Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Mulai terkuak


__ADS_3

Satu persatu serpihan ingatan dimasalalu Arga mulai muncul perlahan lahan ke dalam kepalanya. Tentang persahabatannya dengan Reihand, tentang kejahatan Andrew juga ibu tirinya, namun ingatan tentang Meira dan Bima masih belum lengkap sepenuhnya.


"Lo tenang aja Ga, Bima sekarang udah gak bisa berbuat macem macem lagi, dia udah ada di tempat yang seharusnya, pihak penyidik juga lagi berusaha mengungkapkan motif dia selama ini menyerang lo dan Meira sebenarnya untuk apa," Reihand menepuk pundak Arga, rasanya lega mendengar Arga bisa kembali mengingat dirinya.


"Gue akan temuin Bima setelah pulang kuliah, lo temenin gue ya?" Arga menunggu persetujuan, Reihand tampak berpikir namun kemudian dia mengangguk pelan.


Sementara itu di dalam ruangan kerja Andrew


Andrew duduk sambil menopang dagu dengan kedua tangannya, pandangannya lurus menatap ke arah tembok padahal tidak ada apapun disana. Hatinya saat ini sangat gelisah, dia sudah mendengar tentang Bima yang berhasil ditangkap oleh pihak berwajib, tentu itu bukan kabar yang baik untuknya.


Andrew cemas, dia takut kalau Bima sampai jujur dan mengungkapkan semuanya maka sudah dipastikan riwayatnya tamat hanya sampai disini.


"Bangsat!! memang gak berguna itu anak! kacau kacau kacau!!!" Desisnya geram sambil melempar benda benda yang ada di atas meja kerjanya ke tembok.


"Gue harus ngelakuin sesuatu sebelum semuanya terungkap!" Ucap Andrew dengan mimik wajah yang serius.


Waktu pun menunjukkna pukul 16.30 wib


Setelah mengantarkan Meira pulang kerumah, Arga kembali membawa motornya keluar gerbang, dia sudah janjian dengan Reihand untuk menemui Bima, Arga begitu penasaran sebenarnya apa alasan laki laki itu selama ini terus menyerang dirinya dan juga Meira.


"Gue udah atur jadwal, kebetulan penjaganya masih kerabat gue Ga, Bima udah nunggu diruang penjengukkan." Kata Reihand saat mereka telah sampai di depan bangunan dengan cat berwarna putih.


Arga hanya diam, cukup lama dia hanya duduk tanpa melakukan apapun.


"Lo kenapa? ayo kita masuk!" Reihand membuka sabuk pengamannya, dia menatap Arga yang malah mematung ditempatnya.


"Beberapa kali dia udah nyoba nyakitin Meira, gue takut lepas kendali kalau liat mukanya!" Jawab Arga sambil menarik nafas panjang.


"Lo harus bisa ngendaliin diri lo Ga, kita sedikit lagi bisa mengungkap siapa sebenernya dalang dibalik musibah yang selama ini lo sama Meira alami." Reihand mencoba meyakinkan.


Arga akhirnya setuju untuk masuk, mereka pun berjalan menaiki tangga, saat telah sampai di depan sebuah ruangan, terlihat seorang penjaga datang membawa sebuah kunci lalu membantu membukakan pintu berwarna coklat itu.


"Silahkan masuk, waktu kalian hanya dua puluh menit ya."


Reihand dan Arga mengangguk setuju.


Perlahan Reihand meraih gagang pintu lalu membukanya, ruangan tampak remang, hanya ada cahaya lampu ditengah tengah ruangan yang menyinari tempat itu.

__ADS_1


Mata Arga menajam saat dia menangkap sosok yang kemarin dia lihat hampir berhasil melukai Meira.


Reihand yang sadar perubahan raut wajah Arga yang menegang langsung mencoba mengendalikan keadaan.


"Ga, inget, lo harus ngendaliin diri lo." Bisik Reihand.


Mereka pun berjalan mendekat ke arah meja yang dimana Bima sudah duduk manis disana.


Bima tampak terkejut melihat kedatangan mantan kedua teman SMAnya itu.


Dia tadi hanya disuruh untuk menunggu di dalam runagan ini tanpa tau kalau ternyata Reihand dan Arga lah yang akan menemuinya.


"Kalian.." Bima terperangah.


"Iya, ini gue!" Desis Arga, kedua bola matanya menatap Bima seperti hendak memakannya hidup hidup.


Arga pun duduk di dihadapan Bima sementara Reihand berdiri ditengah mereka.


Arga mencoba mengatur nafasnya, kalau dia tidak ingat tujuan utamanya mengungkap siapa yang berada dibalik Bima, mungkin saat ini dia sudah menghabisi laki laki itu dengan tangannya sendiri.


Bima berkeringat dingin, dia bisa menangkap aura penuh kebencian dimata Arga.


Bima memalingkan muka, tak berani beradu tatap dengan sang pentolan Mandala itu.


"JAWAB!"


BRAK


Meja berdenyit seiring dengan pukulan tangan Arga yang mendarat keras diatasnya.


Bima terhenyak, sekarang dia sudah terpojok, tak bisa berkutik apalagi menghindar.


"BANGSAT JAWAB!!!" Karna emosi melihat Bima tak juga bersuara Arga menarik kerah baju Bima hingga tubuh pria itu sedikit terangkat, Reihand yang melihat situasi mulai tak terkendali mencoba kembali menenangkan Arga.


"Santai ga, santai!! lo harus bisa kendaliin diri lo!"


"Lo harusnya tanya ini ke kakak tiri lo kenapa dia nyuruh gue!" Satu kalimat yang keluar dari mulut Bima itu membuat Arga terhenyak. Dia menghempaskan tubuh Bima dengan kasar.

__ADS_1


Sudahlah, Bima sudah tidak perduli tentang kerjasamanya dengan Andrew, toh dia juga sekarang sudah tertangkap dan Andrew juga belum tentu bisa menolongnya keluar dari jeratan hukuman yang akan menantinya nanti, persetan dengan nasib lelaki itu, karna dia sendiripun pusing memikirkan nasibnya.


"Andrew? jadi dia yang udah nyuruh lo ngelakuin ini?" Arga menyipitkan matanya, masih berusaha tenang meski dia ingin sekali menonjok wajah Bima.


"Iya, dia dalang dibalik semua ini! tentang kecelakaan lo kemarin, dia juga yang merencanakan semuanya!" Bima tertawa seperti orang gila.


Kali ini giliran Reihand yang tampak emosi.


"Lo kenapa si Bim bisa jadi senekat ini? kenapa Bim?!"


Bima melirik Reihand, lalu kemudian dia meludah kesamping.


"Cih, orang orang seperti kalian gak akan pernah tau rasanya jadi gue!! gue terpaksa ngelakuin ini demi menyambung hidup! lo gak taukan rasanya hidup seorang diri tanpa ada dukungan dari siapapun! tanpa ada keluarga disamping lo."


Reihand menggelengkan kepala.


"Jadi kemarin kemarin lo anggep gue apa?" Reihand mendekatkan wajahnya, tersirat kekecewaan yang teramat dalam.


Sebelum dia tahu jika Bima lah yang menghamili Viona, mereka begitu dekat, bahkan Reihand sudah menganggap Bima sebagai saudaranya sendiri.


"Lo cuman kasihan sama gue!" Bima tertawa mengejek.


"Terus nyokap gue? apa lo pikir dia repot repot masak makanan kesukaan lo tiap hari juga lo anggep sebuah bentuk rasa kasihan?"


Kali ini Bima bungkam, tawanya yang tadi terdengar keras mendadak hilang.


Wanita paruh baya itu memang selalu menyambutnya dengan hangat layaknya seorang ibu, bahkan setiap hari wanita itu selalu menyempatkan diri memasak makanan kesukaannya.


"Tidak usah sungkan sungkan Bim, anggep aja ini rumah kamu sendiri, ibu seneng deh kamu mau mampir kesini tiap hari, rumah jadi rame Bim.." begitu ucapnya setiap kali Bima datang mampir ke rumah Reihand.


Senyum tulus dari ibunya Reihand memang selalu mengusik relung hatinya. Dia merasa bersalah setiap kali mengingatnya.


"Nyokap gue bukan orang yang gampang perhatian sama orang lain, kalau dia peduli sama lo berarti dia tulus Bim!! lo bisa bayangin gak kalau dia sampai tau apa yang udah lo lakuin ini?!"


Bima tertampar, seperti ada hujaman batu yang menindih hatinya, dia tidak pernah memikirkan soal itu.


Wanita paruh baya itu pasti kecewa.

__ADS_1


"Lo harus pertanggung jawabin semuanya!!!" Desah Arga getas.


Bima hanya tertunduk, tak ada yang tau jika lelaki itu sedang menangis dalam diamnya.


__ADS_2