
Di pasar X di kota Jakarta.
Jam menunjukkan pukul 18.30 wib.
"Hei, hati hati dong!" Flo memarahi segerombolan wanita yang terlihat menabrak seorang Ibu Ibu paruh baya di depannya. Seketika keranjang belanjaan yang di pegang Ibu itu jatuh ke tanah dan isinya seketika berhamburan keluar.
"Tante gak apa apakan?" Tanya Flo buru buru menghampiri sambil membantu mengambil sayuran Ibu itu yang terjatuh akibat di tabrak segerombolan wanita tadi.
"Tante gak apa apa, terima kasih ya nak."
Flo mengangguk. Tangannya dengan cekatan ikut membantu merapihkan belanjaan si Ibu dan memasukkan kembali ke dalam keranjang.
"Nama kamu siapa?" Tanya Ibu itu sambil memperhatikan wajah Flo.
"Nama saya, Flo Tante." Flo tersenyum sopan.
"Keliatannya kamu seusia deh sama anak ibu.."
"Oh, Iya Tante?" Flo hanya tersenyum.
"Iya, kenalin nama Tante Dian." Ibu itu mengulurkan tangannya, Flo menyambutnya dengan senyum ramah.
"Oh iya, Tante Dian kesini sama siapa? biar saya bantu bawain keranjang belanjanya kalau bawa kendaraan." Tawar Flo. Dia kembali berdiri setelah selesai membereskan belanjaan yang bercecer di tanah.
"Mobil Ibu ada di pinggir jalan sana sih, tapi ngerepotin enggak? Ibu soalnya bawa mobil sendiri gak ada yang bantuin masuk masukin ini semua makanya Ibu langsung bawa semuanya kaya gini, biasanya ada yang bantuin bawain." Ibu Diana menunjuk belanjaannya yang memang lumayan banyak.
"Yaudah saya bantuin ya Tante, kasian ini belanjaannya banyak banget pasti repot bawa sendiri."
"Bener gak masalah kamu bantuin Tante?"
"Iya Tante engga kok. Lagian saya juga udah belanjanya tadi." Flo menunjukkan plastik belanjaannya yang berisi bawang bawangan.
"Yaudah yuk Tante tunjukkin dimana mobilnya Tante.."
Mereka pun berjalan ke arah parkiran pasar.
Tante Dian menghampiri sebuah Mobil putih terparkir di dekat gerobak bakso.
"Ini mobil Tante, Flo. Tante minta tolong masukin di bagasi belakang mobil aja ya, maaf Tante ngerepotin nih jadinya."
"Santai aja Tante.."
Flo mulai memasuk masukan semua belanjaan yang dibantu dibawanya ke dalam bagasi mobil Tante Dian.
"Terima kasih ya, Flo."
"Sama sama Tante, kalau gitu saya pamit dulu ya.."
"Tunggu dulu, Flo."
Tante Dian mencegat tangan gadis itu saat hendak pergi meninggalkannya.
"Ada apa Tante?" Kening Flo berkerut.
"Kamu kan udah baik mau nolongin Tante, Tante traktir kamu makan ya? jangan nolak ya please. Tante ngerasa ketolong banget tau Flo sama kamu."
"Ya ampun Tante. Gak usah repot repot. Aku seneng bisa bantuin Tante, lagian cuman bantuin bawa barang belanjaan doang."
"Tetep aja Tante ngerasa berhutang budi sama kamu. Mau ya Tante ajak ke kedai makanan milik Tante, Tante pengen kamu makan mie ramen buatan Tante."
"Mie ramen?" Seketika makanan dengan kekenyalan hakiki itu berputar di sekitar kepala Flo.
Ah, enak juga sih makan mie ramen di jam jam rawan kaya gini, apalagi kebetulan Flo juga belum makan malam.
"Iya, Flo. Gimana? mau ya? soalnya Tante gak pengen punya hutang budi sama orang, ntar Tante kepikiran terus loh."
Flo terus menolak, tapi Tante Dian sepertinya tidak mau menyerah dengan permintaannya.
Jarang sekali menemukan anak muda yang punya sifat baik seperti Flo di kota ini. Makanya dia ngotot pengen ngajak makan Flo di kedainya sebagai ucapan rasa terima kasih juga sebagai bentuk rasa syukurnya sudah di pertemukan dengan gadis baik ini.
"Gimana, Flo? yuk keburu malem nih. Nanti pulangnya biar dianterin sama anak Tante." Bujuk Tante Dian lagi.
"Aduh Tante tambah ngerepotin malah nantinya, gak usah deh makasih banyak Tante."
"Gak apa apa beneran, Flo. Udah yuk naik ke mobil." Ajak Tante Dian masih mencoba merayu Flo. Kali ini bukan hanya rayuan tapi Tante Dian langsung menggandeng tangan Flo dan memaksa gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
Akhirnya dengan terpaksa Flo menerima tawaran Tante Dian untuk ikut ke kedai mie ramen nya.
Di dalam kendaraan.
"Rumah kamu dimana emang, Flo?"
"Deket kok Tante dari pasar tadi cuman jalan kaki lima menit. Rumah aku ada di jalan X"
"Ouh gitu, yaudah kalau gitu pulangnya nanti biar dianterin sama anak Tante aja, ya? Tante tadi kerepotan banget kalau gak ada kamu, tante seneng banget udah di tolongin sama kamu."
"Gak usah Tante, aku malah nanti jadinya ngerepotin anak Tante. Sebenernya Tante juga gak usah repot repot traktir aku makan, aku bantuin Tante tadi ikhlas serius." Kata Flo.
"Lah Tante juga serius, Flo. Kamu mah nolak mulu, lagian cuman makan ramen aja. Kebetulan Tante emang abis belanja juga buat bahan jualan besok, itu keranjang yang kamu bantuin beresin tadi itu belanjaan buat bikin Mie Ramen."
"Tante punya kedai Mie Ramen?" Tante Dian mengangguk sambil terus fokus menyetir.
Flo memperhatikan desian mobil mewah yang dikendarai Ibu paruh baya di sampingnya. Sepertinya Ibu ini berasal dari kalangan orang kaya. Dari pakaian dan tas branded yang dikenakannya saja Flo sudah bisa menebak.
__ADS_1
"Iya, Flo. Nah kita udah sampai nih di kedai Tante. Yuk turun."
Tante Dian turun lebih dulu. Disusul Flo disebelahnya.
Flo tersentak saat melihat sebuah bangunan kedai lantai dua dengan desain jaman belanda. Pilar pilar besar menjulang di setiap sisi bangunan.
Desainnya unik.
"Yuk masuk, Flo. Kedai tante tutup jam sepuluhan."
Flo mengangguk angguk.
Baru saja mereka mau melangkah ke dalam kedai tiba tiba terdengar raungan suara motor mendekat, Seketika Flo menghentikan langkahnya. Begitupun dengan bunyi motor itu yang mati tiba tiba.
Flo berbalik sementara sang pengemudi yang membawa motor menaikkan kaca helmnya setelah mesin motor dimatikan. Meski hanya melihat sekilas, dan hanya dari angel belakang tubuh tapi sang pemilik motor kenal betul siapa orang yang sedang berjalan di samping Mamahnya.
"Flo!" Reihand terperangah, membeku di tempatnya. Begitu pula dengan Flo dia sampai terbelalak dengan mulut yang terbuka lebar.
Mereka sama sama tidak menyangka akan bertemu di tempat ini.
Reihand langsung melompat turun dari motornya, tak peduli motornya belum diparkir dengan kondisi yang benar.
Refleks Flo mundur saat cowok itu semakin mendekat.
"Flo. Bener kan gue gak salah liat! ternyata beneran elo" Reihand menyipitkan matanya sambil membungkukkan wajahnya. Sontak wajah itu berubah sumringah saat melihat gadis yang disukainya ada di kedai mamahnya.
"Loh, kalian saling kenal? Reihand ini temen kamu?" Tanya Tante Dian.
Kedua alis Flo bertaut, belum hilang keterkejutannya sekarang dia malah semakin bingung dengan pertanyaan Tante Dian yang tak lain ternyata adalah Ibunya Reihand.
"Iya, ini Flo. Temen sekelas Reihand di kampus mah, kok dia bisa sama mamah?" Reihand membuka helmnya menaruhnya lagi lagi asal di atas meja resepsionis.
Ibunya sampai menatapnya heran melihat tingkah Reihand yang sepertinya bahagia sekali dengan kedatangan Flo.
Untuk kesekian kalinya Flo tersentak ketika Reihand memanggil Tante Dian di sebelahnya dengan panggilan 'Mamah'
Ya Tuhan, jangan bilang ini Ibunya Reihand!
"Iya, ini Flo tadi nolongin mamah waktu di pasar. Ada yang nabrak mamah terus belanjaan mamah pada jatuh. Untung aja ada Flo yang bantuin mamah beresin sekaligus bawain belanjaan mamah ke mobil Rei, kalau gak ada dia pasti mamah udah kerepotan banget." kata Ibu Reihand menceritakan kronologi bertemunya dia dengan Flo.
"Oh." Reihand mengangguk angguk sambil senyam senyum ke arah Flo. Kening Ibu Flo sampai berkerut melihat sikap anaknya yang tiba tiba jadi aneh begini.
Dunia sesempit itu ternyata! gumam Reihand dalam hati.
"Yaudah masuk ke dalem yuk!" Ajak mamahnya Reihand sambil mempersilahkan Flo masuk.
Flo menurut tapi pikirannya masih belum sepenuhnya sadar. Ada apa ini, jadi ternyata Tante Dian itu Ibunya Reihand? Ya Tuhan kenapa bisa kebetulan begini!
Sontak Flo melotot dan menyuruh Reihand melepaskan tangannya, tapi pria itu malah acuh.
Di tariknya paksa tubuh itu hingga otomatis mengikuti langkahnya dari belakang.
Dengan menyunggingkan senyum jumawa, di bawanya gadis itu ke lantai atas tempat dimana ruangan khusus untuk istirahat para pegawai.
"Mah, Reihand tungguin di atas ya!" Teriak Reihand.
Flo melotot, samar samar dia mendengar sahutan 'ok' dari ruangan yang di depannya bertuliskan Kitchen.
Sepasang mata Reihand menyapu ruangan. Dia melirik ke arah balkon, memang ada dua bangku dan satu meja disana. Balkon itu tidak terlalu besar tapi pemandangan yang terlihat dari atas sana lumayan bagus saat malam hari begini.
"Yuk, kita duduk disana."
Reihand lagi lagi menarik paksa tangan Flo hingga gadis itu mau tak mau mengekor dibelakang punggungnya.
Saat sampai di balon. Reihand menarik salah satu kursi yang terbuat dari kayu jati dan menekan bahu Flo untuk duduk.
Flo menurut meski wajahnya terlihat sangat kesal.
"Dunia sempit banget ya.." Kata Reihand sambil ikut duduk di kursi yang satunya. Mereka kini saling duduk berhadapan.
Flo meremas tangannya, berusaha mengusir canggung yang tiba tiba hadir diantara mereka berdua.
"Thanks ya udah bantuin nyokap gue!" kata Reihand lagi tulus dan tanpa maksud apapun.
Flo masih diam. Jadi anak Tante Dian yang tadi dimaksud seumuran dengannya itu ternyata Reihand.
"Flo, ini Ramen nya datang.." Tante Dian tiba tiba datang ke hadapan mereka dengan membawa nampan yang berisi semangkuk Mie Ramen dengan toping telur rebus yang terlihat sangat menggugah selera.
Flo berdiri dan membantu Ibunya Reihand menaruh Ramen itu di atas meja.
"Tante, maaf ya jadi ngerepotin kan aku." Kata Flo, jadi merasa tidak enak hati.
"Engga kok Flo. Tante malah seneng banget kamu main kesini, mana ternyata kalian saling kenal lagi, tuh liat aja mukanya Reihand, gak pernah tante liat dia seneng kaya gitu.." Goda Ibu Reihand sambil mengedipkan satu matanya pada Reihand sambil cekikikan.
Ibu Reihand sepertinya paham kalau Reihand menyukai Flo. Terlihat jelas dari gerak geriknya sejak melihat Flo tadi.
"Apaan sih mah!" Reihand menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Tapi tak dapat memungkiri semua yang di ucapkan Mamahnya memang benar adanya.
"Selamat menikmati ya, Flo. Tante ke bawah dulu. Temenin Flo ya Rei, jangan bikin Flo gak nyaman disini.." Ada nada tersirat yang bisa Reihand tangkap dari cara Mamahnya berbicara. Seolah mengatakan selamat berjuang mendapatkan gadis ini Reihand. Begitu maksud yang Reihand tangkap.
Reihand mengangguk sambil mengacungkan jempolnya kepada Mamahnya. The best emang Mamahnya satu ini.
Setelah Mamah Reihand turun ke lantai bawah. Tinggallah mereka berdua di balkon lantai atas, canggung dengan situasi yang ada.
__ADS_1
Flo melihat ada beberapa pegawai kedai itu yang terlihat sedang membereskan beberapa peralatan disalah satu ruangan yang ada di sebelah balkon.
Pintu balkon memang tidak di tutup jadi aktifitas di sebelah ruangan masih bisa terlihat dengan jelas.
"Dimakan dong Mie nya, kalau dingin nanti rasanya kurang enak."
Flo baru tersadar. Buru buru dia mengambil sumpit dan mengaduk mie yang terlihat masih mengepulkan asap di atasnya. Dari aromanya saja sudah sangat menggugah selera makannya.
Slrup.
Flo menyeruput kuah Mie Ramen itu lebih dulu. Seketika matanya terbelalak.
"Wah, enak banget!!" Katanya dengan wajah berbinar. Rasa kuahnya benar benar gurih.
"Serius enak?"
"Iya enak banget Rei."
Flo mengambil mie dengan sumpit dan segera memindahkannya ke dalam mulut.
Flo tak hentinya berdecak saat menikmati setiap suapan demi suapan Mie Ramen kedalam mulutnya.
Mulutnya sibuk mengunyah sementara matanya terus mengekspresikan rasa kagum atas hidangan yang telah di buat oleh Mamahnya Reihand ini.
"Pelan pelan makannya." Kata Reihand lembut.
Sepasang mata coklat itu menatapnya lurus. Reihand bahagia melihat Flo makan begitu lahap. Sesuatu seperti potongan rumput laut tertinggal di mulut Flo. Tanpa sadar tangannya terulur mengusap bibir itu pelan dengan ibu jarinya.
Flo tersentak. Seketika mematung saat menyadari sentuhan tangan Reihand.
Mata mereka saling bertubrukan. Jantung Flo seketika berdetak lebih kencang. Buru buru dia memalingkan wajahnya, mencoba memutus kontak mata yang akan membuat jantungnya tidak dalam kondisi aman sentosa.
Kembali dia menyuap Mie Ramen dan mencoba untuk tak memperdulikan cowok di depannya yang lewat sudut matanya masih bisa dia rasakan Reihand masih menatapnya lurus lurus.
Setelah menghabiskan Mie nya, Flo buru buru pamit pulang. Sebenarnya dia merasa tidak enak. Baru makan udah pulang. Tapi Flo tidak punya pilihan lain. Dia tidak bisa lama lama di kedai itu. Alasan yang pertama sudah pasti karna waktu sudah mulai larut malam dan yang kedua karna ada Reihand yang sudah pasti bakal bikin Flo canggung dan gugup disana.
"Makasih ya Tante, Mie Ramen nya enak banget." Kata Flo.
Ibu Reihand menggandengnya dan berjalan keluar mengantarkan Flo sampai ke depan kedainya.
"Sama sama, Flo. Lain kali main lagi ya kesini?"
Flo menggigit bibir bawahnya. Bingung mau menjawab apa.
"Tenang aja, mah. Reihand kapan kapan bakal ajak dia lagi kesini."
"Rei!" Flo melotot hendak protes. Tapi Reihand malah pura pura tak melihat ke arahnya.
Protesnya batal, kembali dia telan bulat bulat.
"Yaudah, Rei. Anterin Flo balik ya, udah malem kasihan kalau harus naik angkutan umum."
"Iya mah, siap. Lagian aku udah tau rumah dia jadi tenang aja, Reihand anterin sampai depan pintu rumahnya."
Ibu Flo sempat terperangah, tapi sedetik kemudian dia tersenyum kecil.
"Oh, jadi kamu pernah main kerumahnya?"
"Engga sengaja kok Tante, waktu itu cuman kebetulan!" Jawab Flo buru buru.
"Yaudah aku anterin Flo balik dulu ya, mah." Reihand mencium tangan Ibunya. Flo pun ikut berpamitan dengan sopan ikut menyalami tangan Ibu Reihand.
Waktu menunjukkan pukul 20.40 wib.
Di depan rumah Flo.
Motor Reihand baru sampai di depan pekarangan rumah Flo.
Flo segera turun dari jok belakang motor gede Reihand engan berpegangan pada kedua bahu cowok itu.
"Thanks!" Kata Flo sambil menyerahkan helmnya ke tangan Reihand.
Flo segera melangkah melewatinya namun Reihand buru bur mencegat satu tangannya.
"Tunggu, Flo!"
Flo menoleh dan menatap Reihand.
Reihand turun dari motor dan membuka jok motornya.
"Ada ap.."
Brugh
Belum sempat dia bertanya, Reihand tiba tiba melempar sebuah paper bag ke arahnya Gadis itu refleks menangkapnya dengan posisi kedua tangan yang langsung memeluk paper bag itu.
Kembali Reihand menutup jok motornya dan naik ke atas motornya lagi.
"Itu Dress yang gue beli pake duit gue sendiri. Pake ya pas acara ulang tahunnya Widya nanti. Gue mau liat lo pake Dress itu." Kata Reihand, kemudian senyum manis tercetak di wajah tampannya.
Flo baru mau membuka mulut tapi Reihand sudah melesatkan motornya meninggalkan Flo yang kini terperanjat kaget sambil menatap paper bag berwarna cream di kedua tangannya.
bersambung
__ADS_1