Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Khawatir


__ADS_3

Pagi telah tiba, Meira baru mengerjapkan matanya saat sadar jika dirinya semalam benar benar tertidur polos dalam pelukan Arga.


Dia bisa merasakan bagaimana tangan kekar itu sampai saat ini masih mengurung dirinya tanpa bisa bergerak sedikitpun.


Jadi semaleman gue tidur dalam pelukan dia?


Aaaahhh Meira terlalu malu untuk mengingat kejadian tadi malam. Mukanya kembali merona.


Pelan pelan Meira mencoba menyingkirkan lengan itu dari pinggangnya. Namun tangan itu menempel begitu erat, seperti ter lem besi disana. Padahal Arga masih terlelap. Hati hati dia mencoba untuk bangkit. Namun tangan itu benar benar tidak mau bergeser sama sekali dari pinggangnya, membuat Meira kesusahan untuk bangun dari tempat tidur.


"Masih pagi, kenapa gerak gerak terus sih?!" Celoteh Arga. Masih dengan mata tertutup.


Dia malah makin menempelkan tubuhnya pada Meira. Meira kaget dan mencoba melepaskan dirinya tapi Arga malah tak membiarkannya bergeming sedikitpun dari posisinya.


"Ga, lepas, udah pagi, gue mau mandi!" Pintanya memohon dengan suara lirih. Ini masih pagi, tolong jangan membuat keributan lagi, dasar cowok gak punya hati!


"Diem!"


"Lepaaas!"


"5 menit lagi, nanti gue lepas, sekarang gue minta lo diem aja dulu!"


Arga kembali memeluk Meira dari belakang. Entah apa yang ada dipikiran laki laki ini. Apakah dia tidak sadar jika sikapnya ini telah membuat wajah Meira jadi berubah seperti kepiting rebus.


"Ga.." Masih berusaha memohon dilepaskan.


"Diem atau mau mengulangi yang semalam? boleh aja sih, akan dengan senang hati gue kasih olahraga gratis pagi ini." Bisiknya nakal ditelinga Meira.


Meira melotot tapi langsung bungkam saat mendengar kalimat itu. Arga tersenyum geli. Berhasil, ternyata memang sangat menyenangkan menjahili gadis penakut seperti Meira.


"Denger, gue bakal pergi untuk urusan perusahaan akhir bulan ini ke puncak bogor, mungkin bakal menginap beberapa hari, apa lo mau ikut kesana?" Bisiknya lagi ditelinga Meira.


"Puncak? akhir bulan?" Meira langsung teringat sesuatu. Dia lalu menoleh kebelakang dan seketika wajah mereka saling beradu pandang.


"Jangan pergi Ga, gue takut Andrew punya rencana jahat buat lo!"


"Rencana jahat?" Arga menaikkan satu alisnya. Tak mengerti.


Meira mengangguk keras. "Iya rencana jahat!"


"Bisa tolong ambilkan ponsel gue disitu!" Meira menunjuk ponselnya yang tergeletak di samping bantal Arga.


Arga mengambilnya lalu menyerahkannya ke tangan Meira. Meira tampak serius. Dia seperti sedang mencari sesuatu yang sangat penting di benda tipis itu.


"Lo nyari apa?"


"Nih, lo liat rekaman ini!" Pintanya.


Meira mendekatkan ponselnya kehadapan Arga.

__ADS_1


Sejujurnya dia sudah lama ingin memperlihatkan rekaman ini pada Arga, namun dia belum punya kesempatan sampai pagi ini dia merasa sekaranglah waktu yang pas.


Sebuah rekaman video sedang diputar.


Mata Arga membulat saat sadar ternyata didalam rekaman itu ada Lusi dan Andrew yang terlihat sedang mengobrol serius.


Di dalam rekaman itu Andrew masuk kedalam kamar bersama ibunya Lusi. Wajah Andrew tampak panik.


~Kilas Balik kejadian hari itu~


"Gawat mah gawat!" Andrew yang baru saja pulang dari kantornya melempar tas kerjanya dengan kasar ke atas kasurnya.


Lusi yang melihat itu spontan kaget dan mencoba menenangkannya.


"Kenapa Andrew? ada apa sih? gawat kenapa?"


"Arga mah Arga! papah udah ngumumin kalau Arga yang bakal nerusin perusahaan yang di jakarta dan kemungkinan besar semua cabang di luar kota pun akan ada dibawah kekuasaannya mulai bulan depan, papah ngumumin kalau dia benar benar mau mempersiapkan Arga sebagai pewaris utama perusahaan kita! kacau! kacau!" Desis Andrew geram. Andrew mengacak ngacak rambutnya sendiri saking kesalnya.


Sontak Lusi langsung tercengang mendengar kabar buruk itu.


"Kapan papah mu mengumumkan itu semua?" Sahut Lusi, kini wajahnya menyiratkan kemarahan yang teramat dalam.


"Tadi saat rapat bersama semua dewan direksi!"


"Sialan si Arga! bener bener harus segera dilenyapkan dia Ndrew!" Ucap Lusi dengan nada sepelan mungkin namun terdengar sadis.


Arga yang masih fokus melihat rekaman itu tersenyum jijik. Dia tidak menyangka jika kakak tiri dan ibunya ternyata setamak itu.


"Tuh, lo dengerkan perkataan Andrew, kayaknya dia lagi nyari momen buat ngelakuin sesuatu sama lo Ga! lo harus hati hati!" Kata Meira dengan wajah cemas.


Arga mematikan ponsel lalu membelai rambut Meira. Air mukanya tampak tenang tanpa merasa terancam sedikitpun.


Meira merasa bingung, kenapa nih anak gak ada takut takutnya si! padahal nyawanya mungkin sekarang dalam bahaya.


"Lo khawatir sama gue?"


"Pake nanya!" Jawabnya ketus.


"Kasih gue alesan kenapa lo khawatir sama gue.."


Hah?


Kenapa sekarang malah ngebahas itu, bisa bisanya mengalihkan topik disaat seperti ini.


"Ga, lo bisa serius dikit ga?" Ucap Meira kesal.


"Emang gue gak serius selama ini?"


"Maksud gue, lo harus lebih waspada, Andrew dan ibunya pasti lagi nyari celah buat nyelakain lo!"

__ADS_1


Arga masih tetap terlihat tenang. Tak ada rasa cemas sedikitpun.


"Gue bisa tanganin mereka Mei. Kapan lo ngambil rekaman ini? ternyata lo gak bisa gue remehkan ya.." Merasa sedikit kaget. Ternyata gadis penakut ini punya nyali yang besar juga untuk menjadi mata mata dirumah ini.


"Waktu itu gue lagi gak sengaja lewat depan kamar Andrew dan kebetulan gue denger mereka nyebut nama lo Ga. Gue langsung ngambil hp dan ngerekam semuanya karna gue ngerasa mereka pasti lagi ngebahas sesuatu yang berhubungan dengan mencelakai lo seperti obrolan mereka sebelumnya, lo tau gak lutut gue sampe lemes saking takutnya ketahuan, gue gak seberani itu tau!"


Arga membenamkan wajah Meira di dadanya. Memeluknya erat seakan tidak ada lagi jarak diantara mereka.


"Lain kali, jangan bertindak sendiri kaya gini, bahaya kalau sampai mereka mergokin lo lagi nguping pembicaraan mereka, gue masih bisa maafin mereka saat berbuat jahat sama gue, tapi kalau mereka sampe berani nyentuh lo, gue gak akan tinggal diem!"


Deg.


Apa maksud perkataan Arga tadi? apa barusan perkataannya mengandung makna kalau gue ini penting? apa gue boleh berharap sekarang?


Ingin sekali rasanya Meira bertanya pada Arga, apakah dia mencintainya? tapi nyalinya belum cukup, dia terlalu takut mendengar jawabannya nanti. Dia takut jika dugaannya selama ini salah.


Bagaimana kalau ternyata Arga tidak pernah mencintainya? Bagaimana kalau ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan pada laki laki ini. Tidak! Meira tidak ingin terlalu berharap.


Siang pukul 12.30 wib


Arga berangkat ke kantornya seperti biasa. Dia sibuk kembali dengan meeting bersama koleganya.


Sementara Meira baru saja selesai dengan kelas pertamanya. Pikirannya mengawang diudara. Dia benar benar frustasi memikirkan bagaimana caranya mengetahui kalau Arga punya perasaan padanya. Laki laki itu terlalu pelit bahkan hanya untuk menyatakan sekali saja perasaannya.


"Mei, kening lo udah gak apa-apa?" Widya menyodorkan segelas teh hangat kehadapan Meira.


Flo ikut duduk disampingnya.


"Gak apa apa kok wid, udah mendingan lagi." Meira menyeruput teh hangat sedikit demi sedikit.


"Lo sekarang punya bodyguard ya?" Flo mendekatkan wajahnya, berbisik lirih ditelinga Meira.


Meira mengangguk. Lalu bernafas panjang.


"Setelah kejadian kemaren, Arga menyuruh pengawal buat ngawasin gue kemanapun. Gila kan, dia emang rajanya lebay!"


Flo dan Widya saling bersitatap lalu kemudian mereka tertawa berbarengan.


"haha"


"Kok kalian malah ketawa si?" Mengernyitkan kening tak mengerti.


"Lo lemot banget sih Mei, itu berarti Arga mau ngejagain lo dari bahaya, itu tandanya dia gak mau orang yang berharga bagi dia terluka."


Meira terdiam.


"Maksud lo.. dia sayang sama gue?"


"Iya lah keliatan jelas. Kalau dia gak sayang sama lo, gak mungkin kemaren dia muncul tiba tiba ditengah tengah tawuran. Dia bisa ajakan nyuruh pengawalnya buat ngeberesin semua kekacauan disini, tapi buktinya dia malah turun tangan sendiri. Apa artinya kalau bukan karna dia sayang sama lo!" Kata Flo.

__ADS_1


Meira termenung. Wajahnya kembali merona merah.


bersambung...


__ADS_2