Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Keusilan Stella


__ADS_3

Saat Bel pelajaran pertama berbunyi, Meira langsung buru buru menghampiri meja Flo.


"Flo.."


Flo mendongak dan tersenyum saat sadar dengan kehadiran Meira.


"Mei, mau ke kantin?" Tanyanya seperti tidak sedang terjadi apa apa.


"Lo kenapa pindah kesini? berantem sama Widya?" Tanya Meira dengan ekspresi muka tegang. Meira berusaha memelankan suaranya serendah mungkin. Tidak ingin ada siapapun yang mendengar percakapannya dengan Flo ini.


Dia melirik Widya dan Reihand yang sudah sampai diambang pintu kelas. Mereka terlihat pergi keluar kelas tanpa menoleh ke arah Meira dan Flo.


Fuih. Meira menghembuskan nafas lega, setidaknya objek pembicaraannya sudah tidak ada di sekitar kelas situ.


Flo hanya menggeleng sambil tersenyum, lagi lagi senyum itu terlihat menyayat bagi Meira.


Meira cemas telah terjadi sesuatu diantara Widya dan Flo. Hubungan keduanya kan sedang tidak akur akhir akhir ini.


"Gue gak apa apa kok Mei, yuk kita jajan."


Meira mengangguk tapi hatinya masih tetap penasaran. Sebenarnya ada apa? pasti terjadi sesuatu diantara mereka.


Meira berjalan sambil terus memperhatikan Flo. Flo tampak tenang seperti tidak sedang terjadi masalah apapun, sesekali dia bahkan membalas tatapan Meira dengan seulas senyum.


Ah, gadis ini kurang lebih punya sifat sama seperti dirinya, menutup diri dan tidak ingin orang lain terbebani dengan masalahnya.


"Oh iya Mei, kapan kapan main kerumah ya, nyokap katanya pengen makan bareng sama lo."


"Sama gue?" Meira terkejut sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, Mei, lo kan udah baik banget kemaren mau ngajak gue jalan jalan ke tempat yang indah banget."


"Ah, elo Flo. Pake acara terima kasih segala, kaya ke siapa aja sih!"


"Tetep aja Mei, nyokap pengen ngucapin makasih langsung kayaknya, dari kemaren ngomong terus pengen ketemu sama lo."


Meira terdiam dan tampak berpikir.


"Ntar deh ya gue ijin sama Arga dulu, lo taukan dia gak gampang ngebolehin gue kemana mana sejak hamil."


"Iya Mei, gue tahu, gue tunggu ya kabar selanjutnya, kalau bisa kabarin gue aja lo mau kerumahnya kapan, biar gue sama nyokap biar bisa siap siap masak buat lo."


"Ah, gak usah repot repot sih Flo!" Tolak Meira merasa tidak enak.


Flo dan Ibunya memang sangat baik, beberapa kali dia sempat main kerumah Flo.


"Nah, tuh anak anak, yuk gabung sama mereka." Meira langsung menggandeng tangan Flo begitu mereka sampai di dalam kantin kampus.


"Arga mana?" Tanya Meira saat dia tidak melihat suaminya di meja panjang itu.


Hanya ada , Reihand, Manji, Farel dan Widya.


"Tadi lagi ke toilet bentar." Jawab Farel.


Flo duduk di dekat Farel, sengaja mengambil tempat duduk paling jauh dengan Reihand.


Widya menaikkan salah satu sudut bibirnya. Merasa sangat puas ketika Flo bersikap tahu diri. Harusnya memang begitu dari dulu, jangan berani mendekati Reihand walau hanya duduk disampingnya.


"Sayang kamu udah disini?" Arga tiba tiba merengkuh tubuh Meira dari belakang.


Meira menoleh kaget, namun Arga malah mengecup pipinya di depan semua orang.


"Sayang! malu tahu!" Protes Meira sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan.

__ADS_1


"Ngapain malu? kamu punya suami keren kayak aku harusnya bangga sayang!" Kata Arga dengan pedenya.


Meira melotot kalau mencubit perut Arga, pria itu meringis kesakitan.


"Iya iya sayang, becanda."


Semua tersenyum geli melihat tingkah pasangan suami istri ini.


"Aku pesenin jus alpukat nih buat kamu tanpa gula." Kata Arga sambil menaruh segelas jus alpukat ke depan Meira.


Kedua alis Meira kontan terangkat.


"Tumben."


"Tuh, kata si Farel alpukat bagus buat ibu yang sedang hamil." Jawab Arga polos, dia kemudian duduk disamping Meira sambil melingkarkan tangannya di bahu gadisnya itu.


Semua kini beralih menatap Farel sambil meringis geli. Begitupun Meira, senyum lebar kontan tercetak di bibirnya.


"Lo udah pindah jurusan jadi spesialis kandungan?" Celetuk Manji.


"Ngapain pindah jurusan buat tahu apa aja yang bagus dimakan saat masa kehamilan, ada mbah google kali, norak lo!" Sungut Farel tak terima dibilang di pindah jurusan.


"Hahaha becanda kali, sewot aja lo kaya lagi dateng bulan aja sih lo." Jawab Manji tak kalah sewot.


"Loh emang gue lagi dateng bulan, gak liat lo gue lagi sensi gini!"


Manji terkikik begitupun yang lain.


"Rei, tanding basket akhir bulan inikan?" Tanya Arga, kini matanya gantian menatap Reihand.


Reihand mengangguk sambil menyeruput es jeruk ditangannya. Kemudian tangannya yang lain sudah menyambar gorengan diatas meja.


"Lo main gih, gue bisa kosongin satu tempat kalau lo mau turun." Kata Reihand sambil menatap balik Arga.


"Slow lah, turunin tim inti aja, gue bakal turun kalau ada yang halangan."


Reihand hanya manggut manggut. Dia tidak ingin memaksa karna percuma, Arga bukan tipe orang yang bisa dipaksa.


Flo yang sibuk menyeruput es teh langsung mengeluarkan ponselnya begitu mendengar nada dering panggilan masuk berbunyi.


Flo menyipitkan matanya saat melihat ternyata panggilan masuk dari Stella, ekspresi wajahnya mendadak terlihat malas.


"Gue angkat telpon dulu ya.." Ucapnya pada Meira yang duduk dihadapannya.


Meira mengangguk. Flo langsung berjalan ke pinggir kantin, tempat dimana tidak terlalu banyak orang berlalu lalang. Widya membuntuti pergerakan Flo dengan kedua bola matanya yang menyiratkan kesenangan. Pasti dari Stella! pasti Stella mau mengerjainya lagi.


"Halo, apaan?" Flo menjawab telpon Stella dengan nada malas.


"Beliin gue minum, haus banget nih, bawa ke gudang belakang ya! beliin aqua botol yang gede, buruan gak pake lama, 2 menit udah harus sampe sini dan jangan sampe ada orang yang liat terutama Manji. Awas kalau sampai Manji tau, abis riwayat lo!" Ancam Stella dengan nada tajam.


"Lo gila apa! lo pikir gue.."


"Lo kacung gue! lo lupa?" Potong Stella di dalam telpon.


Flo menarik nafas panjang, berusaha membesarkan kesabarannya yang sudah setipis kertas.


Akhirnya karna lagi lagi dengan alasan mempertahankan Salon Ibunya, Flo menuruti perintah Stella, meski di dalam hati dia mengumpat sikap nenek lampir yang sudah sangat keterlaluan itu.


Flo menutup telpon, waktu yang diberikan Stella sangat pendek. Kadang kadang dia ingin sekali menjambak kepala Stella dan membenturkannya ke tembok.


Jarak antara kantin dan gudang belakang saja cukup jauh, dia harus melewati beberapa fakultas karna gudang belakang letaknya memang terpencil diantara bangunan yang lain. Gudang itu biasa digunakan pihak kampus untuk menyimpan peralatan yang sudah tidak terpakai, seperti kursi dan meja yang sudah rusak.


Flo menyambar tasnya di kursi dan mengalungkan di salah satu bahunya.

__ADS_1


"Mau kemana, Flo." Tanya Meira.


Reihand dan yang lainnya ikut menoleh penasaran.


"Gue ada urusan bentar, kalian lanjutin aja makannya."


Setelah itu Flo berlari ke arah konter, dia membeli sebuah botol air mineral ukuran besar dan menggendongnya keluar kantin.


Widya bersiul dalam hati, sepertinya Stella sedang menjalankan aksinya lagi untuk menjahili Flo, tinggal menunggu kabar selanjutnya tentang nasib malang yang akan menimpa Flo.


Sementara di tempat duduknya, entah kenapa Reihand merasa ada sesuatu yang tidak beres.


Dia harus mencari tahu kemana perginya Flo. Gadis itu terlihat kesal dan tertekan belakangan ini.


Di gudang belakang.


Flo lari pontang panting sambil menggendong sebotol air mineral di depan dadanya.


Dia membungkukkan badan sambil berusaha mengatur nafasnya yang terasa hampir habis.


Dari kantin sampai ke depan pintu gudang ini, Flo terus berlari tanpa jeda, otot oto kakinya sampai tegang.


Setelah merasa lebih baik, Flo kembali berdiri tapi dia bingung melihat pintu gudang yang tertutup. Bukankah nenek lampir itu tadi menyuruhnya kemari?


"Lama banget sih lo!"


Flo menoleh kaget, dibelakangnya sudah berdiri Stella dan kedua antek anteknya, mereka memandang Flo dengan tatapan mengejek.


Melihat keringat yang membanjiri sekujur tubuh Flo, Stella merasa sangat puas.


Pasti gadis ini lari sekencang kencangnya untuk bisa sampai ke tempat ini.


Antek antek Stella membuka pintu gudang belakang. Lalu salah satu diantaranya mendorong tubuh Flo untuk masuk kesana dengan paksa.


"Gak usah dorong dorong!" Flo menepis tangan temannya Stella itu.


Stella tertawa kemudian ikut masuk juga ke dalam sana.


"Lo ngapain sih disini? mau semedi? lagian minum doang pake acara ngumpul disini, lo gila kali ya!"


"Halah banyak omong! mana airnya!" Stella mengulurkan tangannya.


Flo menyerahkan botol air yang dibawanya ke tangan Stella, dia mencibir kesal saat antek antek Stella terus tertawa seperti orang gila.


Stella membuka tutup botol, tanpa diduga duga kedua antek antek Flo menyergap tubuh Flo dari belakang, mereka memegangi tangan Flo dari samping kiri dan kanan dengan sangat erat.


Flo tersentak, buru buru dia berontak dan berusaha melepaskan diri.


"Apa apaan nih, lepasin gue!"


"Hahaha enak aja ngelepasin lo! belom juga kita mulai!" Stella menyunggingkan senyum lebar yang tercetak di wajah cantiknya.


"Mulai apaan?" Flo mulai panik, sepertinya ada yang tidak beres yang sedang di rencanakan Stella.


"Lo liat aja sendiri apa yang bakal gue lakuin sama lo!"


Stella membuka tutup botol dan mengangkat botol air itu ke atas kepala Flo.


Refleks Flo menggeleng dan mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kedua teman Stella yang sedang memeganginya.


Tapi usahanya gagal, dua lawan satu jelas saja Flo kalah, apalagi kedua teman Stella itu punya postur badan lebih besar dan tinggi dibanding dirinya.


Seketika Flo mengerjap saat merasakan air mengguyur diatas kepalanya. Stella terbahak sambil terus mengguyur tubuh Flo dengan air di dalam botol yang ditumpahkannya ke atas tubuh gadis itu.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2