Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Main ke Kedainya Ibu Reihand


__ADS_3

"Tuh kan udah gue bilang si Farel kesurupan!" Ucapnya sambil lari keluar kelas.


"Hahahaha!" Sontak Manji dan Arga terbahak melihat tingkah konyol sahabatnya itu.


Jam 16.00 tepat di dalam kelas Meira.


Bel pertanda kelas kedua berakhir telah berbunyi.


Widya menepuk bahu Meira dari belakang saat Dosen telah pergi dari kelasnya.


"Mei, gimana? lo jadi ikut kan main ke kedainya Ibu Reihand?" Tanya Widya dengan wajah antusias.


Meira menoleh sembari tangannya sibuk membereskan diktat dan alat tulis yang ada di atas meja.


Flo juga ikut menoleh ke belakang.


"Sorry ya guys, kayaknya untuk sekarang gue gak bisa ikut. Soalnya Arga gak ngasih ijin." Jawab Meira dengan tampang sedih.


"Yah, kok gitu?" Widya tampak kecewa.


"Gak apa apa, Mei. Next time mungkin lo bisa ikut. Lagian kalau Arga gak ngasih ijin, pasti dia punya alasan tertentu."


"Iya, sih. Yah kurang seru aja gitu." kata Widya lagi.


Yang kemudian jadi ikut ke Kedai Mie Ramen ibunya Reihand adalah Widya, Flo, Manji dan Farel.


Mereka semua sudah berkumpul di parkiran.


"Lo ikut mobil kita aja, Flo." Ajak Widya sambil menggandeng lengan Flo sambil tersenyum lebar.


Flo mengangguk. Manji dan Farel saling bertatapan. Ada angin apa nih, kenapa mereka berdua akur lagi begini.


Manji dan Farel melemparkan pandangannya ke arah Reihand. Meminta penjelasan cowok itu. Tapi Reihand cuman mengangkat bahu. Lalu cowok itu malah membuka pintu mobil belakangnya.


"Siapa yang mau duduk di belakang?"


"Lo aja ya, Flo. Duduk di belakang sendiri gak apa apakan?" Tanya Widya.


"Iya gak apa apa kok. Santai aja." Jawab Flo tanpa curiga sedikitpun.


Flo berjalan ke arah pintu belakang mobil yang sedang di buka oleh Reihand. Pandangan mereka bertemu sesaat. Flo melengos. Dia tidak mau menatap Reihand lama lama. Menghindari kontak mata dengan cowok itu adalah pilihan paling bijaksana di saat seperti ini.


"Yuk berangkat."

__ADS_1


Manji dan Farel mengangguk. Kemudian mereka juga ikut masuk ke dalam mobil yang satunya.


Manji dan Reihand menjalankan mobil mereka masing masing meninggalkan are kampus yang masih ramai sore itu.


Di dalam kendaraan Farel.


"Si Widya sama Flo kayaknya baikan ya?" Tanya Farel sambil mengunyah kripik kentang di tangannya.


Manji mengangkat bahu. Tapi dia juga kepikiran sikap Widya yang tiba tiba berubah drastis pada Flo.


"Apa mungkin orang bisa berubah secepat itu? lo tau kan selama ini dia kayak ngejaga jarak sama Flo." Manji mengelus dagunya. Rasanya dia kurang yakin kalau Widya sudah benar benar kembali pada Widya yang dulu.


Farel mengangguk anggukan wajah tanda setuju dengan pendapat Manji.


"Yoi. Tapi mungkin aja sih dia emang bener bener udah berubah. Kita kan tahu Widya abis di diagnosa salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Mungkin aja karna ngerasa hidupnya gak lama lagi dia baik baikin Flo lagi."


"Sadis banget lo kalau ngomong!" Manji mentoyor kepala Farel yang sepertinya kopong. Dia tidak pernah memakai otaknya kalau ngomong. Maen jeplak aja.


"Hehe, becanda gue. Serius amat lo ah!"


"Tapi bener juga sih, mungkin aja Widya bener bener mau memperbaiki hubungannya sama Flo kan? gue harap sih gitu." Ucap Manji sambil tetap fokus menyetir mobil.


Tapi entah kenapa hatinya berbisik lain dari pendapatnya barusan. Dia merasa ada yang aneh. Tidak mungkin rasanya orang bisa berubah secepat membalikkan telapak tangan.


Sementara itu di dalam mobil Reihand.


Bagus, sekarang waktunya gue nunjukin dimana posisi lo yang sebenernya, Flo.


"Rei, kita gak ngerepotin kan main ke kedai Ibu lo?" tanya Widya sambil mengelus pundak Reihand.


Reihand menoleh. Dia yang sedang fokus menyetir terperanjat ketika tangan Widya tiba tiba mengelus pundaknya lalu turun ke lengannya. Widya menggantungkan telapak tangannya diantara siku lengan Reihand.


Flo yang duduk di belakang hanya sempat menoleh sekilas lalu kemudian membuang pandangan ke luar jendela sambil meremas celana jeans biru yang dikenakannya. Hatinya sakit melihat kemesraan yang ditunjukan Widya. Tapi apa boleh buat. Dia harus bisa menahan diri karna sekarang Widya memang sudah resmi menjadi pacarnya Reihand.


"Engga, kok Wid. Lagian gue seneng kalian pada mau mampir. Nyokap gue juga pasti seneng." jawab Reihand sambil tetap fokus menyetir.


"Gitu, ya? tau gitu sih kita main dari kemarin kemarin. Iya kan, Flo?" Widya menoleh kebelakang.


Eh, Flo yang sedang menatap keluar jendela reflek menjawab "Iya Wid."


Widya menahan tawa melihat wajah Flo yang mendadak murung.


"Oh iya, disana ada menu apa aja Rei?" Tanya Widya lagi, kali ini dia menyenderkan bahunya di pundak Reihand

__ADS_1


Reihand memaksakan senyum kepada Widya. Dari raut wajahnya dia tampak tidak nyaman dengan sikap Widya. Tapi tidak bisa menolak karna Widya sekarang memang ceweknya. Dia berhak melakukan itu. Meski dia tahu kemesraan ini akan menyakiti hati seseorang yang tengah duduk di belakangnya.


"Rei, kayaknya kita harus rubah panggilan kita deh!"


Reihand mengerutkan keningnya.


"Kenapa emang?"


"Ya gak romantis aja. Masa pacaran manggilnya masih gue dan elo aja. Kan gak punya ciri khas banget gak sih? ya kan, Flo?"


Lagi lagi Widya menoleh ke belakang.


Flo yang sedang melanun terperanjat untuk kesekian kalinya saat Widya melemparkan pertanyaan yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengannya itu.


"Apa tadi lo bilang Wid?"


"Kan gue bilang sama Reihand. Panggilan elo dan gue buat gue sama Reihand itu kedengarannya gak romantiskan ya? menurut lo kita berdua enaknya saling manggil apa ya, Flo?" Widya menatapnya lurus sambil menunggu jawaban dia tersenyum manis ke arah Flo.


Flo terdiam, mulutnya terasa kelu. Bagaimana mungkin dia mempunyai ide untuk mengusulkan panggilan sayang untuk pria yang dicintainya.


"Gue gak tau Wid. Terserah lo aja." Kata Flo akhirnya. Karna dia memang benar benar tidak punya jawaban apapun.


"Gimana kalau baby? atau honey? atau sayang?"


Flo hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya. Dia benar benar sedang dalam ujian untuk tidak mengeluarkan tangisnya di dalam mobil itu.


"Sayang aja!" Ucap Reihand. Hanya bermaksud untuk Widya segers menyudahi pertanyaan konyolnya itu pada Flo.


Dia melihat Flo lewat kaca spion tengah. Cewek itu kelihatan murung. Reihand jadi serba salah.


"Ouh, kamu mau di panggil sayang? boleh, hehe. Mulai sekarang panggilnya sayang aja ya?"


Flo semakin meremas kedua tangannya. Ya Tuhan, ternyata sakit juga berada dalam situasi ini.


Reihand menarik nafas panjang. Mulutnya terasa berat untuk menjawab. Tapi tatapan penuh harap dari Widya membuatnya akhirnya menyetujui perubahan panggilan itu.


"Iya."


"Iya apa?" Widya menatap Reihand sambil tersenyum manis.


"Iya sa..yang."


"Ah, gemesnya sayangnya aku.." Widya memberikan cubitan kecil di pipi Reihand lalu dia kembali menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu.

__ADS_1


Widya tertawa puas di dalam hati karna dia tahu sekarang pasti ada seseorang dibelakang tempat duduknya yang sedang di landa kesedihan yang mendalam akibat ulahnya.


bersambung.


__ADS_2