
Mobil hitam milik Arga masuk ke dalam pelataran rumah megah milik keluarga Alexander.
Arga melompat turun dari bangku pengemudi, dia berjalan ke depan mobil memutar arah, membuka pintu penumpang dan segera menggendong Meira ke dalam pelukannya.
Pengawal yang berjaga langsung sigap menerima kunci mobil yang Arga lempar sebelum masuk pintu.
"Parkir ditempat biasa."
"Baik tuan muda." Pengawal itu membungkuk sampai akhirnya Arga masuk ke dalam rumah.
"Kau mau makan siang?" tanya Arga sambil terus berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
Meira menggelengkan kepalanya.
Mereka pun sampai didepan kamar, Arga langsung membuka handle pintu, pintu pun kamar terbuka, Arga mendorong daun pintu menggunakan salah satu bahunya, karna kedua tangannya tengah sibuk memegangi tubuh Meira.
"Baiklah istirahat disini." Arga meletakan tubuh Meira ke atas ranjang dengan hati hati, lalu menyelimuti Meira sampai ke leher.
Meira hanya diam, dia masih kesal pada Arga.
Arga membelai rambutnya, menyelipkan rambut depan yang terurai ke belakang telinga Meira.
"Apa kau masih merasa mual? apa perutmu sakit?" Arga ikut naik dan tiduran di sebelah Meira. Dia membuka selimut ditubuh Meira dan ikut masuk ke dalamnya.
"Tidak, aku sudah merasa lebih baik, harusnya tadi kita.." Meira tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika dia melihat perubahan raut wajah Arga yang mulai kesal.
Arga menarik napas panjang.
"Kau sedang ingin menguji kesabaran ku lagi ya?" Suaranya sudah mulai terdengar dingin.
Meira meremas ujung bajunya.
Mati aku! dia kenapa sih gampang banget berubah mood sejak hamil, sebenarnya yang mengalami perubahan hormon itu aku atau dia?!
"Baiklah maafkan aku." Akhirnya Meira cuman bisa pasrah, dia menarik selimut lalu menutup semua tubuhnya hingga ke atas kepala.
Arga mencium selimut yang menutup wajah Meira.
"Tidurlah, nanti setelah bangun, kita makan siang sama sama, aku menyayangimu Meira." Mengecup selimut berkali kali.
Arga turun dari ranjang dan terlihat pergi ke arah balkon.
Meira membuka selimutnya, wajahnya memerah seketika.
Dia jadi terlalu sweet begini membuat jantungku rasanya mau melompat saking bahagianya!
Meira memegangi kedua pipinya yang terasa bersemu merah.
"Halo, bagaimana bram?" Arga duduk menyilang kan kakinya diatas balkon kamar.
Dia melirik Meira di atas ranjang, gadis itu mulai tidur sepertinya, tidak ada pergerakan dibalik selimut.
"Tuan, kami sudah menemukan rumah yang ditinggali Andrew dan Ibunya, kami sedang menuju lokasi saat ini."
__ADS_1
Arga kontan berdiri.
"Bagus, kepung rumah itu, jangan sampai bajingan itu lolos!" Desis Arga dengan suara berat.
Arga mengepalkan tangannya, akhirnya gue nemuin keberadaan lo, ndrew! kali ini lo gak akan bisa kabur lagi!
Setelah kejadian penembakan Meta oleh Andrew, Arga semakin khawatir, dia rasa kakak tirinya itu semakin tidak waras, yang Arga takutkan Andrew akan melukai Meira dan ayahnya, jadi Arga mengutus langsung orang orang kepercayaannya untuk menyelidiki dimana Andrew selama ini bersembunyi.
"Dengar, tangkap dia hidup hidup, kirim lokasinya ke Whatsapp sekarang! aku akan kesana menyusul kalian!"
"Baik, tuan muda."
Arga menutup telponnya. Tak lama pesan WhatsApp muncul dilayar ponselnya.
Arga tersenyum kecut, dia sudah tidak sabar untuk memberikan laki laki itu bogem mentah dengan tangannya sendiri.
Bertahun tahun dia menahan diri, menahan kesepian karna ditinggal oleh Stefan kakaknya, dia bahkan menyalahkan Meira dan balas dendam pada gadis tidak berdosa itu karna mengira kakaknya Meira lah penyebab bunuh diri nya Stefan.
Arga bahkan sampai menikahinya hanya untuk menyiksanya. Semua kesalah pahaman itu ternyata diciptakan oleh keluarganya sendiri, oleh kaka tirinya Andrew dan ibunya Lusi.
Arga berjalan ke arah lemari, mengambil jaket dari sana lalu memakainya.
Dia melirik sekilas ke arah ranjang, tubuh Meira masih tertutup selimut, dia akan pergi untuk menangkap bajingan itu, kalau dia memberitahu Meira, gadis itu pasti akan khawatir, Arga akhirnya memilih untuk meninggalkan Meira diam diam.
"Aku akan kembali secepatnya Meira." Setelah mengatakan itu Arga membuka handle pintu dan pergi keluar dari kamar.
Setelah Arga keluar, Meira langsung membuka selimut yang menutup tubuhnya, dia terduduk dengan wajah tegang.
"Aku gak mau terjadi sesuatu lagi pada Arga!"
Wajah Meira panik, dia teringat kejadian saat Arga kecelakaan, bayangan Arga yang berada diruang ICU dengan kabel kabel medis yang menempel di sekujur tubuhnya membuat Meira tidak bisa menahan diri.
Meira bangkit, dia nekat keluar kamar dan langsung turun ke bawah.
"Tunggu, nona mau kemana? tuan muda berpesan agar nona tetap berada dirumah." seorang pengawal mencegatnya di pintu depan.
"Tolong ijinkan aku untuk pergi membuntuti Arga!" Meira mengiba dengan sorot mata khawatir, dia melihat gerbang terbuka tepat saat mobil hitam Arga hendak keluar.
Pengawal itu menahan tangannya dengan wajah tertunduk.
"Maaf nona, saya tidak bisa mengijinkan anda keluar, ini perintah dari tuan muda, saya tidak akan melanggarnya." Pengawal itu membungkuk hormat sambil tangannya tetap menahan tangan Meira yang berusaha lari ke arah gerbang.
Meira berusaha melepaskan diri namun tenaga pengawal Arga jelas bukan tandingannya.
"Lepaskan saya mohon!" Meira meronta dengan sekuat tenaga.
"Tolong nona jangan persulit kami."
Meira melihat mobil hitam Arga sudah keluar dari gerbang, pintu gerbang kembali tertutup.
Akhirnya Meira hanya bisa menangis, dia menyenderkan dirinya ke tembok. Pengawal itu masih membungkuk hormat, perlahan dia melepaskan genggamannya pada tangan Meira ketika yakin kalau mobil bosnya sudah pergi meninggalkan gerbang.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Arga?" Meira masih menatap ke arah gerbang.
__ADS_1
"Tidak akan ada apapun yang terjadi nona, banyak pengawal yang ikut bersama tuan muda, nona tidak perlu khawatir, tolong kembali lah ke kamar nona sekarang." pinta pengawal itu dengan suara yang terdengar memohon.
Meira akhirnya berjalan gontai kembali ke dalam rumah, kekhawatirannya pada Arga membuatnya berpikir macam macam.
Dia menaiki tangga menuju kamarnya, matanya berkeliaran ke segala arah mencari ponselnya.
"Aku harus menelpon Reihand!" Meira mencari kontak nomor Reihand setelah berhasil menemukan ponselnya di atas kasur.
Tut tut tut
Sialnya nomor Reihand tidak dapat dihubungi.
"Duh, Reihand kemana sih, kok gak aktif nomornya!" Meira mondar mandir seperti setrikaan sambil tangannya terus berusaha menelpon nomor Reihand.
"Is, lo kemana sih, Rei. disaat genting kaya gini malah gak bisa dihubungin!" Gerutu Meira kesal saat telponnya tak juga tersambung. Meira mengusap wajahnya kasar, dia benar benar cemas sesuatu terjadi pada Arga.
Akhirnya mau tidak mau Meira memutuskan untuk menelpon nomor Arga. Dia tidak tenang sebelum mencoba menahan suaminya agar tidak pergi.
"Halo, sayang.." Suara Arga terdengar di sebrang telpon.
"Sayang.."
"Iya ada apa sayang? kamu udah bangun? masih mual gak?" tanya Arga di sebrang telpon, suaranya terdengar lembut.
"Aku udah gak apa apa, kamu kemana Ga? kok gak ada dikamar?" Meira pura pura bertanya.
Arga terdengar menghela napas panjang.
"Aku tau kamu tadi keluar rumah kan untuk ngejar aku?"
"Kamu liat?" Meira tersentak kaget. Ternyata Arga tau tadi dia mengejarnya sampai ke depan pintu.
Meira menggigit bibirnya.
"Tentu saja aku lihat.."
"Arga, tidak bisakah kau tidak pergi? kamu belum sampai ditempat Andrew kan? aku mohon jangan pergi, aku gak mau Andrew sampai nyelakain kamu lagi! biarin polisi aja yang kesana." Meira berusaha menahan air matanya, namun suaranya yang bergetar terdengar oleh Arga.
"Hei, sayang, tenangkan dirimu, ingat bayi dalam kandungan mu.."
Ucapan Arga itu malah membuat Meira akhirnya menangis juga. Entah kenapa hatinya sangat tidak tenang.
"Meira, tenanglah, jangan menangis, kau harus percaya padaku, aku janji akan menjaga diriku, lagi pula tidak akan lama, setelah memastikan Andrew tertangkap aku akan segera pulang kerumah.." ucap Arga menenangkan, suaranya sarat akan kecemasan.
Mendengar Meira menangis ditelpon malah membuatnya khawatir pada gadis itu.
"Aku takut sesuatu terjadi lagi." jawab Meira sesenggukan, air mata tak terbendung lagi mengalir dikedua pipinya.
"Meira, aku akan pulang dengan selamat, aku janji."
"Janji?"
"Iya, sayang janji." ucap Arga lembut.
__ADS_1