
Sudah hampir setengah jam Sena belum juga beranjak dari
parkiran itu. Pikirannya masih melayang pada kejadian yang baru saja terjadi.
Sena masih berusaha mencerna semua hal yang terjadi padanya hari ini. Bagaimana
tidak, Sena datang kesini berniat untuk memperbaiki kesalahan yang telah
ayahnya lakukan, bagaimana pun ia tak ingin menjadi gelandangan yang tak punya
rumah. Meninggalkan kehidupannya yang sekarang. Namun saat datang, ia langsung
di maki dengan tuduhan yang menyakitkan. Lelaki itu malah menuduhnya seperti
seorang pelacur murahan yang ingin meminta belas kasihnya dengan menggunakan
tubuh.
Tapi yang lebih tak ia mengerti, mengapa lelaki itu malah
ingin menikahinya ? Jelas-jelas dalam mata lelaki itu terlihat kebencian yang mendalam padanya.
Entah alas an apa yang membuat dirinya sebegitu benci padanya. Namun Sena tak
ingin memikirkan itu, mungkin belum, yang lebih penting sekarang apakah
keputusannya untuk menerima itu sudah benar ? batinya. Apakah kehidupannya akan
bisa lebih baik ?
Namun apa ia masih punya hak tawar menawar dalam hal ini ?
Sena masih ingin melanjutkan kuliahnya, dan alasan yang tentu saja sudah jelas
bahwa Sena tidak akan bisa menjalankan kehidup orang biasa, apalagi ia tak
punya kemampuan apapun untuk kualifikasi seorang karyawan. Jika demikian, bukan
saja dia tidak bisa menjadi seperti hari ini, menjadi orang pas-pasan pun akan
sangat sulit. Baiklah aku akan menerima ini sebagai tantangan, tugas terbesarku
hanya satu, aku hanya butuh membuat lelaki itu berteuk lutut padaku, putusnya.
Sena mengusap sisa air mataya kemudian ia menyunggingkan senyumnya.
Sena membetukan posisi duduknya, touch up pada wajahnya,
kemudian mobil mewah itu melaju meninggalkan sang pencakar langit di kota itu.
***
Sena duduk di meja sebuah café di bilangan Jakarta Selatan. Menunggu Bianca yang
tak kunjung datang. Tak biasanya ia terlambat. MUngkin ia terkena macet,
pikirnya.
Sena menyesap kopi yang sudah ia pesan, mencoba merasakan kembali
minuman rasa Indonesia yang sudah cukup lama belum ia cicipi lagi. Kemudian ia
mengeluarkan sebatang rokok yang sudah ia beli tadi di perjalanan. Sena
menyelipkan rokok itu diantara dua bibirnya. Ia menyalakan rokok itu, menghisap
dan menghembuskannya. Kepulan asap terlihat di sekitar wajahnya.
“ Sena !” panggil Bianca yang baru saja datang dari arah
dalam ruangan. Yah, Sena sekarang berada
dia area smoking, sebetulnya are ini terdapat dibagian luar café, hanya saja
untuk masuk ke area ini, orang tetap harus memutar melewati pintu masuk utama.
“Telat banget sih lo?!” jawabnya sambil sedikit sewot karena
keterlambatan sahabatnya itu.
“Sorry sayang, gue kena macet parah, tau dong gimana
Jakarta? Lu sih enak selama ini ada di negeri yang jauh dari kata macet. Huuu..”
__ADS_1
ucap Bianca.
‘Okedeh, alesan lu gue terima. Pesen gih.” Ucap Sena.
Bianca mengangguk dan melambaikan tanganya pada waitress yang
ada di dalam café. Café itu tidak terlalu penuh sekarang, hanya terlihat
beberapa orang saja, mungkin karena ini belum jamnya pulang. Sena dan Bianca
sudah seringkali datang ke café ini. Ini adalah café favorit mereka. Hampir
setiap pulang sekolah, Sena dan Bianca menghabiskan waktunya disini. Biasanya
mereka baru pulang sekitar jam 7 sampai jam 8 malam. Alasannya tetap sama,
karena di rumah tak ada orang, jadi mereka berdua menghabiskan waktu disini.
Setelah pesanan Bianca datang, mereka melanjutkan
perbincangan mereka sambil makan, sedangkan Sena masih berkutat dengan
rokoknya.
“Lu masih suka ngerokok Na?” taya Bianca pada Sena.
Sena tersenyum dingin, kemudian berkata, “Baru lagi setelah
4 tahun berlalu.”
“Masalah apalagi sekarang?” Tanya Bianca sambil menyendoki
makanannya.
“Sok tau lu! Siapa bilang gue lagi ada masalah?” jawabnya,
kemudian ia tertawa tak lucu “hahaha”.
Bianca mengangkat alisnya, “ayolah, share masalah lu sama
gue.”
“Kalo gue nikah, kira-kira gimana Bi?” pertanyaan itu sukses
terjadi padanya. Namun ada sedikit rasa
tidak enak kerena itu, tapi yang jelas ia jelas tidak sedang berbohng pada
temannya. Sena hanya belum bisa jujur, pikirnya.
Bianca yang mendengar perkataan Sena merasa terkejut, ia
membulatkan matanya, “What?! Kok bisa ? sama siapa ? Jangan-jangan lu udah
tunangan tapi nggak jujur sama gue yah?” ucap Bianca, memberondongnya dengan
banyak pertanyaan.
Sena geleng kepala, “Mana dulu yang harus gue jawab nih?”
tanyanya, Sena sudah terlalu kenal sahabatnya yang senang bertanya membabi buta
seperti itu.
“Up to you ! yang jelas, lu harus jelasinke gue secara
detil. Titik!” jawabnya sambil melipat tangannya di dada bak seorang polisi
yang sedang mewawancarai pelaku kriminal.
“ Nggak ada tunangan, nggak ada pacaran, plus gue ngga kenal
dan baru aja ketemu beerapa jam yang lalu. Tau-tau dengan gilanya dia ngajak
gue nikah dan yang lebih gila lagi gue bilag oke!”
“Apa?” jawab Bianca yang tak bisa menyembunyikan
keterkejutan sambil menggebrak meja yang berada tepat dihadapannya. Tak ayal
orang-orang disekitar langsung melirik mereka.
Bianca melanjutkan, “Nikah itu bukan kaya main BP Sena,
__ADS_1
bukan tempatnya lu main rumah-rumahan. Okelah kalo alas an lu setidaknya cinta
masih bisa diterima, terus ini apa?!” jawab Bianca menggebu-gebu.
“Iya kali udah gede gini gue main BP, non?!” jawabnya cuek.
“Nah itu lu tau. Emang siapa sih yang ajakin lu kawin mak?”
tanyanya penasaran.
“Katanya sih namanya Tara Zeldan.”
‘What?! Kayannya gue bisa mati berdiri kalau kaya gini.
Pertama lu tiba-tiba bilang mau nikah, padahal cowo yang serius aja lu nggak
punya, mana ini baru balik dari LA lagi. Kedua, lu bilang mau nikah sama Tara Zeldan,
lu nggak lagi mimpi kan, Na?” tanyanya.
“Ih, apaan sih lu gaje deh!! Yah enggak lah, ngapain gue ngayalin orang yang sama sekali gue nggak
kenal apalagi baru ketemu.” Ucapnya sebal.
“Bukannya gitu Sena Zafiera, emang lu beneran nggak tahu
siapa Tara Zeldan?”
Sena menggeleng, “Emang dia siapa?”
‘Sena… gemes gue, lu tuh yah walaupun lagi tinggal di LA,
bacalah berita Indonesia sesekali, jadi lu nggak kudet sama informasi di
Indonesia gitu loh!” ceramahnya.
“Yaudah jelasin aja deh, jadi si Tara Zeldan itu siapa Mbae?
Nggak usah ribet kenapa?!” jawab Sena dengan malas.
Bianca mengeluarkan HP dari tasnya, kemudian ia berkutat
sebentar pada HP nya, dan meyodorkan HP itu pada Sena. “Ini orangnya?” Tanya Bianca.
“Iya, itu cowok yang gue temui tadi.” Jawabnya.
“Ya ampun, Sena, lu beneran hoki banget deh, tau nggak sih
Tara Zeldan itu CEO dari perusahaan Zeldan Coorps, dia itu ganteng banget,
baik, the most wanted banget deh sama cewek-cewek Indonesia. Secara dia tajir
kan yah ? Cewek yang jadi istrinya,
jelas-jelas bakalan bahagia banget deh, gue yakin, pasti!!” crocosnya Bianca tanpa bernafas.
“Ganteng? Mungkin iyah, tajir? Bokap gue udah menuhin kebutuhan
hidup gue dengan kartu unlimited, jadi gue nggak peduli sama ketajirannya. Baik?
Kok kesan pertama ge nggak gitu yah?” Malah cenderung jahat, ucapnya dalam
hati.
“iya iya gue tau, Sena sang putrid sultan juga tajir abiis.
Tapi beneran Sena, gue yakin banget kalo dia baik, gue aja fans beratnya
banget, gue restui kalian berdua yah. Jadi please jangan tolak.” Pinta Bianca.
“Yeee… kalo gitu kenapa nggak lu aja yang nikah sama dia.”
“Yah nggak bisa lah Sena, dia kan minta lu. Sorry yah, tak
ada kamus mengemis dalam hidup gue.” Tandasnya.
Kata-kata Bianca tentang mengemis membuatnya bergidik, Lagi-lagi
ia dingatkan bahwa ia sudah miskin sekarang. Dan jelas sudah, tak ada hapan
baginya untuk mundur dari pernikahan konyol ini. ‘Semangat Sena, demi
kesejahteraanmu’, ucap Sena dalam hati.
__ADS_1