
Setelah mendapatkan informasi tentang Meta dari mang Udin, Andrew langsung melajukan kembali mobilnya ke jalanan.
Dia mengusap dagunya sendiri sambil memikirkan langkah selanjutnya. Dia sangat merindukan Meta, dia ingin sekali bertemu dengan gadis itu.
"Aku harus secepatnya kerumah besar, aku harap bisa bertemu Meta disana." Ucap Andrew antusias.
Andrew pun melajukan mobilnya lebih cepat membelah jalanan ibu kota yang lumayan padat.
Cit
Setelah setengah jam berjuang melewati kemacetan yang parah, mobil Andrew pun berhenti tepat didepan gerbang kawasan tempat tinggal super elit besar milik keluarga Alexander.
Andrew terdiam dibelakang stir kemudi, pandangannya lurus menatap ke depan, di depan gerbang itu dia melihat banyak sekali satpam yang berjaga, tidak sembarang orang bisa masuk kesana, dia tahu betul siapapun yang hendak masuk akan diperiksa dengan sangat terperinci.
Dengan kondisinya yang sedang buron mustahil bagi Andrew bisa masuk kesana, Arga pasti sudah memberitahu setiap penjaga untuk menangkapnya jika sampai mereka melihatnya.
Akhirnya Andrew hanya bisa menunggu didekat gerbang tanpa bisa berbuat apa apa.
Di sebuah restoran khas jepang
Meta melirik jam ditangannya berkali kali sementara tangan kanannya sibuk mengaduk ngaduk es kopi tanpa berniat menyeruputnya.
"Sayang, maaf ya aku telat!" Seorang pria bertubuh jangkung tiba tiba memeluknya dari belakang dengan mesra, mencium pucuk kepalanya.
"Ih, aku nungguin dari tadi loh mas!" Kata Meta sambil cemberut berat.
Pria yang seusia dengannya itu hanya garuk garuk kepala, merasa tidak enak karna memang dia telat dari jam janjian.
"Maaf sayang, you know lah jakarta macet banget! tapi kamu harus tau aku abis ke suatu tempat dulu buat beliin kamu sesuatu yang spesial," Pria itu menyerahkan sebuah paper bag kecil kehadapan Meta.
Meta mengernyit dan melihat pria itu dengan tanda tanya.
"Buka deh! kamu pasti suka, jangan cemberut lagi dong sayang, please."
Meta akhirnya membuka paper bag itu, dia tersentak ketika melihat kotak perhiasan dengan logo toko yang lumayan terkenal.
"Inikan?!"
Pria itu tampak puas melihat keterkejutan diwajah Meta.
"Iya, ini kalung diamond, aku beli ini khusus buat kamu sayang,"
"Denis, ini cantik banget!" Kata Meta, suaranya yang ketus tadi mendadak lembut.
Meta mengeluarkan kalung itu dari kotaknya.
__ADS_1
"Sini aku pakein ya." Denis berdiri dan mengambil kalung itu dari tangan Meta.
Meta menyibakkan rambutnya ke atas agar Denis bisa lebih leluasa memasangkan kalung itu di lehernya.
"Tuh kan aku bilang apa, pasti cantik banget kalau kamu pake." Denis mencium pucuk kepala Meta lagi.
Gadis itu menunduk memandangi kalung yang kini telah bertengger manis dilehernya. Sudah lama dia ingin sekali membeli kalung ini, dia bahkan sudah menabung demi bisa membawa pulang salah satu perhiasan incaran para kaum sosialita ini.
"Denis, ini.." Meta menyentuh tangan Denis, dia kehabisan kata kata.
Setelah keluar dari rumah besar keluarga Alexander, Meta malah bertemu lagi dengan mantan pacarnya sewaktu dikuliahan.
Denis adalah salah satu mantan Meta yang paling royal, dia juga berasal dari kalangan ekonomi atas meski tidak sekaya keluarga Alexander.
"Kamu suka sayang?" Tanya Denis sambil tersenyum lebar.
Meta mengangguk, dia berdiri dan merentangkan tangannya.
"Peluk!"
Denis tak menyianyiakan kesempatan, pria itu lantas berdiri dan memeluk Meta dengan erat.
...***...
Dikampus Mandala.
"Kenapa gak keluar luar sih si Meira, gue khawatir nih, apa penyakitnya serius ya?" Tanya Flo sambil berusaha mengintip dibalik jendela, namun sebenarnya sia sia saja karna jendela itu tertutup gorden hijau di dalamnya.
"Hush ngomong sembarangan aja kamu!" Sanggah Widya.
Tak lama pintu pun terbuka. Mereka melihat Arga keluar dengan menggendong tubuh Meira dari depan.
"Udah aku bilang, aku masih kuat jalan Ga, please turunin aku sekarang!" Pinta Meira, kedua pipinya memerah, dia malu karna sekarang semua orang di depan ruang kesehatan memperhatikannya.
Arga menggelengkan kepala.
"Gak, aku gak mau ambil resiko, kamu denger sendiri kan tadi apa kata dokter, kamu gak boleh kecapean!"
"Aku gak kecapean, kan cuman jalan doang!"
Widya dan Flo saling berpandangan heran, kemudian mereka mendekat ke arah Arga begitupun dengan Manji dan Farel.
"Emang dokter bilang apa bos? Meira kenapa?" Tanya Manji yang jadi ikut penasaran.
Bukannya menjawab Arga malah senyum senyum sendiri.
__ADS_1
"Kalian sebentar lagi bakal punya keponakan!" Kata Arga setengah berteriak, aura kebahagiaan jelas terpancar diwajah tampannya.
Lagi lagi dia mencium kepala Meira tanpa peduli orang orang disekitarnya yang ternganga mendengar ucapannya barusan.
"Maksud kamu Meira hamil?" Widya yang pertama langsung konek.
Meira bersembunyi di dada bidang Arga, sudah tidak tahu harus menatap teman temannya dengan wajah bagaimana, dia senang namun sekaligus malu sendiri.
"Iya, Meira sedang hamil, sudah jalan 4 minggu." Kata Arga sambil nyengir lebar. Lagi lagi sang pentolan kampus yang menjawab dengan wajah berbinar.
"Aish ya ampun selamat ya Arga, Meira. Gak nyangka gue bentar lagi bakal ada Arga junior!" Farel langsung merengkuh bahu Arga, semuanya ikut senang mendengar kabar baik itu.
Arga mangut mangut, dilihat dari sudut manapun wajah itu begitu memancarkan aura kebahagiaan yang tak terhingga.
"Ouh iya gue mau balik dulu ya nganterin Meira pulang." Kata Arga tiba tiba.
"Eh, kok pulang? kelas aku baru mau mulai Ga!" Meira tiba tiba mendongak.
"St! mulai sekarang kamu cuti kuliah aja, kehamilan kamu lebih penting dari apapun!"
Dia ngomong apa si?
Meira panik dan berusaha turun dari gendongan namun Arga malah semakin mempererat tangannya di lengan dan di paha Meira, mendekap gadis itu lebih kencang.
"Arga lepas!" Pinta Meira bersikeras, digoyangkan kakinya sekuat tenaga agar bisa turun dari gendongan.
"Enggak!" Tolak Arga telak. Dia pun berjalan meninggalkan lorong ruang kesehatan, teman temannya spontan mengikuti dibelakang.
"Ga, kayaknya emang terlalu berlebihan deh, Meira kan cuman mau kuliah bukan mau kerja bangunan!" kata Farel mencoba memberi pengertian pada calon papa muda itu.
Arga menghela nafas dan berhenti, dia berbalik menatap Farel.
"Emang lo pikir nulis, ngerjain tugas dan ngedengerin dosen ngoceh itu gak butuh tenaga? gue gak mau Meira kecapean, dia lagi hamil muda, lo tau apa sih rel tentang ibu hamil?!" Kata Arga sambil melotot.
Apa dia bilang? astaga gue emang gak tau soal hamil hamilan, tapi gak segitunya juga setahu gue, buktinya waktu nyokap gue hamil guez dia masih bisa tetep kerja di kantor! gerutu Farel dalam hati.
Farel menepuk jidatnya sendiri.
Sementara Manji dan yang lainnya melongo mendengar jawaban Arga.
"Udah udah, cukup! turunin aku Ga, please, aku baik baik aja, aku masih punya kekuatan buat belajar!"
"Enggak! sekali aku bilang enggak ya enggak! jangan bikin aku ngulang apa yang aku ucapin! kamu jangan ngebantah terus bisa?" Arga masih bersikeras.
Dia meneruskan langkahnya kembali ke arah gerbang kampus tanpa memperdulikan protes yang keluar dari mulut teman temannya lagi.
__ADS_1
Meira memberikan isyarat dengan mengibaskan tangan pada teman temannya agar tidak mengikuti mereka lagi, dia kenal betul suaminya, Arga memang tidak pernah mau menerima bantahan siapapun.
Akhirnya Meira hanya bisa menghela nafas kesal, dia duduk pasrah ketika Arga memasukan tubuhnya ke dalam mobil.