
Velina sudah selesai dengan belanjaannya, setelah membayar semuanya di meja kasir, ia bergegas keluar menuju parkiran.
"Sedang apa kau di sini?" Sebuah suara membuatnya menoleh. Seorang pria tampan dengan setelah jas rapi bewarna biru dongker sudah berdiri tepat dengan jarak dua meter dari tempatnya berdiri.
"Aku... aku--" Velina tampak gelagapan. Bagaimana Juan bisa tiba-tiba ada di sini?
Juan menatap ke dua tangan Velina yang menenteng dua kantong penuh belanjaan. "Perlu bantuan?" Tawarnya.
"Ah... tidak perlu, aku bisa sendiri." sahut Velina kikuk.
"Tidak apa-apa, jangan sungkan," tanpa aba-aba Juan hendak meraih kantong-kantong belanjaan di tangan Velina.
"Hentikan!" Seseorang tiba-tiba datang menghentikan gerakan tangan Juan.
Pria itu mendongak dan mendapati Diego ada di hadapannya. "Tadi dia pergi bersamaku, jadi biar aku saja yang membantunya," senyum kecil tersungging di bibirnya.
Juan melirik ke arah Velina, dan bergantian menatap ke arah Diego, matanya terlihat menyelidik. "Aku tidak menyangka kau jadi mengantarnya," ujar Juan akhirnya.
"Aku tadi kan sudah janji padamu, mana mungkin aku tidak tepat janji."
"Ah... kau benar," Juan terkekeh canggung.
"Oh... iya, bukannya kau pergi ke pesta? Kenapa sekarang ada di sini?"
Juan menggaruk lehernya yang tak gatal. "Aku bosan berada di pesta karena putri Tuan Eden terus saja menanyakanmu."
"Benarkah?" Diego berkata sembari melirik ke arah Velina. Entah kenapa ia sangat ingin tahu reaksi wanita itu.
"Tentu saja, untuk apa juga aku membual, lagipula tidak hanya Bela saja yang menanyakan tentangmu, masih ada wanita-wanita lainnya, sepertinya mereka sangat antri ingin menjadi kekasihmu."
Entah kenapa udara di sekitar Ema tiba-tiba terasa sesak. Dan aliran darahnya juga terasa mendidih. Ema tidak tahu apa yang terjadi padanya.
"Diamlah, ku rasa kau terlalu berlebihan." Diego menepuk bahu Juan, ia bermaksud ingin membuat pria itu berhenti bicara. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa kasihan pada Velina yang terus menunduk.
Juan mengalihkan pandangannya ke arah Velina. "Velina, sebaiknya kau jangan tertarik padanya," menyenggol pundak Diego sebagai sindiran, "dia itu pemain wanita. Kau jangan sampai jatuh cinta padanya seperti wanita-wanita itu. Aku harap kau berbeda," lanjut Juan.
Ema mendongak linglung, tidak tahu harus menanggapi seperti apa pernyataan Juan.
"Heh... bicara apa kau? Kenapa terus memfitnahku!" Sela Diego pura-pura marah.
__ADS_1
"Siapa yang fitnah, itu kenyataan." Sahut Juan, "Eh... Velina, ku beri satu fakta lagi, ya, padamu. Diego tidak pernah serius dengan seorang wanita, dia hanya menjadikan mereka sebagai teman tidur. Tapi aku heran kenapa mereka mau sa--"
"Hentikan!" Diego mencoba membekap mulut Juan yang mulai hilang kendali.
"Heh... lepaskan aku belum selesai bicara!" Juan mencoba melepaskan bekapan tangan Diego dari mulutnya.
"Aku akan melepaskanmu jika kau janji tidak akan bicara sembarangan lagi."
Juan mengangguk pasrah."
Diego pun perlahan melepaskan bekapannya di mulut Juan.
"Kau hampir saja membunuhku," ujar Juan dengan napas terengah-engah. "Padahal aku bicara kenyataan."
"Diamlah!" Diego mencoba memperingatkan sekali lagi.
"Baiklah, sebagai gantinya agar aku diam. Izinkan aku mengantar Velina pulang, bagaimana?"
Velina dan Diego seketika saling menatap dan terlihat panik. Velina menggeleng samar tanda dirinya tidak bersedia. Diego mengerti dan mengangguk samar.
Ema takut jika hubungannya dengan Diego di ketahui oleh Juan.
"Untuk apa kau repot-repot ingin mengantarnya?"
"Apa?"
"Hei ... kenapa kau harus terkejut seperti itu? Bukankah kau bilang sendiri Velina bukan seleramu?" Juan menatap Diego menyelidik.
"Tidak... bukan itu maksudku," Diego jadi sedikit gelagapan, "aku hanya tidak menyangka kau akan tertarik pada Velina."
"Memangnya ada yang salah dengan itu?" Protes Juan.
"Tidak... tidak ada yang salah. Tapi apakah kau sudah tahu, Velina sudah punya pacar atau belum, benar kan?" Diego melirik Velina yang sejak tadi hanya terdiam dan menunduk.
"Aku sudah sempat tanyakan itu di kantor tadi. Tapi ia tak mau menjawab."
"Nah... itu lah salahmu, seharusnya kau harus tahu dulu sebelum jatuh cinta sungguhan, takutnya nantinya kau kecewa." Ujar Diego lagi sok bijak.
"Benar juga, ya?" Wajah Juan tampak berpikir. Kaku setelahnya ia menatap ke arah Velina. "Velina... apa kau menjawab pertanyaanku yang satu itu? Kau sudah punya kekasih atau belum?"
__ADS_1
"Apa?" Mata Velina membelalak terkejut. Ia tidak menyangka jika pria ketus itu berubah seperti sekarang ini. Apa-apaan pria ini?
"Jawab saja, agar hatiku juga lega." Mohon Juan.
Velina tak langsung menjawab, ia melirik ke arah Diego, matanya seolah sedang meminta pendapat pria itu. Aku harus jawab apa?
"Aku-- em--" Matanya kembali menatap Diego. Pria itu hanya diam saja sejak tadi. "Maafkan aku, Juan. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu," pasrah Velina.
"Oh... ayolah, apa pertanyaanku sangat rumit melebihi pelajaran Mate-matika?" Juan mulai jengah, "kau hanya perlu jawab Ya atau Tidak. Jika Ya, aku janji tidak akan berusaha mendekatimu lagi, kita hanya sebatas teman saja."
"Jika tidak?" Diego tiba-tiba ikut bersuara.
"Jika tidak... Aku harap Velina mau memberiku kesempatan untuk menjadi kekasihnya," ucapnya penuh percaya diri.
"Itu masalah perasaan, kau tidak boleh memaksanya seperti itu."
Juan menaikkan satu alisnya bingung, "hei... aku tanya pada Velina, bukan kau, jadi kenapa kau yang sewot?"
"Bu-bukan begitu, kau mengatakannya terlaku mendadak, setidaknya izinkan dia untuk berpikir."
Juan menimang, sepertinya ide Diego ada benarnya juga. "Baiklah, aku akan tunggu sampai Velina mau memberi jawabannya. Tapi selama itu pula, izinkan aku untuk melakukan pendekatan dengan Velina."
"Maksudmu apa?"
"Hei... apakah aku harus mengulang kata-kataku? Apa semua belum jelas?"
Kali ini Diego dan Velina benar-bwnar dalam masalah. Jika Juan tetap ngotot ingin melakukan pendekatan dengan Velina, ia takut jika pernikahan rahasianya dengan Velina akan terungkap ke permukaan.
"Ya... aku mengerti, tapi maksudku untuk apa kau harus izin padaku? Seharusnya kau tanyakan langsung padanya."
"Oh... jadi itu maksudmu?" Juan pun beralih menatap Velina lagi, "jadi... bagaimana?" ia bertanya dengan ambigu.
"A-aku tidak masalah jika kita dekat sebagai teman, tapi jika kau ingin bertamu ke rumahku, aku tidak mengizinkannya."
"Kenapa?" Juan mengeriyitkan dahinya.
"Bolehkan jika aku memiliki aturan? Jika kau tidak setuju tidak apa-apa."
"Baiklah, aku setuju." sahut Juan cepat, ia seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan Velina.
__ADS_1
Setidaknya Velina bisa sedikit bernapas lega kali ini. Tapi ia sadar, ia tidak mungkin menggantungkan Juan terlalu lama, pria itu pasti akan terus mendesaknya untuk menjawab pertanyaannya untuk menjadi kekasihnya. Oh... astaga... kenapa semuanya jadi tampak rumit sekarang?
Bersambung