
Sena baru saja bangun dari tidurnya. Ia beringsut dari ranjangnya menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Sena terpaku didepan cermin. Pikirannya kembali melayang pada kejadian tadi malam.
Kala itu Sena baru saja datang dari Bar setelah sebelumnya mengantarkan Bianca pulang kerumahnya.
Saat Sena masuk kedalam rumah, ia mendengar seseorang yang ia kenal menangis. Ayahnya terlihat sedang berpangku pada meja sambil kepalanya dibenamkan diatas tangannya.
'apa yang terjadi pada ayah?' pikirnya dalam hati.
Sebenarnya Sena enggan untuk peduli pada masalah ayahnya. Namun hati kecilnya menghianati, Sena tetap penasaran dengan apa yang terjadi. Akhirnya Sena memilih untuk masuk ke ruangan tersebut.
"Ada apa yah?" tanyanya perlahan, seolah ada sesuatu yang dijaganya agar tetap tidur.
Hutama tersadar mendengarkan suara Sena, ia mengangkat kepalanya sedikit, dengan sorot keengganan ia berkata, "a..yah... ayah telah melakukan kesalahan fatal, Nak. Ayah telah kehilangan segalanya. Kedepannya ayah tidak tahu bagaimana menghidupi kamu." ucapnya sambil kembali menangis.
"apa maksud ayah?" tanya Sena, ia belum memahami inti permasalahannya apa.
"Papa bangkrut Nak. kita udah nggak punya apa-apa lagi." jawabnya lemas.
"Bagaimana bisa yah? Bukannya selama ini tak pernah ada masalah yang tidak pernah terselesaikan ? Kenapa tiba-tiba jadi begini yah?" tanya Sena bertubi-tubi.
"ayah yang salah Nak, ayah.. Ayah telah mempertaruhkan semua set kekayaan kita Di meja judi. Ayah khilaf, maafkan ayah." ucapnya parau.
"apa?! Ayah kenapa jahat banget sama aku! Gimana aku bisa hidup yah??!" jawab Sena merasa frustasi pada apa yang sedang terjadi. Sena terduduk dilantai dan meratapi nasibnya kini. Jika semua aset beserta rumah ini disita, bagaimana nasibnya dan ayahnya?
Sena bergidik memikirkan kemungkinan menjadi gelandangan. Pasalnya sejak kecil Sena selalu bergelimang harta, apapun yang ia mau bisa dengan mudah ia dapatkan. Tas, baju, sepatu Semuanya Serba branded, juga mobil yang sangat mewah. Jika semua itu diambil bagaimana dengan kelanjutan hidupnya? sementara seingatnya, ia tak punya keluarga dari ayahnya ataupun Ibunya. Jadi jika itu terjadi, Sena tak tahu harus kemana ia pergi dengan ayahnya.
__ADS_1
"Ayah bisa kah ayah menyebutkan nama orang itu? "
"Jangan Sena, dia bukan orang yang bisa diajak bicara." jawabnya.
" lalu apa yang harus aku lakukan Ayah, aku tidak bisa menjadi gelandangan, aku takut, aku nggak mau, aku tidak akan terbiasa menjalani kehidupan semacam itu jadi tolong Izinkan aku mencoba." pintanya.
Ayahnya menghela nafas panjang kemudian ia berkata Baiklah kamu bisa cari Tara Zeldan di gedung Zeldan Corps. "
Sena kembali tersadar dari lamunannya. Ia melanjutkan untuk membersihkan wajahnya dan menggosok gigi.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang ketika ia keluar dari Kamar mandinya. Sebelum keluar, Sena kembali mematut dirinya di depan cermin. Kini ia menggunakan baju super ketat berwarna hitam, kemudian Ia memoleskan make up di wajahnya, sedangkan rambutnya ia buat terurai begitu saja. Sena memakai sepatu hak tinggi dan membawa clutch dengan warna Senada.
Satu jam berlalu, Sena sampai di gedung Hutama grup. Sena mengedarkan pandangannya ke gedung yang ada di hadapannya, kemudian ia berjalan perlahan memasuki gedung tersebut. Pesona Sena Zafiera memang tak perlu di ragukan lagi, terbukti dengan banyaknya orang yang menatap lekat dirinya bak peragawati di atas catwalk.
" Apakah anda sudah punya janji?" tanya petugas resepsionis itu.
Sena menggelengkan kepalanya, kemudian ia berkata, "tapi saya memiliki hal penting yang harus saya bicarakan dengan bapak Tara Zeldan, bolehkah saya meminta anda untuk bertanya terlebih dahulu pada bapak Tara apakah beliau bisa menemui Sena Zafira dari Hutama Group?"
"Baiklah. Silahkan tunggu sebentar." jawabnya. Tak disangka, ternyata Tara mempersilahkan Sena masuk keruangannya. Dengan diantar oleh resepsionis Sena melangkahkan kakinya ke ruangan Tara.
'Tok Tok Tok'
Resepsionis wanita itu mengetuk pintu ruangan bos nya.
__ADS_1
"Masuk." terdengar jawaban dari dalam.
"Silahkan masuk Nona, saya akan kembali ke tempat kerja saya, permisi."
Sena hanya menjawabnya dengan senyuman.
Sena melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu. Didalam ruangan itu terlihat seorang laki-laki muda sedang berkutat dengan laptopnya.
"Apa yang sedang anda lihat Nona? Silahkan duduk." Tara manunjuk sofa yang ada didalam ruangan itu, menyuruh Sena duduk.
"Apa ada yang bisa saya bantu Nona?"
"Begini pak, apakah masalah hutang ayah saya bisa anda beri waktu untuk kami membayarnya. Mengingat ini bukan hal yang mudah bagi kami." ucap Sena pada Tara, Sena menyampaikan itu secara terbuka tanpa basa-basi. Ia percaya orang yang ada dihadapannya ini Bukanlah orang biasa, jadi jika ia ingin cari aman, tentunya harus pandai berhati-hati.
"Jadi tujuan anda datang kesini adalah untuk merayu saya agar mau berbaik hati pada Hutama grup ?" jawabnya sarkastis.
"Tidak pak, saya.." ucapan Sena terpotong oleh perkataannya Tara Selanjutnya.
"Saya kira anda tidak memiliki cermin di rumah anda, anda jelas terlihat seperti wanita penggoda dibandingkan dengan wanita terhormat." ucapnya.
Sena bungkam. Hatinya terluka dengan perkataan Tara Zeldan barusan. Bisa-bisanya ia harus menghadapi seseorang yang terang-terangan mempermalukannya seperti ini. Air matanya sudah hampir mengalir, namun ia tahan untuk mempertahankan harga dirinya sendiri agar tidak semakin jatuh ke dasar.
"Baiklah jika anda ingin saya berbaik hati pada ayah anda, anda bisa memilih untuk menjadi istri saya." ucapnya santai.
Duaarrr.. bagai petir di siang bolong, Sena sangat terkejut dengan perkataan Tara Zeldan. Ingin sekali ia marah Karena ia merasa dipermainkan seperti ini, namun ia kembali memikirkan bahwa ia akan menjadi gelandangan dan hidup serba kekurangan.
__ADS_1
"Baiklah. Tentukan kapan waktunya, dan ini kartu nama saya, jika ada sesuatu yang anda butuhkan telpon saya di nomor ini. Terimakasih. Selamat Siang." Tanpa pikir panjang, Sena bergegas meninggalkan ruangan itu, ia khawatir tangisnya pecah dihadapan lelaki jahat itu. Akhirnya saat sampai di mobil, air mata Sena mengalir dengan deras tanpa mampu lagi dibendung.