
Flo lari sekencang kencangnya ke arah gerbang depan. Dia terpelanting dan hampir saja jatuh ketika baru sampai di pos satpam. Tapi untungnya tangannya segera berpegangan pada tembok disebelahnya.
"Neng, gak apa apa?" Pak Ali satpam dengan kumis setebal sapu ijuk itu keluar dari posnya dan buru buru menghampiri Flo yang sedang membungkuk.
"Gak apa apa pak.." Flo kembali berdiri tegak sambil tersenyum.
"Yaudah hati hati neng jalannya."
"Iya, pak."
Flo melanjutkan langkahnya, namun jalannya agak pincang, kakinya terkilir akibat berlari tadi, sial! sakit banget! gerutu Flo dalam hati.
Flo berdiri di pinggir jalan mencari posisi aman, agak jauh dari gerbang kampus agar ketika motor Reihand keluar dari gerbang dia tidak berpapasan dengannya.
Flo harus buru buru memesan ojeg online, dia mengeluarkan ponsel di saku celananya lalu mulai membuka aplikasi hijau khas ojeg online.
Beberapa menit menunggu belum ada satu pun pengemudi yang nyangkut dengan orderannya. Flo semakin kesal ketika melihat baterai ponselnya tinggal 2% lagi.
"Astaga kok gak ada yang nyangkut sih?! pada gak mau duit apa!!!" makinya kesal sambil terus memperhatikan layar ponselnya.
"Flo!"
Flo mematung ketika tiba tiba ada yang memanggil namanya, suara itu sangat familiar.
Flo mendongakkan wajah, sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di hadapannya, kaca mobil itu diturunkan, Flo terperangah ketika melihat sang pengemudi dibalik kaca, tapi lebih terkejut lagi ketika melihat Stella duduk disamping bangku sang pengemudi.
"Manji!" suara Flo tertahan di tenggorokan.
"Flo, kamu lagi nungguin siapa?" tanya Manji sambil menundukkan wajahnya dari dalam mobil agar bisa melihat Flo lebih jelas.
"Gue lagi mesen.." Flo berhenti berkata saat tiba tiba ponselnya mati total.
"Mesen apa?" Manji masih menunggu jawabannya.
"Tadinya mau mesen ojeg online tapi keburu mati ponselnya.." jawab Flo sambil menghembuskan nafas kesal, dia mengangkat ponselnya dan memperlihatkannya pada Manji, ponsel itu memang benar benar telah mati.
Manji tampak tersenyum, dia pun membuka pintu mobil lalu melompat turun.
Stella hendak menghalangi tapi Manji sudah keburu keluar dari mobil.
__ADS_1
"Yaudah kebetulan banget kalau gitu, yuk gue anter pulang." ajak Manji sambil tersenyum hangat.
Flo tidak menjawab, dia melirik Stella yang sedari tadi diam memperhatikan mereka, Flo ngeri melihat tatapan tajam Stella kepadanya.
"Gak deh Ji, lo duluan aja..gue nunggu angkot aja nanti." tolak Flo halus.
"Gak ada angkot yang lewat Flo kalau jam segini, udah yuk gue anter pulang.." Manji hendak meraih tangan Flo tapi gadis itu malah mundur.
Dia merasa ngeri melihat tatapan Stella yang seakan ingin menerkamnya hidup hidup.
"Udah ji kalau gak mau mah gak usah dipaksa!" kata Stella sambil ikut turun dari dalam mobil.
Wajah Stella benar benar ketus tanpa senyum sedikitpun. Flo tau gadis ini tidak menyukainya, tatapan tajam itu memperjelas semuanya.
"Udah Ji lo balik duluan aja, gue gak apa apa beneran." kata Flo mencoba meyakinkan. Tapi Manji tetap kekeuh, dia malah meraih salah satu tangan Flo dan menariknya ke arah mobil, hal itu justru membuat Stella kelihatan tambah berang saja.
"Ji, please gue bisa pulang sendiri beneran! lepasin tangan gue Ji.." Flo mencoba melepaskan diri tapi genggaman tangan Manji benar benar kuat.
"Enggak! gue gak bisa biarin lo disini sendirian!" tandas Manji. Tepat sebelum Manji membuka pintu mobilnya sebuah mobil jeep tiba tiba berhenti di belakang mobil mereka.
Flo dan Manji menoleh berbarengan, sang pengemudi membuka pintu dan keluar dari dalam mobil jeep itu, Flo seketika membeku ditempat, ternyata itu mobilnya Reihand. Reihand bergegas menghampirinya.
"Flo, kok masih disini?" Reihand menatap Flo.
Flo kembali melirik ke arah jeep, dia melihat Widya duduk disamping tempat duduk pengemudi, sedang menatapnya lurus tanpa ekspresi apapun.
"Iya.. tadi itu gue.." Flo tergagap, bingung mau menjawab apa. Manji tiba tiba merangkul pundaknya membuat Flo tersentak begitupun dengan Reihand.
"Ini baru aja mau gue anter pulang Rei." kata Manji sambil tersenyum ke arah Flo.
Reihand terbelalak melihat tangan Manji yang merangkul bahu Flo begitu erat, pemandangan itu berhasil membuat darahnya mendidih.
Manji menatap Reihand dan sadar dengan ekspresi ganjil di wajah temannya itu. Reihand seperti orang yang sedang cemburu.
"Lo pulang bareng Widya?" Manji mengalihkan perhatian, dia melihat ke arah mobil jeep Reihand. Widya tersenyum dan melambai kepadanya.
"Iya." jawab Reihand singkat.
"Tumben gak bawa motor?"
__ADS_1
Reihand tidak langsung menjawab, matanya masih sibuk melihat ke arah tangan Manji yang masih merangkul erat bahu Flo. Entah kenapa dia ingin sekali menyingkirkan tangan itu dari sana! Tapi sepertinya Manji malah sengaja merangkul Flo lebih lama, padahal Flo sendiri sudah berkali kali mencoba menyingkirkan tangan itu tapi gagal.
"Motor gue ilang." jawan Reihand akhirnya, Flo langsung terbelalak.
"Apa ilang? kok bisa?" Flo terpekik, mulutnya ternganga lebar.
Reihand tak menjawab lagi.
Namun tiba tiba Flo langsung ingat kejadian waktu di ruko bekas mie ayam kemarin malam, waktu itu Reihand mengantarkannya ke rumah sakit dengan menyetop mobil yang lewat, dia terpaksa meninggalkan motornya disana kan? apa jangan jangan motor yang di tinggalkannya itu hilang gara gara kejadian itu.
"Motor lo dicuri Rei?" Flo menatap Reihand lurus, berharap Reihand akan menjawab tidak, karna jika iya, Flo akan merasa sangat bersalah.
"Iya, motor gue di curi Flo." kata Reihand pelan, tersirat kesedihan dari nada bicaranya.
"Ya, ampun Rei.." Flo menutup mulutnya yang terkejut.
"Gue ikut prihatin bro, gue denger denger itu hadiah terakhir dari bokap lo kan.. sabar ya.." kata Manji.
Flo jadi semakin lemas saja mendengarnya. Kalau saja kemarin malam itu dia tidak sakit sehingga Reihand tidak harus membawanya ke rumah sakit dengan mobil yang lewat, Reihand mungkin tidak akan kehilangan motornya itu.
"Reihand, masih lama gak?" Sela Widya sambil membuka kaca mobilnya, dia mendongakkan kepalanya keluar jendela, wajahnya sudah kelihatan bete.
"Engga, Wid." Reihand menoleh sekilas ke arah Widya lalu kembali memperhatikan Flo yang sekarang menatapnya dengan sorot mata penuh penyesalan. Flo merasa bersalah atas hilangnya motor Reihand.
Stella yang sedari tadi berdiri dibelakang mereka pun ikut mendekat ke mobil Manji.
"Ji, udah belom? hayu balik!" ajak Stella dengan wajah yang sudah ditekuk parah, Stella langsung masuk kembali ke dalam mobil Manji.
"Iya iya ini mau balik sekarang, ayo Flo duduk dibelakang ya.." Manji membukakan pintu mobil dan menunggu Flo untuk masuk.
"Kalau lo mau, lo bisa ikut mobil gue Flo.." kata Reihand mencegat tangan Flo sebelum gadis itu benar benar masuk ke dalam mobil Manji.
"Gak perlu khawatir Rei, gue yang bakal anter dia selamet sampai rumah. Yuk Flo, buruan masuk sekarang." pinta Manji sambil menunggu disamping pintu dengan tidak sabar.
Flo akhirnya pasrah, dia lebih baik ikut Manji daripada harus mengganggu Widya dan Reihand. Kalau dia ikut Reihand, Widya tidak akan bisa leluasa pedekate dengan pria ini.
Brak
Manji menutup pintu mobil setelah Flo duduk manis di kursi belakang mobil.
__ADS_1
"Gue duluan ya bro!" Manji menepuk bahu Reihand pelan lalu pria itu ikut masuk ke dalam mobil.
Reihand masih berdiri mematung, kedua tangannya mengepal kuat kuat, dia ingin sekali melampiaskan rasa kesalnya dengan menendang sesuatu, tapi niatnya urung karna dia tidak mau membuat Widya bertanya tanya kenapa dia tiba tiba marah tanpa alasan.