Gue akan suruh orang buat ngawasin gerak gerik Bima, gue rasa kecurigaan lo masuk akal, apalagi dia tiba tiba ngilang kaya gini, apa lo tau dimana alamat rumahnya?"
Reihand mengangguk lagi.
"Gue akan kirim alamatnya nanti ke nomor lo, gue juga akan bantu lo buat ngawasin dia, selama kita berselisih kemarin, sebenarnya Bima cukup dekat dengan gue, makanya gue gak curiga sama sekali dia bisa berbuat jahat kaya gini." Reihand mengepalkan tangannya, rasanya marah bercampur sedih ketika harus membahas lagi soal Bima.
Dia masih tak menyangka jika seseorang yang begitu dekat dengannya itu ternyata adalah orang yang sudah menghamili sepupunya Viona.
Tertipu. Dia benar benar merasa tertipu.
Arga menatap Reihand yang sedang mengusap wajahnya dengan gusar.
"Lo gak apa apa?"
Reihand mengangguk, namun Arga tahu keadaan tidak sedang baik baik saja.
"Gue cuman gak habis pikir ada orang sepengecut itu di bumi ini, sial!" Reihand mengepalkan kedua tangannya, tatapannya terlihat penuh amarah.
"Lebih baik, saat dia nanti kembali, lo bersikap biasa aja, seolah olah gak terjadi apa-apa. Dengan begitu lo akan mudah mencaritahu apakah benar dia yang udah mencoba melempar Meira dengan batu waktu tawuran kemarin."
"Iya, gue udah mikirin soal itu, lo tenang aja, gue akan lebih hati hati dalam bertindak, kalau ada info penting tentang Bima, gue akan kabarin lo secepatnya Ga."
Mereka pun kembali diam, sibuk dengan pikiran masing masing.
Malampun telah tiba.
Jam dinding menunjukan pukul 19.03 wib dikediaman Heru Alexander.
Sebuah mobil putih baru saja kembali dari arah depan.
Satpam dengan sigap membukakan pintu pagar utama agar mobil itu bisa masuk ke halaman rumah. Seorang sopir langsung keluar dan bergegas membukakan pintu dibagian penumpang.
Arga turun lalu langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
"Tuan, hari ini ada makan malam spesial sepertinya." Seorang pengawal yang membantu membukakan pintu membungkuk hormat saat Arga lewat dihadapannya.
"Makan malam spesial? ada acara apa? apa penyambutan kembalinya ayah dari luar kota?"
"Bukan tuan, tuan Andrew membawa seorang tamu wanita di ruang makan."
Arga mulai tertarik. Tamu wanita? siapa?
Belum sempat dia bertanya matanya langsung tertuju pada ruang makan yang berada tepat dibawah tangga menuju kamarnya.
Seorang wanita yang begitu tak asing sedang duduk diantara keluarganya, ada Andrew disebelahnya, Wanita itu tampak sumringah ketika menyadari kepulangan Arga.
Arga tersenyum kecut saat tau ternyata tamu spesial Andrew adalah Meta, perempuan yang selalu berusaha menggodanya saat berada dikantor.
Bersambung..
__ADS_1