Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Niat jahat Bima


__ADS_3

Meira mencoba mencari celah diantara keramaian suasana tawuran di depannya. Dia terus memasang pandangan awas ke sekeliling, saat dirasa cukup aman Meira langsung berlari ke arah Dinda.


Beberapa kali hampir saja dirinya kena gebrugan tubuh-tubuh mahasiswa yang sedang baku hantam, untung saja matanya cukup awas menangkap setiap pergerakan disekitarnya sehingga Meira bisa menghindar tepat waktu.


Sedikit lagi dia akan mencapai tempat dimana Dinda meringkuk. Tanpa membuang waktu Meira langsung mempercepat langkahnya.


Namun Meira tak sadar, jika sedari tadi ada sepasang mata yang sedang menatapnya tajam, berdiri dibelakangnya dengan seulas senyum mengerikan kini tersungging di bibirnya karna mengetahui ternyata mangsanya telah masuk perangkap yang telah dia buat sedemikian rupa. Laki laki itu tak lain adalah Bima.


Suara kaca kelas yang pecah mengiringi suasana tawuran yang semakin tak terkendali. Meira langsung menghentikan langkahnya dan refleks menutup kupingnya karna suara itu persis disebelah kanannya.


Bima mengambil sebalok kayu yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia berpakaian serba hitam, wajahnya ditutupi kain penutup muka yang sering dipakai oleh penjahat penjahat di televisi.


Dia semakin mendekat ke arah Meira, sementara Meira kini telah sampai ditempat Dinda sedang meringkuk memegangi lututnya sendiri.


"Dinda!!! bangun Din, ayo kita pergi ke atas!" Meira memegang bahu Dinda dan mencoba menyadarkan gadis berkacamata itu.


Dinda mengangkat kepalanya, wajahnya terlihat pucat, Meira berpikir Dinda pasti sangat ketakutan karna terjebak disini sendirian.


"Din, ayo kita pergi dari sini!" Meira hendak menarik lengan Dinda, namun diluar dugaan, Dinda malah menolak ajakannya itu. Gadis itu tetap diam tak berkata apapun hanya menatap ke arah Meira dengan pandangan penuh makna.


Sementara Bima kini sudah berdiri tepat di belakang punggung Meira, tangannya mulai terayun ke atas siap mengantarkan balok besar itu mengenai tubuh gadis yang sudah diincarnya sejak awal.


Tangan Dinda bergetar hebat, dia ingin sekali berteriak pada Meira untuk segera lari namun ancaman dari Bima tadi malam membuatnya tak bisa berkutik.


Sepersekian detik balok itu sudah mengayun ke arah tubuh Meira.


Braaagh


Sebuah tangan berhasil terulur dan menyanggah balok kayu besar itu sebelum berhasil melukai tubuh Meira dan dengan sekuat tenaga akhirnya dia berhasil melemparkan balok itu ke lantai.


Sontak Meira langsung menoleh ke belakang.


"Argaaa!!" Pekik Meira kaget. Ternyata Arga sudah berdiri dibelakangnya dengan masih mengenakan jas kantor dia menatap tajam laki laki di depannya yang berpakaian serba hitam.


"Siapa lo?" Tanya Arga sambil menatap pria itu dengan tajam.


Pria itu malah tersenyum namun dia tak mengeluarkan suara sedikitpun.

__ADS_1


Arga langsung menarik lengan Meira dan menyembunyikan gadis itu dibelakang punggungnya.


Meira langsung beralih menatap Dinda dan mencoba menghampirinya namun Arga mencegahnya.


"Woy, bawa cewek ini ke lantai atas!!!" Arga memerintahkan beberapa anak Mandala yang berdiri tak jauh darinya sambil menunjuk ke arah Dinda.


Mereka langsung nurut dan mengantarkan Dinda ke arah tangga untuk naik ke lantai atas.


Bima meludah ke samping dan meledek Arga dengan seulas senyum yang lagi lagi tanpa suara. Sedetik kemudian baku hantam diantara keduanya pun tak terelakan.


Bima beberapa kali mencoba menyerang tubuh pentolan Mandala itu namun gagal. Arga bisa mengelak dengan mudah.


Brugh


Kali ini Arga berhasil meninju wajah pria yang memakai topeng itu hingga dia terjatuh ke tanah dengan posisi tertelungkup, Arga tak menyianyiakan kesempatan , diapun langsung menindih tubuh pria itu agar tidak bisa bergerak karna dari tadi Arga ingin sekali menyingkap topeng yang dia kenakan.


Arga sudah memegangi ujung topengnya namun sialnya salah satu anak Jayakarta menggebuk punggung Arga dengan balok yang tadi terlempar dari tangan Bima.


Arga tersungkur seiring dengan teriakan dari Meira yang syok melihatnya.


Bima buru buru menutup kembali wajahnya yang hampir saja terlihat separuhnya.


Dia mengayunkan kayu itu tepat diatas kepala Arga tapi Meira buru buru menghampirinya dan berusaha menahan tangan Bima dengan kedua tangannya.


Bima menoleh dan matanya melotot tajam ke arah Meira.


Dia geram dan langsung mendorong tubuh Meira dengan kencang hingga gadis itu terjatuh dan kepalanya tak sengaja membentur pas bunga besar di sisi kanan.


Meira meringis dan seketika merasa kepalanya begitu sakit dan berputar putar.


Bima tersenyum puas melihat kening Meira yang kini mengeluarkan cairan berwarna merah.


Arga langsung melotot melihat peristiwa itu. Dia pun segera bangkit menghampiri Bima yang sedang memunggunginya, dengan wajahnya yang merah padam Arga membalikan tubuh Bima dan menonjok ke arah wajah Bima dengan sekuat tenaga.


"Bangsaat, beraninya lo ngelukain dia. Lo nyari mati?!!!"


Brugh brugh brugh

__ADS_1


Seperti orang kesetanan Arga meninju tubuh Bima berkali kali. Bima meringis dan tak menyangka Arga bisa jadi sekalap itu.


Anak anak Jayakarta yang berada disekitarnya mencoba membantu Bima dengan memegangi kedua lengan Arga.


Arga berusaha melepaskan diri namun Bima berhasil kabur tepat setelah dia bisa melumpuhkan teman teman Bima.


Tak lama anak anak Jayakarta pun mundur setelah mendengar bunyi sirine mobil polisi yang sepertinya akan mendekat ke arah kampus.


"Sialaan!! pengecuuut!!!"


Arga menggeram dan hendak berlari menangkap pria yang memakai topeng itu namun dia menghentikan langkahnya saat menyadari Meira lebih membutuhkan pertolongannya.


"Mei, lo gak apa apa?" Arga langsung jongkok dan membantu Meira untuk berdiri.


Meira terlihat kesakitan sambil memegangi keningnya.


"Gak apa-apa Ga, lo sendiri ada yang luka gak?" Meira menatap balik Arga dengan cemas. Dia ingat tadi punggung Arga sempat kena pukulan balok dari salah satu anak Jayakarta.


Arga hanya diam, dia memperhatikan darah yang mengalir dari kening Meira dengan raut khawatir.


"Lo bisa gak sih gak bikin gue khawatir terus sama lo?!" Bentak Arga.


"Iya, maaf. Gue pikir lo gak akan dateng kesini, gue tadi cuman mau nyelametin Dinda aja, kasian dia kejebak disini sendirian, pasti dia ketakutan Ga.."


"Apapun alasannya, gue gak ijinin lo buat masuk kedalam tawuran lagi kaya gini, bahaya! ini yang terakhir Mei! lo denger gak?!" Nada suara Arga terdengar galak, wajahnya saat mengatakan itu terlihat begitu serius.


Meira mengangguk lemah, sejujurnya saat ini kepalanya terasa berputar putar. Dia bahkan tadi tak terlalu mendengar apa yang keluar dari mulut Arga.


"Ayo kita kerumah sakit sekarang!" Arga meraih salah satu lengan Meira dan menariknya ke depan gerbang.


Meira berusaha mengikuti Arga dari belakang meski dengan langkah pontang panting.


Namun saat hendak sampai di pintu gerbang kampus langkah Meira terhenti, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi, Meira memegangi kepalanya, pandangan di depannya mulai kabur.


Arga menoleh ketika menyadari Meira menghentikan langkahnya. Dia terperangah melihat Meira yang hampir saja ambruk ke tanah kalau tidak buru buru dia tangkap. Meira pingsan.


"Meiraa!!! Meiii!!!" Dengan wajah panik Arga langsung menggendong Meira ke dalam pelukannya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2