Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Seranjang


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul 19.10 wib dirumah kediaman keluarga Heru Alexander.


Setelah Manji dan yang lainnya pulang. Arga dan Meira turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama keluarga.


Setelah selesai makan Meira melihat Arga langsung bergegas kembali ke lantai atas. Selama makan bersama tadi tak ada yang berani membuka mulutnya. Meira merasa seperti sedang berada didalam hutan belantara sendirian, dikerumuni oleh mahluk mahluk astral disekitarnya.


Nyonya Lusi meliriknya dengan pandangan tajam, mulutnya terlihat masih mengunyah makanan yang hampir habis di atas piringnya.


"Bagaimana keadaan Arga? Luka di kepalanya tidak serius kan?" Tanya Lusi.


Hampir saja Meira mau memuntahkan kembali air putih yang baru selesai diteguknya.


apa katanya tadi? apa dia baru saja menanyakan keadaan anaknya yang hampir sekarat kemarin?Telat!


"Bisa mama lihat sendiri. Arga sudah kembali sehat." Jawab Meira. Meira menuangkan jus ke gelasnya yang sudah kosong. Jus jeruk yang sedari tadi menggoda tenggorokannya yang terasa kering karna suasana mencekam saat makan tadi.


"Jangan bilang papah mertuamu jika kemarin aku tidak menjenguknya di rumah sakit. Diam saja jika dia tidak bertanya apa apa. Aku memang sedang sibuk dan banyak urusan jadi tidak sempat kesana untuk melihat keadaan anak itu."


haha, sibuk dengan teman temannya yang suka sekali menenteng tas gonjreng berwarna warni seperti pelangi itu maksudnya?


Perkumpulan segerombolan ibu ibu yang kebanyakan di isi dengan memamerkan kekayaan yang mereka punya. Tas bermerk keluaran terbaru, mobil atau pun liburan keluar negri.


Meira kini merasa kasihan pada Arga. Pantas saja dia tidak akur dengan ibu tirinya ini. Andrew yang duduk di sebelah ibunya malah terlihat tak peduli sama sekali. Pantas saja laki laki tengil itu seperti haus akan perhatian.


Ternyata memang hidupnya begitu berat, hidup ditengah tengah keluarga yang bahkan tidak memperlakukannya selayaknya keluarga. Pantas saja dia menjaga jarak dari orang orang ini. Meira menatap kedua orang dihadapannya secara bergantian.


"Ingat kata kataku tadi, jangan berkata apapun pada ayah mertuamu, kau paham?!" Lusi menatap Meira dengan nada yang terdengar jelas sedang mengancam bukan meminta.


Meira terbahak dalam hatinya. Arga, ternyata hidupmu tidak lebih baik dari aku.


Meira mengangguk, malas meladeni perkataan ibu mertuanya itu.


Setelah selesai makan, dia pun langsung menaiki tangga menuju kamar. Dia bisa melihat dari balik ventilasi pintu jika kamar sudah gelap. Mungkin Arga sudah pergi tidur dan mematikan lampunya.


Klek


Dengan langkah sedikit menjinjit Meira melangkah masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang terlihat semakin menyeramkan saat sedang gelap begini. Matanya melirik sekilas kearah kasur tapi dia tak bisa melihat jelas apakah Arga sudah tidur atau belum.


Dia pun bergegas membuka lemarinya, mengambil selimut yang biasa dia gunakan untuk alas tidurnya dilantai, namun detak jantungnya seakan terhenti ketika sebuah tangan menyentuh lembut bahunya.


"Buat apa selimut ini?" Suara Arga terdengar pelan namun mampu membuat bulu kuduk Meira seketika berdiri.


Hembusan nafas Arga yang lewat dibelakang tengkuknya sudah berhasil membuat Meira panas dingin.

__ADS_1


Arga membalikan tubuh Meira. Mereka saling berhadapan sekarang. Tak ada yang bisa Meira lihat selain bayangan sebuah tubuh jangkung yang dibalut kaos hitam. Hanya sepasang mata indah Arga yang masih bisa terlihat karna tersorot cahaya rembulan dari luar jendela kamar.


"Buat apa selimut ini?" Arga mengulangi pertanyaannya. Membuat Meira tergelak. Sadar jika dia sedang terkesima pada kehadiran Arga yang tiba tiba.


"Itu.. kan buat alas tidur di lantai kaya biasanya. Kok nanya sih?"


"Sini!"


Arga merebut selimut itu lalu melemparnya ke lantai.


"Kok dilempar sih!"


"Tidur di kasur mulai sekarang!"


HAH? Meira tersentak kaget. Namun sejurus kemudian dia mencoba kembali tenang.


Oh mungkin maksud dia gue tidur di kasur dan dia tidur di kamar almarhum kakaknya. Ya ya ya mungkin maksud Arga begitu. Pisah kamar ide yang bagus juga.


"Lo mau tidur di kamar bawah ya?" Mencoba memberanikan diri bertanya dan berharap Arga menjawab 'Iya'.


Namun Meira hanya melihat gelengan kepala dari bayangan tubuh tinggi di hadapannya.


"Kenapa lo malah mikir gue bakal tidur dikamar bawah? Lo mau nyari mati?"


"Bukan gitu ga, maksud gue tuh gini, mungkin lo mau pinjemin kasur lo malem ini buat gue tidur. Dan gue pikir lo sendiri mau tidur di kamar bawah. Lo sendiri kan yang bilang lo gak mau satu kasur sama gue." Tiba tiba Meira kembali mengingatkan Arga tentang ucapannya pada malam pertama dulu.


Dia juga mencoba mencari perlindungan dengan mengatakan hal tadi. Berharap Arga tidak akan mengingkari ucapannya sendiri. Sejujurnya Meira benar benar takut sekarang. Dia punya firasat buruk.


"Lemot lo tuh akut ya. Maksud gue lo sama gue satu kasur mulai malam ini, gue ulangi, sa-tu ka-sur! paham?" Arga berdecak kesal sambil menunjuk ke arah ranjang. Suaranya sudah mulai meninggi.


Tuh kan!


"Tapi.."


"Mau membantah?"


"Eng..." Meira menggantungkan kalimatnya. Sejurus kemudian Arga sudah mendekat, membuat bayangannya dan bayangan Meira menyatu di dinding.


Meira kini merasakan sesuatu yang lembut menyesap kedua bibirnya. Membuatnya spontan mundur hingga punggungnya membentur lemari. Terpojok dan tak bisa kemana mana.


Arga malah melangkah maju mendekatinya. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis itu, lalu sedetik kemudian dia dorong tubuh Meira maju hingga nyaris tak ada jarak lagi diantara mereka.


"Gaaa.." Ucap Meira sambil mencoba mendorong tubuh jangkung itu, namun tak berhasil. Tenaganya tak berguna sama sekali, Arga bahkan tak mundur satu langkah pun.

__ADS_1


"Kenapa sih lo selalu nyium gue tiba tiba?!"


"Kenapa? apa gue butuh ijin buat nyium istri gue sendiri?"


APA? Meira terbelalak.


apa barusan yang si tengil ini nyebut gue istri? pasti dia salah minum obat tadi!


"Engga, tapi.."


"Yaudah, terus? kenapa lo protes?"


Jelas gue protes, lo gak pernah menyatakan cinta sekalipun tapi selalu seenaknya kaya gini, apa gue gak berhak buat protes! Meira mengumpat dalam hati.


Berharap besar Arga bisa mendengar isi hatinya ini.


Arga mengangkat tangannya lalu menjentikkan telunjuknya di kening Meira.


"Kebanyakan ngelamun bisa bikin otak makin idiot!"


"Ish!" Hampir saja Meira akan menggigit telunjuk Arga yang masih melayang didekat wajahnya.


"Sebenarnya lo menganggap gue ini apa?"


"Lo istri gue." Jawab Arga enteng.


"Bukan itu. Maksud gue, lo sebenernya cin..."


cinta sama gue gak? Meira hanya mampu melanjutkan pertanyaannya dalam hati.


Ah sial, ternyata semalu ini mengemis pengakuan cinta dari seseorang.


Arga terdiam. Sengaja menunggu Meira melanjutkan kalimatnya. Namun Meira tak mampu lagi meneruskan maksudnya menanyakan perasaan Arga. Bukankah itu akan terdengar konyol dan memalukan? bagaimana jika Arga memang tidak pernah menyukainya sama sekali.


Mungkin saja akhir akhir ini Arga hanya butuh sentuhan badan saja. Dia kan laki laki normal, dia bisa saja melakukannya tanpa perasaan sedikitpun, lagi pula Meira sendiri belum tau perasaan seperti apa yang dia punya untuk Arga.


"Kenapa gak diterusin? Apa lo mau ngelarang gue nyentuh sesuatu yang udah jadi hak gue?"


Arga pura pura tak mengerti padahal dia paham kemana arah pembicaraan Meira.


Meira tak bisa berkutik, memang benar sih kata kata Arga barusan, dia memang istrinya walaupun dia hanya dinikahi Arga untuk balas dendam. Arga memang tidak perlu meminta ijin kepadanya, bukankah jiwa dan raganya ini sudah menjadi milik Arga sejak laki laki ini menyerahkan cek satu milyar kepada ayah tirinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2