
"Liat deh, Flo kebawah sana." Manji menunjuk deretan tebing di depan mereka yang melingkar membentuk sebuah hati.
Flo ternganga.
"Wah, jadi ini alasannya kenapa tempat ini dinamai tebing cinta?"
"Gue rasa emang itu alasannya." Manji mengangguk."
"Flo, turun dong, gantian gue mau liat dari atas batu itu pemandangan di bawah sana."
Widya tiba tiba mendekat ke arah mereka dengan memasang wajah ketus dia menatap Flo tajam.
Flo mengangguk lalu kemudian turun melompat dari atas batu yang sekarang dia tapaki.
Manji kelihatan tidak suka dengan sikap Widya barusan, tapi karna menghargai pertemanan mereka akhirnya dia memilih untuk diam.
"Rei, temenin gue naik ke atas sini." Widya menggelayut manja di lengan Reihand.
Flo memilih untuk tidak menghiraukan mereka dan kembali menatap hamparan pemandangan indah di depannya.
"Sini, Wid. Naik ke atas, pemandangannya bagus banget." Kata Reihand.
Flo bisa mendengar dengan jelas setiap percakapan mereka. Luas diatas permukaan tebing itu tidak terlalu luas, jadi dimana pun dia berdiri, suara Reihand maupun Widya masih bisa terdengar jelas.
Flo melirik sekilas, Reihand terlihat tengah mengangkat tubuh Widya naik ke atas batu ceper.
Kalau di lihat lihat, Reihand itu cocok banget sama Widya, sama sama memiliki visual wajah yang nyaris sempurna. Balum lagi latar belakang keluarga mereka juga sama, sama sama dari keluarga berada.
"Mereka cocok!" Gumam Flo pelan.
Manji mengangkat satu alisnya.
"Siapa yang cocok?" Tanya Manji.
"Eh, engga bukan apa apa." Flo berkilah sambil menutup rapat mulutnya. Ternyata gumaman nya tadi terdengar oleh Manji.
Waktu menunjukkan pukul 17.30 wib.
Seluruh langit di tempat itu sudah berubah warna menjadi jingga.
Arga duduk bersama Meira sambil menghadap langit yang kelihatan sangat megah dengan pantulan cahaya yang bersalah dari matahari yang mulai pulang ke peraduannya.
"Cantik banget sayang, rasanya seperti ada di negri dongeng."
__ADS_1
Arga tertawa pelan mendengarnya.
"Memangnya kamu pernah ke negri dongeng?"
"Belum sih, tapi pasti suasananya tidak beda jauh kayak gini, liat deh langitnya, kayak gak nyata tau, lebih mirip lukisan besar yang dilihat dari jauh."
Arga menarik kepala Meira dan menyandarkannya di lehernya.
"Nikmatilah keindahan ini, aku ingin kamu dan anakku menikmati liburan kita kali ini sampai puas, kita akan pulang ke jakarta, kau tidak akan bisa melihat tempat seindah ini disana."
"Kau benar sayang, ah, andai di kota ada pemandangan seindah ini, lengkap sekali rasanya ya."
Meira memeluk Arga erat.
Mereka pun akhirnya menikmati pemandangan di atas bukit itu hingga matahari terbenam.
...***...
Liburan panjang telah berakhir. Arga dan yang lainnya telah tiba di jakarta pagi hari.
Disaat yang lain masih beristirahat karena lelah pulang dari liburan. Flo sudah harus beraktifitas kembali. Dia tidak tega kalau harus berdiam diri dirumah tanpa membantu ibunya di Salon Kecantikan.
Flo bukan berasal dari keluarga ekonomi ke atas. Dia hanya terlahir dari keluarga sederhana, Ibunya hanya seorang pemilik Salon Kecantikan di pinggir jalan tak jauh dari tempat tinggalnya, sementara ayahnya sudah meninggalkan mereka semenjak Flo masih berusia 5 tahun.
Flo berjalan kaki ke arah salon Ibunya yang letaknya ada di pinggir jalan utama, letaknya tak jauh dari rumah Flo. Dia hanya perlu berjalan beberapa menit untuk sampai kesana.
"Ibu pasti belum makan, aku bawain ikan goreng sama lalapan kesukaan ibu." Kata Flo sambil menghampiri ibunya yang baru selesai melayani seorang pelanggan yang habis memotong rambut.
"Makan dulu bu.." Flo memeluk ibunya dari belakang layaknya anak kecil.
Ibu Flo mengangguk sambil tersenyum hangat melihat tingkah kekanakan Flo.
"Kamu sendiri udah makan belum, Flo?" Ibu Flo berjalan ke wastafel dan mencuci tangannya.
"Aku udah makan tadi di rumah, bu." Flo mengambil sapu dan langsung membereskan sisa potongan rambut di lantai.
"Kamu kok malah kemari sih, Flo. Emangnya udah gak cape badannya? kan habis perjalanan jauh, harusnya istirahat dulu aja dirumah, ibu gak apa apa kok gak dibantuin."
"Apaan sih, orang aku gak cape kok bu. Lagian aku sumpek dirumah terus, kan masih cuti kuliah."
Ibu Flo duduk dan membuka rantang makanan yang di bawa Flo tadi.
Dia duduk di sofa tunggu. Untung saat itu sedang tidak ada pelanggan, jadi Ibu Flo bisa istirahat sejenak sambil menikmati makanannya.
__ADS_1
"Wah, ikan goreng, kamu sengaja masak buat Ibu?"
"Iya, toh bu. Cobain deh, aku sediain lalapan sama sambel terasi, enak deh, makan yang banyak bu."
"Iya, ibu gak perlu ragu, masakan anak ibu itu terenak sedunia." Puji Ibu Flo sambil menyuap nasi dan lauk di dalam rantang.
Flo menyunggingkan senyum melihat ibunya dengan lahap memakan masakan buatannya. Meskipun mereka hanya hidup berdua, Flo selalu bersyukur, dia tidak pernah merasa kekurangan cinta dari ibunya.
"Liburan kamu gimana, Flo. Seru?"
"Seru banget! tempatnya bener bener indah loh bu, sumpah Ibu kalau pergi kesana pasti gak mau pulang, kalau aku punya uang, nanti aku ajak ibu kesana ya." Kata Flo antusias, dia sampai menghentikan aktifitas menyapunya.
Ibu Flo mengangguk sambil tersenyum. Kasihan Flo. Selama ini dia tidak pernah berlibur, waktunya habis untuk kuliah dan membantu dirinya di Salon ini.
Makanya saat Flo kemarin meminta ijin untuk pergi liburan bersama Meira, ibunya tanpa banyak bertanya langsung mengiyakan. Dia malah yang paling semangat menyiapkan keperluan untuk liburan Flo.
"Meira, temen kamu itu baik ya. Ibu pengen deh ngajak dia makan dirumah kita sebagai ucapan terima kasih ibu karna dia sudah mau ngajakin kamu jalan jalan."
"Iya, Meira emang baik banget bu, kemarin aku gak ngeluarin uang sama sekali, semua biaya liburan sudah ditanggung oleh suaminya Meira. Kapan kapan deh aku ajakin dia main kerumah kita, tapi gak sekarang sekarang ya, soalnya dia lagi hamil muda, kemarin aja liburan suaminya bener bener ngawasin dia terus, suaminya agak posesif bu.." Flo terkikik setiap kali mengingat betapa Arga sudah seperti lem prangko bagi Meira. Pria itu selalu menempel disisinya.
Ibunya manggut manggut mendengarkan ucapan Flo.
"Berarti suaminya sayang banget tuh sama Meira, Flo. Bagus atuh orang baik jodohnya sama orang baik juga."
"Iya, bu seneng deh aku tiap liat mereka, serasi."
"Terus kamu sendiri kapan punya pasangan?"
Eh, Flo terlonjak kaget mendengar pertanyaan ibunya barusan. Kenapa tiba tiba malah menanyakan pasangannya?
"Kok diem, kamu tuh ya Flo, kalau ibu liat-liat gak kayak anak anak seumuran kamu loh, gak apa apa sesekali malem mingguan atau nonton bioskop sama temen temen kamu atau sama pasangan kamu Flo, ibu gak apa apa disini sendiri, lagian ibu bisa handel semuanya, Flo." Kata Ibu Flo sambil menghampiri Flo dan mengusap punggung putrinya.
Flo hanya diam, selama ini dia memang lebih senang menghabiskan waktu dirumah atau di Salon membantu ibunya. Baginya keluar rumah tanpa tujuan hanya akan menghambur hamburkan uang saja.
Lebih baik kan Flo tabung uangnya untuk kebutuhan yang lebih penting.
"Aku senang kok Bu dengan kehidupan ku yang kaya gini, aku bahagia kalau aku bisa meringankan beban di pundak Ibu."
"Flo.." Ibu Flo terharu mendengar kata kata Flo.
Mereka berdua kemudian berpelukan, saling menguatkan.
bersambung..
__ADS_1