
Sebuah mobil hitam terlihat memasuki pekarangan sebuah rumah dengan cat yang di dominasi berwarna hijau muda.
rumah itu letaknya di dekat kaki gunung, suasana asri masih tampak terhampar indah mengelilingi bangunan rumah yang bergaya belanda itu, sungai kecil mengalir dibelakang parit membuat suasana pedesaan itu nyaman sekali untuk ditinggali.
Seorang lelaki terlihat turun dari bangku kemudi lalu dia berputar ke depan dan menghampiri sisi lain mobil untuk bergegas membukakan pintu dari sisi yang lain.
"Ini dimana Ndrew?" Lusi menurunkan kacamatanya saat dia keluar mobil, wanita paruh baya itu mengedarkan pandangan, melihat lihat sekitar.
"Udah kita masuk dulu aja, ini rumah salah satu temen aku mah, disini kita aman, ayok!" Andrew berjalan lebih dulu, setelah sampai di depan gerbang dia membuka gembok lalu mendorong satu sisi gerbang agar mereka bisa masuk ke dalam.
Setelah memasukkan mobil, Andrew kembali menggembok gerbangnya, matanya awas memperhatikan sekeliling, gelisah, dia takut ada mata mata Arga yang bisa saja mengikutinya tanpa dia ketahui dari kota menuju kesana tadi.
Lusi melipat kedua tangan didepan dada, dia mengernyit ketika melihat bangunan rumah yang tampak tidak terurus, meskipun bangunan rumah masih sangat bagus namun debu tampak menempel di setiap sudut rumah.
"Tempat apa sih ini Ndrew? kamu mau kita tinggal dirumah sempit dan kotor ini?"
Andrew tak menyahut, dia tetap sibuk membuka pintu rumah dengan kunci ditangannya.
"Udah masuk cepet mah! mamah mau tinggal di dalam jeruji besi atau disini?" Tanya Andrew sambil membukakan pintu rumah, Andrew menjinjing koper juga sebuah tas besar yang tengah dipegang lusi.
Butuh waktu sekitar enam jam mengemudi dari rumah untuk sampai ke tempat ini, Andrew rasa untuk sementara waktu mereka aman disini, dia tidak mau mengambil resiko tetap tinggal dirumah besar, karna Arga pasti tidak akan tinggal diam jika dia sudah punya bukti apalagi saksi hidup yakni Bima tentang kejahatannya selama ini.
"Kita tinggal disini Ndrew?" Lusi tampak tak yakin saat dia sudah melangkahkan kakinya ke dalam, mengedarkan pandangan menatap langit langit ruangan, ternyata di dalam rumah tidak terlalu banyak perabotan, hanya ada sofa dan rak yang lumayan panjang di tengah tengah ruangan yang menjadi sekat antara ruang tamu dan ruang makan.
"Mau di jeruji atau disini? tinggal itu pilihan kita mah!" Andrew meletakkan koper dan tas ke dalam sebuah kamar.
Lusi mendengus jengkel sambil menjatuhkan dirinya diatas sofa panjang.
"Sampai kapan kita bakal kaya gini?"
Andrew menarik nafas berat, menghampiri ibunya lalu ikut duduk di samping wanita tua itu.
"Sampai Andrew bisa merebut kembali semuanya dari tangan Arga. Mamah gak usah khawatir, kita cuman sementara aja disini." Andrew mengelus punggung tangan ibunya yang terlihat resah.
"Kamu sih gegabah Ndrew! harusnya kamu cari orang yang bener bener profesional buat menghabisi si Arga, bukan malah anak gak berguna bernama Bima itu, lihat sekarang! dia bikin kacau semuanya!"
__ADS_1
Andrew menundukkan kepalanya dalam, sambil mengepalkan kedua tangannya dia menekan sofa kuat kuat, menyesali setiap kebodohannya selama ini, kenapa bisa dia bisa seceroboh itu memilih orang untuk melenyapkan Arga, cih, tidak disangka adik tirinya itu benar benar seperti seekor kucing yang punya sembilan nyawa! gumamnya kesal.
"Si Meta kenapa gak kamu ajak?" Tiba tiba ibunya mengalihkan perhatian, terjaga dari lamunan Andrew mendongak, kini kesedihan muncul diwajah itu.
"Aku pengennya sih ngajak dia, tapi dia kan gak terlibat mah dalam rencana ini, lebih baik dia disana saja, aku tau Arga bukan orang yang suka menghukum orang yang tidak bersalah." Tiba tiba mengusap wajah, teringat wajah Meta gadis yang sangat dicintainya itu dia biarkan seorang diri disana.
Dia sama sekali tidak berniat mengajaknya kabur, dia tidak mau melibatkan orang yang sangat dicintainya jatuh ke dalam jurang permasalahannya selama ini.
Lusi menjulingkan mata malas. "Ternyata wanita itu benar benar sudah membuatmu hilang akal!"
"Mah, cukup! sudahlah aku makin pusing dengerin mamah ngoceh, sekarang lebih baik kita istirahat saja!"
Andrew bangkit lalu masuk ke dalam sebuah kamar.
Lusi hanya mengerucutkan bibirnya, mengibas ngibaskan tangan ke wajah sendiri, sudah kotor, pengap lagi rumah ini! gimana bisa istirahat?!
Sementara itu di kediaman rumah Heru Alexander
Matahari telah tenggelam, Arga dan Meira baru saja pulang dari kampus.
mengusek ngusek handuk ke rambut, mengeringkan sisa air yang menempel disana.
Meira sudah sibuk lagi dengan pulpen ditangannya setelah melihat ke arah Arga sekilas.
"Kau sedang apa?" Arga tiba tiba merengkuh tubuhnya dari belakang, wajah itu menempel disalah satu sisi bahunya membuat Meira seketika tersentak.
Harum sabun mandi menyeruak disekitar hidungnya.
"Arga!! kau mengagetkanku!" Meira mencoba melepaskan dirinya namun kedua tangan itu malah terulur kedepan dan mendekapnya lebih erat.
"Ku perhatikan kau sibuk sekali akhir akhir ini dengan benda benda ini!" Satu tangannya menarik buku lalu menggantungnya ke udara.
Menggoyang goyangkan buku itu hingga akhirnya melepaskannya lagi dengan sesuka hati.
"Hei, nanti buku ku bisa rusak tau!?" Protesnya dengan mata terbelalak, namun tangan Meira tak bisa menjangkau buku itu saking eratnya pelukan Arga.
__ADS_1
"Dasar kutu buku, apa hanya buku buku itu yang penting di dalam hidupmu?" Arga sudah melipat kedua tangan setelah melepaskan pelukannya, cemberut berat.
Dia berjalan ke arah lemari mengambil baju dari sana, meninggalkan Meira yang terperangah tak percaya.
apa dia sedang cemburu pada sebuah buku? sudah gila pasti!
"Arga, apa kau lupa sebentar lagi kita mau ujian tengah semester."
Arga hanya diam, raut kesal masih tergambar jelas. Meira bangkit lalu menghampirinya, tidak ingin membuat masalah baru dengan memancing kemarahan sang pentolan kampus.
"Hei, aku cuman bercanda, kau lebih penting dari apapun." Menghampiri Arga sambil memeluk tubuh jangkung itu dari belakang.
Arga yang hendak memakai kaosnya urung, dia berbalik dan kini mereka saling berhadapan.
"Kenapa kau tiba tiba memeluk seperti ini? kau mau menggodaku?" mulai membuka ikatan handuk putih yang melingkar di pinggangnya.
"Eh, tidak tidak."
"Tidak sudi menggodaku?" Matanya sudah melotot.
"Tidak! bukan itu juga maksudku?"
"Lalu?" Arga tersenyum puas karna Meira malah terjerembab ucapannya sendiri.
Meira menggigit bibir sendiri, tidak tahu apa yang mau diucapkan lagi, kehabisan kata.
"Hmmmpt.." Tiba tiba ciuman mendarat di bibirnya tanpa aba aba.
"Jangan pernah menggigit bibir seperti itu didepan orang lain selain aku! atau kau akan mati!"
Arga memberikan satu pagutan lagi, namun kali ini begitu lama dan ciuman itu begitu dalam, sementara tangannya sudah lari kemana mana.
"Arga!!" Mendorong tubuh Arga menjauh, namun tubuhnya malah semakin menempel saat kedua tangan Arga menekan pinggangnya semakin mendekat.
"Hei!!"
__ADS_1
"Apa? apa kau mau menolak melayaniku setelah membuatku bergairah begini?" Sudah tersenyum nakal dia menggendong Meira ke kasur dan meletakan gadis itu diatas pangkuannya.