
Meta kehilangan kata kata. Siang itu secara tiba tiba Andrew menyatakan perasaannya dan yang lebih gilanya dia juga merencanakan lamaran untuknya. Sungguh luar biasa nyali Andrew. Padahal Meta hanya berniat main main saja dengannya.
"Kok bengong aja sih Met?" Tanya Andrew sambil kembali menggenggam erat tangan Meta.
lihatlah dia, begitu terang terangan sekali dengan perasaannya ini! Rutuk Meta dalam hati.
"Met!" Panggil Andrew lagi saat melihat meta diam saja seperti habis tersengat listrik tegangan tinggi.
"Eh, iya Ndrew. Sorry.. aku bener bener kaget kamu tiba tiba ngomong hal seserius ini, bener bener gak nyangka aja."
"Bukan tiba tiba Met, aku emang udah lama nyimpen perasaan ini, cuman belum ada kesempatan aja buat ngomong sama kamu, apa kamu udah punya pacar Met?"
Meta langsung menggeleng cepat.
"Engga Ndrew!"
"Lantas?" Andrew tampak tak sabar menunggu gadis dihadapannya menjawab pertanyaannya tadi.
Ini terlalu cepat Ndrew! bagaimana mungkin aku akan menerima lamaranmu sementara yang aku sukai adalah adikmu Arga!
Lagi pula Andrew bukan tipeku sama sekali. Dia terlalu mudah untuk didapatkan!
"Aku perlu waktu untuk memikirkan semuanya Ndrew.. aku tidak siap jika harus menjawab lamaran mu sekarang."
Andrew terlihat sedikit kecewa, namun beberapa saat kemudian dia tersenyum lembut. Tak apa, menunggu masih lebih baik dari pada langsung ditolak.
Dia masih punya kesempatan untuk meraih hati gadis disampingnya ini.
"Baiklah Met.. aku akan sabar menunggu jawabanmu, beritahu aku jika kamu sudah siap untuk menjawabnya!"
Meta mengangguk pelan sambil tersenyum ogah ogahan.
"Oh, iya Ndrew, Arga dirawat dimana? memang dia sakit apa?"
Raut muka Andrew langsung berubah tidak suka ketika Meta mengalihkan topik pembicaraannya ke adiknya itu.
"Di RS Melati. Kenapa? kau kelihatannya begitu peduli pada Arga."
"Tidak, bukan seperti itu!" Meta langsung memutar otak untuk mencari alasan yang pas agar Andrew tak curiga soal perasaannya.
"Argakan adik kamu bagaimanapun juga. Aku hanya penasaran soal keadaannya."
"Yakin hanya penasaran? apa tidak ada alasan lain?"
Meta menggeleng cepat.
Andrew menatap Meta lurus dan menyelidik lewat mata elangnya. Dia curiga karna pernah memergoki meta keluar dari ruangan Arga diluar jam kerja kemarin, apa yang dia lakukan disana?
"Ndrew.." Ucap Meta sambil mengelus lengan Andrew, membuat Andrew menoleh seketika.
"Aku cuman nganggep Arga itu seorang junir, gak lebih Ndrew. Lagi pula dia juga sudah menikah kan? ayolah, masa kamu cemburu sama adikmu sendiri sih!" Meta mencoba tertawa, tawa yang terdengar dipaksakan.
__ADS_1
Andrew hanya diam, mencoba mencari kebenaran dari ucapan Meta.
Meta tampak sedikit panik.
Apakah perasaannya pada Arga bisa terbaca dengan sangat jelas? Gawat! jika Andrew curiga maka rencananya untuk mendekati Arga bisa gatot alias gagal total!
"Ndrew, dengar..kamu itu sebenernya tipeku banget.." Ucap Meta pelan, sejujurnya dia merasa jijik pada ucapannya sendiri.
Kali ini wajah Andrew mendadak cerah. Yes berhasil! sedikit gombalan bisa membalikan keadaan begitu cepat.
"Benarkah Met?" Tanya Andrew antusias.
"Iya Ndrew" Meta menggulum senyum.
Andrew lalu tak bertanya apa apa lagi soal Arga. Seakan lupa. Dia terbawa dalam perangkap yang dipasang Meta.
***
Sementara itu dirumah sakit
Meira nampak sedikit lesu, dia berjalan ke arah lorong sambil mengumpat dirinya sendiri yang terus terusan berdebar ketika disamping Arga.
Dia takut mencari jawaban atas pertanyaannya itu. Takut jika sampai dia hanya merasakan perasaan itu sendirian. Ah! rasanya mau gila!
Lama lama jantung gue bisa lompat kayaknya!
"Meira, tunggu.."Sebuah panggilan menghentikan langkahnya. Meira menoleh, Reihand kini telah berdiri manis dibelakangnya.
"Rei, lo kesini?"Tanya Meira kaget.
"Lo mau jenguk Arga ya?"
Reihand menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terlihat sedikit malu juga canggung.
"Iya Mei, gue ngerasa perlu minta maaf atas semua kesalah pahaman yang terjadi selama ini."
Meira menatap tak percaya namun sejurus kemudian senyum kebahagiaan mengembang diwajah imutnya.
"Nah gitu dong, kan gue seneng liat kalian akur lagi."
"Belum akur Mei, tapi semoga bisa terwujud, itupun kalau Arga bisa memaafkan gue.."
Meira menepuk nepuk punggung Reihand. Mencoba menenangkan pria itu.
"Lo tenang aja, Walau pun tub anak nyebelin tapi dia pasti maafin lo!"
Reihand tertawa mendengarnya, sedikit lega mendengar Meira berkata demikian. Padahal dia sendiri tidak yakin Arga akan memaafkannya setelah apa yang terjadi selama ini. Menurutnya kesalahannya memang terlalu besar.
Jujur saja, dia merasa sangat gugup harus bertemu Arga. Padahal ini hanya pertemuan biasa. Bukan pertemuan pertemuan menegangkan seperti kemarin kemarin. Bukan sedang ingin tawuran apa lagi perang senjata yang pernah mereka lakukan.
Tapi kenapa rasanya pertemuan kali ini lebih membuat nyalinya ketar ketir. Apa karna pertemuan kali ini dia menanggung beban untuk sebuah permohonan maaf, karna Reihand menemui Arga bukan sebagai pentolan Jayakarta lagi melainkan sebagai seorang sahabat.
__ADS_1
Sahabat yang sudah lama tidak saling bertegur sapa. Sahabat yang sudah lama tercerai berai akibat kebodohannya sendiri.
Reihand menghentikan langkahnya ketika sampai di depan pintu kamar Arga. Meira menatapnya bingung.
"Kok berenti?"
"Gue gak yakin Mei Arga bakal mau nerima kedatangan gue.."Ucap Reihand lirih.
Meira meringis geli melihat kegugupan diwajah Reihand. Rasanya Meira seperti sedang melihat Reihand hendak mengapeli seorang cewek untuk pertama kalinya.
"Udah lo tenang aja, Arga gak bakalan nolak kedatangan orang yang mau jenguk dia, meskipun lo sih yang udah bikin dia bonyok kayak sekarang.."
"Tuhkan.." Reihand langsung menyetel tampang bersalah.
Tawa Meira langsung meledak. "Becanda Rei, becanda!"
Meira pun segera membuka pintu. Dengan ragu Reihand mengikuti langkahnya dari belakang.
Dia membeku ketika menatap Arga tengah tidur di ranjang. Wajahnya tampak kaget melihat kedatangannya, namun sedetik kemudian dia mencoba menguasai dirinya lagi dan mencoba bersikap biasa saja.
"Gue keluar dulu ya, gue lupa mau beli sesuatu dikantin. Kalian berdua ngobrol aja!" Ucap Meira berbohong.
Setelah mengatakan itu, Meira segera mengambil langkah seribu bayangan. Dia langsung melesat keluar kamar demi memberikan Reihand kesempatan untuk bicara empat mata dengan Arga.
Beberapa saat mereka hanya diam, saling sibuk dengan pikiran masing masing.
Reihand pun mendekati ranjang Arga dan memindahkan bingkisan buah buahan ditangannya ke atas meja disebelah ranjang.
Arga hanya melirik sesaat tanpa berkata apapun.
Reihand menarik napas dalam dalam. Mencoba mengingat kembali niat awalnya datang kerumah sakit ini. Oke, gue harus selesein ini sekarang! Cuman perlu minta maaf, setelah itu gue akan langsung cabut dari sini! gumamnya dalam hati.
"Ga.." Reihand membuka percakapan. Suaranya terdengar sedikit sumbang.
Arga hanya diam, namun sepasang matanya kini menatap Reihand lurus. Reihand tak bisa membaca ekspresi Arga. Apakah dia senang ataukah dia marah atas kedatangannya ini.
"Gue.." Reihand tampak berat melanjutkan kalimatnya, namun dia mencoba menegakan kepalanya. Dia laki laki, dan pantang untung mundur sebelum menyelesaikan misinya.
"Gue minta maaf Ga, soal.."
"Lupain aja Rei, semuanya udah berlalu, gak perlu bahas soal itu lagi."Potong Arga kemudian.
"Tapi gue emang salah Ga, gue ngerasa harus minta maaf untuk semua kekacauan yang selama ini gue perbuat." Ucap Reihand diplomatis.
"Gue terlalu gampang menyimpulkan sesuatu tanpa menyelidikinya lebih dulu, gue bahkan gak dengerin lo saat lo bilang bukan lo pelakunya!"
Arga tersenyum kecil. Reihand memang sangat menyebalkan kemarin kemarin sampai rasanya dia ingin sekali mencincang Reihand hidup hidup, sebegitu menyebalkan nya dia, tapi mau bagaimanapun Arga sudah melupakan soal itu.
Bertahun tahun dia sudah menahan diri dicemooh dan dituduh atas sesuatu yang tidak pernah dia perbuat sama sekali.
Baginya, Reihand sudah tau kebenarannya saja sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
"Maaf.. gue bener bener nyesel." Ucap Reihand sungguh sungguh.
bersambung